
Wanita itu masih saja ingin mengacaukan hati Aluna. Karena Angel yakin Aluna juga memiliki perasaan pada Adrian walaupun sedikit. Buktinya dia tak menolak saat Adrian sering ada didekatnya. Seikat bunga mawar merah dan cake dengan merek mahal juga masih bertengger di atas nakas. Hanya Adrian lelaki yang suka memberi wanita bunga. Karena Dion tidak pernah suka dengan bunga.
Bagi Dion bunga tidak bisa melambangkan cinta, karena bisa layu, berbeda dengan perhatian dan kasih sayang selamanya akan selalu diingat.
"Oh, iya Aluna. Baru kamu saja yang tahu kehamilan ini, tolong jaga rahasia ya. Karena Adrian belum tahu. Rencananya dia akan aku beri tahu untuk menjadi surprize di hari ulang tahunnya." Angeline berkata pada Aluna dengan riak tawa dihatinya. Dia sekarang bisa jelas melihat mata wanita itu berkaca-kaca. Lawan bicara sudah kalah, hatinya sudah tercabik.
"Selamat. Aku ucapkan sekali lagi selamat Nona Angeline,"kata Aluna dengan suara lirih.
"Kalau begitu permisi Nona, aku doakan kau supaya cepat sembuh, dan lekas pergi dari kami, karena kau tentu semakin tidak diinginkan dari keluarga besar Adrian." Angeline kembali menusukkan jarum mematikan ke jantung Aluna, sebelum dia benar benar keluar ruangan.
"Jangan khawatir, aku sudah lama pergi." balas Aluna.
Aluna memejam, dia menundukkan kepala setelah Angeline pergi. Membiarkan bulir kristal menetes di pangkuan. 'Aku akan pergi, tanpa kau minta aku juga siap untuk pergi, semoga kau bahagia bersama Adrian lelaki bre*ngsek itu. Memang cocok untukmu.
Aluna meraih bunga yang baru saja dibelikan Adrian dan melemparnya ke lantai.
Setelah kepergian Angeline Aluna menitikkan air mata, jujur hati Aluna masih condong pada Adrian, bagaimanapun pernikahan bisa mendekatkan hati dua manusia, tapi sayangnya rintangan diantaranya terlalu besar.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa pagi berubah menjadi siang, siang yang sangat panas menyengat. Seperti hati dua wanita yang baru saja bertemu, sama sama panasnya.
Angeline cemburu dengan Adrian yang begitu perhatian dengan Aluna. Dia berharap Aluna bisa musnah dimuka bumi, tapi nyatanya dia masih sehat tanpa luka bakar. Bahkan diam-diam Adrian menjaganya selama ini.
Sedangkan Aluna juga terluka karena baru saja dia goyah pendiriannya, karena keinginan Adrian yang meminta rujuk. Tapi nyatanya dia tidak berubah bahkan tipu daya Angeline membuat Aluna percaya seratus persen.
Aluna meraih bunga tanpa dosa dan melemparnya di lantai keramik, "bre*ngsek!"
Aluna kembali tidur setelah meneguk sebotol air dengan pisisi memiringkan tubuhnya. Dia bisa mengadukan kekesalannya pada bantal yang kini menjadi tumpuan kepala.
Saat Aluna todur, Bibi segera membawa pulang baju kotor dan membersihkan rumah.
Aluna ditemani Dion sambil menunggu dokter untuk melepas infus. Dion sudah datang saat Aluna benar benar lelap. Lelaki itu melihat bunga terdampar mengenaskan dilantai. 'Sayang sekali bunga yang indah tapi bernasib malang.'
Dion memungut dan membuangnya ke tong sampah, lalu dia kembali duduk di kursi sambil mencari wajah Aluna yang tertutup rambut hampir separuhnya. Pelan sekali Dion merapikan poni Aluna. Lelaki itu bisa melihat ada bagian bantal yang basah, dan air mata Aluna nampak sembab.
Dion urung mengusiknya, obat penghilang nyeri yang dikonsumsi Aluna ternyata membuatnya lebih nyenyak ketika tidur.
Beberapa hari ini Dion menyerahkan semua tugas pada Reihan dan Diva, pasangan kekasih itu bekerja sangat kompak dan bisa diandalkan. Sedangkan Diva sementara kembali menjadi pengganti Luna untuk mengatur skedule yang dilakukan oleh CEO, meski dari rumah.
"Pak, Dion!" Panggil Luna saat dia merasa ada makluk lain didekatnya. Parfum maskulin lelaki itu tak asing bagi Luna.
__ADS_1
"Ayang Dion aja, biar manis." Dion tersenyum, wanita itu menanggapi dengan senyuman pula.
"Lagian disini cuma kita berdua,"pinta Dion berusaha menghibur.
"Nggak bisa, aku suka panggil 'Pak' saja. Anda atasan di kantor, Bos saya." Luna memandang wajah lelaki yang begitu perfect sedang mengaduk bubur untuk sarapan dirinya.
"Tapi kalau di rumah, bukan atasan lagi. Aku orang yang mencintaimu sangat tulus" kata Dion lagi.
"Aku pacarmu." Mengerlingkan mata nakal.
"Belum resmi pacaran, aku belum menjawabnya." Luna tak mau dianggap kekasih oleh Dion.
"Katakan 'iya' itu tidak sulit Luna. Kau hanya perlu berkata satu kata itu dan aku sudah sangat siap mendengarnya."
"Belum bisa, berkata 'iya' itu sangat berat, karena hubungan tidak untuk buat mainan, tapi seumur hidup."
Dion mengangguk-anggukan kepalanya berulang kali. Sadar betul kalau wanita setia akan butuh lama untuk menjalin ikatan cinta. Aluna begitu hati-hati dalam menentukan pilihan untuk masa depannya.
Dion juga melihat ada cake rasa coklat juga diatas nakas.
Dion yakin Adrian yang mengirimnya bersama bunga itu tadi.
Aluna menggeleng. "Aku kenyang."
"Bohong, aku belum melihat tanda kau sudah makan, Kue lezat itu juga masih utuh." Dion mengulurkan tangannya di dekat bibir Luna, dia menanti gadis itu membuka bibirnya lebar.
"Aaaaa." Dion menirukan gerakan bibir Aluna saat membuka mulut. Membuat tawa diantara mereka kembali hadir.
"Anak pintar ayo makan yang banyak," kata Dion sambil menyuapkan dengan suapan keduanya. Suapan berhenti ketika Aluna merasa sudah cukup banyak menghabiskan bubur dipiringnya.
Saat sedang asyik bercanda, tiba-tiba ada dua sosok berseragam putih datang.
"Pagi Tuan, Nona. Nona Aluna sudah sembuh, Anda sudah bisa pulang hari ini." Kata Pak Dokter yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
"Iya, syukurlah Dokter, hidungku tidak di amputasi," canda Luna.
"Tidak Nona, bagaiman kalau hidung anda malah akan semakin indah."
__ADS_1
"Wooow. Benarkah?" Dion tak percaya, Dia melirik Aluna dengan sebuah senyuman nakal.
Aluna yang menjadi bahan pembicaraan menjadi malu, dia sekarang malah terlihat tegang karena perban akan dibuka.
Aluna memejamkan matanya dia duduk di pinggir brankar dengan posisi kaki menggantung.
Dokter membuka perban dengan hati-hati, dia tak mau Aluna merasa sakit. Sedangkan Dion menatap tanpa berkedip sesi pembukaan perban.
Dokter terlihat bahagia. Puas dengan hasil kerjanya yang berhasil, hidung Aluna nampak kembali normal, tidak terlalu pesek dan juga tak terlalu runcing, karena tak ada darah luar negeri yang mengalir dirinya. Beda dengan Dion dan Adrian.
Perawat yang bertugas membawa cermin mendekat. Menunjukkan wajah Aluna. Aluna trrsenyum, dia malu dengan zpilan wajahnya yang berantakan karena terlalu banyak rebahan.
Beda sekali dengan Dion yang wangi damaskulin. Aluna juga sadar, perawat beberapa kali melirik ke arah Dion. Mengagumi seseorang tampan dan berkarisma yang ada di dekatnya.
"Pak Dokter, terimakasih sudah buat pacar saya cantik lagi. Sekarang aku akan membawanya pulang dan segera melamarnya," canda Dion.
Seketika wajah suster itu berubah yang tadinya lebih banyak senyum pada Dion, kini lebih ke sikap profesional.
Sampai di mobil, Asisten Beni segera membuka pintu untuk Dion dan Aluna. Mereka berdua duduk di kursi penumpang.
"Pak Dion, Luna minta jangan terlalu memanjakan Luna seperti ini. Takutnya nanti kebiasaan."
"Aku malah suka Luna, takutnya kamu yang bosen denganku."
"Pak Dion …." Aluna ingin bicara, tapi kata katanya terhenti karena jemari Dion menempel di bibirnya.
"Sttt, sudah. Aku melakukan semua ini karena cinta, aku tak ingin balasan apapun. Mengizinkan aku bersamamu seperti ini aku sudah senang."
"Tapi Pak, lelaki sempurna seperti anda apa ya pantas sama saya? kok nggak yakin Pak Dion nanti akan bahagia."
"Itu lagi, itu lagi yang kamu jadikan alasan. Salahku apa Luna? Cinta ini tak akan mungkin berpaling lagi."
*
*
*
__ADS_1
Happy reading.