
Dion tertawa melihat ekspresi Aluna yang kelewat takut.
"Pak Dion ini nggak lucu." Aluna mberengut kesal, saking kesalnya dia menghempaskan tubuhnya di sofa, hingga memantul beberapa kali. "Aku kira sakit beneran. Nggak taunya pura-pura"
"Oke aku pulang, hati-hati ya di rumah, jangan kemana mana, kalau terpaksa minta diantar Adam." Dion mengacak rambut Aluna. Aluna tersenyum sampai terlihat lesung pipinya. Ekspresi khawatir masih terlihat jelas di wajah Aluna.
Setahu Aluna bagian itu merupakan titik sensitif lelaki, makanya Aluna khawatir. Bagaimana kalau gara-gara kejadian tadi
"Aluna, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?" Dion menatap Luna penuh harap, sedangkan yang dilihat juga terlihat tegang.
"Apa pak? Ngomong aja, apa Luna melakukan kesalahan di kantor tadi?"
"Bukan masalah itu, kamu bekerja sangat bagus, kamu cepat belajar hal baru. Ini tentang perasaanmu padaku?"
"Perasaan Luna ke pak Dion? Kita ayah dan ibu Gemoy Kan. Jadi kita harus dekat dan saling menyayangi," jawab Luna ambigu. Dan menurut Dion itu membuktikan kalau Aluna masih belum bisa percaya pada laki-laki sepenuhnya. Setelah apa yang dialami selama ini.
"Katakan saja Luna apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus merubah sesuatu yang ada pada diri ini?"
"Tidak perlu Pak Dion, anda sudah sangat sempurna, bahkan anda tak pantas mencintai aku yang je …."
"Jelek dan kampungan." Dion menyentuhkan jemarinya di bibir Aluna. wanita itu langsung berhenti berujar seketika, ucapan Dion sudah menjadi skakmatt.
Apa harus aku tanyakan pada cermin ajaib? Biar tahu kalau wanita tercantik yang singgah di hatiku adalah kamu."
Pipi Aluna seketika merona mendapat pujian sedemikian rupa dari Dion.
Dion tahu Aluna pasti trauma dengan hubungannya dengan Adrian, itu sebabnya dia tak mudah untuk menerima cinta seorang laki laki lagi, tapi Dion akan tetap sabar. Dia yakin cinta Aluna pasti akan dapat ia gapai.
Dion melihat Arlojinya, selain itu Jessica juga sudah mengirim pesan. Dion lupa kalau besok ada janji dengan keluarga, akan pergi keluar negeri menghadiri acara pernikahan keluarga besar sang papa. Mungkin gadis itu mengingatkan agar bersiap-siap.
"Aku pamit Luna." Dion beranjak dari sofa.
__ADS_1
"Iya, Pak Dion hati-hati."
"Kamu juga."
"Selamat malam." Dion melambaikan tangan.
"Malam." Luna membalas lambaian tangan Dion.
Setelah Dion pergi Aluna segera menghempaskan tubuhnya di ranjang, bibi rupanya sudah tidur lebih dulu. Maklumlah dia bekerja seharian pasti juga lelah.
Pagi hari Aluna bangun dari tidur, dia segera mencari ponselnya, ponsel rupanya tertindih dengan bantal. Aluna cepat memeriksa, untung layarnya tidak ada yang pecah.
Aluna mendapat sebuah pesan dari Dion. Dengan buru buru dia membuka aplikasi hijau dan membaca pesan sambil tersenyum.
'Selamat pagi Aluna, apa kau bersedia ikut denganku?'
'Kemana Pak?' Aluna membalas secepat kilat
'Tapi Pak Dion, apa aku nggak sebaiknya tetap bekerja saja, bagaimana kalau saat anda di luar negeri aku manfaatkan untuk mempelajari hal baru di bidang sekretaris.
Ketikan jari Aluna membuat Dion membaca dengan senyum sekaligus bangga. Tetapi tetap saja dia tak bisa membiarkan Aluna dalam bahaya. Bagi Dion perumahan sederhana itu bisa menjadi persembunyian Aluna yang paling aman.
'Tidak perlu, aku khawatir dengan keadaan Dirimu, dirumahnya saja akan lebih baik. andai kau bersedia sungguh aku akan tenang jika kamu ikut bersamaku saja.
'Terima kasih Pak Dion, Luna akan berusaha menjaga diri dengan baik, aku bukan bagian keluarga anda, sedangkan itu pesta keluarga, jika aku ikut sepertinya aku akan sangat canggung.'
'Aku akan perkenalkan kamu sebagai kekasihku, Luna.'
'Maaf, Pak Dion. Aluna belum siap.' Aluna keukeuh menolak.
'Ya sudahlah. Jika itu yang kamu inginkan.'
__ADS_1
'Baiklah kalau begitu Aluna, aku akan menunggu kabar darimu setiap saat.' Dion memasang gambar emoji orang tersenyum dan Aluna membalasnya.
Lama lama hubungan Aluna dan Dion terasa seperti ABG yang jatuh cinta. Walau sesungguhnya Dion sudah memiliki pengalaman dalam hal wanita, tapi Dion sering sekali berusaha menahan hasratnya dan membebaskan dibelakang Aluna.
Setelah kirim pesan dengan Aluna Dion segera berangkat menuju bandara bersama keluarganya, sementara Gemoy sedang dalam perjalanan ke rumah Aluna diantar oleh Beni.
****
Keesokan harinya Aluna membelikan makanan untuk Gemoy ditemani bibi, makanan Gemoy ketinggalan di rumah. Aluna terpaksa harus membelikan makanan. Toko terdekat stok sedang habis, Aluna terpaksa keluar rumah agak jauh.
Sampai di toko makanan hewan peliharaan, Aluna memilih makanan yang paling disukai oleh Gemoy. Setelah mendapatkan semua yang diinginkan Aluna segera balik ke rumah.
Tapi rupanya nasib buruk sedang mengintai, Aluna melihat ada sosok dua lelaki yang tak asing sedang menatapnya dari kedai yang ada di seberang jalan.
Melihat penglihatannya tak salah, dua lelaki itu segera meninggalkan kedai, setelah meninggalkan dua lembar uang sepuluh ribuan. Dengan langkah pasti dia menyebrang jalan.
"Berhenti! Nona berhenti! Kami butuh penjelasan." Lelaki itu siap untuk menyeberang jalan. Dengan buru-buru Aluna berlari masuk ke pasar. Aluna tak mau bertemu dua pria tadi, Aluna membenci semua yang berkaitan dengan Adrian.
"Nona Luna, aku mohon jangan kabur!" Suara Argo dan Arga masih terdengar jelas menggema di area belanja.
Bibi yang bersama Luna juga ikut berlari kemanapun Luna pergi. walaupun sudah pernah lolos dari kejaran Beni waktu itu tetap saja pengalaman kali ini tetap saja menakutkan.
Aluna segera masuk ke dalam mobil dan melesat pergi dibawah kemudi Beni. Beni sudah tau kalau dua lelaki itu sudah melihatnya tadi. Beni yakin ini buruk, berita kalau Aluna masih hidup akan segera diketahui oleh Adrian dan lelaki itu pasti akan segera bertindak mencari Luna sendiri.
"Nona, kita sudah ceroboh. Bos Dion akan marah. jika tahu kita tak mematuhi perintahnya." Beni menatap Aluna yang tengah duduk disampingnya dan memangku makanan untuk kucing.
"Iya, aku tahu ini salah," Aluna memilih menjawab singkat, karena otaknya sekarang dipenuhi oleh beberapa rencana baru.
"Tapi Ben, bagus kalau mereka sekarang tahu aku masih hidup, aku akan kembali padanya jika dia kembali menjemputku, tapi bukan dengan Luna yang cupu, aku akan kembali padanya dengan Luna yang baru, Luna yang kuat , Luna yang penuh dengan pembalasan dendam."
"Apapun yang Nona lakukan harus tetap hati-hati, Kami siap membantu jika anda mengalami kesulitan."
__ADS_1
Aluna melihat ke spion sepertinya tak ada yang mengikuti, tak ada mobil dari keluarga Adrian yang ada di belakangnya. tanpa Aluna sadari kalau Arga dan Argo sudah memikirkan matang hal itu. Arga dan Argo memilih meminta jasa taxi untuk mengikuti Aluna agar istri bosnya tetap merasa aman dan nyeman.