
Angeline, maafkan Tante, Tante nggak tau kalau dia ke kelap malam. Tadinya Tante pikir dia menginap di rumahmu seperti tempo hari.
"Tidak Tante, Adrian beralasan akan langsung pulang karena kurang enak badan, tapi apa nyatanya? Dia tidak pulang. Kemana lagi kalau bukan ke tempat Luna.
"Ya, Luna sekarang berubah sangat cantik, kak Adrian tidak salah kalau dia betah disana," kata Chela jujur.
"Apa! Cantik? Kau memuji wanita gembel itu Chela? Dia perusah hubungan Aku dan kakak kamu!"
"Tidak! Tidak! Aku hanya salah bicara." Chela segera meralat ucapannya. Karena Angel pasti akan cemburu.
"Luna lagi yang kau salahkan. Kenapa kami hobi sekali menyalahkan dia?"
Adrian masuk rumah dengan kondisi kacau, wajahnya kusut dan bajunya berantakan, kemeja hitam disampirkan di salah satu lengannya. Adrian membanting tubuhnya ke sofa. Mabok yang semalam masih meninggalkan pegal dan pusing di kepalanya.
"Adrian, aku mengkhawatirkan keadaanmu!" Lirih Angeline yang langsung memasang wajah lembut.
"Terima kasih, tapi aku bukan anak kecil lagi yang harus dicari saat tak pulang." Adrian lalu pergi meninggalkan Angeline yang baru saja mendekat.
Adrian lalu masuk ke kamar, melepas kemejanya yang berbau alkohol. Ingin sekali dia berendam di bathup.
Adrian pusing, memikirkan sidang perceraian yang tinggal esok pagi. Sepertinya esok dia akan benar benar kehilangan Aluna, kehilangan istri yang baru dia sadari betapa berharganya saat dia ada di sisi.
Aroma kopi harum itu, membuatnya sering kali merindukan Aluna.
"Ah buatan Bibi tak senikmat buatan Aluna."
Adrian menenggelamkan tubuhnya, hingga tersisa kepala saja. Di bathup raksasa, dinginnya air membuat tubuhnya hidup kembali, tapi tidak dengan hatinya.
Tok! tok!
"Kenapa mengganggu? Kamu tidak tahu aku sedang mandi." Kata Adrian dengan nada ketus.
"Baiklah, aku menunggumu." Kata Luna lalu kembali duduk di tepi ranjang.
Adrian bangkit dari bathup, membilas tubuhnya dengan air shower, setelah itu dia melilitkan handuk di tubuhnya.
Setelah semua ritual mandi selesai, Adrian keluar, dia dapati Angeline yang menyambutnya dengan senyum merekah.
"Kenapa ada disini?" Tanya Adrian.
"Kenapa? Nggak boleh?" Angeline kini merasa Adrian tak pernah ingin dia disisinya lagi.
"Bukan begitu, aku hanya tanya, bukankah biasanya kamu suka sekali berkumpul dengan Chela dan Mama."
Aku hanya ingin bersama kamu Adrian, anak ini yang selalu ingin dekat denganmu. Dia pasti ingin kita segera menikah.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan menikahimu secepatnya." Janji Adrian.
Adrian kini menggosok rambutnya dengan handuk kecil, sambil berdiri di depan cermin. Ketampanannya makin terlihat jelas ketika usai mandi.
Angeline menghampiri dan memeluknya dari belakang, mengendus punggung sang kekasih yang beraroma harum. Tangannya menggelitik bagian tubuh depan Adrian.
"Adrian, kamu dulu sangat romantis, aku rindu kamu yang dulu."
"Sekarang aku masih sama."
"Tidak, kau sudah berubah."
'Maaf Angel, sebenarnya aku lelah pura pura seperti ini, sebenarnya sudah lama perasaanku padamu berubah, jujur Luna saat ini lebih membuatku nyaman dibandingkan kamu, sayang aku terlambat menyadari.'
"Angel tolong tinggalkan aku untuk sementara waktu, aku ingin istirahat dan besok aku harus ke persidangan, setelah itu kamu dan aku menikah, kamu senang kan? Yaudah sekarang kamu tinggalkan aku sendiri." Adrian bwruaahaelwpas tangan Angel yang mulai beraniwnggelitiki perutnya.
"Tidak mau, aku akan menunggumu disini." Kata Angel manja dan bandel.
Angel memilih menunggu Adrian di ranjang sambil terus melihat pahatan indah dan lekuk perut yang mirip roti sobek itu.
Angel tiba-tiba sangat berhasrat. Dia mencoba menggoda Adrian dengan membuka beberapa kancing kemeja milik sendiri. Hingga nampak kacamata kuda warna pink yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Adrian, tolong aku!"
"Ada apa Angel?*
Adrian mulai mendekati Angel, dia tak tega melihat wanita itu kesulitan menggaruk punggungnya.
"Aku bantu."
" Terima kasih."
Melihat Adrian mulai tergoda oleh tubuh mulus Angeline, Angeline semakin berani menggoda kekasih. Dia menarik jemari Adrian dan mengu*lumnya satu persatu. Setelah itu menciumnya dengan nafas mulai memburu.
"Angeline, apa yang kau lakukan?" Sabar! Sebentar lagi kita akan menikah." Adrian mendorong tubuh Angeline hingga dia terjerembab ke lantai.
"Adrian!" pekik Angeline.
" Angeline, maaf, maaf aku tidak sengaja mendorong tubuhmu, aku hanya ingin kita jangan melakukan kesalahan kedua sebelum kita menikah." Kata Adrian keberatan.
Angeline nampak malu, nyaris tak punya wajah lagi di depan Adrian karena selalu mendapat penolakan. Lelaki itu mulai menolak dirinya dengan terang terangan. Tanpa serta merta, Angeline langsung pergi dari kamar pribadi dengan hati dongkol.
"Aku akan mengatakan sikapmu ke aku ini pada papi!, Bagaimana jika dia akan membatalkan memberi uang tutup mulut untuk para model. Aleksander fashion akan mendapat tudingan penipuan. Dan kau tak punya wajah lagi di depan mereka.
__ADS_1
"Angeline, maaf aku sedang ingin sendiri sementara waktu itu aja. Harusnya kamu mengerti, perceraian aku dan Aluna sangat berat, Aku tidak siap dengan semua ini." Adrian mengatakan Alasannya.
"Aku harus mengerti kamu? Selalu minta dimengerti!" Angel lalu pergi meninggalkan kediaman Adrian dengan hati yang kacau.
***
Semalam, Dion ternyata mengadakan pesta kecil untuk kesuksesan acara Fashion show yang seharusnya menjadi hari menyedihkan seumur hidup tadi. Berkat Aluna semua menjadi lebih indah.
Dia mengundang teman-teman kuliahnya berkumpul di rumah nenek. Dion sengaja mengadakan pesta yang memilih taman menjadi tempatnya.
"Hai sobat, maaf acaranya diadakan mendadak dan sederhana." Kata Dion pada teman temannya baik cewek maupun cowok.
"Ini sudah keren banget King." Kata teman Dion yang kelihatan sangat suka pesta malam ini sambil menggenggam gelas bertangkai di tangannya. King adalah panggilan teman-teman pada Dion.
"Cewek Lo ya? Tumben Lo bawa dan kenalin ke kita kita, pasti hati elo udah sreg banget nie? " Celetuk salah satu teman.
"Ya, kenalin dia calon istriku, Aluna Pangastuti. Dia wanita spesial bagiku."
"Sukses buatmu, Dion." Teman Dion menghampiri bergantian memberi selamat pada Dion. Mereka ikut senang sahabatnya yang pernah menjomblo lumayan lama akhirnya menemukan kebahagiaan.
"Kalau ada satu lagi seperti Dia, tolong kabari aku"m," ungkap teman satunya lagi disertai candaan
"Bisa aja, Aluna hanya milikku satu satunya." Dion menginjak kaki sahabatnya. Otomatis dia menggerutu kesakitan dan pergi untuk melanjutkan pesta.
Nenek juga tertarik dengan acara yang dibuat cucunya.
Dia turun menuju lantai satu dan langsung ke taman. "Selamat malam cucu-cucu!"
"Malam nek" jawab mereka serempak.
"Aiya, selamat malam, silahkan bersenang senang sepuasnya."
Nenek terlihat masih sangat muda, siapa sangka wanita berusia kisaran tujuh puluh tahun itu bisa seperti wanita lima puluh tahunan.
Dion menghampiri Nenek dan mencium tangan lalu memeluk. Hal serupa dilakukan oleh Aluna.
"Nenek kenalkan dia Aluna, calon istri Dion."
"Aluna, nama yang cantik, secantik orangnya, tapi nama itu kok aku nggak asing lagi ya."
"Aluna apa kita pernah bertemu?" Tanya Nenek pada Aluna.
"Belum pernah, Nenek. Pertemuan ini pertama kali buat kita." Kata Aluna terlihat sekali sedang berpikir. .
"Tidak mungkin, aku tidak asing dengan nama Aluna."
__ADS_1
Dion menyela. "Nenek, pasti hanya nama yang sama."
"Ya, sudahlah, aku akan ingat ingat sendiri nanti, lanjutkan pesta kalian."