Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 240. Ada kerinduan.


__ADS_3

Semua teman-teman Jessica sekarang pulang, karena jayden tak mengizinkan masuk. Larangan keras itu berlaku untuk teman laki-lakinya.


Jessica tentu saja kesal melihat sikap Jayden, karena hanya di yang diperlakukan demikian, sedangkan pasien lain bebas untuk di besuk. 


"Sebenarnya apa masalah saya pada anda dokter." Tanya Jessica. Kali ini dia melembutkan suaranya. 


"Alasannya sudah jelas, teman anda berisik, dan kamu butuh istirahat. 


"Kenapa anda perduli, bukankah tugas saya disini hanya memeriksa dan memberi obat?"  


"Pedulii! Aku peduli sama kamu karena …." Jayden menggantung kalimatnya. 


"Karena apa?"  Jessica mulai penasaran dengan kalimat yang digantung oleh Jayden. 


"Kamu harus banyak istirahat." Jayden memandang Jessica tajam. Gadis itu membalasnya. 


'kamu berbeda Jess, kamu adalah satu satunya gadis yang menolak ketika aku menyentuhmu, kamu satu satunya gadis yang menggetarkan hati ini.'


"Baiklah, kalau begitu, anda juga pergi, aku mau istirahat," kata Jessica yang membuat Jayden mau tidak mau harus meninggalkan ruang VVIP itu. 


Saat Jayden tiba di pintu, Jessica segera turun, dia hendak ke kamar mandi. Jessica kesal, sepertinya tak ada waktu lagi untuk menunggu suster, karena dia sudah kebelet segera ingin membuang air yang terasa penuh di perutnya. 


Karena tergopoh saat turun dari brankar, Jessica tersandung dengan kaki tongkat infus.


"Aaaa." Pekik Jessica reflek. 


Jayden menoleh dan segera menangkap tubuh Jessica. 


Karena terkejut, khawatir, serta takut jika jessica benar-benar terjatuh, Jayden segera memeluk tubuh Pasiennya dengan erat.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jayden dengan nafasnya yang memburu. Menerpa hangat pipi Jessica. 


"Gadis itu kehilangan kata-kata, lidahnya seakan kelu, dia hanya menatap manik biru milik Jayden"


"Apa kau baik baik saja?" Tanya Jayden lagi. 


Kalimat kedua baru didengar Jessica karena Jayden sengaja pengucapkannya lebih keras. 


"A-A ku tentu baik-baik saja." Jessica tergagap. Malu sekali dia mendadak jadi bodoh di pelukan dokter tampan itu. 

__ADS_1


"Lepaskan, lagi-lagi kau mengambil kesempatan." kata Jessica yang tak segalak biasanya. Karena dia tahu kalau Jayden tadi tidak bergerak cepat, pasti dia sudah jatuh limbung di lantai. 


Rupanya aksi pelukan tadi dilihat oleh Mama Melani dan Papa  Davit yang baru saja kembali dari makan malam, dan di tangannya ada dua nasi bungkus untuk Jessica. David sengaja beli lebih karena bisa saja tengah malam dirinya akan lapar. 


Tapi begitu iseng mengintip putrinya dari kaca pengintai, dia malah memergoki dokter yang diidamkan menjadi menantunya  itu sedang berpelukan dengan putrinya. 


"Pa, sepertinya Jessica dan Jayden memang sudah dekat sebelum kita ingin menjodohkan mereka." Bisik Melani lalu memilih menunggu di tempat lain, Melani tak mau mengganggu Jayden yang dikiranya sedang memberi perhatian lebih pada Jessica. 


Biar aku antar, aku khawatir kamu jatuh lagi. Jayden melepas pelukannya. Lalu memegangi tongkat infus Jessica, menggandeng pelan tubuh Jessica dan mengantar ke kamar mandi. 


Kecanggungan kembali terjadi pada Jessica dan Jayden. Gadis itu baru sadar kalau ternyata lelaki di depannya tak semenyebalkan yang dia pikirkan. 


"Kunci pintunya dari dalam, aku akan menunggu di sofa, jika selesai panggil aku."


"Em, baiklah." Jessica mengangguk. Ada senyum tipis menghiasi bibirnya. 


Jayden benar-benar menunggu Jessica di sofa yang agak jauh darinya. Sebenarnya dia ingin langsung pergi tapi urung dia lakukan. Lelaki itu khawatir kalau dia pergi perawat belum juga datang karena sore ini ada beberapa yang tidak masuk. 


Jessica segera menyelesaikan ritual di kamar mandi, setelah selesai, dia tidak berniat memanggil Jayden, alasannya karena tak mau merepotkan. 


Jessica berjalan menuju ranjang dengan hati-hati lalu merebahkan diri dan berniat istirahat, sepertinya dua hari jadi pasien sudah membuatnya bosan banget.


Dari kejauhan Jessica bisa mengamati wajah lelah Jayden, lelaki itu terlihat manis saat tidur. Dan tak ada lagi sisi menyebalkan seperti sebelumnya. 


Lama dipandangi oleh Jessica, sepertinya malaikat penjaga Jayden tak terima, lelaki itu mengerjap dan merasakan lapar di perutnya. 


"Dokter tidak pulang?" Tanya Jessica. 


"Oh, iya harusnya aku sudah pulang, ini sudah hampir malam," ujar Jayden sambil melihat Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. 


Jayden beranjak dari tidurnya. Setelah meraih jas kebesaran di sandaran sofa yang tadi dia gunakan untuk alas kepalanya. 


Jayden mendekati Jessica dan memeriksa kening gadis itu. Jika malam tiba-tiba panas, atau sesak kabari aku ya, aku pulang dulu, nanti ada perawat yang akan menunggu. 


"Ya, aku pasti baik baik aja, tolong tangannya di kondisikan jangan pegang sembarangan," protes Jessica. 


"Ini bentuk perhatian. Dokter tidak pernah dilarang memegang kening pasiennya." kata Jayden kini malah mencubit hidung mancung Jessica. 


Jessica jadi salah tingkah, lama-lama dokter Jayden menjadi sosok kakak yang  menyenangkan. 

__ADS_1


Saat mereka sedang bercanda, papa David datang dan membawa dua bungkus nasi kotak.


***


Membayangkan sosok tampan itu sedang libur, Jessica makin malas tinggal di rumah sakit. Biasanya dokter Jayden akan mendatangi kamarnya dan pertengkaran akan tercipta, tapi sehari ini hanya ada satu hingga dua perawat yang melihat keadaannya lalu pergi. 


"Mam, aku mau pulang saja, bosen diikat terus begini, kayak kambing aja. Aku kan sudah nggak sakit."


"Tapi tetep tunggu dokternya Jess, ini hari minggu, dokter masih libur. Dia hanya datang untuk pasien darurat saja."


Mam, tolonglah, telepon aja dokter Jayden, suruh kasih izin aku pulang. 


"Yayaya, mama telepon, atau kamu memang sengaja kangen sama dia ya? kalau gitu apa biar dia datang kesini?"


"Mama, apa'an sih?"


"Mama tahu kok, semalam kalian habis peluk pelukan." 


"Mamaaaaaa! Siapa yang pelukan. Itu karena Jessica jatuh, ya Allah Mama. Tega banget anak sakit ditinggal sendiri. Sekarang malah di fitnah," wajah Jessica jadi bersemu merah.


"Jadi kemaren karena dia nolongin kamu? Nggak ah, mama nggak mungkin salah, aku lihat kalian pandang pandangan dan lamaaaa banget." Mama nggak percaya dengan kata-kata anaknya.


Terserah Mama deh, yang jelas aku sudah katakan yang sebenarnya, jika mama mau bilang Jessica pelukan, atau ciuman atau apalah, yang jelas semuanya karena tidak sengaja. 


Melani terlihat kecewa. "Ya, padahal mama berharap kalian dan Jayden ada hubungan spesial." Melani terlihat kecewa. 


"Kak Jayden pasti sudah punya pacar Mam, lagian mana ada cinta dipaksakan begitu, Jessica nggak mau ah."


"Iya, iya, mama minta maaf, mama nggak maksa kok, mama suka aja sama dia, Mbak Aluna juga setuju. Setahu mama dia baik, sopan dan juga tampan."


Jessica terdiam, dia memilih kembali tidur sambil menghembuskan nafasnya kasar, bicara sama mama malah membuat gadis cantik dengan tahi lalat di dagu itu semakin bosan dengan kesepiannya di rumah sakit. 


Tok! tok!


"Ma, ada tamu, pasti kak Dion."


"Bukan Jess, kak Dion keluar kota untuk satu minggu."


"Oh, perawat mungkin." Jessica tidak jadi bangun, dia kembali meringkuk dengan segala kebosanan membelakangi pintu masuk. 

__ADS_1


__ADS_2