
Setengah jam penerbangan, Karyawan Alexa Fashion sudah sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Mereka dijemput bus menuju hotel yang akan dijadikan penginapan.
Aluna di rumah hanya bisa melihat postingan dari Teman-teman, mereka semua terlihat bahagia.
"Ah enak sekali mereka liburan bersama, gimana ya rasanya …."
Aluna mengamati benda pipih miliknya saat sedang menyiapkan seblak ceker ayam untuk Chela.
Makin hari gadis itu makin aneh aneh permintaannya, sebelum membuat menu aneh pesanan Chela, Aluna harus browsing terlebih dahulu.
"Hai, Lun!"
"Iya Chela."
"Apa semua sudah siap,"
"Bentar lagi Chela."
"Lelet amat sih."
"Aku harus siapkan bahannya dulu, aku juga perlu belajar, soalnya aku nggak pernah bikin seblak."
"Nggak becus bilang aja," ketus Chela.
"Aku sudah berusaha, kenapa kamu nggak pernah menghargai usahaku?" Aluna mulai sedikit meninggikan suaranya.
"Berani ngelawan Lo ya, Mama! Mama! Mama! Tolongin Chela" Chela berteriak memanggil Selena dengan keras.
"Apa yang kamu lakukan Chela, Mama akan salah paham." Aluna membungkam bibir Chela yang brrteriak berlebihan. Aluna takut Chela akan membuat Selena salah paham.
"Ada apa sih Chela? Kamu bikin Mama jantungan tahu. Suara kamu siang siang sudah seperti terompet tahun baru saja."
"Ini Mam, a aaaaa. Sakit Mam"
"Luna kamu mau bunuh anak saya?"
Selena yang melihat Aluna menggenggam gagang sutil sambil menahan tangannya, dan tangan satunya membungkam mulut Chela, terkejut dan langsung marah.
Selena segera merebut sutil dari tangan Aluna.
"Ti tidak, Nyonya, dia yang lebih dulu memulai. Aku hanya melarang berteriak saja."
"Kau jangan mencoba coba menyakiti Chela, dia majikan kamu, kamu lupa, kalau bukan suami saya yang membawa kamu kesini, sudah saya tendang dari rumah ini, kita disini tidak akan pernah mengenal kamu." Selena membesarkan bola matanya untuk menakuti Aluna.
__ADS_1
Semenjak kau ada di rumah ini, Adrian terus saja menunda pernikahannya dengan Angel, kamu tahu aku hanya ingin Angel yang jadi menantuku, bukan kamu yang kampungan ini."
Chela yang bersembunyi dibelakang Mama tersenyum. Sambil menjulurkan lidahnya mendengar Aluna dimarahi Mama.
"Mama, lihatlah, pergelangan tanganku merah, dia mencengkeram tadi, tenaganya sungguh kuat seperti monster."
"Chela, ngapain kamu ke dapur, sudah ayo kita pergi jangan dekat dekat dengan dia."
"Iya, Ma. Aku menyesal tadi kesini."
Chela di gandeng Selena pergi. Dia sempat menoleh dan menjulurkan lidahnya.
Aluna hanya menggeleng melihat sikap adik ipar dan mama mertuanya.
Aluna tidak mengerti kenapa adik iparnya juga begitu pandai membuat keadaan lebih buruk. Padahal Aluna hanya memegang lengannya dan tentu tak sakit.
Imah yang selesai menjemur baju tertawa kecil, dia tadi mendengar semua obrolan mertua dan menantu.
Sabar Lun, mereka berdua sebenarnya baik kok, hanya saja dia saat ini sedang menguji kesabaranmu saja.
"Bibi, ujiannya kapan berakhir, Aluna capek rasanya." Luna berkata dengan suara lemah dan putus asa.
Sudahlah, dibikin enjoy, nanti juga bakal baik sendiri, dia bakal capek kalau terus kerjain kamu, tapi syaratnya kamunya lebih cerdik dan buat dia nggak bisa ngehina kamu." tutur bibi, yang di ikuti anggukan kepala Aluna.
Aluna tersandung kaki Chela dan dia terjatuh.
"Astaga, kakak ipar kenapa kamu bisa jatuh. Mata sudah empat, apakah masih kurang? Hahaha."
"Sini aku bantu berdiri." Chela menawarkan jemari tangannya.
"Aku bisa sendiri." Aluna memasang wajah kesal sedangkan Chela tetap tersenyum penuh kemenangan.
Aluna bangkit sambil memegangi pinggangnya yang sakit, Aluna berjanji setelah Alex pulang dia akan meminta Adrian segera menceraikannya saja. Pernikahan yang dia jalani tak membuatnya bahagia sama sekali.
"Chela mungkin sekarang kamu bisa semena-mena dengan aku, karena kamu tahu aku tak akan bisa membalasnya, tapi percayalah mungkin suatu hari ada orang yang membalasnya, entah itu keluarga suami kamu nanti, atau teman teman yang kamu sayangi." ucap Aluna sebelum dia benar benar pergi.
Chela diam, dia tak menyangka Aluna yang dia lihat lugu dan polos bisa merangkai kata yang membuat dadanya bergemuruh.
"Nggak mungkin, karena gue nggak cupu dan kampungan kayak Elo. Gue cantik, semua keluarga suami gue pasti akan menyayangiku kelak," jawab Chela yang tak terima dengan kata kata Aluna.
"Ih, bisa bisanya dia bicara begitu, emang dia pikir siapa, berani sumpahin gue, nggak mempan kali."
Chela menikmati seblak buatan Aluna. "Ih, enak banget masakan dia, kuahnya juga sedap. Ada gunanya juga si cupu disini, gue jadi bisa makan semau gue setiap hari," gerutu Chela.
__ADS_1
***
"Luna gimana kerjaan sudah beres?"
"Iya Pak Dion, ini baru beres."
"Baiklah aku jemput sekarang."
Aluna segera ke kamar, dia ingin sekali berdandan dan memakai baju pemberian Jessica tapi Aluna masih ragu. Aluna takut justru dia akan semakin lucu dan ditertawakan Chela lagi.
"Pak Dion, anda nggak malu jalan sama saya?"
"Malu kenapa? Kalau kamu nggak punya hidung dan mulut mungkin aku akan malu."
"Pak Dion kenapa anda baik?"
"Baik? Kamu berlebihan Luna, aku hanya baik denganmu satu kali kau selalu bilang aku baik, sekarang justru aku mau merepotkan mu, Gemoy ngambek makan pasti merindukanmu."
"Pak Dion bisa aja."
"Buruan aku sudah di depan pintu."
"Iya iya, aku masih siap siap." Aluna memakai kulot panjang dan kaos warna putih, dia menyisir rambutnya yang kemerahan lalu membiarkan tergerai, Aluna terkejut, tanpa kacamata dia sudah bisa melihat dengan jelas, pasti jus wortel dan vitamin yang setiap hari di konsumsinya sudah memberi dampak positif.
Tapi Luna belum siap melepas kacamatanya sekarang. Dia masih memakai untuk berjaga jaga.
Usai menyemprotkan minyak wangi secukupnya Luna segera keluar menemui Dion yang sedang berbicara dengan Selena di ruang tamu.
Walaupun Adrian dan Dion selalu bersaing. Namun, orang tua mereka tetap tak bisa menghilangkan hubungan saudara, Dion juga selalu bersikap baik dengan Selena dan Alex.
"Tante, Aluna akan saya ajak pergi sebentar, meminta dia menemani aku, periksakan Gemoy."
"Dion, kamu ini tampan, Tante kok heran sama kamu bisa bisanya kamu bawa dia kemana mana. Nggak malu apa?"
"Nggak tu, Tan. Justru Dion nyaman jalan sama dia. Rasa nyaman itu nggak bisa kita beli dengan apapun."
"Ya, ya ya ya. Terserah kamu aja, Tante sudah ingatkan." Selena tersenyum pada Dion dan mengulurkan tangannya. Dion mencium tangan Selena begitu juga Aluna.
"Nyonya saya pamit."
"Ya ya pergilah, yang lama ya jalan-jalannya sama Dion, beruntung tu ada pangeran ngajakin jalan badut kayak kamu! semoga hubungan kalian nanti sampai pernikahan."
"Luna yuk!" Dion tersenyum pada Selena dan meraih jemari Aluna. "Terima kasih Tante doanya."
__ADS_1
*happy reading, Emak itu kalau habis up suka bolak balik aplikasi. Lihatin kok nggak ada yang komen ya? emak suka ngarep komen like dan Vote.