
Merasa tidak lagi nyaman di tempat yang sekarang Adrian memutuskan untuk pulang.
Sampai dirumah Adrian berjalan dengan wajah lesu dan muka kusut. Dasi hitam yang ada dilehernya sudah miring tak karuan. Rambutnya yang biasa tapi kini juga acak acakan.
Adrian segera duduk di sofa yang ada di teras, sepertinya menyendiri menjadi hobinya sekarang,
Mama tiba-tiba datang menemani Adrian. Membuat lamunan laki laki itu tak fokus.
"Adrian, kamu pasti capek, kenapa nggak langsung masuk, terus mandi."
"Entar aja Ma."
"Kamu masih mikirin Luna?"
"Buat apa mama bertanya tentang Luna, bukannya nggak pernah suka?"
"Cuma tanya Adrian. Beruntung saja Dia, baru cerai dari kamu dapat Dion. Sedangkan dia kan berasal dari keluarga yang tak jelas."
Adrian kembali diam, lelah tubuh dan pikiran,membuatnya ingin sekali marah, tapi pada siapa dia harus melampiaskan, tidak mungkin pada wanita yang sudah membesarkannya penuh kasih sayang.
"Rian, Angeline mungkin sudah takdir mu, kamu harus berlapang dada menerima dia."
"Andaikan dulu mama sedikit saja mendukung hubunganku dengan Luna pasti perpisahan ini tak akan terjadi," kenang Adrian. Suaranya terdengar lirih.
"Kenapa kamu salahin mama, kamu yang bilang Aluna tidak layak untukmu." Selena tak mau disalahkan.
"Ya, memang nggak ada yang perlu aku salahkan Ma, semua sudah terlanjur, mungkin Adrian memang ditakdirkan bukan untuk Luna tapi untuk Angel. Dan semua orang dirumah ini benar, sikapnya selama ini dengan Luna juga benar, kalian selalu menganggap Luna rendah juga benar."
Mama terlihat diam, yang dikatakan Adrian memang benar, Luna tak pernah dianggap sebagai menantu selama tinggal di rumah ini melainkan babu.
"Adrian, mama minta maaf, kita semua memang salah." Mama Selena terlihat menyesal.
Chela juga terlihat menyesal, dia lebih banyak diam sejak pulang dari pengadilan, apalagi melihat sikap Angeline yang makin lama makin ngelunjak.
"Kak, kakak Rian pasti lelah, Chela buatkan cemilan mau?"
"Makan masakan kamu? Ogah! Yang ada nanti malah bikin diare." Adrian langsung nyelonong ke kamar miliknya, lalu menutup pintu dengan kencang. Suaranya membuat bibi yang sedang mencuci piring harus menjatuhkan piring di tangannya.
Chela, mengerucutkan bibirnya, matanya berkaca-kaca, melihat kakaknya bersikap demikian kasar dengannya, padahal dulu dirinya adalah kesayangan, selalu berkata penuh cinta dan perhatian.
__ADS_1
"Chela, jangan sedih, kak Rian mungkin lelah."
"Ma, padahal Chela sudah berniat baik, tapi kenapa malah sikapnya seperti itu. Apa Chela melakukan kesalahan?"
"Tidak Chela, seperti yang mama katakan tadi, mungkin kakak kamu sedang banyak masalah atau pekerjaan." Selena akhirnya berhasil membujuk anaknya yang tengah kesal.
Berhari hari Adrian berubah menjadi pendiam, kalau ditanya hanya marah, bahkan dia lupa kalau besok sudah hari pernikahannya dengan Angeline. Dia baru ingat ketika tuxedo dan perlengkapan baju nikah datang ke rumahnya diantar kurir.
"Tuan Adrian, anda diminta turun sama Nyonya."
"Katakan aku sibuk, aku tidak ada waktu," jawab Adrian yang hanya duduk bersandar dengan ranjang sambil terus melihat foto Aluna di ponselnya.
"Tapi Tuan, ada Tuan Tito menunggu."
"Bibi tidak dengar yang aku katakan tadi, aku sibuk."
"Tuan sampai kapan anda seperti ini? Perusahaan butuh anda."
Bibi yang merawat Adrian sejak kecil tentu tahu bagaimana cara menaklukkan laki laki itu."
"Sekarang pergilah." Perintah Adrian yang beranjak turun dan merapikan bajunya. Lalu menemui Tito.
"Pak Rian, ada berita sangat rahasia, dan selama ini kita kecolongan."
"Katakan jangan berbelit Tito?" Kata Adrian tak mengerti.
"Kita kecolongan, rupanya selama ini ada beberapa karyawan selundupan dari pihak pesaing kita, yang sengaja dipekerjakan untuk memata-matai perusahaan."
"Benarkah?"
"Iya, jadi mereka bisa dengan mudah memantau, bahkan mengetahui semua kelemahan dari perusahaan. Itu sebabnya kita selalu mengalami kesulitan, karena musuh ada di depan kita satu langkah."
"Cari tahu! Dan segera temukan, siapa mata-mata itu. Dia pasti musuh yang berbahaya."
***
Angeline hari ini sangat bahagia, akhirnya mimpinya menikahi lelaki impiannya terwujud, dia mengelus perutnya yang rata.
Mama Yasmin ikut bahagia melihat putrinya senyum senyum di depan cermin. Meski bukan putri kandung, tapi Yasmin sangat mencintai Angeline. Dia sudah membesarkan dan memberinya pelukan pada anak tirinya itu sejak kecil.
__ADS_1
Kekhilafan mengejar cinta lelaki kaya, membuat dia meninggalkan putri kandung yang tak tahu bagaimana bentuk dan rupanya sekarang. Kerinduan yang besar terobati ketika melihat Angeline tumbuh menjadi gadis manja dengannya. Padahal Aluna, putri kandungnya tidak bisa dibandingkan dengan siapapun, dia gadis kuat dan hebat.
" Kamu cinta banget ya? Sama papanya calon si debay?"
"Tidak Mi, Aku cuma cintanya sama Adrian aja." jawab Angel sembari menoleh pada Maminya.
"Maksudmu?"
"Mami janji bisa jaga rahasia?"
"Maksud kamu apa sayang bertanya begitu? Bukankah Mami ini teman kamu berkeluh kesah? Dan sudah menjadi tempatmu menyimpan rahasia terbesar sekalipun."
"Sebenarnya anak ini bukan buah cintaku dengan Adrian. Tapi anak ini karena kesalahan dengan pria lain."
"Apa? Kenapa kau menyuruh Adrian untuk menikahimu Nak? Kalau dia tahu, dia pasti akan marah, dan pernikahanmu ada di ambang kehancuran."
Tidak akan tau Mi, aku sudah menata semuanya dengan rapi. Dokter Hendra sudah membuat anak ini menjadi bayi Adrian, dia sudah memalsukan data yang sebenarnya. Mami tahu Hendra sahabatku itu akan membantuku."
Selena terlihat keberatan. "Angeline, harusnya kamu menikah dengan ayah biologis bayi itu, bukan menjebak Adrian. Yang kamu lakukan itu tidak benar."
"Maksud Mami aku harus menikah dengan lelaki miskin, dan hanya seorang Fotografer?" Angeline menghentikan kalimatnya, dia juga tidak yakin itu anak Frengky, sedangkan dia juga pernah menghabiskan malamnya dengan seorang bartender tampan di sebuah klub.
"Jadi bayi yang kamu kandung itu anak Fotografer yang sering main kesini sama kamu itu?"
"Iya." Angeline mengangguk.
"Angeline, kamu seharusnya jangan lakukan itu nak! Bagaimana bisa kamu melakukan kesalahan sebesar itu, seharusnya kamu bisa menjaga diri dan tidak berhubungan dengan pria lain selain Adrian. Jika seperti ini Adrian juga akan curiga kalau anaknya tidak mirip dengannya, bahkan mirip orang lain."
"Mami tidak usah menceramahi Angeline menyangkut soal Adrian, Angeline lebih tahu semuanya. Mami tinggal diam saja dan doakan saja semoga aku dan Adrian bahagia, bukan malah menceramahi aku seperti ini."
"Angeline, Mami berkata seperti ini karena sayang sama kamu, mama sangat mencintai kamu."
"Halah, sampai kapanpun, ibu tiri pasti akan menjadi ibu tiri yang hanya baik di depan saja, supaya bisa disayang sama Papi, yang di tunjukkan hanya kepalsuan."
"Angeline!!" Yasmin kecewa dengan ucapan Angeline yang menyakiti hatinya, selama ini dia tak pernah sekalipun membuat gadis itu seperti anak tiri, bahkan Angeline dia perlakulan bak berlian berharga.
"Baiklah Nak. Mama akan dukung kamu. Bagaimanapun kebahagiaan kamu yang terpenting. Jika kamu yakin Adrian mencintaimu dengan tulus, dia pasti akan memaafkan kesalahanmu nanti."
__ADS_1