
"Berani sekali kau menyakiti Aluna!" Dion menatap Angeline dengan tatapan nyalang. Dia mendekati wanita ringan tangan dan memelintir ke belakang.
"Lepas Dion, aku hanya ingin kasih pelajaran wanita ular ini, kau harus hati-hati dengan dia, lihatlah dia itu pura pura cupu untuk menarik simpati kalian berdua, gadis cupu tak akan berani di panggung dan berlenggak lenggok seperti tadi." Angel berbicara panjang lebar kini dia mulai menghasut Dion juga.
"Plakk ! Plakk!" Aluna membalas memukul wajah Angeline, serupa seperti yang dia lakukan pada pipinya tadi.
"Kurang ajar! Berani sekali kau!" Angeline ingin menyentuh pipinya yang memerah tapi tidak bisa. Dia meronta supaya Dion melepaskan, tapi sayang lelaki itu belum ingin melepasnya.
Adrian bingung harus membela siapa. Dua wanitanya yang sama sama penting dihidupnya sedang berseteru.
Angeline berharap Adrian meminta Dion melepasnya, tapi Adrian melihat tatapan Luna yang terlihat begitu kecewa dengan dirinya. Entah kenapa Adrian merasa Aluna ingin berbicara sesuatu tapi belum ada kesempatan. Atau Aluna kecewa beberapa hari lalu dia tak pernah datang karena sibuk dengan Angeline.
Dion membuka mulut lebih dulu. "Siapa wanita yang harus kau bela? Angeline atau Aluna? Diantara dua wanita ini pasti kau berharap akan bersamamu, selalu ada di sampingmu, tapi jangan Lupa mereka tak akan pernah bisa disatukan. Wanita itu memiliki hati yang seperti kerupuk, jika sedikit saja hatinya terbentur maka akan remuk. Jika kau masih mempertahankan Angeline, aku akan mempertahankan Luna bersamaku." Kata Dion dengan tegas. Dion tahu Adrian akan berat melepas Angeline.
"Siapa kau berani mengatur hidupku." Adrian tak suka Dion memberi pilihan.
"Anggap saja aku adalah orang yang mencintai Luna, bahkan aku tak bisa hidup tanpanya, aku pria yang tak pernah ingin melihat dia menangis. Melihat dia tersenyum bahagia adalah impianku"
Adrian menatap Aluna dan Angeline bergantian. Seperti sedang menimbang nimbang siapa yang paling layak dia pilih.
"Lepaskan Angeline, aku akan pergi dari sini bersamanya." Adrian tak tega Angeline terus kesakitan karena Dion memelintir tangannya.
Aluna memejamkan mata hingga beberapa bulir air mata jatuh di pipinya, mendengar keputusan Adrian.
Aluna tahu kalau Angeline lebih penting daripada dirinya. Buktinya setelah Dion melepaskan Angeline, Adrian segera menggandeng dan mengajaknya pergi.
'Aku tahu kau pasti akan memilih Angeline, Pak Rian, kau hanya mencintai dia, dan aku hanya mainan buat kamu, sebentar kau beri harapan, sebentar kau hempaskan. Kau anggap aku tak punya perasaan. Ah, bodoh kau Luna, bagaimana bisa kau berharap tempat spesial di hati lelaki itu, sejak awal dia tak hanya mainin perasaanmu saja..
Aluna menatap punggung dua insan yang mengacaukan hatinya itu. Dia sungguh merasakan sedih yang amat dalam. Adrian benar benar pergi bersama Angeline tanpa kembali menoleh menatap dirinya.
'Aku benar-benar akan membuat kita bercerai, tak ada yang perlu dipertimbangkan lagi.'
Aluna berlari menuju ruang pribadinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Dion ingin segera mengejarnya tapi mantan sekretaris itu menahan.
"Maaf Pak, wanita suka sekali menumpahkan kesedihannya sendiri. Beri waktu buat Nona Luna beberapa saat lagi.
__ADS_1
Dion yang sudah hampir beranjak, tapi Diva memegang lengannya membuat dia urung mengejar Aluna.
"Oke, aku akan mbiarkan Luna menenangkan diri. Tapi lepaskan tanganmu dari lenganku. Aku akan menemui Adrian di tempat parkir.
Diva menurut, dia melepaskan cengkeramannya di lengan Dion. "Maaf Pak, saya sudah lancang."
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah mengingatkan," kata Dion dibalas anggukan oleh Diva.
Dion mengejar Adrian yang baru saja tiba di parkiran. Dion merasa pembicaraan didalam tadi belum cukup.
"Berhenti!"
"Ada apa Dion! Puas ku membuat aku buruk dihadapan Luna?" Kata Adrian lirih, berharap Angel tak mendengar.
"Kau yang membuat dirimu buruk dimata istrimu, Aluna sebenarnya mencintaimu, tapi kau malah memilih wanita ini. Jangan pernah menyesal jika aku mengambilnya darimu, karena kau sudah mencampakannya."
"Jangan percaya Rian," kata Angeline yang baru saja duduk di mobil kini kembali turun dan mendekati Adrian. " Aluna tidak mungkin sayang denganmu, Aku melihat sendiri Luna sudah tidur bersama Dion berulang kali, makanya dia menolak tidur denganmu. Dan pura pura dia adalah korban , padahal dia hanya ingin lepas darimu dan memilih bersenang senang" Angeline terpaksa berbicara dusta.
"Dasar ular kadut, demi lelaki plin plan itu kau bahkan rela menjatuhkan harga dirimu. Aku tak menyangka, ternyata kau dari dulu tak berubah."
Adrian kini mulai sedikit bimbang. Angeline yang faham dengan sikap Adrian dia segera menyeret tubuh kekasihnya supaya lekas masuk mobil.
***
Dua hari setelah kejadian malam itu Luna kembali bekerja seperti biasa.
"Pagi Luna,"
"Pagi Nona!"
Para karyawan menyapa Luna yang sudah datang lebih dulu dengan ramah.
"Pagi, All."
Dion yang baru datang juga memasang wajah sumringah karena bidadari hatinya sudah ada ditempat. Bahkan Luna terlihat sudah tak sedih lagi.
__ADS_1
"Luna, kata Pengacara Yogo kemungkinan besar kau yang akan menang. Bukti Adrian berselingkuh sudah menjadi alasan yang tepat dan kuat." Kata Dion yang sudah berjongkok dengan siku bertumpu pada meja kerja Aluna.
"Bagus dong, biar dia bisa segera menikah dengan Angeline." Luna tak menanggapi serius ucapan Dion. Dia memilih fokus pada laptop di depan.
Dion merebut jemari Luna yang terus bermain lincah diatas keibord. "Luna setelah kau bercerai, aku akan melamarmu secara resmi, tolong terima lamaranku ya."
Aluna menatap Dion dengan menampilkan senyum beserta lesung di pipinya, lalu menarik jemari dengan cepat, karena malu dilihat karyawan lain.
"Tergantung, anda melamar ingin jadi apa tulang kebun, security, atau …."
"Suami yang selalu ada untukmu dalam suka maupun duka." Kata Dion dengan cepat. Dion tak suka dengan candaan Aluna yang tidak pernah serius ketika membahas pernikahan. "Aku dan kamu, Sah dan kita halal."
Aluna menggelengkan kepala melihat tingkah bosnya yang selalu saja berhasil mengganti kesedihannya dengan senyum.
"Pak, anda harus duduk di ruang Bos. Ini ruang sekretaris. Kalau anda terus disitu bagaimana saya bisa konsentrasi bekerja."
"Hari ini lupakan pekerjaan, ikut saja denganku," ajak Dion.
"Tidak bisa Pak Dion, pekerjaanku menumpuk, aku tak bisa meninggalkannya. Kalau anda mau pergi ya pergi aja." Aluna menjawab dengan bibir mengerucut.
"Aluna sejak kapan sekretaris melawan keinginan bosnya?" Tanya Dion.
"Sejak Bos, meminta sekretarisnya untuk bekerja diluar pekerjaannya," jawab Aluna.
"Oke, mulai sekarang kamu aku pecat jadi sekretaris. Dan kau bukan seketarisku lagi," kata Dion lagi sambil menghubungi Diva
"Diva tolong ke ruangan Aluna, aku akan jalan jalan dengan dia seharian ini, tolong selesaikan pekerjaannya."
"Tidak bisa Pak, pekerjaan saya juga masih banyak." jawab Diva dari ruang kerjanya.
"Diva apa masih ingin menolak, jika imbalannya adalah gaji naik sepuluh persen."
"Apa? gaji naik. Baik pak aku akan segera kesana sekarang, lima menit lagi semua pekerjaan akan selesai," kata Diva penuh semangat.
__ADS_1
"Dasar kalau dengar gaji naik aja langsung tak ada alasan."
"Maaf Pak, biaya hidup sangat mahal sekarang, " kata Diva di seberang dengan suara bahagia.