Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 122. Api cinta mulai menyala.


__ADS_3

"Luna bagaimana perasaanmu padaku apa kau mencintaiku?" Dion terus mencecar Luna dengan pertanyaan yang sama. 


"Aku mengantuk, pengen bobok Pak Dion, anda berisik sekali."


Akhirnya Dion berinisiatif bertanya tentang hal lain.


"Luna apa kamu suka aku ada di dekatmu?"


Luna mengangguk berulang kali dalam dekapan Dion. Matanya tinggal setengah Watt. 


"Bagaimana jika aku pergi dari hidupmu untuk selamanya Luna? Apa kamu akan mencariku? Atau kamu malah bahagia tidak ada yang mengusik dirimu lagi" tanya Dion lagi.


"Jangan pergi Pak, jangan pergi, aku tak bisa kehilangan kedua kalinya, tetaplah bersamaku seperti hari ini." Aluna yang tadinya mengantuk kini matanya terbuka kembali. Memeluk Dion makin rapat dan hangat. 


Dion belum pernah dipeluk Aluna seerat hari ini,meski dalam keadaan mabuk, tetap saja jantung Dion ingin lompat dari sarangnya. 


"Pak Dion jangan pergi, aku ingin kau selalu bersamamu, aku tak bisa tanpamu." Aluna mendongak menatap Dion. Matanya sayu dan bibirnya terus merancau begitu indah. 


"Aku tidak akan meninggalkanmu selama kau ingin aku didekatmu, aku juga tak bisa kehilanganmu, mungkin aku akan gila jika itu terus terjadi. Dion tak ingin pelukan dimalam ini cepat terlepas. Aluna terlihat mendongak kembali menatap manik mata milik Dion dan tersenyum. 


Wajah Luna yang tengah dilanda mabuk terlihat lebih cantik dan menggairahkan. 


Dion ingin sekali mengecup bibir Luna, untuk melampiaskan rasa bahagianya hari ini. 


"Luna," lirih Dion. Lelaki tampan pujaan wanita di kantor itu  menarik dagu Aluna lalu menggeser posisi duduk Aluna ke dalam pangkuannya. "Luna, i love you."


"I love you, i love you pak Dion, tetaplah bersamaku, aku tak mau kehilangan untuk kedua kalinya. " Rancau Luna, yang masih dipengaruhi Alkohol. 


Jarak sedekat ini bersama Luna sungguh membuat Dion tidak berada dalam fase aman, sepertinya sebuah kesalahan besar menarik Aluna dalam pangkuannya. Aroma alkohol hanya tercium sedikit, karena nafas itu berasal dari bibir seksi Aluna Dion tetap menyukainya. 


Dion akhirnya memutuskan untuk mengecup bibir Luna. Orang mabok memang lebih gila daripada orang jatuh cints, Luna membalas kecupan Dion lebih agresif lagi.


 Aluna belum berpengalaman tapi hari ini dia melakukan penuh kelembutan dan kehangatan.


Dion mulai menjelajah seisi rongga hangat milik Luna, gerakannya halus namun pasti, kini lidah mereka saling membelit dan bertautan. Suara paduan lidah keduanya membuat mereka semakin dilanda gelora.


"Mpphh." Luna melepas pagutan yang terdahsyat seumur hidup ini, hanya untuk menghirup oksigen. Setelah pasokan oksigen cukup mengisi rongga paru-parunya mereka kembali menyatukan bibir 


Dion yang merasakan tubuhnya semakin panas dia ikut terbuai dalam kegilaan. Dion belum pernah merasakan berpagutan senikmat dan manis saat bersama Luna. 

__ADS_1


Tangan Dion memegang pinggang luna, sedangkan kedua jemari Luna meraih tengkuk Dion dengan erat. Terlihat sekali mereka malam ini tidak ingin terlepas satu sama lain. 


Halaman yang sepi dan hanya dipenuhi dengan cahaya lampu yang temaram membuat kegilaan mereka tak terusik. Hanya cacing saja yang berisik dalam saluran pembuangan air. 


"Setelah merasakan ada yang perih Dion melepaskan tautan bibirnya, Dion mengusap bibir Luna yang belepotan dengan liurnya, bibir sensitif Aluna sedikit berdarah. 


Adek kecil yang semula tidur nyenyak kini bangkit dan berubah menjadi King Kobra yang ganas, celana yang semula pas dipakai tiba-tiba terasa sesak dan penuh. 


Dion makin gelisah, ternyata apa yang dilakukan tadi membuat dia makin terjebak dalam situasi yang buruk. 


"Luna!"


"Heh. Kenapa kau melepasnya? Aku ingin kau menciumku satu kali lagi pak Dion." Luna yang mabuk alkohol ternyata membuat Dion lebih mabuk kepayang. 


"Luna, Ayo kita masuk. Jika terus seperti ini bagaimana jika aku tak sabar lagi menunggu sampai kita menikah. 


"Baiklah kita masuk rumah. Tapi gendong aku lagi ya, aku suka digendong olehmu, tubuhmu kuat. Dan banyak kotak-kotak, aku suka." Aluna menggelitik dada sixpack milik Dion. Untung Aluna tak sampai menyenggol yang sudah mendongak di bawah sana. Andai itu terjadi Dion akan semakin susah mengendalikan diri. 


Aluna, rupanya kalau mabok, kau jadi bar bar begini. Dion menarik Aluna dalam dekapannya dan membopong tubuh sekal milik Luna. Dion kini tidak lagi menggendong Luna di punggungnya, lelaki itu memilih membopong dalam dekapannya. Luna berpegangan pada tengkuk Dion


"Sepertinya bobot tubuhmu sudah bertambah daripada saat di hotel waktu itu."


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Dokter Clara."


"Dia hanya teman baikku Luna, keberadaan dia tak akan pernah mempengaruhi cinta ku padamu, apalagi hubungan kita."


"Kamu tidak bohong?" 


"Tentu tidak, aku tidak pernah berbohong apapun padamu."


"Emppp ... Pak Dion, kata-kata anda sangat manis sekali." Aluna memperkuat cengkeraman pada tengkuk Dion lalu kembali mengecup bibir Dion. 


"Nanti dilihat bibi," kata Dion lirih saat di depan pintu.


"Bibi tolong buka pintu" teriak Dion. Pintu tidak dikunci tapi Dion tetap saja memanggil lebih dahulu. 


Tak sampai satu menit bibi segera membuka pintu, sebenarnya dari tadi dia sudah menunggu majikannya masuk. Yang ditunggu betah di mobil, jadi Bibi lebih memilih menyiapkan minuman hangat untuk tuan dan majikannya. 

__ADS_1


"Rapikan kamar Aluna, Bi.'


"Sudah rapi Den." 


Bibi mengekor di belakang Luna sambil membantu Dion membuka pintu kamar. 


"Tumben nona mabok, Tuan." tanya bibi heran dan kuatir. 


"Dia hanya minum sedikit bi, mungkin karena ini baru dia lakukan seumur hidupnya jadi tubuhnya bereaksi berlebihan," jawab Dion sambil membaringkan Luna diranjang sempit yang hanya muat dua orang itu.


"Oh, kalau begitu bibi agak tenang mendengarnya," kata Bibi menyerahkan selimut pada Dion.


Dion menerima dan melebarkan selimut yang terlipat rapi, lalu menutup separuh tubuh Aluna.


"Nanti kalau dia sudah bangun tidur, tubuhnya akan kembali normal," kata Dion yang sudah sering meneguk minuman keras dan sering pula mengalami mabok.


Bibi lalu pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk Dion dan Aluna. 


"Luna, kamu kalau mabok lucu. Kamu suka sekali menciumku." Dion membelai wajah Aluna dengan lembut dan menatap setiap lekuk wajahnya nyaris tanpa berkedip. 


Luna membuka matanya sambil tersenyum, merasakan belaian tangan Dion. Luna mencium tangan Dion dan memeluknya erat. 


"Aku ambilkan makan, kamu tadi di pesta hanya makan puding," Kata Dion hendak beranjak dari kamar Aluna. 


"Pak Dion disini saja, tetaplah bersamaku. Aku tidak lapar." Aluna menarik kembali lengan Dion yang hendak terlepas, memeluknya semakin erat. 


'Luna aku mohon jangan seperti ini, aku tak kuasa terus berdekatan denganmu seperti hari ini, kau tau adik kecil dibawah sana sudah meronta, aku sangat sensitif dengan sentuhan sekecil apapun jika itu darimu Luna.'


"Baiklah, aku akan disini seperti keinginanmu, cepat tidur kalau belum lapar."


Dion merasa puas, hari ini telah seharian penuh bersama Aluna,walau Aluna tak menjawab ungkapan cinta Dion secara langsung. Dion tahu wanita yang tengah memeluk lengannya itu sangat mencintai dirinya. 


Dion yang duduk di sisi ranjang membungkukkan tubuhnya, dia ingin tidur dalam dekapan Aluna, dan merasakan detak jantung wanita yang kini tengah terlentang didepannya itu.


"My heart loving you." Kata Dion sebelum kepalanya menempel di dada Aluna. Aluna memeluk kepala Dion dan memejamkan mata. 


Nafas mereka semakin lama semakin memburu, irama detak jantung makin tak beraturan. Dion dan Aluna hari ini sama-sama tak ingin saling berjauhan. Tubuh keduanya kian memanas terbakar oleh api cinta yang mulai menyala-nyala.


*Happy reading. Biar makin rajin update yuk emak dikasih kopi like atau bunga.

__ADS_1


__ADS_2