Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 268. Masih ada musuh yang terlupakan


__ADS_3

"Kak, kamu ini emang doyan apa gimana, kasih aku istirahat, aku benar-benar bisa lumpuh permanen jika kamu gempur terus seperti ini," eluh Chela saat obat penambah gairah mulai luntur, dan kesadarannya mulai pulih.


Seprei yang dijadikan alas untuk mereka bertempur sudah basah oleh keringat dan noda darah.


Enzo yang sudah kehilangan tenaganya berguling kesamping lalu memeluk Chela.


"Kak. apakah semalam itu mimpi, kenapa semua bisa terjadi begitu gila."


"Entahlah, maafkan aku Chela, jika terlalu kasar. Tapi semalam adalah hari sangat spesial buatku."


"Dimaafkan, tapi bantu aku membersihkan diri."


"Baiklah," Enzo bangkit dan mengecup rambut Chela, lalu menggendong istrinya ke kamar mandi ala bridal style.


Saat di kamar mandi Chela segera membasuh tubuhnya dengan air.


Enzo segera mengganti seprei warna putih yang kotor karena keringat dan bercak darah dengan yang baru. Enzo mengganti sarung bantalnya juga.


Setelah semua selesai Enzo mencuci wajah di wastafel lalu duduk menunggu Chela keluar dari kamar mandi.


Sambil menunggu Chela mandi, Enzo memanfaatkan waktunya untuk memeriksa file, file perusahaan yang baru saja dikirim oleh asistennya.


"Aaaaaa," Chela memekik kesakitan, membuat Enzo yang menunggu di luar kamar terperanjat.


"Chela apa yang terjadi?"


"Sakit Kak." Chela menangis terisak-isak.


Enzo yang tadinya suka sekali mengerjai Chela kini jadi bersimpati pada istri kecilnya itu.


Diketuk pintu kamar mandi pelan, dan Chela berhasil membuka setelah merambat pada dinding.


"Chela apa rasanya sakit sekali, kau sampai berteriak dan terdengar sampai luar."


"Tentu sakit sekali, ini pertama kalinya buat aku dan kau tak memberi aku istirahat," kata Chela menahan perih.


"Baiklah, sini aku bantu." Enzo mendekat. tapi Chela melarang, karena malu.


"Apa yang mau kakak lakukan?"


"Aku ingin membantumu Chela."


"Aku tidak mau."


"Sudahlah Chela, aku sudah melihat semuanya."


Lama-kelamaan, akhirnya


Enzo membantu Chela membersihkan tubuhnya dan memakaikan handuk pada tubuh mungil itu, lalu kembali membopong dan membaringkan di ranjang.


Enzo berniat memeriksa luka Chela, dengan membuka pahanya dan berniat memberinya salep.

__ADS_1


"Apa yang kakak lakukan?" Chela kembali menahan kakinya.


"Membantumu mengobati luka."


"Jangan, aku malu."


"Sudahlah, aku sudah melihat semuanya tadi."


"Tapi aku malu." kata Chela keras kepala.


Enzo tak kalah keras kepalanya. dia tetap bersikukuh untuk membantu Chela mengobati luka di organ intinya. "kok bisa sampai separah ini Chela.


"Tentu, ini pertama kali, dan kakak langsung menghajarnya." kata Chela sambil bersungut-sungut.


Usai diobati, Enzo biarkan Chela istirahat, dipeluknya tubuh ramping Chela dan mereka kembali terlelap.


***


Acara di tempat Aluna begitu meriah, tamu undangan puas dengan hidangan dan bingkisan yang mereka bawa pulang.


"Sayang, malam ini rasanya aku senang banget." Luna terlihat senang bisa memiliki restaurant sebesar ini. berharap semoga kedepannya akan terus ramai pengunjung.


"Iya, Selamat ya Sayang." Dion mencium kening istrinya di depan semua keluarga.


"Jessica, Nabila, selamat juga atas kehamilan kalian, semoga kalian nanti akan melahirkan dengan mudah, dan bayi kalian selamat dan lucu."


"Terima kasih , Kak Dion," jawab Jessica dan Nabila serempak.


"Wah kita dapat hadiah." Jessica tentu saja girang. Jessica menggamit lengan Jayden, sebagai ekspresi bahagianya.


Dua bingkisan besar untuk dua adik tersayang, isinya tentu saja benda benda yang digunakan untuk keperluan kehamilan.


Karena bingkisannya besar,Jadi yang menerima hadiah adalah jayden dan Adrian.


Para orang tua juga mendapat hadiah khusus. hadiahnya tak kalah menarik, untuk Nenek paling besar dan spesial. Wanita yang sangat menyayangi Luna dan tak pernah meragukan cintanya pada Dion itu tersenyum. Nenek sangat senang, begitu juga Melani dan David.


Luna mencium Nenek, lalu pindah memeluk Melani, dan tak lupa mencium tangan David.


"Sayang, terima kasih sudah setia mendampingi Dion. Semoga selamanya tuhan akan senantiasa melindungi mu dari orang dengki." kata Melani.


"Amin Mama, ada juga kejutan untuk kalian, yang mungkin kalian tak percaya mendengarnya." kata Luna. setelah tamu sudah berangsur pulang, hingga menyisakan keluarga besar saja.


"Apa Sayang?" Dion terperanjat. penasaran dengan kejutan apa yang akan disampaikan Luna pada semua orang, bukankah semuanya sudah selesai.


"Ada kejutan yang kamu juga belum tahu Mas, aku sengaja memberi tahu pada keluarga di hari ini, ini hadiah terindah dari Tuhan."


''Ayo Honey, katakan aku sudah tak sabar mendengarnya.''


"Aku hamil lagi Mas." kata Luna sambil menatap Dion.


"Honey !!" Dion tak percaya dengan kejutan hari ini.

__ADS_1


"Iya, aku hamil lagi," Luna menatap Dion.


Dion reflek mencium bibir Luna sebagai ekspresi bahagia yang tak terkira.


"Aaaaaa." Semua keluarga menutup wajahnya karena ulah kekonyolan Dion.


Luna memukul dada Dion karena nyaris kehabisan oksigen di paru-parunya.


"Maaf, maaf, aku sangat senang dengan kabar ini, Honey. Aku sampai bingung harus berkata apa, bersyukur adalah kata yang paling indah untuk mengungkapkannya." Dion terus saja tersenyum. dan menatap penuh cinta pada sang istri.


-


-


Ternyata ketika semua bahagia, ada segelintir orang yang merasa iri karena tidak seberuntung Luna.


Wanita itu datang ke acara amal dan menyaksikan semua kebahagiaan Luna dan Dion.


Angeline tidak percaya Luna begitu diistimewakan oleh Dion dan keluarganya. sedangkan kini dia sedang terpuruk.Jika di dunia ini tak ada Luna, pasti dia akan ada di sisi Dion saat ini.


Job Angeline menjadi model juga sepi, usaha Adrian yang sempat dia kuasai sudah kembali pada pemiliknya karena seluruh saham sudah dikuasai oleh Dion.


Usaha Papa yang dibanggakan juga kini bangkrut karena persaingan yang semakin keras.


Angeline kerap membalas iri dan cemburunya dengan melampiaskan pada Lasmi, ketika melihat karier Luna yang terus melejit dan diperbincangkan dengan citra positif oleh semua orang.


Papa Angeline juga tidak begitu peduli Lasmi lagi, karena hasutan dari anaknya. Cintanya yang dulu sangat besar kini mulai sirna.


Lelaki itu tak pernah pulang lagi, dia hanya bersenang-senang di kelap, menghabiskan sisa tabungannya yang tak seberapa.


Setelah pulang dari pesta, Angeline mendatangi kamar Lasmi dimana wanita itu disekap, Angeline kerap memukuli wajahnya dan mengacak acak rambutnya.


"Dengar ya, Mamaku tersayang. Anak kandungmu bernama Luna, dia tidak akan pernah mencarimu seumur hidup, sampai kau akan mati. Ya tentu dia tak akan sudi merawat wanita bodoh sepertimu yang meninggalkan putrinya ketika bayi, apalagi semua itu demi uang," kata Angeline.


"Angeline, tolong lepaskan aku, biarkan Mama pergi, meskipun mama ini mama tiri, mama sangat menyayangimu sejak kamu bayi. tapi hanya ini balasan darimu"


"Iya aku berterima kasih untuk itu hahahaha, tapi sayang, kamu adalah ibu kandung dari Luna, jadi kau tetap saja harus menderita seperti Luna terus membuat aku menderita."


"Luna tidak pernah menyakitimu Nak, bahkan dia tidak tau apa apa tentang dendam yang kau miliki ini."


"Diam."


Plakk!


Angeline menampar pipi Lasmi dengan keras. Dia sangat kecewa karena Lasmi justru membela Luna.


"Kamu sungguh tak tahu terima kasih Angeline, demi dendam kamu sampai melakukan semua ini. kamu akan kualat." bentak Lasmi.


"Aku harus berterimakasih sama siapa? sama wanita sepertimu? hahahaha. Wanita yang hanya suka dengan uang." Angeline tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya otak Angeline berlahan mulai kongslet.


"Kamu jangan mimpi, sekarang berposelah sedikit cantik, aku akan mengambil fotomu yang mengenaskan ini, bagaimana reaksi Luna jika tahu ibu kandungnya sekarang sudah gila." Angeline mengacak acak rambut Lasmi hingga rambutnya berantakan, lalu mengambil gambarnya berulang kali.

__ADS_1


Setelah selesai Angeline segera meminta kurir untuk mengantar foto Lasmi ke rumah Aluna beserta surat kaleng di dalamnya. Angeline tinggal nunggu reaksi Luna dan rencana mulai dijalankan.


__ADS_2