Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 42. Bersama Dion.


__ADS_3

Mereka berdua masuk mobil dan menemui Gemoy. 


"Hai Gemoy, benar kamu nakal, nggak mau makan?"


"Mungkin dia maunya makan di dekat ibu kali," Sahut Dion.


Aluna yang membungkukkan badan, mendengar ucapan Dion, urung mengambil Gemoy.


Dimana ibu Gemoy. Kamu pasti memisahkan dia dan ibunya sejak kecil.


"Aku tidak tahu dimana ibunya sekarang karena waktu itu aku membeli dia lewat online, yang ku tahu sekarang aku ayah sambungnya dan kau ibu sambungnya hehehe." Dion malah tertawa.


"Pak Dion ada ada aja." Aluna menggeleng pelan. Lalu meraih gemoy dan memangkunya.


"Hai Gemoy ikut ibu ya. Aluna menatap kucing yang kelihatannya masih ngantuk, saat Luna datang tadi dia bahkan tertidur pulas. Gadis itu lalu menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang. Disusul oleh Dion. 


Ben segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit, biasa dia menyuntikkan Taksin pada Gemoy. 


Diperjalanan Dion banyak bertanya hal pada Luna. "Luna, masih betah kerja sama orang seperti mereka?"


"Pak Dion, anda sudah tahu alasannya tolong jangan bahas itu lagi." Aluna mendadak menjadi sensitif ketika membahas pekerjaan. Bukan karena dia mulai mencintai Adrian, Tapi semata karena dia tidak bisa melanggar amanah terakhir bapaknya. 


Andaikan Alex pulang Aluna pun masih akan menimbang-nimbang keputusannya bercerai dengan Adrian. Dia tidak mau Yusuf sedih, karena putri satu-satunya tak bisa memegang amanah.


"Oke, kita tidak usah bahas pekerjaan, hari ini aku sudah buat jadwal usai mengantar Gemoy kita lanjut jalan jalan mau?"


"Terserah Pak Dion aja, Aluna mau menemani, asal jangan masuk ke sumur."


"Haha, kalau masuk ke sumur aku nggak bakalan ajak kamu, kalau masuk KUA baru ajakin kamu." Kelakar Dion. 


Ben yang mendengar majikannya ngegombal dia ikut tertawa. Tapi nggak aneh, soalnya bosnya memang suka bercanda, di bukan sosok yang dingin. 


"Pak Dion, anda lucu juga." Aluna tersenyum, mungkin ini kali pertama senyumnya begitu bebas dan lepas tanpa beban. 


"Habisnya kamu, dibujuk pindah kerja susah amat. Aku sebenarnya khawatir Luna, kalau Adrian akan sayang sama kamu. Atau jangan-jangan kamu yang sayang dia?"


"Pak Adrian? Dia sudah memiliki kekasih Pak Dion, mana mungkin cinta sama Luna yang jelek dan kampungan ini."


Bisa saja Luna, Cinta itu tak kenal logika, kalau sudah tumbuh dia akan cepat sekali menyebar seperti virus. aku lihat pandangan Adrian padamu sangat berbeda, dia waktu keluar lift  menggenggam jemarimu. Dia sengaja ingin membuatku cemburu." Dion berkata sambil sesekali menoleh ke arah Aluna. 


"Kenapa bapak cemburu?" Aluna segera menoleh, pandangan mereka bertemu. 


"Kenapa ya Lun, ah sudahlah kamu nggak akan mengerti." Dion mengalihkan pandangannya lebih dulu, wajahnya terlihat sekali salah tingkah. Apa yang dia rasakan pada Luna, Dion masih belum mengerti apakah itu cinta atau bukan.

__ADS_1


Tangan Aluna sibuk mengelus Gemoy di pangkuannya. Aluna bingung dengan sikap pemuda pemilik iris hitam ke buruan nyaris sama dengan Adrian itu, setiap kali memandang dirinya terlihat keteduhan dari sorot matanya. Tapi Adrian dia selalu saja menatapnya dengan tajam dan intimidasi. 


Sampai di rumah sakit Aluna segera turun setelah Ben membukakan pintu, Gemoy masih dalam gendongannya.


Pasti capek, gendong anak kita sendiri, biar aku gantiin." Dion tersenyum sambil mengambil alih Gemoy.


Entahlah, bagi Aluna  permainan menjadi ayah dan ibu bagi Gemoy, membuat dia mengkhayalkan sosok suami yang seperti Dion. Sayang dan perhatian dengan anaknya kelak.


Mereka berjalan beriringan masuk Hospital Pets. Dokter Clara segera menangani dan memeriksa anak angkat mereka. Sedangkan Dion dan Luna ikut melihat di dekatnya.


Pak Dion, kucing anda sehat, hanya saja dia sudah waktunya di vaksin lagi. 


"Tapi dia akhir ini sering tiduran saja, Dok," terang Dion. 


"Mungkin dia bete, karena nggak ada teman bermain. Pak Dion sepertinya harus memberikan dia seorang kekasih." Clara memperkirakan kalau kucing Dion sudah ingin kawin.


Dion sontak langsung tertawa, "Gemoy rupanya sudah besar, dia ingin menikah, mom." Dion melirik ke arah Aluna, diikuti oleh pandangan Dokter Clara. 


"Tumben Pak Dion kesini ajak teman, biasanya juga sendiri." Clara memancing reaksi Dion perihal gadis di dekatnya.


"Iya Dokter, kenalkan, Aluna namanya. Dia spesial buat saya."


"Hai, Aluna. Kenalkan aku Clara, aku dan Dion, kita teman kuliah. Apa kita bisa berteman?"


Mereka berjabat tangan lalu berpelukan. Dokter Clara wanita yang sangat cantik, dari caranya mencuri pandang pada Dion, Aluna tahu, gadis itu memendam rasa. 


Clara sedikit cemburu, Dion membawa gadis yang biasa dan sederhana, dihatinya terbesit  rasa tak rela. Jika dia membawa gadis yang lebih cantik mungkin Clara akan rela. 


"Kalian sudah lama kenal?"


"Belum lama, baru dua mingguan, ujar Luna.


"Masih terbilang baru sekali ya" ucap Clara sambil menarik satu jarum suntik dari botol vaksin. Lalu menjentikkan jarinya pada batangnya.


____


Gemoy sudah selesai di vaksin, Dion meminta Ben untuk mengantar pulang, lebih dulu. 


Dion dan Aluna usai melihat pemeriksaan pada Gemoy dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama Aluna.


"Luna aku ingin kita jalan-jalan lebih dulu"


"Kemana pak?"

__ADS_1


"Nanti akan tahu, aku ingin merayakan ulang tahunku berdua dengan kamu."


"Wah pak Dion ulang tahun. kalau begitu selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat dan tambah sukses." Aluna meraih jemari Dion, menautkan dengan satu tangannya dan mengguncang semangat.


Tak dikira Dion menarik tubuhnya dan memeluk tubuh mungil Aluna, ketika dia masih di ruang tunggu, di Selasar rumah sakit.


"Pak Dion, semoga anda yang baik, akan dipertemukan dengan wanita yang sangat baik pula." ujar Aluna sambil meronta, memaksa pelukan Dion terlepas.


"Kamu tahu aja, aku sedang mencarinya, papa yang tak sabar, dia ingin cucu." jelas Doni.


"Eheemm"


Clara berdehem membuat Aluna memberi jarak tubuhnya dari Dion.


"Dion, kamu nggak mampir, sambil nunggu Mobil kalian datang. Sudah lama sekali kau tak minum teh, dulu kau selalu bilang, teh buatanku paling enak."


"Ehmm Aku ...." Dion menatap Aluna.


"Luna, ajak kekasihmu, dia pasti ragu karena memikirkan perasaanmu."


"Perasaanku? Aku bukan ...."


"Ah kenapa kalian berdua tegang, ayolah mampir. Bukankah kita sudah kenal."


Aluna dan Dion tak bisa menolah. Sambil menunggu Ben mengantar Gemoy, mereka berdua mampir di rumah Clara yang bersebelahan dengan clinik hewan.


Aluna membuka ponselnya, dia berselancar di dunia Maya, berandanya di penuhi dengan postingan dari karyawan Alexa fashion.


Mereka terlihat sangat bahagia, Tito, Rosa, dan Sisil juga terlihat bahagia bermain air di pantai.


Aluna ingin melihat sosok yang lain yang beberapa hari ini mulai membuat hatinya jungkir balik. Sikap dinginnya yang kadang terlihat seperti orang cemburu, justru membuat dia penasaran.


Aluna tak menemukan mereka berdua baik di wall pribadi Adrian atau di postingan teman yang akrab dengannya, Aluna makin penasaran hingga dia harus bolak balik mengecek ulang, mengusap krusor naik turun berulang kali.


Dion yang sejak tadi bicara dengan Clara rupanya dia juga melihat kegelisahan yang terpancar di wajah Aluna.


"Aku tahu siapa yang sedang kamu cari. Buka aja postingan terbaru milik Angeline. disitu akan banyak postingan mereka berdua."


"Pak Dion, aku tidak sedang cari mereka. Tebakan anda salah." Aluna berusaha menyangkal. selain itu juga berusaha membohongi hatinya sendiri.


"Kalau benar, aku ingin hadiah darimu." Dion berbisik di telinga Aluna. Aluna malu dengan Dion, lelaki itu seakan bisa membaca isi hatinya.


 

__ADS_1


__ADS_2