Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 160. Dokter untuk Adrian.


__ADS_3

Aluna dengan ragu menyambut uluran tangan Adrian. Adrian langsung menggamitnya menuju ballroom. Dua pasang yang laki-laki dan perempuan yang berstatus mantan itu kini tengah melenggak-lenggokkan tubuhnya di bawah sorot lampu dansa yang kadang redup, kadang terang, kadang juga nyaris padam. 


Melihat pemandangan di depannya, Dion merasa sedang diselingkuhi, wanita yang sangat dicintai tetap berdosa dengan seorang lelaki yang menjadi mantan, meski Aluna mengatakan berulang kali kalau sudah tidak ada perasaan dengan Adrian, Dion yakin pasti di sudut hatinya yang paling dalam masih ada sisa-sisa cinta yang tak bisa diungkapkan pada pasangannya. 


Dion memejamkan matanya, berusaha untuk tidak cemburu, tapi sayang sekali hati Dion tak sekuat batu karang, yang tetap berdiri tegar menatap langit, meski ombak menerjang ratusan kali setiap hari. 


Dion tak sanggup menjadi batu karang itu, urusan cinta, dirinya hanyalah butiran debu yang mudah terombang-ambing oleh angin ketika sedang merasa cemburu. 


Dion mendekati istrinya dengan mata memerah, cukup sudah dia cemburu saat melihat Adrian menyuapinya berulang kali, kini Dion tak mau ada laki-laki menyentuh pinggang sang istri yang begitu dia jaga. 


Persetan dengan kesembuhan Adrian, yang menurut Dion hanya rekayasa semata. Surat kaleng yang berturut turut terus menerornya itu pasti buatan Adrian. Jadi selama ini Adrian hanya pura-pura. Itu yang sedang Dion pikirkan.


"Aku pusing mencari kalian berdua ternyata di sini toh." Dion berkata dengan wajah sinis.


"Oh, rupanya kamu juga sering ke sini? Sama siapa? Bukannya kamu nggak ada pacar?" Tanya Adrian, sambil melihat ruang kosong disekitar Dion. 


"Aku tidak punya pacar, tapi aku punya istri. Dasar tak tahu malu." Kata Dion menajamkan kalimatnya, sengaja menampar Adrian dengan ucapannya yang pedas.


"Pak Dion apa yang anda katakan?" Luna menggeleng, memohon pada Dion supaya menghentikan ucapannya, tapi Dion sudah terlanjur diliputi amarah yang membara. 


"Luna, maafkan aku, jujur aku kecewa, kamu lebih mementingkan mantan kamu yang sakit ini daripada suami kamu sendiri?"


"Luna apa yang dia katakan? Mantan? Apa yang dimaksud dia mantan? Kita masih suami istri sah kan? Dan kenapa dia mulai menyebut dirinya suami, apa- apaan ini?


Adrian mulai berpikir keras, kalimat-kalimat Dion membuat kepalanya terasa berdenyut nyeri. 


Aluna bingung harus membela siapa, suami yang cemburu atau mantan suami yang sedang kesakitan. Apa yang ada di depannya merupakan pilihan terberat buat Aluna.


Lelaki pemilik tatapan teduh itu menarik  lengan Aluna, wanita itu kini berdiri di dekat Dion. "Luna lelaki itu hanya pura-pura, dia mengelabui dengan mengatakan kalau dirinya amnesia. Kamu tahu dia telah mengirimkan surat ancaman untukku agar aku melupakan kamu." 


"Pak Dion apa yang anda katakan? Di mana hati nurani anda sebagai manusia? Aku tak percaya bisa lelaki hebat berkata seperti itu pada sepupunya, ada darah yang sama mengalir di tubuh kalian, kenapa kalian tak pernah akur?" Aluna menuduh Dion paling bersalah disini karena telah cemburu buta. 


"Ancaman? Bagaimana aku mengancam dia? Sedangkan aku masih sakit dan hanya memikirkan kapan sembuh supaya bisa membahagiakan istri dan kembali bekerja. Dan sekarang kau bilang istriku adalah istrimu, apa yang terjadi? Mana yang benar?" Adrian frustasi.


Adrian merasakan matanya berat, dan kepalanya berputar putar, dia tidak bisa mengingat apapun kecuali  di kepalanya berseliweran ingatan pernikahan dengan Aluna, saat dia  mengucap ijab qobul dengan lantang di depan penghulu, dan bagaimana hati bari buruk itu terjadi.


"Mata Adrian berkaca menahan sakit yang luar biasa. "Luna apapun yang dikatakan orang aku tak akan percaya, aku takut mereka memanfaatkan kondisiku yang seperti ini, aku hanya percaya dengan apa yang kamu ucapkan Luna, katakan kebenarannya. Kamu adalah istriku Luna?" tubuh Adrian merosot ke lantai, jelas saja dia terpukul, satu satunya harapan dia untuk bertahan ternyata mendengar kenyataan kalau dia bukan miliknya, bahkan mereka kini tak ada hubungan lagi. 


"Pak Dion mengertilah, aku mohon?" Aluna menatap Dion dengan memelas, tapi Dion tak mudah memberi keputusan, Dion takut Aluna akan mencintai Adrian yang sekarang, Adrian yang banyak berubah, Adrian yang mencintainya dengan setulus hati.

__ADS_1


"Maaf Luna, sejauh ini aku sudah menuruti apa yang kamu inginkan. Tapi setelah apa yang aku lihat hari ini aku tak bisa lagi memberi toleransi. Aku tak bisa membagi istriku dengan pria lain, maaf." Dion meninggalkan Aluna dan Adrian. Perasaan kecewa membimbing langkahnya untuk pergi. 


"Tolong berhenti, Pak Dion!"


Aluna masih kekeh dengan panggilan atasan dan bawahan itu, artinya Aluna masih ingin meneruskan drama yang sedang dia perankan. 


"Luna! Biarkan dia pergi, aku tahu lelaki itu juga mencintaimu." Kata Adrian sambil menahan sakit. Sakit itu terlihat tidak main main. Sampai orang yang melihatnya menyarankan agar Aluna segera membawa ke rumah sakit. 


"Pak Dion tunggu!" Aluna berharap Dion akan balik badan dan membantunya membawa Adrian. Tapi lelaki itu terlanjur cemburu. 


"Biarkan saja Luna, biarkan saja dia pergi, sakit Luna, aku tak bisa lagi menahan semua sakit ini," eluh Adrian yang merasakan bayangan bayangan masa lalu terus saja mengusik.


Mas Rian, kamu pasti baik-baik saja, kita akan ke rumah sakit sekarang. Security tolong panggilkan lelaki bernama Arga dan Argo di depan.


"Baik Nona." Security yang ikut panik melihat Adrian terus memegangi kepalanya yang masih terlihat jelas, bekas jahitan dan perban putih di kepalanya segera keluar. 


"Arga! Argo! Majikan kalian butuh bantuan," teriak security di parkiran, karena panik dia panggil nama dengan asal saja. 


Untung nama Arga dan Argo hanya ada satu di parkiran itu, jadi dua asisten itu segera masuk setengah berlari melewati beberapa pengunjung dan langsung menghampiri majikannya. 


"Tuan Rian! Tuan kenapa Nona?" Argo masih sempat sempatnya bertanya. 


"Siap Nona." Argo menggandeng majikannya sedangkan Arga berlari lebih dulu menyiapkan tempatnya di mobil. Dengan merobohkan beberapa kursi. 


Dion yang menunggu Aluna di mobil melihat Adrian kesakitan dia akhirnya mendekat ingin membantu, tapi Aluna mengusirnya. "Anda bisa pergi Pak Dion, bukankah ini yang anda inginkan." 


"Luna, kamu salah paham. Aku akan jelaskan semuanya, Argggg …. Kenapa sekarang malah aku yang jadi penyebab Adrian seperti itu lagi." Dion memukul udara saat mobil Adrian buru-buru pergi. Dan Adrian tadi terlihat tak mau lagi melihat wajahnya. 


Dion segera mengirim pesan pada Aluna. "Kabari aku terus. Kalau sudah lebih baik temui aku di penthouse kita. Banyak yang harus kita bicarakan, minta Arga dan Argo untuk selalu di dekat kamu."


"Terimakasih, Sayang. Akhirnya kau mengerti. Aku akan secepatnya menemuimu, Sayang. Aku juga kangen." kata Aluna di pesan terakhirnya. Membuat Dion senang hingga bibirnya tersenyum tipis.


Dion menuju penthouse untuk istirahat, sedangkan Aluna menemani Adrian bertemu dengan Dokter Jayden. Kebetulan Dokter Jayden baru keluar dari kamar praktik. 


"Dokter Jay, apa yang kita takutkan akhirnya terjadi." 


"Ya, semoga saja tidak fatal." Jay segera meminta Nabila untuk membawa peralatan miliknya dan buku catatan. 


langkah Dokter buru-buru, Aluna ikut berjalan di sebelah Dokter Jay sambil menjelaskan asal mula Adrian bisa kembali merasa pusing di kepala. 

__ADS_1


"Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, dia akan ingat kembali memori yang hilang,  atau ingatan itu akan hilang selamanya," tutur Dokter.


"Ya Tuhan, aku yang salah," desah Aluna sambil mengusap air matanya. Aluna segera menghubungi Chela dan Selena. 


Dua wanita itu terkejut dengan kabar dari Aluna. Disaat mereka berdua sedang melakukan perawatan kecantikan. Chela dan Selena sedang sibuk manicure dan pedicure, dia tidak khawatir meninggalkan Adrian lagi, karena sudah ada Aluna yang begitu perhatian dengan Adrian. 


Selena dan Chela segera datang, dari tubuhnya menguar aroma wangi bekas perawatan spa. Setelah tahu putranya kembali merintih kesakitan dia menanyakan segalanya pada Aluna. 


"Luna kenapa bisa seperti ini, kamu jaga Adrian dengan benar kan?"


"Tentu Aluna sudah menjaganya dengan benar." kata Aluna khawatir, dengan tetap menatap Adrian. 


"Luna tetaplah disampingku," mohon Adrian berharap Aluna memberikan tangannya untuk kekuatan. 


"Iya aku akan menjagamu sampai kau sembuh, tapi cepatlah sembuh, jangan lama-lama. Teman teman dikantor sudah tak sabar ingin CEO nya segera bisa kembali duduk di kursi rapat."


"Luna, apa yang dikatakan Dion tadi benar? Arggg …." Tanya Adrian sambil menahan sakit. 


"Tidak, tidak usah berpikir yang bukan-bukan, fokus dengan kesembuhanmu saja, bukankah kau lelaki yang sangat kuat," cibir Aluna.


Chela duduk di dekat Aluna, dia ikut sedih melihat kakaknya belum juga sembuh, sedangkan Selena terlihat memarahi Angeline di telepon, karena tak pernah menjenguk suaminya yang sedang sakit.


Angeline selalu beralasan sedang hamil, tak mau mencium aroma rumah sakit, dan banyak lagi.


"Ma, sudahlah, biarkan Angel melakukan yang dia suka. Toh aku sudah tak perduli dengan dia."


"Tapi Rian, angeline juga harus tahu kalau kamu sedang sakit."


"Adrian sudah tak peduli dia lagi Ma, yang penting sekarang Aluna ada disini." kata Adrian sambil mempererat genggaman tangan Aluna.


Selena menuruti Adrian. Dia tak lagi menghubungi Angel sama sekali. 


Alex selalu minta maaf atas kesalahan masa lalunya pada Aluna. Dia berharap meski tak lagi jadi menantu, Aluna tak akan pernah memutus hubungan baik dengan Adrian, karena sejatinya Adrian dan Aluna sudah seperti rumput dan hujan. Jika tak ada hujan, rumput akan mengering, dan mati secara berlahan. 


Seminggu kemudian Adrian sudah dibawa pulang. Sekarang Nabila ikut merawat Adrian karena Jayden takut Adrian akan mengalami hal yang serupa.


Nabila Dokter muda yang cantik ceria dan seksi itu sangat disukai oleh Aluna. Aluna berharap Nabila akan menggantikan dirinya di hati Adrian.


 

__ADS_1


__ADS_2