Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 136. Awal yang indah.


__ADS_3

Sebelum masuk kamar mandi, Dion mengangkat tubuh Aluna keranjang. Dia ingin membuat Aluna istirahat, tumpukan buku bacaan menarik ada disisinya. Foto foto mereka berdua memenuhi hampir satu isi lemari kaca.


Aluna menarik sudut bibirnya. Dia tak tahu kapan Dion mengambil foto itu. Tahu-tahu semuanya sudah terpajang begitu banyak dan rapi.


Dion sudah selesai mandi, sekarang keluar sambil memakai handuk kimono rambutnya terlihat basah dan sangat tampan, bulu halus di dada makin menambah poin poin ketampanannya.


Aluna terpana dengan ketampanan suami, dia terlihat bagai pahatan patung yunani. Dengan tubuh yang proporsional. Padahal ini bukan pertama kalinya, sampai-sampai Aluna menghentikan aktivitasnya membaca novel.


Dion tersenyum, dia sadar sedang diperhatikan oleh istrinya sangat dalam.


Dia mendekati cermin dan menyisir rambutnya yang basah.


"Han, lihatnya gitu amat? Baru sadar ya kalau aku tampan?"


"Eh … oh … enggak, aku hanya heran aja, mandinya cepet." Aluna beralasan.


Dion mendekati sang istri lalu mengecup keningnya, Aluna memejamkan mata, tetes-tetes air yang menempel di rambutnya jatuh mengenai wajah Aluna.


Melihat netra indah Aluna terpejam menghindari tetes air, Dion jadi gemas, dia ingin mengecup bibir merah muda yang sudah lama dia impikan.


Dion ikut naik ke atas ranjang, mengungkung tubuh mungil istri.


Aluna yang berada dalam kekuasaan Dion hanya bisa diam, saling menatap tapi juga malu-malu kucing.

__ADS_1


Dion menyibak rambut Aluna yang menutupi sedikit wajahnya, menyelipkan di belakang daun telinga.


"Han, tak peduli dilihat dari dekat ataupun jauh, kau tetap cantik, secantik bidadari."


"Apa benar aku secantik yang kau katakan? Jika iya kenapa aku pernah dibuang karena jelek."


"Ah, dia bodoh, tapi kenapa harus ingat dia disaat kita sedang bahagia. Aku ingin yang kau pikirkan hanya aku Luna. Buang masalalu yang buruk itu."


Aluna mengangguk. "Tentu Aku sudah membuang bayangan itu jauh-jauh, sekarang yang harus aku pikirkan hanyalah suamiku. Bagaimana caranya aku bisa membahagiakan lelaki yang berhati malaikat sepertimu."


"Sungguh? Kau menganggapku seperti malaikat? Tidak Aluna, aku hanya manusia biasa yang butuh cinta."


Dion mengecup pipi, lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Aluna.


Aluna diam saat Dion memeluk begitu erat dan hangat. Meresapi arti dari pernikahan sederhana yang telah dia lalui. Ternyata menikah itu saling menentramkan, bertukar pikiran dan mencintai. Bukan sebuah pengorbanan semata.


Merasa kesulitan mengambil nafas, Aluna mulai sesak karena dipeluk Dion dengan kuat, Aluna menggeser tubuhnya.


"Maaf, sayang, aku lupa kalau masih sakit, apa bekas jahitan masih sangat sakit? Dion meraba kening Aluna."


"Tidak sakit, mungkin karena aku minum obat," kata Aluna lirih. Aluna mulai merasakan ada yang mulai membesar pada tubuh Dion. Aluna sangat bersalah dengan semua itu. Tapi ini yang Dion mau menikah disaat dia masih sakit. Dan belum bisa menjalankan kewajibannya melayani suami.


"Aku akan sabar menunggu sampai kau benar-benar sembuh, tapi ijinkan aku dekat seperti ini. Aku mulai terbiasa ada kamu di dekatku. Dan aku bahagia setiap seperti ini Luna." Dion lembali mengecup bibir merah Aluna.

__ADS_1


Kecupan Dion yang lembut mulai menyusup lebih dalam, lidahnya membelah bibir mungil yang selalu tersenyum dan berbicara lembut padanya itu.


Luna yang belum terbiasa melakukannya hanya diam, membiarkan Dion memberi pelajaran step awal untuknya.


Dion melepaskan tautan bibirnya dan mengusap lembut permukaan bibir Aluna yang basah.


Dion tersenyum puas, dia tahu kalau bibir Aluna belum banyak tersentuh, saat dia memasuki rongga hangat itu Aluna diam tak membalas belitan lidah Dion.


"Maaf, jangan tertawakan aku, aku masih amatir." Aluna nampak malu. Dia sama sekali tak bisa mengimbangi pertarungan tari belut dengan Dion yang bisa dibilang sudah master.


"Aku malah senang, itu artinya bibir ini memang diciptakan special untuk ku."


"Jangan patah semangat, kita belajar sekali lagi." Kata Dion tetsenyum nakal.


Bibir Aluna mengerucut. "Dasar mesum, mulai modus."


Dion menyentuhkan hidung miliknya dengan hidung Luna. "Mesum sama yang halal tidak dilarang."


"Bagaimana Nona, apa aku boleh nambah?" Dion kembali meminta persetujuan.


Aluna mengangguk, meski malu malu. "Boleh, tapi jangan lama-lama, nggak bisa nafas."


"Siap sayang," jawab Dion semangat

__ADS_1


__ADS_2