
Aluna ternyata ketiduran, Dion tak tega membangunkan wajah lucunya saat tidur.
'Kau menggemaskan Luna, tak sabar aku ingin segera memilikimu seutuhnya, jika Adrian tak mau melepaskanmu, biarlah aku yang akan membuat kalian terlepas.'
Dion membopong tubuh Aluna dengan sangat hati-hati menuju mobil. Tak mau sedikit pun wanita berharganya tersentuh oleh benda apapun, apalagi kejedot pintu.
Beni yang melihat saja heran, berfikir keras mencari sebuah jawaban. Sebegitu istimewanya Aluna bagi Bosnya itu.
"Pak kita ke kontrakan Nona Aluna, atau langsung pulang ke rumah?"
Dion yang memangku kepala Aluna langsung menjawab. "Beni menurutmu gimana? Mending aku yang tidur di perumahan menjaganya, atau dia tidur di mansion saja untuk hari ini, biar dia bisa berteman dengan Jessica. Jessica perlu akrab dengan calon kakak iparnya."
"Saya setuju di mansion saja, lagian Nona sudah tidur, mansion juga lebih dekat."
"Oke kalau begitu kita langsung pulang ke mansion saja." Kata Dion sambil membelai rambut Aluna yang lembut terawat.
Aluna sangat pulas kalau tidur, dia memang seperti itu sejak dulu sudah terbiasa. Yusuf dulu juga sering menggendong pulang, putri kecilnya saat tidur sewaktu belajar kelompok.
Untung Dion rajin Angkat barbel, menggendong tubuh Luna seperti mengangkat guling saja.
Aluna mengerjap ketika dia merasakan mobil Dion sudah berhenti di halaman.
"Pak Dion, saya mau dibawa kemana? Aluna yang sadar dia sedang tak ada di jalan pulang."
"Ini sudah malam, kamu tinggal dulu di rumahku."
"Jangan Pak, aku malu, apa kata orang tua anda nanti."
"Aku akan bilang terus terang sama mereka, kalau kamu sedang dalam bahaya."
"Tapi pak Dion, bukan berarti aku tidur di rumah anda, ini tidak boleh." Aluna mengangkat kepala dari pangkuan Dion dan duduk mengamati sekeliling lalu mengamati arlojinya.
"Sudah, nggak apa-apa, jika kamu takut, nanti tidur dengan Jessica, aku nggak akan apa apain kamu, sebelum nanti jadi istriku." Kata Dion masih senang bermain dengan rambut Aluna.
"Iya Nona, pak Dion serius sama anda, dia nggak pernah lho segila ini sebelumnya dengan wanita." Beni yang sibuk mengemudi masih sempat ikut bicara, dia segera diam Dian memelototi nya.
Aluna sepertinya menurut, dia menginap dirumah Dion karena suatu hal dan tidak sengaja, anggap saja begitu. "Pak Dion nanti tolong jelaskan pada orang tua anda yang benar. Aku tidak mau di cap menjadi wanita yang gampangan."
"Siap, jangan takut, mama orangnya welcome banget kok. Dia bahkan sudah lama ingin aku mengajak kamu ke rumah, kata Mama dia ingin masak bareng sama kamu."
"Syukurlah, kalau mama Pak Dion ternyata orangnya baik banget." Aluna menatap Dion dan tersenyum.
Tok! tok!
__ADS_1
"Jess, kakak kamu pasti pulang itu."
"Iya Ma, biar Jessi, aja yang buka." Gadis berambut sebahu karena baru dipotong pagi tadi beranjak dari sofa.
Mama Melani dan Papa Davit serta Jessica rupanya belum tidur, dia masih melihat TV di ruang tengah sambil menikmati hangatnya kopi latte yang harum.
"Kak Aluna!"
"Siapa Jess!"
"Kak Aluna, Mam."
Mendengar nama Aluna disebut-sebut oleh Jessica Mama Melani segera bangkit dari sofa dan segera menuju ruang tamu.
"Aluna, kamu kenapa malam malam baru kesini Nak?" Melani suka Aluna datang, tapi Melani tidak suka Dion membawanya ketika hari sudah larut malam.
"Maaf Tante, tadi kita datang di suatu acara, lalu pas pulangnya Aluna ketiduran. Aluna nggak tau apa apa, tiba tiba sudah ada di depan mansion ini."
"Masuk saja Luna, kenapa kamu takut begitu, itu artinya Dion sudah serius sama kamu," ucap Davit.
Melani menggandeng Luna, Luna dengan ragu ragu masuk ke dalam dengan langkah pelan, Aluna masih trauma dengan mertua jahat, tapi lama-lama setelah Aluna merasakan kelembutan hati wanita itu, Melani jauh berbeda, keibuan, sabar dan penyayang.
Luna, aku percaya sama kamu dan Dion, kalian sudah besar pasti sudah bisa jaga diri, mama setuju dengan hubungan kalian berdua, tapi tetap minta tolong, beresin dulu hubungan masalalu kamu. Mama nggak mau nanti kamu akan mendapat penilaian yang buruk dari keluarga mertua kamu"
"Iya Tante, Luan minta maaf, kedekatan saya dan pak Dion memang tak seharusnya, bagaimanapun Aluna masih istri Pak Adrian."
"Ma, Luna ini masuk perangkap Adrian Ma, lelaki itu tidak mau menceraikan Luna. setelah menikahi Luna Dion memilih menjalin hubungan dengan Angel, dan menyia-nyiakan Luna begitu saja, Mama harusnya tahu dong sebagai wanita, gimana rasanya suaminya bermesraan dengan wanita lain, ketika istrinya sendiri dicampakan, dan dan malah dijadikan sebagai pembantu di rumah dan di kantor? punya otak gak itu menurut Mama?"
"Dion, Mama tahu kamu nggak rela Aluna diperlakukan buruk di keluarga suaminya, tapi kamu juga harus sabar, yang kamu inginkan ini istri orang, kamu bisa kena tuntutan lewat jalur hukum nanti kalau nggak hati-hati bisa saja suaminya nggak terima." Melani kembali berbicara setelah mendengar Dion keras kepala.
Jessica yang sejak tadi mendengar, obrolan kakaknya dengan kedua orang tuanya, sepertinya membuat Aluna semakin tertekan. Akhirnya Jessica berinisiatif untuk mengajak alunan masuk ke kamar.
"Ma, aku ajak Luna ke kamar tamu ya, biar dia istirahat. Luna kelihatannya masih mengantuk."
"Iya, Jess, Luna kamu tadi sudah tidur di mobil kan? Sekarang kamu istirahat dulu. biar aku tunjukkan kamarnya," gadis periang itu berjalan menuju sebuah kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.
"Makasi Tante." Luna segera meninggalkan Dion dan kedua orang tuanya. Dia tidak akan ikut campur. Cuma untuk selanjutnya Luna akan menjaga jarak dengan Dion sebelum resmi bercerai seperti apa yang dikatakan oleh Melani. Mama Dion memang benar dan bijaksana.
Setelah kamar terbuka Jessica berlari masuk ke dalam dan terlentang di atasnya tubuhnya terayun-ayun oleh kasur yang empuk. Aluna hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Jessica yang begitu menggemaskan. Ah, Andaikan saja Chela bisa menerimanya pasti Aluna akan melihat tingkah lucu dan manis seperti Jessica.
telah menunjukkan kamar tamu pada Aluna Jessica pamit untuk belajar, Dia sebentar lagi sudah akan menghadapi semester dua.
***
__ADS_1
Hari sudah malam, Aluna tidur di ruang tamu, entah karena baru saja bangun tidur atau kepikiran sesuatu Aluna sulit sekali memejamkan mata.
"Aluna!" Seseorang dari arah pintu masuk begitu saja.
Aluna kembali bangkit dan duduk di tengah ranjang dengan kaki dilipat. Menyambut kedatangan Jessica dengan senang hati.
"Aluna, aku ingin bicara sesuatu padamu." Gadis itu akhirnya mengutarakan isi hatinya
"Iya boleh, bicara apa Jes?" Aluna sudah siap untuk mendengarkan.
"Aku ingin tanya, apa kamu serius suka dengan Kak Dion?"
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Aku melihat Kakak sayang sekali sama kamu, aku takut jika kamu tidak cinta sama dia, Kakak akan kecewa. Kakak Dion belum pernah menggilai wanita seperti saat ini. Aku sangat menyayangi kakakku, aku nggak mau dia sedih, waktu Kak Dion tahu kalau kamu sudah menikah Dia sangat terpukul. Setelah dia tahu kalau ternyata rumah tangga Kak Luna jalani tidak wajar, Kak Dion seperti punya semangat lagi, Tolong Luna jangan beri dia harapan palsu." Jessica memohon seolah Luna adalah pemegang keputusan, padahal Luna juga tak bisa berbuat apa apa karena sebuah ikatan yang mengikat dirinya.
"Hanya waktu yang bisa menjawab, karena aku juga tak bisa baca masa depan, hanya bisa berharap yang terbaik saja." Aluna menggenggam tangan Jessica dan menaruh di atas lututnya. " Aku akan berusaha mengambil keputusan yang terbaik nantinya.
"Tolong ya Luna, jangan bikin Kak Dion sakit hati, Kamu tahu kan, apa yang aku inginkan kan, Kak Dionku nggak boleh menderita, Kak Dion ku dia kesayanganku."
Aluna mengangguk. Jessica sangat senang. Dia segera memeluk Aluna dengan erat.
Malam ini Aluna bahkan tidur ditemani oleh Jessica, Jessica tidak mau tidur di kamarnya sendiri. Dia sudah memimpikan memiliki kakak ipar seperti Aluna. Bagi Jessica Aluna adalah kakak ipar impiannya, sekertaris yang memiliki wajah cantik, berkulit putih dan dan tinggi.
Jessica tidur nyenyak di samping Aluna, sambil memeluk tubuh yang hampir sama dengan tubuhnya, hanya Jessica sedikit lebih gemuk. Selain itu Jessica dulu juga menginginkan kakak perempuan, dia hanya memiliki satu kakak laki-laki.
***
Dion masih diinterogasi oleh kedua orang tuanya, Melani dan David meminta supaya Dion tidak mempersulit Aluna, membiarkan Aluna mengambil keputusan sesuai keinginannya sendiri, jika terlalu dipaksakan maka akan akan membuat hubungan yang akan terjalin juga tidak baik.
Melani dan David ingin Dion menikah untuk sekali dalam seumur hidup saja. Keluarga Dion sangat menghargai kaum perempuan, karena wanita adalah calon ibu, dan semua orang yang terlahir didunia ini dilahirkan dari rahim ibu.
Dion mengerti keinginan kedua orang tuanya semua demi kebaikan berdua, mendapat wejangan dia memilih diam dan mengangguk tanda setuju. "Harapan mama dan papa pastinya juga sama dengan harapan Dion. Do'akan perjuangan cinta Dion untuk Aluna berjalan sesuai harapan
****
Pagi hari Aluna bangun ketiga jam menunjukkan pukul empat. Dia melihat Jessica masih tidur lelap. Aluna membenarkan selimut gadis yang lucu, tapi dewasa itu, gadis yang semalam meminta dirinya untuk menjadi kakak iparnya.
Segera turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mandi sekalian lalu sembahyang.
Setelah selesai sembahyang dan merayu sang pencipta Aluna segera menuju ke dapur. Rupanya di sana sudah ada Bibi Yang bangun lebih dahulu dan menyiapkan segala menu sarapan untuk mereka semua.
"Nona siapa?" Bibi Bertanya dengan wajah tersenyum tetapi jelas tergambar di wajahnya sebuah tanda tanya.
__ADS_1
"Maaf jika saya belum mengenal anda, saya memang baru beberapa hari kerja disini. Calon istri Tuan Dion ya?"
Aluna bingung harus jawab apa, daripada Bibi banyak bertanya Aluna mengangguk saja. " Iya kalau kita di takdirkan berjodoh, pasti akan segera menikah.."