
Keluarga besar sudah pulang, Aluna tetap saja sedih, penthouse tak lagi ramai. Tapi Nenek menghiburnya "Sudahlah jangan sedih, kita masih satu kota, jika kangen kami, Dion akan mengantarkan kamu main."
"Yang terpenting kita semua sehat, jaga bayi kamu dengan baik dan jangan lupa hadiah dari nenek dipakai ya, nenek akan senang."
"iya Nek," Aluna memeluk Nenek dengan erat.
"Mama juga pamit," mama mengelus calon cucunya, yang sedang ada di perut. Dia juga memeluk Nenek.
Aluna merasa terharu diperlakukan demikian manis oleh keluarga. sampai sampai membuatnya takut jika suatu hari akan membuat kecewa keluarga.
Dion menggandeng istrinya keluar mengantar keluarga besarnya pulang.
Jessica menggandeng Aluna. Setelah sampai diparkir memeluk erat, mencium pipi kanan dan kiri hingga pelukan terlepas. Jessica melambaikan tangan saat masuk mobil.
Sikap Dion biasa saja, dia sudah biasa jauh dari keluarga waktu kuliah di Amerika dulu, dia hanya pulang tiga bulan sekali.
Dion memeluk papa Davit yang tubuhnya sedikit lebih gendut, hanya Aluna yang terlalu lebay dia harus menangis terisak.
"Dasar cengeng," Dion mencubit pipi istrinya.
"Aku hanya senang saja, ini tangisan haru, aku bahagia memiliki keluarga seperti mereka."
"Ya, aku juga bahagia memiliki keluarga mereka dan juga istri cantik sepertimu. Yuk kita masuk." Dion menggandeng Aluna masuk kembali ke rumah.
Dion dan Aluna bisa melihat mobil keluarganya meluncur menjauh dari penthouse miliknya. Kini mereka tinggal hanya berdua lagi.
Dion sudah mulai agresif dengan mengganggu Aluna yang sedang melihat lihat majalah langganan bulanan di meja.
Dion memeluk pinggang Aluna erat. "Sayang, ILove you."
"Iya. Love you to," jawab Aluna sambil mendongak, Dion mengecup keningnya.
Dion lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Aluna. Aluna memijat pelipis Dion pelan-pelan membuat lelaki itu merasa nyaman sekali.
"Honey, aku akan pergi, keluar negeri untuk satu minggu, sebenarnya aku tak bisa meninggalkanmu sendirian di rumah, tapi gimana lagi, aku tak mau ambil resiko sekecil apapun mengenai calon bayi kita, aku janji setelah pulang, aku akan ajak liburan domestik, kita akan keliling pulau ini, setelah dia lahir kita akan ajak dia jalan-jalan ke luar negeri."
"Tidak apa apa, aku bukan balita yang harus selalu ditemani, apalagi itu masalah pekerjaan sayang, aku tidak mau jadi penghalang kesuksesan karier suamiku."
Dion bangkit lalu mengecup pipi Aluna, dan pindah ke bibirnya. Aluna memejamkan mata merasakan sentuhan lembut bibir suami dan aroma mint yang sudah menjadi candu.
Lama bibir mereka bertautan, lalu Dion melepasnya. Mengusap bibir Aluna yang basah.
"Terima kasih pengertiannya. Aku sudah meminta sahabat barumu untuk menjadi teman saat aku tak ada."
__ADS_1
"Siapa?"
"Nabila."
"Wah, jadi Nabila akan tinggal disini."
"Iya, Nabila akan menjadi teman yang baik untukmu. Pagi dia akan kerja seperti biasa, sore dan malam dia akan menemani kamu, Honey."
"Apa gadis itu setuju?" Aluna semangat sekali akan ada Nabila yang bersamanya.
"Dia sangat senang, akan ada di dekat kakak sepertimu." Dion mengelus rambut Aluna.
"Syukurlah."
Pukul tiga sore Dion berangkat ke bandara diantar oleh Beni, saat berpisah Aluna menangis terisak. Ini pertama kalinya dia akan jauh dari suami.
"Jangan menangis, jika terus menangis aku akan membatalkan tender ini. Aku tidak mau membuatmu sedih, Honey."
"Aku tidak sedih, aku memang cengeng seperti ini sudahlah abaikan saja aku yang cengeng." Aluna mengusap air matanya.
Dion memeluk istrinya yang begitu cantik, membelai rambut hitam yang terus melambai karena diterpa angin.
"Tuan. Pesawat lima belas menit akan berangkat, mari saya antar." Beni mengangkat koper Dion.
"Siap Tuan, aku akan menjaga nyonya, dan akan melaporkan aktivitasnya untuk mengobati kerinduan anda."
"Bagus." Beni memeluk Dion ala pelukan seorang adik. Lalu melepasnya. Dion kembali menghampiri istrinya berpelukan sekali lagi lalu melambaikan tangan.
Pesawat lima belas menit lagi akan berangkat, pramugari sudah memberi peringatan melalui Pengeras berulang kali supaya calon penumpang lekas menduduki kursi.
Dion melambaikan tangan ketika sudah sampai di tangga.
Aluna dan Beni ikut melambaikan tangan bersama.
"Nyonya, anda harus banyak bersabar." Kata Beni menoleh ke arah Aluna di sebelahnya.
Aluna tersenyum."Beni, kau pikir aku anak kecil."
"Tapi anda sangat sedih." Beni melihat air mata Aluna.
"Sedikit. Ini pertama kali berjauhan setelah kami menikah."
"Iya, semoga semua akan baik-baik saja. Dan pertemuan nanti akan menjadi sesuatu yang paling indah selama perjalanan pernikahan kalian."
__ADS_1
"Terimakasih, Ben." Aluna menatap pesawat yang melambung tinggi melintas di atasnya. Aluna yakin ada Dion dalam pesawat itu.
Aluna berdoa, memohon keselamatan untuk suaminya.
Aluna dan Beni pulang bersama, baru sampai rumah Aluna langsung duduk di sofa sambil memeluk jas Dion yang tertinggal. Aroma harum dari jas itu membuat Aluna merasakan ketenangan yang sangat dalam.
Beni yang melihat Nona begitu menyayangi majikan laki-lakinya dia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga kelak dia juga mendapat istri yang begitu menyayangi dirinya.
***
Sore hari ini langit begitu cerah, awan seakan tak mampu lagi untuk menghalangi sinar matahari yang menggebu, begitu pula dengan pasangan kekasih yang tengah di mabuk asmara ini.
Nabila hari ini sangat bahagia, dia dijemput kekasihnya lalu mampir sarapan bersama di sebuah restauran mewah.
Ferdi sibuk mengambil hati Nabila karena dia tak mau kehilangan wanita yang telah sukses di usianya yang muda ini. Selain itu Nabila juga pemilik lima puluh persen saham dari rumah sakit terbesar di kota ini.
Tanpa sengaja Adrian juga mampir di restaurant ini, dia pernah ingin mengajak Aluna kesini, tapi sayangnya semua itu tinggal sebatas mimpi.
"Sayang, mau pesan apa?" Ferdi mengambil buku menu yang sudah siap di meja.
"Aku ngikut kamu aja, apapun yang kamu pesan pasti aku makan." kata Nabila pasrah.
"Ya udah aku pesan sushi. sepertinya, enak banget kita makan sore dengan sepaket sushi "
"Iya, terserah, aku juga suka," ucap Nabila dengan wajah berseri-seri.
Nabila suka Ferdi karena lelaki itu kelihatan baik, di juga perhatian, apalagi kata katanya yang selalu romantis
Adrian mendengarkan percakapan mereka berdua. karena Tempat duduk Adrian yang memunggungi Nabila.
Sushi pesanan sudah datang, keduanya menikmati sushi dengan lahap, sambil mereka ngobrol santai.
Nabila yang membuka percakapan lebih dulu.
"Sayang, aku pengen kenalkan kamu pada kakak."
"Uhuk," Ferdi tersedak.
"Kenapa? Nggak mau?"
"Bukan nggak mau, tapi aku terkejut saja."
"Na, tunggu aku sedikit lebih sukses ya, soalnya aku malu, cafe aku masih kecil dan sederhana, bagaimana kalau Kakak kamu tanya apa pekerjaanku? dan bagaimana jika aku ditolak mentah mentah."
__ADS_1
Nabila diam menimbang-nimbang ucapan Ferdi, tapi menurut pemikirannya, Jayden tidak matre. dia hanya ingin adiknya mendapat jodoh lelaki yang setia dan bertanggung jawab.