
Luna habis nangis, karena dia tak sanggup lagi terus berada dalam tekanan keluarga Adrian, semua orang menghina dan merendahkannya.
Mungkin malam ini saat sendiri adalah waktu yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu pada Tuhannya.
Saat sedang memiringkan tubuhnya menghadap dinding sambil memeluk guling tiba-tiba layar ponselnya berkerlip.
"Hallo Pak Dion, selamat malam." Luna langsung tau kalau penelpon itu Dion.
"Luna kenapa suaramu begitu sedih, kau malas bicara denganku?"
"Tidak Pak Dion, aku hanya sedang flu."
"Kamu tidak berbohong?"
"Aku berbohong ... eh tidak berbohong maksudku, Iya aku flu."
"Kau flu, Sejak kapan? Sore masih baik baik saja"
"Baru saja, aku minum air dingin tadi."
Dion tertawa, "Dan kamu pikir aku percaya? Luna jangan berbohong."
Aluna diam karena aktingnya sama sekali tak membuat Dion percaya. "Sekarang aku akan Video call, jangan ditolak."
"Jangan video call, Tolong Pak, aku sangat jelek, bahkan lebih jelek dari biasanya, aku belum mandi," dusta Aluna.
"Aku tak perduli kau jelek atau cantik, bagiku kau tetap wanita hebat, Apa kau mengerti." Dion tetap memaksa untuk menghubungi Aluna lewat video call. Aluna tak bisa beralasan lagi selain tetap menggeser kursor 'Terima' di ponselnya .
"Aku tau kau berbohong Aluna."
Dion mengamati Aluna yang bersandar di sisi ranjang sempit dan pengap. Beralaskan kasur lusuh dan kipas usang diatasnya yang terus menggeleng ke kanan dan ke kiri.
Matanya sembab dan hidungnya terus keluar ingus. Aluna butuh teman untuk berbagi cerita, tapi dia sangat takut teman tak bisa menjaga rahasia.
"Luna."
Sepatah kata yang keluar dari bibir Dion. Dion seolah kehabisan kata kata, padahal banyak sekali yang ingin diucapkan pada Aluna.
__ADS_1
"Tunggu aku di depan mansion, aku akan menjemputmu, kita jalan jalan." Pinta Dion.
"Jangan, Pak Dion," tolak Aluna.
"Kau butuh hiburan Aluna, malam bukan waktu bekerja lagi."
"Aku sangat sibuk, Pak Dion. Kekasih tuan Adrian datang, aku harus selalu ada untuk memenuhi semua permintaannya."
"Kekasih Adrian." Dion mengulangi kata katanya
'Oh, dia selalu saja sok berkuasa dimanapun, beruntung dia pergi dariku.'
"Anda kenal?"
"Bukan kenal lagi, tapi lebih tepatnya mantan, sudahlah nggak perlu dibahas, dia hanya masa lalu. Sekarang aku sudah temukan penggantinya yang lebih segalanya, Luna."
'Ah, Pak Dion rupanya sudah punya kekasih, tapi tidak ada yang salah dengan semua itu, dia tampan dan baik.'
"Luna, Luna, kenapa kau melamun. Apa aku terlalu tampan?" Dion melambaikan tangan di depan ponselnya
Malam itu kesedihan Aluna sedikit terobati karena ada Dion yang menghiburnya. Entah jam berapa panggilan mereka berakhir, yang jelas mereka berjam-jam menghabiskan waktu untuk bercanda.
Dion telah mengira Aluna tak betah kerja di rumah Adrian, pria kulkas itu. Diam diam Dion sudah memiliki rencana lain.
***
Pagi hari Aluna siap-siap memasak untuk keluarga besar Adrian Alexander. Karena Asisten berkurang kini Imah dan Aluna, sangat kerepotan.
Apalagi sekarang anggota keluarganya bertambah, Angel yang super cerewet karena harus diet dan tak makan makanan mengandung karbohidrat tinggi, lemak atau sebagainya, Aluna harus menyiapkan makanan khusus.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang ke mansion tanpa sebuah undangan.
"Kamu siapa, aku nggak merasa mencari seorang nanny?" Selena yang pertama kali keluar rumah, langsung menegurnya.
"Saya memang tidak akan menetap disini, hanya beberapa hari saja menggantikan saudara Aluna, karena majikan saya sedang ada urusan penting dengannya."
"Majikan kamu? Selena mengerutkan keningnya tak mengerti.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tante." Dion muncul setelah pintu penumpang terbuka
"Dion, apa maksud semua ini?"
"Tante saya sebenarnya ada urusan sedikit dengan asisten Tante, boleh kan aku izin bawa dia keluar sebentar.
" Maksud kamu apa? Kamu mau bawa Aluna dari rumah ini? Lalu mengganti dengan pelayan ini?" Tanya Selena tak mengerti.
"Benar Tante, apa keberatan?"
''Oh, tidak sama sekali, justru Tante sangat senang, kalau perlu bawa pergi selamanya dan tak usah bawa kembali."
Terima kasih Tante, sudah kasih izin."
"Ya sama sama, bawa pergi Aluna dan nggak usah cepat kembali, dia pasti butuh liburan panjang."
Dion sebenarnya kesal dengan sikap Selena yang tak suka Aluna, gadis itu berharga bagi Dion.
"Kalau mau temui dia, gadis itu ada di dapur," kata selena lagi.
Dion segera menyusul Aluna ke dapur, untung Adrian ada di atas bersama Angel sedang bermain piano. Jadi mereka tak perlu bertemu dan saling merendahkan satu sama lain.
" Luna!" Pekik Dion yang memperlihatkan senyumnya.
"Pak Dion, anda kenapa kesini, tunggulah di ruang tamu, aku masih memasak." Aluna gugup pria itu datang menyusul ke dapur.
"Hm … aroma masakan kamu harum." Dion mengendus-endus.
" Pak Dion, ada aja, masakan ini tak ada apa apanya dengan yang bapak beli kemarin."
Aluna dan Dion lebih terlihat santai dan Akrab. Saat berbicara dengan Dion, Wajah Aluna selalu berseri.
* Happy reading.
*jangan lupa emak bagi juga Vote, dan kembang kopinya ya.
__ADS_1