
"Emm, Chela terima kasih makan siangnya, lain kali kamu nggak usah repot begini aku jadi nggak enak makan gratis terus dari kamu." kata Jayden sambil menarik tangannya, lalu mengambil tisu.
Chela juga menarik tangannya yang kini sendirian diatas meja. Dia lalu menurunkan dan menautkan dengan satu jemari tangan di pangkuan. Chela berjanji tak akan patah semangat untuk menaklukkan hati lelaki tampan di depannya.
Chela juga mulai memperhatikan penampilan diri sendiri, besok dia berjanji akan lebih maksimal lagi dalam berdandan, bukankah laki-laki tak bisa berpaling dari wanita cantik.
***
Esok hari.
"Jess, kayaknya pagi ini kamu nggak usah ke proyek dulu, tadi Aku sudah hubungi asistenku, kalau kamu nggak datang karena sakit." Kata Luna sambil menggendong Awan yang sudah bangun lebih dulu.
"Jessica bisa kerja kok, Mbak, lagian kuliah juga libur," jawab Jessica yang sedang mematut dirinya di cermin.
"Kamu sebaiknya periksakan diri kamu saja, sesuai kata Dokter Jayden. Soalnya takut apa yang dikatakan benar. Daripada menyesal besok- besok, mending periksakan sekarang."
"Malas, Kak," kata Jessica sambil kembali duduk.
"Jangan malas, demi diri kamu sendiri." Luna memaksa. Mbak juga nggak akan ikut merasakan
Jessica akhirnya setuju untuk periksa, Jessica meminta tolong pada Beny supaya mengantar ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit. Jessica segera mencari ruang kerja Jayden, tapi sayang dia melihat antrian yang amat panjang di depan ruang prakteknya.
Ini pasti akan lama sekali. Desah Jessica, sambil menatap wajah ibu-ibu serta bapak yang berderet memenuhi kursi.
Bapak yang mengantri. Di wajah mereka juga terlihat jenuh dan lelah.
Jessica memilih untuk pulang lagi, Saat berpaling tiba-tiba perawat memanggilnya dari loudspeaker. "Nona antrian nomor sepuluh di mohon untuk masuk, Nona jessica Sanderson.
Jessica terkejut namanya dipanggil, lalu dia menelisik seluruh pasien dan ternyata memang tak ada yang bergeming.
"Nona, Jessica!"
Jessica balik badan dan kini dia melewati deretan antrian yang tersenyum ramah padanya, Jessica memang tidak tahu kalau semalam Aluna menelpon jayden dan Aluna meminta nomor antrian awal yang memang bisa dengan telepon lebih dulu, dan kebetulan Jessica mendapat antrian nomor sepuluh.
__ADS_1
"Ayo masuk Nona Jessica, Dokter sejak tadi menunggumu."
"Terimakasih Sus," kata Jessica sopan lalu duduk di kursi di depan Jayden.
"Em, Jessica, kamu ada keluhan nggak? Misalnya pusing, pening, atau mau muntah." Tanya Jayden berusaha profesional. Jemari tangannya memainkan kertas, dan matanya fokus menatap Jessica.
"Emm, nggak ada sih Kak, cuma aku merasa nafas sedikit sesak." kata Jessica sambil memegangi dadanya, mencoba menarik dan menghembuskan nafasnya kasar, berharap nyeri yang semalam dia rasakan sudah hilang.
Jayden lalu bangkit dari duduknya, membungkuk di depan Jessica hingga wajah mereka begitu dekat. Jessika menjauhkan wajahnya dari Jayden, Jessica mengira Jayden akan kembali mengerjainya.
"Jangan modus, atau aku akan melaporkan anda."
Jayden tersenyum smirk. " Kamu galak sekali, aku cuma ingin memeriksa kelopak mata dan memeriksa denyut jantungmu."
Jessica rupanya terlalu parno, dia takut Jayden akan mengambil ciuman pertamanya seperti janjinya tempo hari.
"Kalau bukan Mbak Luna yang meminta datang, mungkin aku tak akan pernah kesini." kata Jessica, menunjukkan kalau dia tak ada hubungan dekat apapun dengan Jayden.
"kakak kamu memang cerdas." Jayden memberi isyarat supaya Jessica terlentang di ranjang pasien. Jessica menurut, tetapi tetap dengan wajahnya yang tak bersahabat.
Jayden memeriksa ulang kelopak mata Jessica, dia juga memeriksa tekanan darah dan detak jantung.
Mungkin sesak nafas yang kamu alami karena ada tulang iga yang patah, apakah ada yang sakit di bagian dada. Jayden hendak menyentuh perut atas Jessica. Namun lagi- lagi gadis itu menahan pergerakan tangan Jayden dengan menggenggam lengannya.
"Jangan menyentuhku, biar aku katakan saja apa yang aku rasa."
Jayden menarik nafasnya panjang, bukannya kesal, tapi seolah semakin tertantang untuk menaklukkan gadis di depannya. Gadis yang langka menurut Jayden sepanjang dia bertemu dengan para wanita.
Selama ini wanita selalu tersenyum lebar dan berdandan cantik demi menarik perhatiannya. Tapi tidak dengan Jessica, dia langka, bahkan mendekati aneh, sifat galaknya sudah mirip dengan bayi singa.
"Okey, tidak mau aku periksa tidak masalah, kita langsung lakukan rongen, saja," kata Jayden lalu pergi dari hadapan Jessica tak lupa melepas jas dan stetoscope di lehernya.
Sedangkan dua perawat membawa Jessica ke ruang rongen. Sedangkan Jayden ikut mengantar Jessica, dan pasien yang melakukan cek'up hari ini ditangani oleh Nabila.
Di ruang rongen, Jessica dan Jayden hanya berada dalam kebisuan. Jayden membaca gambar yang terlihat jelas di sebuah layar. Sedangkan Jessica berdoa semoga sakitnya tak ada yang serius, semoga semua baik-baik saja tanpa berurusan dengan lelaki menyebalkan di depannya.
__ADS_1
Jayden melihat Jessica sekilas, lalu kembali melihat foto yang berhasil dia ambil dari hasil rongen baru saja.
"Gimana hasilnya? Pasti semua baik-baik saja kan?" tanya Jessica.
"Iya, tapi tetap saja kamu harus kembali memeriksakan diri ke sini, ada tulang yang retak."
"Pasti itu ide gila kamu, biar aku selalu datang kesini dan anda puasvmengerjaikau." Jessica bangkit dan segera turun. Tapi Jayden menahannya.
"Jangan lakukan apapun sebelum aku menyuruhnya." Jaiden menarik lengan Jessica dan merebahkan. Kali ini dia menemukan kejanggalan pada diri Jessica dan Jayden harus memeriksanya.
"What? Aku harus patuh dengan anda begitu dokter? Anda memang dokter paling mesum di dunia?" kata Jessika saat Jayden mendorongnya agar terlentang dan kali ini benar-benar memegang perut atasnya dan menekan berpindah pindah hingga beberapa zitik.
"Diam, Nona, atau aku akan benar benar mengecup bibirmu. Dan aku pastikan jika anda terus meronta dan berbicara aku akan benar-benar melakukannya," ancam Jayden yang terlihat aura serius di wajahnya.
"Aaaa." Jessica merasa kesakitan di salah satu rusuknya. Membuat Jayden yakin Jessica harus tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari.
"Anda harus dirawat berdasarkan prosedur yang semestinya, aku tak mau luka ini akan menjadi lebih menakutkan di masa yang akan datang."
"Tidak Dokter, aku baik baik saja." Jessica kekeuh karena takut tangannya ditusuk jarum besar yang nanti akan dilewati cairan infus.
"Kenapa anda lebih suka dipaksa daripada menurut. Anda benar benar harus dirawat, dan aku yakin keluarga akan setuju denganku."
"Aku akan menelepon Tante Melani sekarang. Dan dia pasti langsung setuju kau tinggal bersamaku beberapa hari." senyum smirk menghiasi wajah Jayden, membuat Jessica makin tersiksa.
"Aku ingin rawat jalan saja,' ide brilian Jessica langsung muncul.
"Tidak bisa, aku harus pastikan luka dalam yang kau alami tidak memburuk, karena mengobati luka dalam tak semudah mengobati luka luar. Mengerti!!"
'Sial, kenapa harus seperti ini. Dirawat disini, artinya aku harus lebih sering bertemu dengan dia, bisa bisa aku bukannya sembuh tapi bisa makin darah tinggi.'
Jessika mendengkus kesal, Jayden tersenyum tanpa sepengetahuan Jessica, entah kenapa, melihat sikap ketus gadis di depannya, justru membuat dokter tampan itu betah memandang lama dan ingin selalu menggodanya.
"Aku pergi dulu, ada pasien lain yang harus aku periksa."
"Ya, pergilah, pergi yang lama. Kalau perlu tak usah kembali biar dokter lain saja yang merawatku."
__ADS_1
"Baiklah Nona." Jayden meminta perawat untuk memindahkan Jessica ke ruang VVip yang paling dekat dengan ruang kerjanya, karena kebetulan ruangan itu masih kosong setelah pasien yang tinggal sudah pulang beberapa hari lalu..