Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 106. Cinta bisa berubah.


__ADS_3

"Pak Dion biarkan aku pulang sendiri." 


"Kamu yakin Luna?"


"Iya, aku akan naik angkot saja."


Dion berhenti di tepi jalan. Dekat dengan mobil pribadinya. Disebelahnya Aluna sedang menghentikan angkot. 


Terlihat sekali Aluna sedang mengalami tekanan batin yang berat. Hati yang susah dimengerti. Ingin bercerai tapi masih ada sisa sisa cinta. Bagaimanapun mereka pernah bersama. Walau sekarang didepan sudah berdiri lelaki yang tak kalah tampan dan kaya.


"Angkot berhenti!" Dion membantu Aluna menghentikan angkot. 


Angkot berhenti tepat di antara mereka berdua. Aluna segera naik. Sendiri, saja. Saat ini dia butuh seorang diri untuk menenangkan hati. 


"Jalan Pak!" Tiba-tiba suara lelaki yang dia kenal memerintahkan sopir supaya kembali menjalankan kendaraannya.


Aluna menoleh, lelaki berjas hitam dan kemeja putih serta pemilik senyum paling menenangkan ada disebelahnya.


"Pak Dion, kenapa anda disini?"


"Aku pengen naik angkot aja, nggak boleh ya?"


"Pak! Turun cepat, anda bisa masuk angin nanti."


"Sudahlah, aku nggak apa apa, yang penting aku bisa memastikan kamu baik baik saja."


"Pak aku mohon jangan seperti ini, aku sudah biasa naik angkot. Tapi anda belum pernah."


"Siapa bilang, aku sering naik angkot," dusta Dion yang baru beberapa meter jalan saja, perutnya sudah mual.


"Pak, pak berhenti, tolong! Ini bos saya nggak biasa naik angkot. Nanti aku bayar lebih, Pak."


"Maaf ya, Pak." Aluna menatap sopir dan orang sekelilingnya dengan wajah bersalah. 


"Iya, Neng. Bosnya cakep banget, orang tajir mana kuat naik angkot kayak kita ya?" Mobilnya pasti sejuk dan wangi."


"Maaf ya Pak, Buk, permisi turun."


Aluna turun diikuti Dion dibelakangnya, lelaki itu juga meminta maaf telah membuat penumpang lain terganggu dan kesal. Akhirnya Dion memilih mengambil uang dua ratus ribu dan memberikan pada sopir. 

__ADS_1


Sopir menerima dengan sangat senang dan mendoakan semoga hubungan mereka langgeng. "Awet awet ya, cinta kalian semoga tak akan terpisahkan oleh apapun."


"Terima kasih, Pak. Do'akan semoga kami nanti memiliki banyak anak ya." Canda Dion yang alhasil mendapat cubitan di lengannya.


"Pak, silahkan jalan kembali. Hati hati ya." Aluna mempersilahkan sopir berlalu dan memelototi pada Dion yang meringis menahan sakit bekas cubitan Aluna. 


Mereka berdua akhirnya memilih untuk kembali menuju Mobil Dion yang bertengger di depan restaurant yang menyajikan menu khas Indonesia itu. 


Adrian lagi lagi hanya bisa melihat mereka berdua memamerkan kebahagiaan tanpa tahu apa yang dirasakan Luna. 


Dion membukakan pintu dan meminta Aluna masuk, sekalian membantu Aluna memakai sabuk pengaman, setelah Aluna nyaman di tempat duduknya, dia segera berlari lewat pintu yang satunya. 


"Ma, sebaiknya kita cabut dari sini, kita ada kabar gembira untuk kalian."


"Kabar gembira? Apa Adrian?" Selena terlihat tak sabar.


"Tante dan Chela nanti pasti akan tahu." Angel tak kalah bahagianya. 


Mereka semua digiring oleh Adrian menuju kediaman dokter yang sudah direkomendasikan oleh Angel. Yaitu Dokter Hendra. 


Dokter Hendra juga sudah pernah bertemu dengan Adrian, jadi mereka tak lagi canggung. 


Setelah pemeriksaan kilat pada Angel, Hendra langsung mengatakan kalau Angel positif hamil. Karena beberapa hari lalu Hendra sudah tahu lebih dulu. 


"Hendra, nggak usahlah bicara begitu, kamu tahu sendiri kan aku dan Adrian sudah pacaran lama, jadi ya gitu …." Angel nampak senyum dan pura pura malu


Sedangkan Selena dan Chela nampak senang meski terkejut. 


"Wah, pernikahan nggak bisa ditunda lama lama lagi dong, keburu perut Angel kelihatan besar saat resepsi." Kata Selena yang memerhatikan lekuk tubuh Angel yang masih terlihat ramping dan rata. 


Sedangkan mimik muka Adrian terlihat datar-datar saja, mungkin kejanggalan yang dia rasakan kemaren masih belum terjawab. Jika dia bertanya langsung wanita itu pasti akan marah dan menggunakan kekuasaan untuk menghancurkan perusahaan. Apalagi perusahaan miliknya sedang menghadapi badai, sedangkan produk keluaran perusahaan Dion semakin di senangi karena Fashion Show yang dilakukan Luna sangat mengesankan.


Membayar uang tutup mulut untuk para model juga mengeluarkan uang banyak. Dan semuanya justru membuka peluang bagi Aluna untuk mendapatkan kontrak selanjutnya dari perusahaan lain yang bisa saja lebih besar. 


Adrian sekarang terjebak dengan permainanan sendiri, perusahaan nyaris bangkrut jika tidak mendapat asupan dana dari Papa Angeline. Tunangan hamil diluar nikah. Wanita yang dicintai dan dijaga kesuciannya telah bahagia dengan sepupunya sendiri. 


"Kak Rian diam diam menghanyutkan, tau tau Kak Angel sudah hamil." Chela terlihat bahagia akan memiliki keponakan dari wanita seperti Angel, kebanggaannya.


Mereka hendak kembali pulang setelah Hendra memberinya obat anti mual dan beberapa vitamin kepada Angel. 

__ADS_1


Angel mengerlingkan matanya pada Hendra sebelum dan menunjukkan dua jempolnya. "Sukses." 


Hendra mengangguk. "Good job." Hendra juga menunjukkan dua jari jempolnya.


Sedangkan Adrian keluar lebih dulu karena ada telepon dari Rossa, sekretarisnya. Chela dan Selena sudah menunggu di mobil karena mengantuk plus kekenyangan. 


"Sudah selesai?" Tanya Adrian selesai menerima telepon.


"Sudah." jawab Angel dengan semangat menunjukkan vitamin dan obat yang ad di dalam kantong plastik. 


Adrian segera mengantar Chela dan Mama pulang dulu, setelah itu baru dia akan mengantar Angeline pulang. 


Setelah berhasil memberitahukan kehamilan pada Adrian. Angel terus saja memeluk lengan dan menempelkan kepala pada Adrian.


"Sayang, nanti kita mampir beli rujak buah ya"


"Iya."


"Sayang kamu senang nggak aku hamil?"


Adrian diam sesaat, dia menyusut hidungnya lalu menoleh pada Angeline yang ada disebelahnya.


"Iya senang." Memaksa senyumnya. 


"Tapi ekspresinya kok biasa biasa saja, pasti kamu masih memikirkan Aluna, iya kan?"


"Enggak, aku sudah mulai belajar melupakan dia, mungkin Aluna akan lebih bahagia bersama Dion." Kata. Adrian berusaha meredam sesak di dadanya. 


"Bohong, buktinya sedih."


"Enggak!! Kenapa harus bahas Aluna disaat hanya ada kamu dan aku? Bukannya kamu nggak pernah suka sama dia, tapi kenapa harus selalu kau sebut nama dia? Kalau nggak suka, nggak usah dibahas!"


"Kamu marah Rian?!" Tanya Angeline dengan nada tak suka.


"Enggak, aku cuma tak mau kau selalu mengingatkan aku tentang dia, kehamilan kamu itu yang harus kamu pikirkan, kita belum menikah dan kamu sudah hamil, bagaimana kalau ada media sosial tau, bisa-bisa karier kamu jatuh begitu juga aku."


"Ya sudah, kamu tinggal nikahi aku besok, apa yang kurang dari keluarga besar kita, tak akan ada yang mustahil Rian. Itu jika kamu sayang calon bayi ini."


 

__ADS_1


"Akhhhhh …." Rian memukul kemudinya. Dari lubuk hati yang terdalam sungguh dia tak rela Aluna bersama Dion. tetapi Angeline disebelahnya terus saja berisik. Sungguh bukan semua ini yang diinginkan Adrian.


Angeline yang melihat Adrian marah, dia juga takut, wanita itu memilih diam sampai rumah. Adrian tidak pernah kasar seperti hari ini. Angeline seolah melihat sisi kedua Adrian yang tak pernah dia ketahui sebelumnya. 


__ADS_2