Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 8. Memiliki tapi tak dicintai.


__ADS_3

Acara fashion show sudah akan dimulai beberapa menit lagi, Adrian dan Tito duduk bersama para kolega di barisan kursi yang paling depan. Sambil menatap kearah panggung yang akan menjadi pusat pentas. Kali ini Alexa Fashion ingin menunjukkan rancangan terbaru dari desainer ternama. 


Aluna dan teman-teman sibuk membantu para koki, menyiapkan aneka hidangan lezat dan minuman mahal untuk menghormati para tamu.


 Tubuh Aluna sangat lelah, tetapi lelah itu lenyap seketika ketika melihat teman teman yang lain bahagia, karena setiap acara selesai mereka akan mendapat tips yang lumayan banyak sebagai upah lembur.


"Lun kamu besok bakal gajian, gaji pertama kira-kira akan kamu buat apa?"


"Buat apa ya?" Luna terlihat berfikir. 


"Saran aja ya Lun, beli baju yang baru, buat lurusin rambut, dan warnai rambut kamu tipis-tipis biar cakep."


"Emang penampilanku setiap hari jelek banget ya?" Aluna menatap dirinya dari pantulan cermin kecil yang ada di dapur OG.


"Enggak jelek Lun, bukan itu maksud aku. Tapi kamu bisa lebih cantik dari sekarang ini." Nina mencoba memberi pengertian pada Aluna dengan hati-hati.


"Maaf ya Nin, bapak dulu nggak ngebolehin aku dandan macam-macam. Masa karena bapak sudah nggak ada, Aku harus melanggar larangan bapak. Jadinya aku pengkhianat, aku tidak mau berkhianat dengan amanah bapak. Nin, kumohon kamu mengerti itu." Aluna berbicara dengan mata berkaca, sesekali melihat sahabatnya yang kini tengah menatapnya dengan rasa bersalah. 


Nina merasa bersalah membuat Aluna sedih, walaupun tujuannya baik,tapi nyatanya ucapan itu malah membuat sahabatnya sedih. 


"Emang kalau aku tampil apa adanya begini, kamu malu ya? Malu punya teman kayak aku? Jelek, cupu, dekil, kampungan, dan entah apalagi yang dibilang orang lain"


Nina segera menutup mulut sahabatnya, sambil menggeleng pelan. "Luna Luna Luna stop! Bukan itu maksud aku Luna, aku suka kamu apa adanya, aku nggak masalah. Tapi kamu . Aku nggak rela mereka bicara buruk tentang kamu. Aku dengar bagaimana Angel dan kawan kawan tadi menghina kamu."


"Biarin Nina, aku nggak masalah. Mereka bicara seperti apa tentang aku, inilah memang kenyataan diriku."


Nina menerima alasan Aluna, rupanya dia memang sengaja tak mau berdandan karena larangan orang tua tunggalnya. Menurut Nina andaikan Luna sedikit merawat rambut dan wajah serta menanggalkan kacamata pasti dia akan sangat cantik. Tekstur kulitnya juga halus tubuhnya tinggi dan memiliki ukuran dada yang pas, lekuk tubuh yang indah. Sayang sekali semua itu tertutupi dengan baju longgar dan celana yang kebesaran pula. 


"Luna, yuk kita lihat acara show-nya sekarang." Nina menyeret lengan Aluna. Tak ingin lagi membahas soal penampilan yang hanya akan membuat Aluna bertambah sedih. Mereka berdua bergabung dengan karyawan kelas bawah yang tak mendapat jatah kursi, tapi rela berdiri untuk melihat acara. 

__ADS_1


***


Malam ini Tito diminta menjadi pembawa acara. Suara Tito mulai menggelegar memenuhi aula. Produk andalan PT Alexa satu persatu mulai dipamerkan oleh para model yang cantik rupawan dan gemulai. Baju baju mahal untuk kaum sultan dan aneka barang branded mulai membuat beberapa istri bos meneguk salivanya ingin cepat memiliki barang terbaru dan bagus. 


Para petinggi perusahaan tepuk tangan dengan meriah, mereka semua sudah tak sabar menunggu rancangan terbaru yang dikeluarkan oleh Alexa fashion. Perusahaan yang sempat bangkrut dan tutup bertahun tahun di tangan Om Haris Alexander dan kini semua saham dimiliki oleh Adrian Alexander.


Mereka semua membicarakan Angel yang begitu cantik ketika di atas panggung. Penampilannya mampu menyihir begitu banyak kaum pria. Mereka yang mendapat kursi di barisan belakang, banyak yang tidak puas melihat rupa cantik Angeline berbalut busana mewah dan aksesoris mahal hanya dengan duduk saja.


Aluna juga tak kalah penasaran dengan wanita yang begitu diagungkan semua orang itu, Aluna dan Nina rela berdesakan di belakang. 


"Luna, lihatlah Angel, dia cantik sekali. Beruntung Alexa Fashion melakukan kerja sama kontrak dengannya, dan Pak Adrian bisa memiliki wanita itu. Kabarnya anak pengusaha kaya juga."


"Iya, mungkin karena hidupnya terlalu bahagia, dia jadi sosok yang tidak bisa menghargai orang," keluh Aluna yang berturut turut mendapat cacian dari wanita kebanggaan semua orang itu. 


Acara Fashion hanya berlangsung beberapa jam saja. Seperti biasa Alexa fashion langsung kebanjiran order dari berbagai perusahaan dan toko besar. Adrian akan sangat sibuk sekali menyapa para kolega lama atau baru. 


"Oke, aku tunggu disini ya." Nina masih belum mau geser dari tempatnya. 


Luna segera mengambil dua gelas bertangkai berisi minuman manis dari belakang. Fokus dengan kedua gelas di tangannya membuat dia kurang hati-hati dengan keadaan disekitarnya. 


Aluna tak sengaja menyenggol pria berjas hitam yang sedang ke arah tangga, pria itu ingin memberi sambutan penutup untuk para tamunya.


"Maaaaaaf!!" Pekik Aluna yang sadar siapa pria itu.


"Em, tidak apa-apa lain kali kamu hati-hati ya." Pria pemilik tatapan setajam elang itu mengibaskan telapaknya, dengan cepat, berharap air manis itu tak banyak yang meresap.


Aluna tak percaya pria itu tak marah, bahkan dia terlihat tersenyum sedikit tadi. Aluna tak percaya itu benar Adrian suaminya yang berbicara. 


"Pak Adrian, aku bisa mengeringkan jas anda. Aku minta maaf aku benar-benar tak sengaja." Aluna sudah panik bercampur gemetar. Belum lagi semua orang yang tadi fokus ke arah panggung, hampir semua kini menatap dirinya. Aluna menyentuh jas mahal itu dan Andrian segera menariknya.

__ADS_1


"Nggak perlu, ini tidak apa-apa." Adrian kembali tersenyum, walau terkesan dipaksa.


Mereka banyak yang bergumam lirih mengagumi sosok pimpinan Alexa Fashion. Bagaimana bisa Adrian tak marah sama sekali dengan kekonyolan karyawannya yang berada di kasta paling bawah itu. 


"Wah wah, Pak Adrian ternyata orang yang sangat menghargai karyawannya, pantas saja semua orang mendukungnya, hingga dia bisa sampai di titik kesuksesan seperti sekarang ini." Salah satu orang memujinya.


"Lanjutkan saja pekerjaanmu," kata Adrian terakhir kali sebelum dia menaiki anak tangga. 


Aluna hanya bisa melongo, sedangkan kedua tangannya tetap memegang gelas yang isinya tinggal separuh. Tak percaya pria yang sah menjadi suaminya itu bisa  bersikap begitu lembut di depan semua orang. 


Tetapi semua itu tak berlangsung lama, Aluna segera sadar kalau semua itu hanya untuk kepentingan pria itu sendiri, bodohnya Aluna berpikir pria arogant itu menghargainya, padahal dia bersikap baik tadi untuk kepentingannya semata. 


"Lun!" Panggilan Nina menyadarkan lamunan Aluna. 


Aluna segera menghampiri sahabatnya dan menyerahkan satu gelas. "Nin, ini minumnya."


"Lun, kok nggak hati-hati sih, untung pak Adrian tadi nggak marah."


"Nggak mungkin marah, dia takut reputasinya akan hancur kalau marah marah sama OG di depan koleganya. Kamu nggak lihat? Justru karena sikapnya tadi dia mendapat banyak sanjungan dari semua orang."


"Iya juga, sih. Tapi Pak Adrian itu tampan banget lho Lun. Walau dia kadang arogant. Tapi ketampanan nya tak ada yang menandingi di kantor ini." ujar Nina sambil menatap Adrian yang tengah berdiri diatas panggung memberi sambutan. 


Aluna yang sejak tadi menikmati segarnya sirup dalam gelas ditangannya, mulai tertarik dengan obrolan sahabatnya. Dia ikut melihat sosok Adrian, menatapnya dengan sedikit lebih lama. 


'Adrian memang tampan Lun, dia juga suami kamu, tapi jangan pernah berharap dia akan menganggap mu. Lihatlah kamu yang buruk rupa, dan Angeline Sang Bidadari. Kamu hanya perlu bekerja dengan baik dan merahasiakan semuanya. Jangan pernah bermimpi untuk mencintai Adrian. Ataupun dicintainya.' batin Aluna sambil menatap prianya sedang berbicara diatas panggung, sesekali di bibirnya terukir senyum. Sungguh pria yang mampu membuat hati wanita bahagia hanya dengan menatapnya.


*jangan lupa Emak bagi Vote juga ya. biar semangat ngetiknya.


 

__ADS_1


__ADS_2