
Aluna hendak mengucap terima kasih, tapi lelaki itu lebih dulu mengalihkan pandangan lalu pergi begitu saja.
"Ishh, benar-benar lelaki yang sombong," gumam Luna.
Luna akhirnya memilih duduk saja dan tak merisaukan Enzo. Aluna kembali memperhatikan para peserta yang mulai melenggak lenggokkan tubuhnya di atas panggung.
Peserta banyak sekali yang gugur di seleksi pertama, dalam seleksi pertama penilaian cenderung mengenai fisik, dia harus cantik, serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Sudah seratus peserta yang masuk ternyata yang dipilih juri hanya dua. Masih ada seratus lagi, termasuk Aluna di urutan paling terakhir. dia itupun kiri masih belum yakin akan sesuai dengan keinginan CEO Enzo.
Luna terlihat gugup, dia tak henti berdoa dalam hati supaya tidak gagal. Meski mimpinya ingin menjadi seorang sekretaris, menjadi seorang model top juga impian setiap wanita, kalau memang bisa, Aluna akan berusaha semaksimal mungkin.
Tito juga salah satu juri, bahkan tuan muda Enzo juga turut menilai para peserta langsung, dia akan memilih yang terbaik diantara yang baik sesuai yang diharapkan.
Hanya akan ada sepulih yang terpilih nanti, dan keputussn juri mutlak tidak bisa diganggu gugat.
Aluna berharap dia masuk sepuluh besar, dan semoga sampai tiga besar, meski baginya itu tidak mungkin, saingan mereka gadis ibukota, dia datang diantar mobil mewah. Bagaimana bisa Aluna bermimpi.
'Ah, aku pasti bisa, aku pasti bisa, aku akan mengawali karirku menjadi model, jika aku sukses, biarpun orang meninggalkanku, mencampakkan ku, aku masih punya uang untuk bertahan hidup, aku harus mengembalikan uang Nabila.' batin Aluna terus berkecamuk sendiri. Sambil meremas tangannya untuk menghilangkan kegugupan.
"Aluna Pangastuti! Harap bersiap-siap naik ke panggung." pemandu acara sudah memberi aba-aba pada Aluna.
Aluna terkejut bukan main tiba-tiba namanya dipanggil, dia tadi yakin akan ada di urutan terakhir tapi kenapa sekarang bisa berada di nomor tengah.
Aluna tahu ini pasti Tito yang melakukan.
Tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Tanda sebuah notif pesan masuk.
Jangan kaget, Tuan Enzo yang meminta, dia tak sabar ingin melihat kemampuanmu di atas panggung.
"Aku nervous, bagaimana kalau tuan Enzo kecewa." Aluna membalas pesan Tito.
'Kuncinya percaya diri," balas Tito lagi.
"Tuan Enzo, maafkan aku jika aku tak bisa sesuai harapan." Desah Aluna. Lalu mengembalikan ponselnya ke saku. Aluna melihat dirinya dan merapikan yang sekiranya perlu. Setelah peserta yang ada di panggung turun Aluna segera berdiri dan berjalan naik ke atas panggung.
Sama dengan peserta lain, setelah Aluna membungkuk kecil, hadirin bertepuk tangan.
Saat tepuk tangan berhenti, kaki jenjang Aluna mulai melangkah menguasai panggung sesekali dia bergaya arogan berkacak pinggang sesuai dengan tema baju yang dibawakan.
Enzo nyaris tak berkedip menatap Aluna. Dia terkesima hingga tanpa sadar menggigiti ujung pulpen di tangannya.
"Tito, siapa namanya gadis itu?" Enzo mencondongkan tubuhnya ke arah Tito.
"Gadis itu bernama Aluna."
"Hmmm." Enzo mengangguk.
__ADS_1
"Anda tertarik?"
"Dia unik, aku suka gayanya. Kalem dan menggemaskan. Masukkan dia dalam sepuluh besar."
"Baiklah, aku juga suka," kata Tito. Tadinya dia ingin merekomendasikan Aluna agar bisa masuk seleksi berikutnya, tapi melihat penampilan Aluna yang patut diacungi jempol, Tito urung, dan Enzo ternyata juga jeli.
"Tito, dia memenuhi kriteria yang aku inginkan selama ini," bisik Enzo.
Enzo tersenyum, dan Tito menganggukkan kepalanya puas.
"Ya, syukurlah Tuan kalau anda sudah cocok dengan Luna."
Lelaki itu kembali menatap Luna hingga kesempatan Luna di atas panggung habis. Terdengar tepuk tangan meriah dari dewan juri dan peserta.
Enzo juga tepuk tangan, dewan juri sudah tau kalau Tuan muda juga suka dengan Luna. ekspresinya Enzo terlihat menyolok sekali.
Setelah Aluna turun, Enzo juga meninggalkan kursi duduknA, dia lebih memilih untuk istirahat daripada melihat acara kontes selanjutnya. Siapapun juaranya nanti, Enzo akan memilih Luna dalam acara launching hasil produksi mobil terbarunya.
***
Kontes sudah selesai, peserta yang terpilih sepuluh besar tinggal di asrama, masing-masing kamar dihuni dua orang. Kebetulan Luna satu kamar dengan gadis ibukota yang juga cantik, tapi dia tidak suka jika ada saingan.
Setiap hari para pembimbing akan datang untuk memberi bimbingan pada peserta. Pagi dan sore, khusus siang hari mereka boleh istirahat atau melakukan aktifitas lain.
Pagi ini para peserta akan melakukan joging bersama pelatih. Tito melihat Enzo juga sudah rapi dengan atribut olahraga. Rupanya lelaki itu akan ikut joging juga.
"Entahlah, rasanya akan lebih asyik saat joging bersama."
Saat mereka berada di tanah lapang, dengan hamparan rumput luas, Enzo tak melihat Aluna, bahkan dengan konyol dia menghitung jumlah peserta berulang kali.
Enzo berbisik pada Tito, "Dimana gadis itu?"
"Siapa maksud anda Tuan."
"Ck, masih pura-pura tak tahu, kamu menyebalkan Tito."
"Aluna, maksud anda?"
"Dia bukan gadis, dia janda, Tuan." Tito tersenyum tipis.
"Janda?" Enzo terkejut. dia tak percaya dengan ucapan Tito.
"Kenapa Tuan, apa janda tidak boleh ikut audisi ini?"
Enzo terlihat diam, dia kembali lari-lari kecil, sebenarnya tidak masalah Janda atau tidak, tapi yang ada dipikiran Enzo sekarang, perihal apa yang membuat dia jadi janda. Kenapa ada suami yang meninggalkan wanita seperti dia.
"Tuan, anda banyak bertanya, jangan jangan anda memang jatuh cinta dengan Aluna."
__ADS_1
"Jaga bicaramu, aku tidak semudah itu jatuh cinta, aku bukan kamu Tito. Asal lihat gadis bening langsung jatuh cinta. Aku hanya suka aksi panggungnya saja, kamu lihat semalam penonton juga suka.
Tito hanya tertawa, jujur Tito dulu juga pernah cinta sama Aluna, tapi karena tak mungkin mencintai lagi karena dia waktu itu sah istri Adrian, Tito memilih mundur saja.
Selesai lari pagi, Tito segera mencari Aluna, ternyata Aluna sedang merenung dikamar, kebetulan badannya panas. Jujur Aluna merindukan Dion, jika lelaki itu marah, Aluna berharap amarah yang menguasai Dion segera luntur.
Bahkan menurut Nabila dia bekerja seperti biasa, tanpa ada usaha mencari dirinya, Nabila juga mengatakan dia saat ini ada di dekat Dion. Hasil laporan Nabila semakin menyakiti Aluna.
Dion pagi ini makan siang bersama Angeline, tidak ada keinginan makan siang bersama, tapi Angeline yang menghampirinya dan ikut memesan makanan, tak lama Nabila dan Adrian Nabila datang.
Tanpa sepengetahuan Adrian, Nabila segera mengambil gambar mereka berdua.
Salah paham masih terus berlanjut, Dion dan Aluna kini sama-sama terluka. Dia sama-sama tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan karena waktu itu sedang dalam kondisi marah.
Dion yang melihat Adrian makan berdua dengan Nabila tentu saja dia sangat marah, begitu juga Adrian yang melihat Dion makan bersama dengan Angeline.
"Na, kamu lihat laki-laki bajingan itu, bisa bisanya dia melupakan Aluna dan jalan dengan gadis lain," kata Adrian geram.
"Rian kamu belum tahu, Dion sudah tak lagi dengan Aluna."
Adrian langsung menaruh sendoknya dan menatap Nabila dengan intens "Maksud kamu?" Darah Adrian rasanya seperti naik ke ubun-ubun mendengar penuturan Nabila. Wanita yang diperjuangkan mati-matian agar bersama dirinya, tetapi memilih Dion, malah kini di campakan.
"Kamu pasti tahu sesuatu Na, jelaskan padaku." Adrian tahu Nabila menyembunyikan sesuatu.
Nabila menggeleng. "Tidak hanya itu yang aku tahu."
"Apa?" Adrian makin marah pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia tidak tahu dengan apa yang menimpa wanita itu.
"Kamu pasti berbohong, jangan bilang Aluna sekarang menderita, Nabila kemana Aluna pergi? Kemana Dion mengusirnya?"
"Aku tidak tahu, karena Aluna tidak cerita dimana dia."
"Brak!" Adrian menggebrak meja, membuat semua penghuni restaurant menoleh, termasuk Dion dan Angel.
Dion juga terkejut melihat Adrian bukan sama Aluna, tetapi malah dengan gadis lain. Dion segera bangkit dari duduknya dan mendorong kursi yang diduduki hingga nyaris berderit.
Dion segera menghampiri Adrian dengan tatapan tajam. Adrian pun sama. Malu diperhatikan banyak orang Dion keluar restoran dengan langkah tergesa, Adrian mengekor di belakang Dion dengan langkah tergesa gesa.
Dion tak sabar bicara baik-baik dengan Adrian, tanpa serta merta Dion menarik kerah Adrian dengan kasar. "Brengsek, laki laki brengsek! Dimana Aluna! Dimana dia?"
"Kau yang brengsek, lelaki beristri apakah pantas jalan dengan wanita lain? Dan sekarang malah menanyakan istrinya pada orang lain yang jelas sudah tak ada hubungan apa-apa."
"Bohooooong!"
Bug!
Dion memukul pelipis Adrian dengan keras, Adrian terlambat menghindar dan pukulan itu mengenai pipinya.
__ADS_1
Adrian yang diselimuti emosi membalas pukulan Dion. mereka berdua kini sama- sama terluka.