
Dion mengurung diri di kamar Aluna. Tubuhnya hanya tertutup oleh handuk sambil melamun.
Sedangkan Aluna memasak sambil menunggui baju Dion yang belum kering di jemuran.
Menunggu daging sapi yang sedang direbus empuk, Aluna melamun dan senyum-senyum sendiri begitu ingat Dion mencium bibirnya dengan sangat agresif.
Tanpa sadar Aluna meraba bibirnya yang masih menyisakan rasa perih itu.
"Kenapa Non bibirnya?perih ya?"
"Eh bibi mau tau aja."
"Maaf ya Non, ciuman pertama itu memang suka perih, tapi sukar untuk dilupakan."
"E, enggak. Pak Dion nggak apa apain Luna. Kan Luna mabok jadi nggak sadar."
Dibilang oleh Luna bibi bukannya mengerti dia malah senyum cengar-cengir.
"Bibi kaya nggak pernah muda aja," gerutu Luna masih didengar oleh Bibi.
bibi yang mendengar hanya tersenyum dan mengamati gerak gerik Luna yang agak berbeda dari biasanya.
"Non itu apa di lehernya?"
"Emang ada ya di leher?" Luna terkejut.
"Iya" bibi senyum-senyum.
"Bener ada, Bi?" Luna meraba leher putihnya yang terekspos, karena sedang memakai baju dari bahan kaos yang memiliki lingkar leher lebar.
"Pak Dion, kapan dia menggigit leherku?" Aluna mencoba mengingat ingat. Karena penasaran Aluna berlari ke kamar dan langsung menghadap cermin.
__ADS_1
"Bibi berbohong!" Gerutu Luna.
"Ada apa sayang?" Dion tiba-tiba ada dibelakangnya dan memeluknya erat.
"Pak Dion, jangan dekat dekat, handuknya nanti jatuh."
"Tenang, kalau jatuh, tidak akan terjadi apa apa, dia sedang jinak." Dion mempererat pelukannya. Dan benat benar memberi tanda merah di tengkuk dan leher putih Luna hingga ada tiga titik.
Luna terkejut, Dion rupanya berpengalaman menjadi drakula si penghisap darah. Buktinya dalam sekejap sudah ada tiga titik di lehernya.
"Pak Dion apa yang anda lakukan?" Aluna mendorong tubuh Dion hingga terjatuh mengangkang di ranjang sedangkan Aluna ditarik Dion, dia terjatuh tepat diatasnya.
"Oh God! Apa yang kau lakukan Dion!!" pekiknya.
Melani yang ingin menjenguk Aluna, sontak menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan, karena melihat kelakuan anaknya di kamar seorang wanita.
"Dion! Kalau begini kalian tidak bisa dibiarkan harus dinikahkan sekarang juga."
"Nikah sekarang? Mama! Dion mau banget. Sungguh!"
"Sayang kalau Adrian belum pernah menyentuhnya, seperti yang kamu katakan tadi maka tidak ada masa Iddah." Kata Dion menjelaskan. Rupanya laki laki itu sudah browsing di dunia maya tentang banyak hal mengenai pernikahan.
"Luna? Apa kamu sudah siap menikah dengan Dion?"
Luna tidak menjawab, dia malah tersenyum dengan muka tertunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Jika kamu tidak menggeleng maka Tante anggap kamu setuju Luna? Dion sudah kelewatan bisa bisanya dia tidak mendengarkan pesan orang yang melahirkannya untuk menjagamu, bahkan dia sekarang hanya memakai handuk kecil seperti orang gila."
"Tante tapi apa yang terjadi itu salah paham, Luna dan pak Dion tidak melakukan apa apa?" Luna berkilah.
Melani tidak percaya karena melihat tiga titik merah di leher Aluna.
"Tante tidak mau tahu, kalian harus menikah! Titik!"
__ADS_1
***
Angeline sudah duduk di ranjang pengantin, dia menunggu malam pertama tiba. Namun, sudah hampir dua jam menunggu mempelai lelaki tidak kunjung jua datang.
"Sial! Sial! Sial!" Angeline yang tak sabar menunggu kedatangan Adrian jadi kesal, dia akhirnya melempar semua benda yang ada di dekatnya. Angeline menjadi kesetanan.
Selang beberapa menit, pintu terbuka. Adrian terkejut melihat kamar berantakan. Adrian diam saja tak berkomentar, dia hanya keluar lagi setelah mengambil jaket kulit di lemari.
"Rian mau kemana lagi kamu?"
"Kemanapun yang aku inginkan."
"Adrian ini hari pernikahan kita, kamu mau kemana? Apa yang akan dikatakan oleh mereka jika kamu pergi"
"Peduli setan dengan mereka." Adrian tak peduli dia tetap pergi, Angeline dengan sudah payah menghadang langkahnya.
"Adrian, kenapa kau jahat sekali denganku, padahal aku sangat mencintaimu?"
"Apa? Mencintaiku? Kamu sudah mengkhianati cintaku, kamu sudah membuat aku meninggalkan Aluna dan menikahimu, tapi bayi yang kamu kandung itu bukan anakku."
"Kamu kok tau, Rian?"
Adrian hanya tersenyum sinis. Dia lalu pergi setelah meninggalkan kata-kata untuk Angeline.
"Tunggu Adrian Alexander, aku melakukan semua ini karena kamu penyebabnya, kamu telah menikah dengan Aluna, jadi Aku kecewa."
Aku butuh pelampiasan untuk meredam emosiku setiap kali ingat kau sudah menikah dan mengkhianatiku. Kenapa kau hanya menyalahkan aku sedangkan kesalahan pertama kali kamu yang melakukannya?"
"Itu bukan kesalahan, aku dinikahkan oleh Papa. Andai aku tahu dia jodoh terindah, aku sudah pasti akan melepas hubungan ini disaat itu juga."
"Kau jahat sekali Adrian, kau telah membuat aku kecewa dengan kata katamu. Seharusnya papi tak perlu memberi bantuan apapun."
"Bantuan? Kamu sepertinya belum tahu ya? Bantuan yang kau maksud itu uangku sendiri yang di curangi oleh papimu, karena sudah curang dalam kerja sama ini."
__ADS_1
Angel menggelengkan kepala pelan. "Adrian aku tidak menyangka kamu akan sekeji ini!!"