
"Sayang kapan aku sudah dibolehkan mengetuk pintu gerbang?" Dion yang lelah karena ikut andil di persiapan kini berbaring di ranjang besarnya, sedangkan kedua anaknya dibiarkan asyik dengan dunianya sendiri. Awan aktif mengangkat kaki dan tangannya, sedangkan Embun menatap kakaknya yang terus bergerak.
"Belum boleh?" Jawab Luna singkat.
"Katanya empat puluh hari, sekarang sudah empat puluh hari, Honey." Kata Dion sambil terus menatap Aluna yang sedang memoles wajahnya.
Suara Dion mengiba seperti anak kecil minta dibelikan mainan.
"Aku belum pakai kontrasepsi sayang, aku belum siap hamil lagi." jawab Aluna lalu bangkit mengambil baju ganti di lemari.
Aluna yang baru mandi, berlahan menanggalkan handuk kimono nya, lalu meraih seragam dinas malam dan mengenakan langsung.
Dion meneguk salivanya berulang kali. Otaknya traveling membayangkan Luna tak memakai dalaman apapun.
Luna lalu berbaring di ranjang yang sama dengan Dion. Namun, jarak mereka di pisahkan oleh dua anak-anaknya.
"Honey, kok jauh- jauh! Sini di depan Mas"
__ADS_1
"Takut ah, takut ada yang gigit," ujar Aluna sambil mendekatkan jemarinya pada anak-anaknya, Membiarkan awan menggenggam. Dan tentu saja bocah berusia lima Minggu itu ingin memasukkan ke dalam mulut.
"Sayang apa nggak kangen sama tiger? Kalau belum boleh masuk ke gerbang. Bolehkan main-main di depan gerbang.
"Ih, papa mesyuuuum ya dek, harusnya papa sabar donk, kan Awan dan Embun masih kecil Pah." Luna berbicara mewakili dua putranya.
"Papah bukannya mesum Baby, papa itu kangen Mama, Papa sudah nggak dikasih makan sama Mama selama hampir dua bulan. Jelas papa rindu dong Baby." Dion tak mau kalah.
Dion lalu memeluk anaknya bergantian menciumnya bertubi tubi sambil melirik Aluna.
Aluna tersenyum dan mengedipkan matanya. Seketika darah Dion langsung berdesir dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Si embun dan Awan sudah lelap karena kenyang, masing-masing menghabiskan satu botol susu.
Sedangkan Aluna yang tadinya jual mahal berujung menggoda, masih stanby di ranjang.
Luna sudah siap melayani Dion dengan baju dinas warna hitam
__ADS_1
Tak sabar, Dion langsung mengungkung tubuh Luna. "Hobey akhirnya aku akan berbuka puasa, malam ini aku akan membuatmu sangat spesial, kamu cukup menerima apa yang aku berikan padamu, Honey. Biarlah aku yang berkerja.
Luna tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya, sebenarnya tak bisa dipungkiri kalau dia juga merindukan milik Dion yang selalu membuat tubuhnya kelelahan sepanjang malam.
Sayang, apakah kau benar-benar siap? Dion menatap manik mata hitam istrinya yang tak berdaya dalam kungkungannya.
Kerinduan yang membuncah membuat dia tak banyak basa basi.
Dion segera merobek baju dinas istrinya hingga menampakkan tubuh depannya yang terlihat makin berisi dan menggairahkan.
"Sayang aku sedikit gemukan."
"Tidak, Honey. Justru sekarang kau terlihat semakin memesona dan menggairahkan. Aku semakin bangga bisa memiliki wanita secantik dirimu." Dion mendaratkan kecupannya di seluruh wajah Aluna.
Aluna menerima perlakuan lembut Dion sesekali dia membalasnya dengan menahan bibir Dion yang sedang menjelajah di rongga hangatnya.
Sedangkan malam ini Jayden tidak ingin menunda lagi, dia segera membawa sang mempelai pulang ke istana megahnya.
__ADS_1