
"Hallo Kak."
"Iya Chela, ada apa?"
"Selamat atas pernikahan kalian."
"Terimakasih Chela."
"Kak, aku sudah bekerja dengan baik, aku selalu ikuti kata-katamu. Aku sudah memiliki banyak uang. Tapi tetap saja aku tidak menemukan laki-laki baik sepertimu."
Jayden tertawa. "Chela, jika kamu selalu mencari yang seperti aku, Kamu tidak akan pernah menemukannya karena semua orang tak ada yang sama, aku hanya ada satu, Lupakan aku Chela ."
"Aku sudah berusaha, tapi susah kak." Chela berkata sambil memiringkan tubuhnya. Tanpa dikomando air matanya lolos begitu saja. " Apakah kakak dan Jessica sudah?"
Jayden harus menjawab jujur meski sakit bagi Chela. "Sudah Chela. Semalam kita melakukannya."
"Em, selamat ya. Hiks hiks." Chela menangis sesenggukan. Lalu dia tak kuat lagi telepon dengan lelaki yang begitu disayanginya itu.
"Kak, selamat malam, aku ingin istirahat."
"Chela kamu jangan sedih."
"Tidak, aku bahagia, semoga Jessica segera memberi kakak momongan."
"Chela, terima kasih."
"Untuk apa lagi."
"Sudah bisa denger dan memahami aku."
"Hahahaha, tentu aku harus memahami, Kak. Sudah, aku ngantuk. Besok aku akan ketempat kerja yang baru, CEO perusahaannya menyebalkan, tapi dia loyal sih, dia mau naikan gaji aku dan aku habis makan malam terenak selama ini.
"Sukses ya, semoga yang menyebalkan itu suatu hari bisa jadi menyenangkan. Selamat malam, buruan tidur, jangan berfikir macam-macam."
"Malam Kak." Chela tak bisa menahan suaranya agar tak terdengar detak.
,
***
" Semalam teleponnya lama banget, Chela ya?"
"Iya."
"Lagi nostalgia."
"Enggak, cuma tanya kabar."
"Siapa yang telepon duluan?"
"Siapa ya, lupa Sayang," jawab Jayden menggoda.
"Berat ya jauh sama cinta pertama, kenapa nggak nikah sama dia?" ucap Jessica yang menjauhkan tubuhnya dari Jayden.
Mendengar kata-kata Jessica yang sedikit ketus, Jayden bisa tahu kalau istrinya sedang cemburu.
__ADS_1
Jessica yang siap-siap untuk ke kampus jadi ogah-ogahan.
"Em, cembukur ya, duh kalau cemburu makin cantik aja, jadi pengen sarapan double, sarapan kamu dan sarapan nasi."
"Akunya ogah, aku mau langsung ke kampus, aku pulang sore karena aku mau ke proyek."
"Baiklah Aku akan menemani, ke proyek nanti, jangan lupa kabari aku kalau sudah pulang dari kampus."
"Nggak janji," ujar Jessica sambil keluar kamar dan berjalan cepat menuruni anak tangga.
Jayden segera mengejar istrinya. Jayden tidak mau kalau sampe Jessica marah. Bisa-bisa hilang jatahnya bermalam malam, karena saat marah, Jessica paling betah diam.
"Sayang, kamu serius mau marah."
"Serius, kalau kamunya masih suka teleponan dengan dia, dipikir aku nggak cemburu apa."
"Baiklah, aku jelaskan sekarang, kalau yang semalam itu bukan aku yang duluan telepon."
Jessica menghentikan langkahnya di separuh undakan. Mulai tertarik mendengarkan ucapan Jayden.
"Ini buktinya sama sekali belum ku hapus, ada riwayat panggilan, lagian kita baru menikah, perasaan seperti ini harusnya tak pernah terjadi."
"Baiklah, kali ini aku maafkan tapi lain kali kalau dia telepon lagi bicaranya harus ada aku."
"Oke setuju." Jayden mengalah dan memeluk istrinya. Tanpa sadar dua asistennya sedang memandangnya dari lantai bawah karena hendak menawarkan sarapan.
Begitu sadar sedang jadi tontonan pengantin baru itu segera mengurai pelukannya. "Sarapan dulu, untuk menambah energi. Karena cemburu juga butuh tenaga." Jayden menggendong istrinya turun pelan pelan menapaki anak tangga satu persatu.
Asisten berseragam putih dan memakai celemek dia memberi ruang untuk majikannya agar leluasa lewat.
"Tuan pagi ini saya sudah masak sesuai pesanan anda, semua makanan berprotein tinggi dan mengandung kalori rendah," ujar Asisten melaporkan semua kandungan gizi makanan yang sudah dimasaknya.
Jayden menurunkan Jessica pelan pelan lalu menarik kursi bak tuan putri.
"Sayang, mari kita sarapan."
"Tapi Kak, aku tidak selera sarapan, aku hanya biasa minum susu di pagi hari dan sarapan nanti siang."
"No, mulai sekarang rubah kebiasaan buruk itu, sarapan dipagi hari dan minum susu, oke."
"hm, beginilah kalau jadi istri dokter," gerutu Jessica.
Jayden tertawa melihat ekspresi Jessica yang terlihat sebal.
Jayden menghadiahi sebuah kecupan untuk bibir yang mengerucut.
"Biasakan sarapan dari sekarang, aku suka jika ada yang menemani seperti ini."
Jayden akhirnya menyuapi istrinya dengan telaten, Jessica juga membalas menyuapi jayden. pagi ini mereka sarapan dalam satu piring, dan ternyata membawa nikmat yang luar biasa.
Jayden mengantar Jessica ke kampus lebih dulu. Sampai di kampus sahabat Jessica sudah menunggunya di depan gerbang, berharap pagi ini bisa melihat Jessica dan suaminya.
"Cium dulu Sayang, sebagai bayaran untuk sopir pribadi ini."
"Nanti aja Kak, teman-teman pada lihatin."
__ADS_1
"Sekarang, aja. aku nggak bisa fokus kalau belum dikasih hadiah."
"Kenapa anda sekarang manja sekali dokter."
"Baiklah, pejamkan mata ya."
Jessica bukannya mencium kening Jayden yang sudah membungkukkan badan, tetapi malah ingin kabur dengan membuka seal beltnya.
Terpaksa Jayden membuka mata lagi dan menyergap bibir indah di depannya karena kesal dengan istrinya yang terus mengerjainya.
Rasa perih di bibir masih terasa dan sekarang bisa dipastikan akan semakin membengkak.
Nasip malang dialami Jessica, dia merasakan perih atas dan juga bawah.
"Kak, aku masuk kelas dulu."
"Selamat belajar Sayang, jangan lupa telepon."
Jessica beringsut dari duduknya lalu turun. Jayden terus mengamati Jessica. dia melihat sebuah perubahan pada Jessica. ya jalan Jessica seperti sedang menahan sakit.
'Ya Tuhan, seharusnya istriku dirumah saja dulu. Kasihan sekali dia. batin Jayden sambil terus memperhatikan Jessica.
***
Pagi ini kota J begitu cerah, Chela yang memakai gaun putih tulang, dan sebuah ikat pinggang ketat di perutnya serta highells setinggi tujuh belas centimeter dengan rambut terurai serta kaca mata hitam membuat dirinya terlihat sangat menawan.
Saat turun dari mobil dan menyusuri seantero perusahaan, Chela sudah jadi pusat perhatian, belum lagi aroma parfumnya yang tidak murahan membuat beberapa orang yang dia lewati menghirupnya dalam dalam.
Ya, sebagai model dia harus berpenampilan perveck melebihi wanita kantoran. termasuk setiap bertemu dengan client barunya.
Enzo diam-diam sudah melakukan pengamatan sejak Chela masuk perusahaan melalui CCTV. Enzo tertarik dengan Chela dari segi semangat dan keberanian.
"Luna, gadis itu memiliki semangat besar seperti Luna, dimana Luna sekarang." batin Enzo yang sudah lama merindukan Luna. tapi saat kerinduan itu kian menggebu, Enzo segera menyadarkan dirinya supaya tidak mengingat lagi wanita milik orang itu.
Ketukan pintu terdengar pertanda Chela sudah sampai.
"Masuk!" perintah Enzo.
"Nona Chela ingin menghadap anda Pak."
"Suruh dia masuk."
"Baik Pak." sekretaris itu memanggil Chela, Chela segera masuk pada ruang pribadi Chela, melihat sekeliling ruangan yang di desain sangat unik sesuai permintaan direktur. Satu kata yang Chela ingin katakan nyaman.
"Kenapa? Suka dengan ruang kerjaku?"
"Tidak, biasa saja." Chela tidak mau memuji apapun yang lelaki itu banggakan.
Kamu sepertinya punya luka hati yang sangat dalam, sampai-sampai kau tak mau jujur dengan apa yang hatimu rasakan.
"Bukan urusan anda, bukankah aku kesini hanya perlu tanda tangan"
"Kau tidak ingin menemaniku sarapan."
"Hari ini lagi gak ada Mood." Chela tetap bersikap dingin.
__ADS_1
Enzo jadi tertantang dengan Chela yang terkesan cuek dengannya, apakah gadis ini akan sama dengan modelnya terdahulu yang rela menghabiskan banyak malam dengan dirinya setelah di iming iming uang, atau dia berbeda.