
Luna memakan habis puding buatan Dion, kini perutnya terasa kenyang dan puas.
Setelah mengambilkan tisu, Dion beranjak dari ruang makan dan siap siap untuk ke kantor.
Sedangkan Luna tinggal di rumah, pembangunan restoran miliknya sementara dia minta tolong pada Jessica.
Dion mandi dan bergegas ganti baju, dia nampak tampan dan elegan dengan baju yang dipakai hari ini.
Aluna takjub melihat ketampanan suaminya yang makin hari makin terlihat. Tapi sering kali Aluna cemburu dengan Angel yang selalu datang ke kantor untuk menggoda.
"Sayang, kenapa kamu harus dekat dengan Angeline, meski pura pura. Tapi aku tetap saja cemburu." Luna memeluk Dion yang sedang bercermin sambil merapikan dasinya lalu memakai Arloji, sedangkan Aluna memeluk dari belakang.
"Honey, jangan takut, Angeline bukan siapa-siapa dimataku, dia tak lebih dari wanita yang tak punya harga diri. Jika dia punya harga diri, tak mungkin dia akan menggoda lelaki beristri."
"Yakin kamu tidak akan jatuh hati?"
"Tidak, jika aku sampai jatuh hati pada wanita penggoda itu maka kamu bisa potong semua jari-jariku."
"Nggak mau kalau cuma potong jari, itu hukuman yang terlalu ringan, bagaimana kalau aku potong Adel kecil saja."
__ADS_1
Dion menelan salivanya yang terasa pahit, ancaman istrinya ternyata begitu menakutkan.
"Kenapa diam, takut?
Dion meringis. "Enggak, cuma serem aja. Yakin pada suamimu ini Honey. Kalau aku nggak akan selingkuh."
Aluna menghembuskan nafasnya kasar dalam hati berdoa semoga dalam Mahligai rumah tangganya tak akan pernah ada yang namanya wanita penggoda. Aluna memilih mendongakkan kepala, menatap wajah tampan suaminya. "Baiklah, aku percaya. Suamiku adalah lelaki setia."
Dian memeluk erat tubuh istrinya yang yang semakin berisi. Mengelus perutnya yang buncit. Menyapa bayi di dalam perut istrinya. "Papa berangkat dulu ya, Honey. Jangan rewel, Papa janji akan pulang cepat."
"Iya, pa." Aluna menjawab kata-kata Dion dengan suara sengaja dikecilkan, mewakili suara bayinya yang ada dalam kandungan.
Aluna melambaikan tangan pada suaminya, Dion membalas senyum hangat terbit dari bibir lelaki tampan itu.
Beni asisten Dion hanya bisa melihat kemesraan majikannya setiap saat. Dia selalu berdoa dalam hati semoga jodohnya segera didekatkan oleh Tuhan.
"Bos kenapa sampai saat ini belum ada wanita yang tertarik padaku."
"Nggak, tau ya Ben, mungkin takdir Lu jadi perjaka tua." Kata Dion sambil terkekeh masuk ke lift yang sudah terbuka. Aluna melambaikan tangan dari depan pintu. Sambil memegangi perut buncitnya.
__ADS_1
Dion meminta Aluna untuk masuk dan mengunci pintu, setelah itu, Dion baru menutup Lift dan turun ke lantai dasar.
Sampai di kantor Dion sudah ditunggu oleh Angeline, wanita itu makin cantik dan fresh karena rambutnya terlihat basah dan bajunya seksi.
Angeline tersenyum menggoda sambil menggigit bibir bawahnya, berharap Dion makin tergoda, sambil memainkan jarinya yang sengaja di tautkan.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Sapa Dion angkuh. Dion berlalu pergi dan melewati Angeline begitu saja seolah kehadirannya tak ada artinya apa-apa.
Angeline yang merasa diabaikan segera mengejar Dion dan ikut masuk ruang pribadinya. Tanpa izin dia mengunci ruang pribadi Dion.
Dion yang mendengar suara pintu dikunci segera menoleh. "Kenapa kau mengunci pintunya?"
Dion segera merebut kunci dari tangan Angel. Tapi gadis itu malah sengaja bermain-main.
"Ambil kalau bisa." Angel mengajak bersua. Dion sungguh malas meladeni, kalau tidak Ada udang di balik batu Dian pasti sudah mengusir angin pergi dan memintanya untuk tak pernah kembali lagi.
"Berikan kuncinya padaku!" Pinta Dion dengan penuh kesabaran.
"Dengan satu syarat." Angel menarik dasi Dion membuat laki-laki itu kehilangan ruang gerak.
__ADS_1