
Pesan singkat melesat di ponsel Aluna. Aluna yang sedang membaca materi pelatihan bersama Valen terpaksa harus meletakkan kembali buku ke nakas.
"Siapa?" Tanya Valen.
"Aku ada keperluan mendadak."
"Jangan terlalu malam kalau pulang. Aku sudah mengantuk, dan kamu tahu aku tidak suka ketika tidurku terganggu, kata Valen. Kegiatan hari ini memang banyak sekali, para peserta semua kelelahan termasuk Valen dan Aluna.
Aluna yang memakai baju pesta biasa segera keluar asrama dan menemui Enzo yang menunggu di depan gerbang. Rasanya tidak tahu diri jika sudah ditolong tapi diminta untuk menemani di pesta saja tidak sudi.
Aluna segera berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Asrama, diam-diam Enzo memperhatikan dari dalam mobil yang berada di kegelapan di bawah pohon.
"Hanya laki-laki bodoh yang meninggalkan wanita secantik dan baik seperti Aluna," kata Enzo sambil terus menatap Aluna yang berjalan mendekat.
"Maafkan aku Tuan, membuat Anda menunggu lama."
"Masuklah, aku belum lama," kata Enzo membantu Aluna membuka pintu dari dalam. Aluna segera naik ke kursi depan, di dekat Enzo dan mereka malam ini sepakat untuk pergi berdua saja.
Sepanjang perjalanan Aluna lebih banyak diam, dia sibuk mengamati indahnya pemandangan ibukota ketika malam hari.
"Luna, kenapa aku lihat setiap hari kamu selalu bersedih? Padahal kalau tersenyum kamu itu cantik banget lho." gombalan Enzo terdengar sangat aneh intu
"Tidak apa-apa, lagi pengen aja." jawab Aluna, sekilas menoleh melihat wajah tampan Enzo. Lalu kembali menatap jalanan. Luna benar-benar menjaga jarak dari Enzo, dia tidak mau terperangkap berulang lagi dengan laki-laki, cukup dengan dua kali saja.
"Luna, kamu ganti baju ini ya, biar kita couple, aku ingin malam ini kamu pura-pura jadi kekasihku." Enzo menyerahkan tiga paper bag dengan isi yang berbeda.
Luna mengangguk setuju, dia minta Luna untuk masuk di salah satu apartemennya yang kebetulan kosong. .
Aluna segera memakai baju yang memperlihatkan nyaris seluruh punggungnya itu, meski bagus tapi dia kurang suka. Tapi Luna tidak mau membuat Enzo kecewa. Di kalangan mereka baju seperti itu juga masih tergolong lumrah.
Di dalam paper bag yang lain ada dompet besar dan juga sepatu mengkilat dengan warna yang masih senada. Aluna merasa barang yang diberikan Enzo sangat berlebihan, apalagi diantara berdua tidak ada status apa-apa. Aluna kembali menemui Enzo.
"Maaf Tuan Enzo, barang ini serba mahal, biarlah aku memakai sepatu sederhana ini saja."
__ADS_1
"Em, jangan, karena ini pesta berbeda dengan pesta orang miskin, pakai saja apa yang sudah aku berikan."
Aluna mengangguk, dia tak ada kuasa sama sekali untuk menolak berlebihsn..
Usai ganti baju, Aluna segera menemui Enzo. Lelaki itu nyaris tak berkedip melihat lekukan indah dan wajah ayu alami Luna.
"Apa ada yang salah, biar aku pakai baju yang tadi aja." Aluna salah tingkah
"Jangan! Kau sangat cantik. Tetaplah seperti itu."
Aluna sedikit membungkuk, seperti sedang memberi hormat pada pimpinan. " terimakasih." Mereka berdua lalu tertawa bersama.
'Luna ini pertama kali aku melihat senyummu. tetaplah tersenyum selama ada aku di sisimu."
Enzo lalu membawa Aluna kembali ke mobil. Mereka segera meluncur ke sebuah pesta yang kini sedang berlangsung
Pesta yang benar-benar meriah, Aluna tahu kalau mantan Enzo juga orang yang sangat kaya-raya, kalau tidak bagaimana ada pesta semewah ini.
Enzo menggandeng Aluna masuk gedung. Aluna terkejut dan memandang Enzo, dengan berusaha melepas tautan jemarinya. Tetapi Enzo sepertinya tak mengijinkan. "Biarlah seperti ini."
"Tapi tuan Enzo, kita hanya akting. tidak perlu seperti ini."
Mantan Enzo terlihat geram ada wanita lain disebelah lelaki yang tengah ia tunggu seharian ini.
"Selamat malam Zena maaf aku terlambat."
"Oh, tidak apa-apa." Zena melihat Aluna yang terlihat lebih cantik dari dirinya tentu saja cemburu. Zena sangat geram dengan Aluna.
Aluna juga menatap Zena nyaris tanpa berkedip, gadis itu sangat mirip dengan Angeline.
Enzo, kita baru saja putus, aku berharap hubungan kita masih bisa diperbaiki, Zena menarik tangan Enzo dan melepaskan jemari Aluna lalu Zena berdiri diantara mereka berdua.
"Enzo, papa ingin kita bertemu dan bicara." Kata Zena.
"Maaf aku sedang ingin ke pesta, bukan untuk menghadapi sidang, apalagi pengaduan" Kata Enzo lalu menarik lengan Aluna masuk dalam lantai dansa. "Sayang ayo kita berdansa."
__ADS_1
Zena tak berkedip menatap Enzo dari belakang. Dia kesal dengan gadis yang ada disisinya. Bisa bisanya Enzo dengan cepat melupakan dirinya demi gadis cantik dan lebih muda itu.
Zena segera menceritakan semua yang terjadi pada Angeline, sepupunya yang hari ini baru saja datang ke ibukota. Karena dia mendengar kabar kalau Dion juga terbang ke kota ini.
Angeline suka sekali mendengar curhatan Zena jika sudah mengenai kekasihnya yang katanya tampan mirip Oppa Korea itu.
"Cup, cup, anak manis, jangan menangis, lelaki yang berpaling dari kekasih maka kita harus menghancurkan gadis itu," kata Angeline yang baru saja tiba satu jam lalu.
"Aku tidak mau kehilangan Enzo, aku masih sayang sama dia, kak bantu aku buat dia kembali." kata Zena mengiba pada Angeline.
"Tananglah mari kita temui Enzo mu yang selalu kau ceritakan itu."
"Angeline segera meninggalkan aunti dan uncle yang baru saja temu kangen. Angeline menuruti keinginan Zena.
Angeline melihat punggung yang sangat indah, ada tali kecil di tengkuknya. Sungguh dia penasaran dengan gadis yang sedang dabsa membelakanginya itu. "Apakah wanita itu yang kau maksut merebut kekasihmu?"
"He'em. Dia orangnya. Seharusnya aku yang berdansa dengannya bukan malah wanita murahan itu."
Angeline berdecak, sebal dengan Zena yang sangat bodoh. "Sungguh kau sangat payah. Jika dia sudah ingin putus darimu, kenapa tidak kau cari yang lain saja, yang lebih segalanya, dalam dunia model, tidak ada menangis karena laki-laki. Kita cantik, kita layak untuk mendapatkan siapapun yang kita inginkan di dunia ini."
"Tapi aku masih cinta sama Enzo, aku tak mau yang lain." Zena masih terus kekanak Kanakan.
Aluna yang sejak tadi berdansa dengan Enzo rupanya mulai haus, saat membalikkan tubuhnya, Aluna melihat Angeline sedang berbicara dengan Zena. Aluna langsung menyembunyikan wajahnya di dada Enzo.
"Luna ada apa?" Enzo terkejut melihat kelakuan Aluna yang tiba-tiba berubah.
"Tuan, Enzo ayo kita pergi dari sini."
"Tapi Luna, pesta baru saja dimulai."
"Tuan, aku tidak bisa disini lama-lama." Luna terus menutup wajahnya menghindari tatapan Angeline dan Zena yang kini sudah menemukan dirinya.
"Tuan, aku akan menunggu di mobil." Aluna berlari keluar gedung meninggalkan pesta. Aluna tidak mau keberadaannya diketahui oleh Angeline atau siapapun sebelum semua cita citanya terwujud. Aluna tidak mau selalu tertindas dan tak berdaya.
Jauh dari orang orang masalalunya akan membuat jalannya sangat mudah, jika Angeline tahu bisa saja dia akan merusak hidupnya seperti yang sudah berlalu.
__ADS_1
Enzo yang bingung dengan tingkah Aluna yang tiba tiba ketakutan, dia memilih untuk bertahan di tempat dan meminta Aluna untuk diam di mobil.
Angelina dan Zena menghampiri Enzo yang kini sudah sendiri. Lelaki itu dengan santai mengambil minum, pura-pura tak tahu kalau sedang diperhatikan oleh dua wanita cantik.