
Aluna dan Dion berjalan menuju meja kosong.
Satu lambaian tangan membuat pelayan mendekat. Aura heran terlihat di wajahnya. Pasti bermacam pertanyaan muncul di benaknya. Gadis sederhana itu siapanya pengusaha muda itu? Kenapa pria tampan harus bersama gadis sederhana? Bukankah pria tampan sangat menyukai artis cantik dan model terkenal. Pasti pikiran pelayan itu kurang lebih seperti itu.
"Tuan Dion, menu apa yang anda inginkan sore ini?" Pelayan membungkukkan tubuh hingga wajahnya dekat sekali dengan Dion.
Dion terlihat mengamati beberapa menu baru yang berasal dari aneka olahan seafood. Tapi ternyata semuanya tak mengalahkan keinginannya untuk menyantap empuknya daging kepiting.
Aluna juga membuka buku menu, Aluna lebih memilih diam, hanya melihat saja, dia khawatir jika bicara sesuatu membuat lelaki di depannya lebih malu lagi.
Ben duduk di kursi yang lain. Dia juga bebas memilih dan memesan menu yang ia sukai.
"Dua porsi kepiting dengan ukuran besar dan berikan minuman paling menyehatkan," kata Dion sambil meletakkan kembali buku menu. Sedangkan pelayan mencatatnya dengan jeli lalu pindah ke meja Ben yang seorang diri.
"Sudah sering datang kesini?" Tanya Aluna ketika suasana menjadi hening.
Gadis itu menautkan jemari tangannya dan menggesekkan kedua ibu jarinya, terlihat sekali sedang mengatasi kegugupan. Ya, Aluna gugup karena Dion sekarang tepat ada di depannya, bahkan sedikit lagi maju ke depan, lutut mereka berdua akan bersentuhan.
"Iya disini masakannya enak, aku suka. Sama seperti masakan Mama di rumah kapan-kapan kamu harus main ke rumahku supaya bisa menikmati masakan Mama.
"Main ke rumah, Pak Dion?" Aluna terkejut dia tak percaya dengan ucapan lelaki di depannya.
"Kenapa? Kamu keberatan main ke rumah aku?"
"Bukan begitu, takutnya keluarga Pak Dion malah tidak suka dengan hubungan pertemanan kita."
__ADS_1
Dion tertawa sangat kencang. Bahkan dia sekarang ingin sekali mencubit pipi Aluna karena gemas. Obrolan mereka terhenti sejenak karena seorang waiters datang.
"Tuan Dion, kami menyiapkan menu favorit anda lebih cepat daripada yang lain, karena pemilik restoran ini sangat menghargai pelanggan tetap, seperti anda ini contohnya." Waitres tersenyum ramah pada Dion, tetapi dia hanya melirik sinis pada Aluna.
Adrian mengangguk pelan. "Oh, terima kasih, terima kasih, sepertinya bos anda orang yang jeli juga pada pelanggan di sini, tapi sepertinya dia tak bisa memilih waiters yang profesional," ucap Dion yang bermakna sindiran.
Lelaki berkemeja biru langit dan jas hitam itu berdiri, lalu berjalan mendekati Aluna, Dion meraih serbet yang dilipat rapi dan membukanya lalu memasang di pangkuan Aluna. Tak lupa dia juga tersenyum.
Waitres dibuat tercengang oleh sikap Dion, yang memperlakukan wanita sederhana dengan begitu istimewa.
Aluna juga tak berkutik, sikap Dion benar-benar membuat hatinya terenyuh, sangat berbeda dengan Adrian. Adrian selalu merendahkan dirinya. Belum pernah sekalipun dia mendengar kata manis yang keluar dari bibirnya, apalagi senyuman.
"Luna, kamu makan sekarang, atau minta aku suapin."
"Oh, aku bisa sendiri Pak Dion."
Dion mulai mengeluarkan dagingnya sambil melirik Aluna. Dia tak ingin Aluna mengalami kesulitan sedikitpun.
"Aluna, kalau tak bisa katakan aku akan membantumu?"
"Aku bisa, Pak Dion."Aluna tentu saja tak ingin merepotkan Dion. Dion bukan bapaknya yang harus ia mintai untuk membukakan cangkang kepiting.
Dion tersenyum. "Ya silahkan bekerja keras. Aku ingin melihat hasilnya."
Aluna memotong setiap kaki kepiting dan mulai menggunting bagian supitnya. Aluna tersenyum karena bisa melakukan sendiri.
__ADS_1
"Hore Aku bisa …."
"Good job Luna."Dion tersenyum melihat gadis di depannya juga tersenyum.
Dion kembali melihat gadis kecil itu dalam bayangannya. Dia mulai membandingkan apakah gadis itu Aluna atau bukan.
Tahi Lalat kecil itu, dan juga senyum manisnya, apakah dia gadis kecil yang hanya memakai singlet putih dan celana pendek yang menemani ayahnya di laut waktu itu.
Sayang sekali, dia dulu hanya melihat gadis kecil itu menangisi kondisinya, belum sempat sedetikpun melihat senyumnya, saat pengawal gagal menyelamatkan dari ombak yang menyeret tubuhnya, dan beruntung lelaki tak dikenal itu perenang handal bisa menyelamatkan dirinya saat papan selancar yang dikendalikan menabrak sebuah batu karang.
"Pak Dion, kenapa anda malah melamun?"
"Enggak, aku ingin tanya satu hal saja padamu, tapi nanti ajalah kita makan daging kepiting ini lebih dulu." Dion yang ketahuan sedang memperhatikan Luna, akhirnya dia mengalihkan konsentrasinya pada daging kepiting lembut dan gurih.
Ben berulang kali melirik pada Dion. Biasanya lelaki itu suka bersikap dingin di depan klien dan karyawan wanita, apalagi saat makan, dia tak suka ada yang bicara. Tapi aneh, hari ini dia bahkan banyak bicara dan tersenyum pada Aluna.
"Gimana? Enak nggak?"
"Hu'um." Aluna mengangguk tapi kali ini matanya malah berkaca kaca.
"Kenapa kok ingin menangis? Jangan nangis, kalau mau nambah, pesen lagi aja." Dion ingin menghibur, tapi justru air mata Aluna makin deras mengalir.
Ben yang melihat Aluna menangis dia langsung berdiri dan mendekat. "Bos, sepertinya Aluna ingat bapaknya, bukannya di mobil tadi dia cerita kalau bapaknya sering menemani dia makan kepiting. Bapaknya baru saja meninggal, makamnya saja masih basah," terang Ben yang sanggup dimengerti oleh Dion.
Oke kalau begitu kita sudahi saja makan kepiting ini. Kamu bawa motor Aluna, biar aku yang mengemudikan mobil. Kita bertemu di gerbang mansion.
__ADS_1
"Baik Bos." Ben menurut. Dion memberikan sejumlah uang untuk membayar semua makanan, lalu meminta satu porsi makanan selain kepiting untuk take away saja.
Usai memberi perintah pada Ben, Dion mengantar Aluna ke mobil. Dion dan Aluna sama sama duduk di kursi depan. Bahkan Dion juga membantu Aluna memasangkan sabuk pengaman.