
Selesai makan malam di rumah Chela, Jayden segera pamit. berharap masih belum terlambat menjemput Jessica di kampus.
"Em, Tante, aku sepertinya harus segera pergi. Chela makasi sudah mengundang makan siang bersama keluarga, Jayden mengelap bibirnya dengan tisu lalu ngobrol sebentar dan ingin langsung pergi ke kampus.
"Kak Jay, kok buru buru banget, apa Kak Jay ada janji dengan seseorang." Tanya Chela yang berniat menyelidiki.
Jay tersenyum lalu mengacak rambut Chela. Jay juga tak ingin menyakiti hati wanita itu, berlahan dia akan memberi pengertian. "Ya, aku ada janji."
Jayden segera meluncur ke kampus, Jayden bersyukur para mahasiswi di perguruan besar di tengah kota itu belum pulang.
Jayden menunggu Jessica keluar dengan sangat sabar. Tanpa tahu kalau Chela sudah membuntuti dari belakang.
'Siapa yang ditunggu Kak Jayden. Apakah dia memang memiliki kekasih dan kebetulan satu universitas denganku?'
Chela terus mengamati hingga nyaris tanpa berkedip, layaknya seorang Intel sedang mengawasi buronan.
Tak lama pertanyaan Chela mendapat jawaban. Jayden segera turun dan membukakan pintu untuk Jessica yang masih berjalan santai bersama kawan-kawan.
Canda'an dari kawan Jessica pun terdengar. "Jess, itu Kakak Dokter tampan sudah jemput."
"Ehm, Cie cie, sepertinya ada yang mau kencan Nie."
"Please deh, kalian nggak usah rese." Semburat merah terlihat di pipi Jessica.
"Si jutek mendadak jadi Putri malu, pasti hatinya sudah dibuat luluh lantak tu sama pak Dokter Tampan, em tapi kalau kamu nggak mau, biar sama aku saja Jess. Aku pasti bahagia banget kalau dia mau sama aku, kebayang nggak sih senangnya seperti apa, punya kekasih tampan dan mapan. punya " Teman yang menggandeng lengan Jessika saat ini dia paling banyak bicara sendiri.
Mereka berdua akhirnya melepaskan gandengan tangannya dengan Jessica. Melambaikan tangannya dan naik jemputan pribadinya masing-masing.
"Mas Beni, kayaknya hari ini aku pulang sore, Mas beni boleh pulang aja dulu, nanti aku diantar sama Dokter Jayden. Aku sedang ingin mampir ke proyek sebentar.
"Baiklah Nona." Beni masuk mobil dan menyalakan mesinnya.
"Makasi Mas Ben." Jayden mengangkat satu telapaknya tanda srn6ang dengan kerja samanya. Beni mengangguk.
Tanpa sadar, di belakang ada Chela yang sudah tersulut oleh api amarah. Bagaimana bisa Jessica lebih dulu mengambil hati Jayden, sedangkan dia selama ini sudah berusaha keras, tapi lelaki itu tak pernah menganggapnya ada.
__ADS_1
"Kak Jay, kau jahat, kau jahaaaaaaaat." tangan Chela mengepal dan memukul kemudi berulang kali.
Chela menangis sambil berteriak histeris, masih tak percaya kalau wanita yang di inginkan Dokter Jayden, tak lain adalah sepupunya.
Chela kalah, kenapa Jessica selalu lebih beruntung dari dirinya.
"Sayang, buruan masuk," perintah Jayden yang seketika membuat telinga Jessica geli, dokter yang terkenal dingin dan jarang bicara itu menggodanya.
Hati Chela semakin mendidih hingga meletup-letup.
"Jessica, jika dulu Sean memutuskan aku karena kamu, aku masih terima, tapi Dokter Jayden, aku tidak terima, dia sangat berharga untukku, aku mencintainya dengan segenap rasa yang kumiliki."
Chela meremas tangannya. Ingin rasanya dia melabrak dan memukul wajah cantik Jessica hingga memar, tapi itu hanya akan menurunkan harga dirinya di depan Jayden.
Mobil Jayden melaju ke sebuah restaurant mewah, Jayden tau Jessica pasti lapar, tak ada salahnya sebelum ke proyek untuk melihat perkembangan pembangunan, mereka mampir lebih dulu untuk makan dan minum untuk menghilangkan dahaga.
"Sayang, kamu makan dulu ya, aku khawatir kamu lapar."
"Emang Kakak nggak makan sekalian."
"Kalau gitu aku juga nggak mau, Kak. masa aku makan sendirian. Lagian tadi di kampus aku juga sudah makan, aku dapat traktiran dari teman yang lagi ulang tahun." Ujar wanita berambut hitam panjang sepunggung itu.
Baiklah, kalau begitu biar aku beli air minum sebentar.
Jayden meninggalkan Jessica sendirian di mobil. Dia mendatangi mesin penjual minuman dan memasukkan uang dua puluh ribu, keluarlah dua botol air mineral yang dia inginkan.
Disebelah mesin penjual minuman. ada penjual cake ya ang kelihatan enak banget aromanya saja juga harum. Jayden segera meminta cake yang masih hangat, dengan hati senang, dokter tampan itu membawakan minuman dan cake yang mungkin akan enak saat disantap siang begini di mobil.
Chela yang tak bisa berfikir dengan akal sehat, dia segera menyalakan mobilnya ,dia menginjak rem kuat dan menambah gas mobilnya hingga mentok.
Chela melepaskan rem dengan, tiba-tiba membuat mobil melaju tak terkendali lagi.
Semua orang yang melihatnya berteriak histeris, karena mobil yang di kendarai Chela menabrak mobil Jayden dengan kecepatan tiada kira, mobil yang semula bertengger di tepi jalan itu kini sudah ringsek.
Jayden yang melihat kejadian na'as segera berlari menghampiri Jessica yang diyakini masih di dalam mobil.
__ADS_1
Sedangkan Chela buru-buru memundurkan mobilnya dan kembali menancap gas secepat mungkin. Chela berhasil kabur. Meski beberapa orang sudah berhasil menghafal plat nomornya.
Setelah melakukan hal bodoh, Chela segera mengemudikan mobilnya ke arah hutan, untuk menghilangkan jejak wanita itu meninggalkan mobilnya dan segera menghubungi taksi online agar menjemputnya.
Di dalam taksi, Chela sama sekali tak bisa tenang. Dia merutuki kebodohannya baru saja.
Bagaimana ini? kenapa aku tega mencelakai Jessica, bagaimana kalau dokter Jayden tahu, bagaimana jika dia mencariku ke rumah? Bagaimana jika dia membawa polisi, Tidak! Aku tidak boleh pulang dulu, aku harus bersembunyi.
Akhirnya Chela berinisiatif untuk menghilang dari orang-orang yang dikenalnya. Chela berharap dia akan selamat setelah melakukan hal buruk itu.
Sedangkan Jaiden segera berlari mendekati mobil yang sudah ringsek bagian depannya.
Jessica!!" Botol berisi air mineral dan cake jatuh dari tangannya. Jaiden tak perduli dengan apapun di sekitarnya kecuali Jessica. Jayden tak mengindahkan larangan orang-orang untuk mendekati mobilnya sendiri sebelum polisi datang.
Orang orang tak tahu kalau di dalam mobil itu ada sosok yang amat berharga untuknya.
Jaiden membuka pintu mobil dengan tergesa, Jayden melihat Jessica sedang tak sadarkan diri dengan darah mengucur di kening.
"Jessica! Bangun!" Jayden histeris sendiri, lalu memeluk tubuh Jessika sangat erat. "Bangun Sayang. Jayden menggoyang-goyang tubuh lemah Jessica.
"Kau harus bangun Sayang, aku tak mau kau kenapa-napa. Ayo cepat buka mata!!" Jayden tak bisa lagi berkata dengan lirih. Dia terus berteriak memohon keajaiban.
Jayden segera meraih ponselnya di saku dan menghubungi perawat supaya menjemputnya dengan mobil ambulans.
tanpa menunggu lama ambulans datang karena kebetulan jarak dengan rumah sakit tak terlalu jauh.
"Jess, bangun. Aku nggak mau kamu kenapa-napa, aku ingin mendengar celoteh bawelmu, jujur semakin kau banyak bicara, aku menyukainya. Ayo sayang, bicaralah bicaralah!!"
Jayden yang sudah terbiasa menangani pasien dengan kondisi sama, tentu harapannya sangat kecil melihat Jessica yang terluka begitu parah di kepala.
***
Satu jam kemudian Jessica sudah berhasil dibawa ke ruang UGD. Jayden berharap kekasihnya akan segera melewati masa sulit.
Tertunduk lesu, wajahnya muram, sesendok nasi pun rasanya hambar dan air pun pahit, Jayden tak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya jika kembali kehilangan wanita yang dicintainya seperti yang dulu pernah terjadi.
__ADS_1
'Siapapun pelakunya, aku tak akan pernah memaafkan, aku akan mencarinya dengan caraku sendiri, aku akan membuat perhitungan pada biadap itu.' lirih Jayden yang sedang di selimuti api amarah, dendam dan ketakutan akan kehilangan.