
"Sayang, aku mau pinjam modal buat besarin usahaku gimana? Soalnya biar cepat aku bisa akrab dengan kakak kamu. Biar dapat restu," Ferdi berkata sambil mengelus elus tangan Nabila, yang sengaja dia taruh diatas meja.
Nabila terkejut dengan keinginan kekasihnya, bukannya tak mau memberi pinjaman, tapi kemaren, baru satu minggu yang lalu dia sudah pinjam dua puluh juta.
Nabila langsung lemas, bingung beralasan apalagi dia pinjam ke kakaknya, soalnya bulan ini gaji belum turun.
"Sayang, kok ekspresinya begitu, kalau nggak mau kasih pinjam, nggak apa-apa kok, nanti aku akan cari cara lain."
"Em, aku bakal kasih pinjam kok, tenang aja, cuma aku bingung, gimana cara ngomong ke kakak, alasan apalagi yang akan aku katakan."
Ferdi melepas tangannya yang sejak tadi berada di atas jemari Nabila. Menempelkan punggungnya ke sandaran kursi yang dia duduki. Lelaki yang tengah memakai kemeja biru Dongker itu mendesah, frustasi.
"Aku akan bantu, tenang saja." Kata Nabila yang memang tidak tegaan.
"Ehmm! ehmm!"
Adrian sengaja berdehem, biar Nabila dan Ferdi tahu keberadaannya.
Adrian berdiri dari kursi, lalu menampakkan wajahnya di depan dua pasangan kekasih itu.
"Nggak salah nie, cowok ngutang ke ceweknya berkali kali? Belum nikah aja sudah nggak tau malu," sindir Adrian.
"Hah? Kamu nggak ada hubungannya dengan kami! Jangan ikut campur ya!"
"Apa? Ikut campur?"
"Aku ikut campur karena aku nggak mau ada laki-laki yang suka memeras wanita."
Harusnya sebagai laki-laki dia bisa jaga harga dirinya donk, masa selalu minta pada Wanita, dan ini pasti bukan yang pertama kalinya.
Adrian terus saja meledek kekasih Nabila, yang sekarang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Adrian lupa dia juga sering meminjam pada papa Angel, cuma bedanya mereka dalam bentuk saham.
Sedangkan Nabila tidak enak hati karena Adrian yang notabene hanya orang asing dalam hubungannya sudah berani ikut campur.
"Anda siapa berani ikut campur, anda hanya pasien Nabila kan?" Lelaki itu meraih kerah Adrian.
"Jangan!" Pekik Nabila tak ingin kekasihnya menghajar Adrian yang kondisinya baru pulih.
Adrian menghempaskan tangan lancang yang ada dilehernya, lalu lelaki itu segera segera mengambil ancang ancang akan meninju wajah Adrian. Dengan sigap Adrian menghindari serangan Ferdi dan menyiapkan serangan balik.
__ADS_1
Prakk!
Pukulan Adrian mengenai rahang Ferdi, dan darah segar langsung mengucur dari bibirnya karena kulit pipi lelaki itu mengenai rahangnya.
"Akhhh!"
Adrian akan memberi pukulan tambahan, tapi Nabila menghadang. "Cukup, hentikan, apa yang kalian lakukan ini kekanakan, kalian seperti anak kecil, bikin malu."
Adrian melihat sekeliling, lalu mengibaskan tangannya sedangkan Nabila merangkul tubuh Ferdi.
Pengunjung restauran langsung berkerumun membuat lingkaran disekitar karena ingin tahu kejadiannya.
"Tuan Adrian, terhormat!! Sebaiknya anda pergi dari sini! Aku tidak butuh anda untuk ikut campur urusan pribadiku, hubungan kita hanya pasien dan Dokter aku tidak butuh apapun dari anda." Nabila menatap Adrian dengan nanar.
" Na, cowok ini tidak tulus mencintaimu." Jari telunjuk Adrian menunjuk pada wajah Ferdi. Lelaki itu kembali marah dengan sikap lancang Adrian.
Dia menghempaskan pegangan Nabila, tapi Nabila memeluknya makin erat "Sudah Fer, nggak usah didengerin, kita pergi aja dari sini."
Nabila mulai kesal dengan Adrian yang melampui batas. Dia segera mengambil tas dan ponselnya yang tergeletak di meja, serta menarik lengan Ferdi keluar.
"Aku akan membuat perhitungan dengan anda" Ferdi kembali mengancam Adrian.
Adrian hanya tersenyum membusungkan dada, sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Nabila membawa Ferdi ke mobil. Sebelum mobil berjalan, Nabila menoleh untuk melihat Adrian, ketika wajah lelaki itu masih terlihat.
'Na, aku berharap kamu tidak sedang ditipu oleh kekasihmu itu.' gumam Adrian ketika melihat Nabila yang memandangnya terakhir kali dengan kebencian.
Di mobil. Nabila sedang membersihkan luka Ferdi. Lelaki itu terus mengumpat Adrian karena berani menghalangi usahanya mendapatkan pinjaman dari Nabila.
"Sialan, berani beraninya dia memukul aku seperti ini. Akan ku balas rasa malu ini."
Nabila membersihkan luka Ferdi dengan hati,-hati. " Sudahlah, maafkan dia, dia itu sedang sakit, kalau kau memukulnya tanpa sebab, dia bisa membawa kamu ke polisi, dan kamu akan dipenjara sayang," bujuk Nabila.
"Tapi kamu nggak mulai jatuh cinta dengan dia kan? kulihat dia bernafsu sekali menghancurkan hubungan kita"
"Tidak mungkin, aku sudah memiliki kamu, lagian tidak ada alasan aku mencintai Kanebo kering itu kan?"
"Tapi kamu jadi pinjamin aku uang kan, Sayang? Kamu hitung saja berapa jumlahnya, nanti aku akan kasih kalau cafe sudah untung, plus untungnya buat kamu semua."
__ADS_1
"Iya, nanti aku pinjamin uang, tapi ya sabar ya, mungkin belum bisa hari ini."
"Nggak harus hari ini kok sayang, besok atau lusa bisa. Dekarang kamu mau kemana nie? Aku harus antarin?" Ferdi merasa lukanya sekarang sudah bersih dan nyeri berkurang karena Nabila memberinya obat.
"Aku ada tugas dari Pak Dion, istrinya sedang hamil, jadi aku diminta untuk menjaganya."
"Wah nanti pasti gajian banyak, dari orang kaya itu."
"Aku nggak mikirin gaji, aku dan Aluna istri pak Dion sahabatan."
"Ohh, ya sudah met kerja ya, Sayang." Ferdi mengecup kening Nabila, karena hanya sebatas cium pipi dan kening saja yang Nabila izinkan, lainnya dia menolak pasalnya dia akan menyerahkan semuanya sebagai hadiah pernikahan.
Mobil Ferdi segera meluncur di depan kediaman Aluna.
"Wah ini keren, jadi bawah digunakan untuk perusahaan, dan di lantai paling atas itu dia gunakan untuk tempat tinggal."
Iya, untuk sementara waktu, dengar dengar sih Pak Dion sudah memulai membangun istana megah untuk istrinya.
"Wah, keren ya, semoga aku akan sukses kayak dia, oh iya jangan lupa kalau uang sudah ada telepon aku, atau pinjam ke majikan kamu ini, pasti dia punya banyak uang sekatanh."
"Jangan ngaco deh, masa aku harus pinjam ke mbak Luna." Nabila keberatan.
"Ya sudah, terserah kamu aja, pokoknya hubungi aku kalau sudah ada," Ferdi menepuk pundak Nabila sebelum wanita itu turun dari mobilnya yang tentunya kredit baru beberapa bulan itu.
Luna segera menghubungi Nabila setelah melihat wanita itu turun dari mobil, dia memberi tahu jalan untuk menuju pintu rumahnya, Nabila segera meluncur lewat lift dan hanya beberapa menit dia sudah bertemu Aluna lagi.
"Nabila, akhirnya kau datang, aku sangat kesepian sendiri di rumah ini." Wanita tengah hamil muda itu menyambut Nabila dengan senyum lebar, dan memeluknya erat, entah kenapa dia suka sekali karakter Nabila yang ceria meski kadang bisa bodoh karena cinta.
Mereka berdua masuk, duduk di ruang tamu dan cerita banyak hal. Nabila sudah menganggap Luna kakak sekaligus teman curhat dalam masalah pribadi, meski mereka sebenarnya sebaya, karena Luna menikah lebih dulu.
"Na, minim apa? aku buatin ya?"
"nggak usah, Mbak. air putih saja sudah cukup." Nabila mengambil segelas air mineral plus sedotan yang kebetulan ada di depannya.
Tring! Suara pesan dari Ferdi. Mereka menghentikan aktifitasnya ghibah soal makanan kesukaan dan hoby.
"Ferdi, Mbak."
"Siapa pacar kamu?" Aluna kepo.
__ADS_1
Nabila mengangguk. "Ya, pacar aku. kami baru jadian setelah aku bekerja."
Aluna sedikit kecewa karena Nabila sudah punya pacar, padahal dia ingin sekali menjodohkan Nabila dengan Adrian, mereka kelihatannya sangat cocok.