Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 55. Merindukan Luna.


__ADS_3

Dion malam ini begitu merindukan Aluna, wanita cantik memakai gaun warna merah terus menari nari di pelupuk matanya. Aluna mengajarkan pada Dion arti rindu. Dan Aluna juga mengajarkan pada Dion arti menunggu. 


Baru saja dia bahagia bertemu seorang anak gadis dari lelaki  yang dulu pernah menyelamatkan dirinya, sekarang kebahagiaan itu terhapus dalam sekejap karena wanita itu sudah bersuami.


'Tapi Adrian berpacaran dengan Angeline, bagaimana Aluna bisa membiarkan semua itu terjadi, pasti Aluna sedih sekali. Dan bagaimana jika Aluna akan depresi, jika dia terus menerus tersakiti.' batin Dion sambil tiduran di atas ayunan yang ada di dekat kolam.


"Beni, tolong cari tahu tentang kabar terbaru dari Aluna. Aku khawatir dengan keadaan doa."


"Tapi bukannya anda sudah tahu kalau dia istri sepupu anda."


"Memangnya kenapa, Ben?"


"Anda bisa disebut pebinor."


Dion tertawa dengan ajudannya yang suka banyak bertanya. "Sudah selesai bertanya?"


"Sudah pak!" Beni sadar sudah terlalu ikut campur.


"Sekarang kita berangkat. Lakukan saja tugasmu, aku ingin menjadi pebinor, puas."


Beni akhirnya melenggang pergi menjalankan tugas yang paling aneh yang pernah dia dapatkan dari bosnya. Dion menyusul masuk mobil setelah dia selesai menyisir rambut dan ganti dengan kaos polo dan celana Oxford.


"Si Boss, mulai Aneh, otaknya eror kali, masa pekerjaan menyelidiki istri orang, nggak sedikit cewek yang ngantri, yang mau sama dia. Di perusahaan ada Si Caca, Maya, Sofi, tetangga juga ada Si Mira, Si Noni." Beni ngedumel sambil sesekali melirik spion.


"Kamu kurang ajar bilang aku eror Aku normal. Cintaku pada Aluna juga nggak salah dia cinta pertamaku, terlebih dia juga tak bahagia dengan rumah tangganya," ungkap Dion yang kesal dengan Beni.


Dion sudah sampai di rumah Adrian. rupanya Adrian juga baru pulang. Dia tak langsung masuk tapi menunggu mobil Dion berhenti, dan lelaki itu keluar dari mobil.


"Ada apa kesini? Apa kurang jelas apa yang kukatakan di hotel waktu itu?" Adrian sudah memasang tatapan merendahkan pada Dion. Bibirnya sengaja dia naikkan sebelah untuk membuat Dion lebih terluka. "Lelaki memalukan …."


"Kau yang memalukan, mempertahankan wanita hanya untuk disakiti, seharusnya kau lepaskan saja Luna, dan hidup bahagia dengan Angel. Luna menderita denganmu."


"Melepaskan wanitaku untukmu? Tidak. Aku sanggup membahagiakan keduanya."


"Yakin?"


"Ya, Aluna akan jadi milikku, aku tak akan melepas dia, terlebih lagi untukmu."


"Tuan, jangan rendahkan diri anda. Kita pergi saja dari sini," bisik Beni dari belakang.


***

__ADS_1


"Dion, kok nggak masuk, Rian kenapa Dion tak diajak masuk?"


"Pencuri jangan di dibiarkan masuk rumah, dia akan mengambil barang berharga kita."


"Ngomong apa sih kamu Rian, Dion yuk masuk, Tante hari ini lagi bahagia banget."


"Oh, iya makasi Tante."


Dion masuk rumah megah bersama Selena, sedangkan Adrian lewat pintu samping. Untuk hari ini Dion sengaja menjatuhkan harga dirinya sejatuh-jatuhnya Demi mencari tau bagaimana keseharian Aluna di rumah yang katanya seorang suami.


"Dion, walaupun Adrian dan kamu tak pernah akur masalah bisnis, tapi Tante tetap anggap kamu sebagai keponakan, oleh sebab itu Tante ingin kamu datang di acara tunangan Adrian Minggu depan."


"Dion akan datang, Tante," sahut Dion cepat. 


"Kamu memang baik Dion, kamu nggak keras kepala seperti Adrian."


"Oh iya Luna dimana Tante?"


"Oh gadis itu?" 


"Satu hari setelah pergi liburan sama kamu dia sudah nggak pulang. Tapi nggak ada dia disini Tante malah senang."


"Nggak pulang maksud Tante?"


"Adrian sudah mengusirnya, dia ketahuan tidur dengan Frengky sahabat Angel, Angel yang bilang pada, Tante."


Adrian mulai terlihat panik, raut wajahnya seketika berubah gelisah. 'Aluna, apa yang telah terjadi denganmu, semoga kamu baik-baik saja, aku yakin kamu wanita baik."


"Tante benar nggak tau dimana Aluna sekarang?" Tanya Dion lagi berharap Selena memberi sedikit informasi." 


Selena menggeleng. "Setahu Angel Argo dan Arga yang membawanya. Kamu bisa tanyakan pada dia. Tante berdoa semoga saja Argo membuangnya ke laut, biar dimakan hiu sekalian,"canda Selena. 


Dion naik pitam, tangannya sudah meremas gagang kursi dengan kuat. Urat dilehernya sudah menonjol.


Sebelum dia bertindak tak sopan Beni segera mengalihkan pembicaraan. "Nyonya, kami akan kembali, Bos Dion sepertinya lupa ada janji dengan clien penting."


"Oh, benarkah, yayaya, kalian bisa tinggalkan Tante. Dion jangan lupa datang ya? Meski ini cuma tunangan tapi tante sengaja membuat pesta yang meriah."


"Iya Tante permisi." Dion pulang tanpa menjabat tangan Selena, hatinya sakit mendengar seorang mertua yang tega memperlakukan menantunya demikian picik dan licik. 


Wanita penyelamat dirinya adalah wanita berharga, Dion sangat membenci keluarga Adrian, dia tak berhak membuat Aluna menderita.

__ADS_1


***


"Ben, aku ingin kita cari Aluna sekarang juga, sekaraaanaaaang Jugaaaa!!!"


Dion Meluapkan amarahnya pada Beni, mata lelaki itu berair dan merah, berulang kali dia meremas rambutnya.


"Tenang Bos, pikirkan dengan kepala dingin. Kemana kita mencari, jangan sampai kita salah jalan dan malah terjebak dengan permainan Pak Rian. Sepertinya Pak Rian juga mencintai istrinya, makanya dia menjauhkan dari keluarganya."


"Mencintai? Kamu pikir lelaki yang menikah lagi itu mencintai? Kamu pikir lelaki yang berlibur dengan wanita lain dan membiarkan istrinya tinggal di rumah itu mencintai? Kamu pikir lelaki yang membiarkan istrinya bekerja sebagai babu itu mencintai?"


"Iya iya bos, maaf salah ngomong." Ben berhenti bicara, lagi lagi dia harus terkena percikan api amarah Dion.


"Bos, kita cari kemana sekarang?"


"Periksa keberadaan ponsel Aluna," Dion membuka sebuah aplikasi yang bisa membantunya menemukan Aluna lewat bantuan ponsel.


"Oh iya Bos, kok aku nggak kepikiran ya." Ben nyengir kuda.


"Kamu kan udang, yang dikepala isinya bukan otak tapi kotoran, makanya cara berpikir otak kamu juga jelek melulu tentang Luna."


"Bos, gue nggak gitu." Ben merasa bersalah. "Janji kalau ketemu Luna bakal minta maaf deh."


Beberapa kali Dion gagal mencoba, sepertinya kartu ponsel pembelian Dion sudah tidak aktif lagi. 


Dion melempar ponselnya di dashboard, dia kembali memijat keningnya yang berdenyut nyeri.


 "Luna-Luna apa yang telah terjadi, kenapa aku memiliki firasat yang buruk tentangmu, semoga kau baik baik aja," ujar Dion mulai resah.


"Sabar Tuan, Luna pasti akan baik-baik saja, bagaimana kalau kita pasang mata untuk mengawasi Bos Rian."


"Tidak perlu, aku sendiri yang akan jadi mata-mata itu. Aku akan melakukan apapun demi Aluna." 


"Aku akan selalu menemani anda Bos, baik suka maupun duka." ujar Beni. 


"Benarkah, bukankah kau akan menemaniku selama aku masih mampu memberi gaji bulanan?"


"Hehehehe, itu salah satunya Bos." Beni terkekeh.


*Happy reading.


*Buat teman-teman yang menduduki peringkat satu sampai empat di karya (Menikahi Gadis Pilihan Papa, tolong segera hubungi emak lewat masenger FB yang baru, dengan nama akun (Isti Ari Sandi) ada hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih dari emak. FB yang lama sudah tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2