
"Honey aku tidak rela lelaki itu menyukaimu, aku akan mengambilmu secepatnya dan kita kembali pulang, aku akan membuat semua kebutuhan kamu tercukupi baik lahir maupun batin. Jika marah kau sangat kejam honey, tak pernah kah kau merindukanku, dan Tiger. kau biarkan tiger nelangsa setiap hari, dia merindukanmu." Dion berkata dalam hati sambil terus memandang punggung Enzo yang meninggalkannya.
Enzo sangat benci hari ini, Enzo benci ada laki-laki lain yang lebih berhak atas Aluna daripada dirinya. Ini karena Tito, andaikan asisten itu bilang Aluna bersuami, dia tidak akan melabuhkan hatinya pada Luna terlalu dalam. "Baru saja aku bahagia bertemu wanita yang bisa menggetarkan hati ini, tapi kenapa dia lebih dulu dimiliki orang lain. Kenapa Tuhan tidak pertemukan aku lebih dulu padanya. jika kedatangannya sebuah harapan, maka aku akan memperjuangkan.
Enzo ingin segera menemui Aluna di apartemen miliknya, Apartemen yang menurutnya persembunyian Aluna paling aman, itupun jika Aluna tak nekat keluar tanpa izin.
Pagi ini Luna meringkuk dalam bathup, dia memutuskan berendam di pagi hari dengan air hangat, berharap segala penat yang dia rasakan di hati akan segera sirna. Tak menyangka Dion menjemputnya terlalu cepat, padahal dia masih ingin terus berkarir, tawaran Enzo sangat menggiurkan, mungkin dia adalah satu satunya wanita dari seribu yang paling beruntung.
Usai mandi Aluna segera memakai handuk kimono dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar saat Aluna hendak memakai baju.
"Tuan Enzo anda rupanya, kenapa tidak mengetuk pintu dulu." Luna kembali melilitkan tali handuk ke pinggangnya.
"Maaf Luna, aku sudah mengetuk berulang kali tadi, mungkin kamu tidak mendengar."
"Oh benarkah," Aluna hanya ber oh ria. Tapi Aluna benar-benar tak mendengar
"Ya, mungkin kamu sedang melamun," ujar Enzo lagi. Enzo mendekati Aluna, memegang kedua bahunya, Enzo menatap Aluna dengan lekat. Wanita itu terlihat lebih cantik usai mandi matanya bulat maniknya hitam, dianugerahi bulu yang panjang dan lentik, bibirnya selalu merah muda meski tanpa pewarna. Jujur dari hati yang paling dalam hasrat untuk memiliki Aluna semakin lama semakin besar.
Luna, berkemas lah kita pergi dari sini sekarang, akan ada job untukmu di negara asing, dia salah satu kolegaku, mungkin kita akan tinggal satu minggu disana."
"Job? Kenapa aku tidak tahu sebelumnya? Apa artinya mereka suka dengan penampilanku dan ingin aku menjadi model bintang tamu di acaranya?"
"Iya Luna," kata Enzo meyakinkan.
"Tapi aku harus mengatakan pada Suamiku," kata Luna mulai berada dalam dilema.
__ADS_1
"Tidak perlu, bagaimanapun dia harus menerima akibat perbuatannya, dia sudah menyakitimu sangat dalam Luna, jangan terlalu mudah memaafkan. Dan aku berharap kamu tidak mengecewakan harapanku Luna, setelah kamu dan aku melangkah sejauh ini dan kita saling membutuhkan, kau akan menjadi wanita karir yang sukses."
Aluna diam, apa benar hukuman untuk Dion belum berakhir, tapi lelaki itu sudah menyesal dan mencarinya hingga ke kota ini.
"Aku pergi dulu Luna, bersiaplah, sore ini kita berangkat. Aku juga akan bersiap siap."
Enzo menurunkan tangannya dari pundak Aluna, lalu berpindah menggenggam jemari. Aluna menariknya dengan cepat. Jujur dia kembali dilema. Kali ini apa yang harus diprioritaskan lebih dulu, karier atau perasaan Dion yang tentunya akan kembali kecewa.
Aluna menatap Enzo yang pergi tanpa menutup pintu, lelaki itu masuk ke kamar yang satunya.
Aluna juga tak mungkin mengecewakan Enzo yang sudah memberinya kesempatan menjadi model top yang tidak diberikan pada peserta lain.
Beberapa menit kemudian Enzo rupanya kembali lagi dan menyerahkan gaji Aluna. "Ini gaji semalam, semoga kamu bisa gunakan untuk membahagiakan diri, jangan nangis melulu," canda Enzo ingat ketika gadis malang itu terus menangis di malam hari.
Aluna menerimanya dengan bibir terbuka lebar karena terkejut, tak percaya jika berdiri selama kurang dari dua puluh menit dengan pose biasa di sebelah mobil dengan rambut yang melambai karena diterpa angin buatan sama dengan gaji menjadi OG selama setahun.
Aluna kembali mengejar Enzo di kamarnya, ingin bertanya banyak hal, uang tiga puluh juta itu sangat banyak, Aluna takut jika ini tertukar dengan gaji Enzo.
Tok! tok!
"Masuk!"
Bayangan Luna terlihat di depan pintu.
"Ini gajiku? Apa nggak salah?"
Enzo mendekati Aluna, mengambil amplop dan menghitung isinya. "Kenapa Luna? Apa ini kurang? Jika masih kurang biar nanti aku konsultasikan pada Admin perusahaan.
__ADS_1
"Tidak, bukan itu maksud aku." Aluna memotong ucapan Enzo dengan cepat. "Maksud aku ini terlalu banyak."
"Uang segitu kamu bilang banyak, terus suami kamu kasih uang berapa satu bulan?" tanya Enzo penasaran.
Aluna diam, benar sih, di bulan pertama menjadi istri Dion, lelaki itu mentransfer uang seratus juta, tapi Dion pemilik perusahaan. Sedangkan yang ada ditangan ini gajinya sendiri, kerja kerasnya sendiri, yang tak pernah dibayangkan sebelumnya akan menghasilkan pendapatan begitu besar.
Luna, kamu tahu nggak? Gaji itu belum cukup untuk beli satu tas branded, jika kamu terus berkarir, kamu bisa beli rumah sendiri dan mobil sendiri dalam waktu dekat.
Aluna mendadak menjadi tergiur dengan tawaran Enzo, berkarir untuk saat ini adalah mimpi terbesarnya, dengan begitu, Aluna juga bisa melupakan bayinya yang pergi lebih dulu.
Aluna akhirnya memutuskan untuk ikut Enzo setelah mempertimbangkan banyak hal. Aluna harus bisa menjadi wanita yang mandiri itu tujuannya yang utama, dan masalah Dion, biarlah Aluna ingin menghukumnya lebih berat lagi.
Enzo rupanya sudah siap, lelaki itu membawa beberapa stel baju santai dan dua stel baju kerja.
Setelah semua tertata dalam koper Enzo segera menghubungi Tito.
Sepuluh menit kemudian tito datang dia segera mengambil koper Aluna dan koper Enzo lalu membawa keduanya turun. Tito membawanya dan menaruh ke dalam bagasi dengan hati hati. Tito hanya akan mengantar Aluna dan Enzo hingga sampai bandara. Dia tidak diizinkan ikut karena harus memberi pelatihan pada peserta di asrama dan menjalankan tugas kantor.
Aluna dan Enzo sudah sampai di bandara, sebelum masuk ke pesawat Aluna dan Enzo melambaikan tangan, mereka tak banyak yang tahu kalau wanita cantik itu model Valeri, karena Aluna memakai masker penutup wajah.
"yuk, kita masuk!" Enzo meraih jemari Aluna dan mengajaknya masuk ke dalam pesawat. Aluna mengartikan perhatian Enzo seperti perhatian seorang kakak. sedangkan Enzo menganggap Aluna adalah wanita special yang harus diperlakukan special.
Enzo membantu Aluna memakai penutup mata dan telinga, Enzo tahu Aluna takut sekali dengan ketinggian.
Saat Aluna bersandar di sebelah Enzo dengan mata tertutup, Enzo terus saja memperhatikan Aluna nyaris tanpa berkedip.
Semakin sering bersama, Keinginan Enzo untuk memiliki Aluna semakin besar, dengan pergi ke luar negeri Enzo berharap hubungan Aluna dan Dion akan benar-benar berakhir.
__ADS_1