
"Itu, Mereka datang!" Pekik Nabila lalu menyeret Adrian menuju gerbang taman yang setinggi satu meter. Nabila dan Adrian segera menghampiri Aluna dan Dion yang terlihat jalan sendiri-sendiri.
Aluna dua langkah di depan Dion sedangkan Dion dengan buru-buru mengejar Aluna.
Begitu melihat Nabila, Aluna segera memelankan langkahnya, dan meraih jemari Dion. Dion tau Aluna sedang bersandiwara pura pura mesra di depan Nabila.
"Sayang, kenapa pegang tanganku. Kita udah baikan kah?" Goda Dion.
"Tidak, kita hanya bersandiwara di depan Nabila dan Adrian, aku tak mau dia berfikir kalau aku istri yang zalim."
"Emang iya. Huff!" Dion langsung menutup mulutnya. Segera tahu kalau telah salah berucap.
Aluna segera memeluk Nabila dan Dion menjabat tangan Adrian.
"Maaf rupanya kami sedikit terlambat." kata Dion memulai obrolan dengan Adrian.
"Oh tidak, kami juga baru sampai," jawab Adrian. Lalu mempersilahkan Dion memilih kursi. Aluna ikut mengekor dibelakang Dion.
Rupanya banyak yang hadir dalam acara malam ini. Ternyata ada Selena, dan juga Chela.
"Luna!" Sapa Selena.
Selena terlihat makin kurus, Aluna tidak tau apa yang terjadi dengan wanita itu. Chela juga terlihat santun, dia tak banyak omong besar seperti waktu dulu.
"Luna, rupanya kamu juga datang, Nak." Selena tak percaya Aluna yang ada di depannya itu orang yang sama dengan menantunya dulu. Perubahan Aluna terlalu banyak, jika dulu dia memang pantas menjadi OG atau anak pembantu. Tapi hari ini dia adalah Nona Sunderson yang sangat canzik..
"Iya, kami pasti akan datang, meskipun kita sudah bercerai, tapi ada ikatan baru yang terbentuk kita masih sepupu, aku disini karena ikut suamiku, dan ada sahabatku juga."
Selena mendekati Aluna. "Luna Tante menyesal dulu sudah pernah sis-siakan kamu, semoga saja kamu tidak menyimpan dendam pada kami yang dulu pernah jahat.
Tidak Tante, justru aku harus bersyukur, berkat perbuatan anda dan Chela, saat ini aku bisa menemukan kebahagiaan, dicintai suamiku, dan keberadaan diriku tidak dianggap menjadi momok yang memalukan, mereka sangat menyayangiku." Luna menoleh pada Dion yang sedang duduk disebuah kursi, saat Luna menatap suaminya.dion segera melambaikan tangan.
Selena juga ikut menoleh ke arah Dion yang tersenyum pada Luna. Mereka tetap terlihat sweet dan tomantis banget dimata orang lain meski sedang marahan.
"Tante, aku pamit dulu, aku akan bergabung dengan mereka. Mari!" Ajak Luna ramah tamah.
" Ya silahkan. Tante akan duduk di nomor meja lain saja, tidak enak mengganggu keromantisan kamu dan Dion."
__ADS_1
'Luna andaikan kau masih bertahan menjadi menantuku, Adrian tak akan mengalami semua penderitaan ini, usaha Adrian tak akan hancur karena kau akan menjadi kekuatan yang membangkitkan semangatnya. Dan suamiku tak akan kecewa dan meninggalkanku. Alex pasti masih setia. Tapi sayang sekali semua tinggal penyesalan Alex terlanjur mendua, Adrian sudah hancur. Semoga saja Nabila memang wanita yang dikirim Tuhan untuk menggantikan mu. Dan dia akan sebaik dirimu. Adrian juga bisa menerima dengan hati tulus, Aku menyesal telah memilih Angel yang tak tahu diri itu.
Adrian dan Nabila juga duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari Dion. Setiap satu meja akan ada sepasang kursi yang pas untuk mereka dan pasangannya.Adrian terus saja menggenggam jemari Nabila, seolah ingin semua orang tahu kalau dia telah bahagia.
Luna berjalan mendekati Dion, Dion menyiapkan duduk Luna dengan menarik kursi dan mengusap dengan telapak tangannya meski tak ada debu sedikitpun.
"Honey, duduklah."
Luna mengangguk lalu menghempaskan pantatnya di sebelah Dion. Luna mengambil jus alpukat kesukaannya dan meneguk hingga separuh. Dion juga sama mengambil jus alpukat plus coklat. Tapi melihat Aluna yang kembali dingin Dion ingin mencoba meluluhkan hati Luna.
"Sayang lihatlah sahabatmu Nabila, dia bahagia sekali." kata Dion yang melihat Nabila menyuapi Adrian dengan cake coklat. Kue yang sama dengan yang ada di meja Dion, karena tiap meja disediakan menu yang sama, ada nasi plus aneka lauk, cake, buah, minuman segar.
"Kenapa? Wajar nabila bahagia, cintanya pada Adrian sudah terbalas."
"Honey, aku juga mau disuapi seperti Adrian."
"Tidak bisa. Aku sedang tak ingin."
Dion menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, Dion kehabisan akal untuk membuat Luna kembali tersenyum ceria. "Ya beginilah nasib,mencintai seseorang yang tak pernah mencintaiku. Mungkin seumur hidup cintaku akan bertepuk sebelah tangan." Dion pura pira sedih.
Aluna kasihan melihat Dion, terpaksa malam ini Aluna juga menyuapi Dion seperti Nabila ke Adrian. Setelah mencicipi kue, mereka melanjutkan makan menu utama yaitu aneka macam sate. Mendapat lampu kuning dari Aluna Dion tak menyia nyiakan kesempatan. Dion selalu minta Aluna melakukan apa yang dilakukan Nabila pada Adrian. Termasuk menciumnya bibirnya saat mereka tengah berdansa sambil berpelukan.
Dalam cahaya remang-remang, pesta dansa Dion dan Aluna, sungguh sangat romantis. Dion tak pernah berpaling menatap Aluna dalam jarak sedekat ini, sambil tubuh mereka meliuk-liuk pelan mengikuti irama musik yang mengalun merdu yang dipersembahkan oleh seorang pianis.
Adrian beberapa kali mencuri pandang pada Aluna dan Dion. Tanpa sadar dia memejamkan mata dan mencium bibir Nabila. Entah siapa yang tengah ada dalam bayangan Adrian. Mantan istrinya yang tak mungkin lagi bisa dia gapai, atau kekasihnya yang jelas jelas mencintainya apa-adanya.
***
Tring!
"Ah mengganggu sekali," keluh Dion.
"Siapa?" Aluna juga penasaran. Setiap ponsel bergetar, Dion selalu menatapnya dengan tidak tenang.
"Honey kita pulang ya." Dion tidak menjawab, dia malah pamit pada Nabila dan Adrian. Setelah itu menggandeng Luna supaya ikut pulang.
"Nabila, aku pulang dulu ya," pamit Aluna.
__ADS_1
"Rian." Aluna juga menyapa Rian.
"Ya, terimakasih sudah bersedia datang." Adrian melambaikan tangan untuk Dion dan Aluna.
Setelah Dion dan Aluna pulang, Adrian dan Nabila masih melanjutkan pesta sendirian, ada banyak hal yang perlu Adrian katakan pada Nabila. Termasuk meminta Nabila agar tidak terlalu buru-buru meminta hubungan lanjut ke jenjang berikutnya.
Sepanjang perjalanan pulang ponsel Dion terus bergetar. Aluna jadi kesal karena Dion tak kunjung menerima. Tapi untuk menjelaskan pada Aluna Dion juga tak bisa. Lelaki itu takut Aluna akan semakin salah paham.
"Angkat saja, dari siapa sih."
"Ba-baiklah."
"Hallo, meeting? Malam begini? Baiklah tunggu ya, aku akan segera kesana."
"Honey ada meeting dadakan." Dion menutup ponselnya setelah berbicara tanpa mendengar Angel yang sudah nyerocos di seberang sana.
"Tapi aku dengar tadi suaranya wanita?"
"I,iya wanita, dan suaminya. Sudahlah jangan berpikir macam macam, aku harus kesana sekarang, dia klien besar."
Dion meminta Beni untuk menepikan mobilnya, dia ingin menemui Angel di clup yang sudah disepakati berdua dengan naik taksi saja.
Dion meminta Beni supaya langsung mengantar Aluna ke penthouse miliknya. Dion juga berpesan supaya Aluna lekas tidur dan tak usah menunggu dirinya.
Sampai di penthouse Aluna tak bisa langsung tidur meski mengantuk, wanita itu tetap saja menunggu Dion pulang, Aluna berencana malam ini kembali menyerahkan jiwa dan raganya, membiarkan Dion masuk ke pintu gerbang yang beberapa hari ini telah di kunci rapat.
Dion sudah melihat Angel duduk dengan baju yang lebih seksi dari pada siang tadi. Tapi semua itu sama sekali tak membuat Dion tertarik. Dion justru menilai Angeline seperti seorang wanita yang kehilangan urat malunya.
"Sayang kenapa kau datang terlambat sekali."
"Maaf, aku tadi ada acara lain."
"Ouhhhh … kesel tau nggak nunggu kamu lama. Udah dandan cantik begini masa harus sendirian." Terlihat sekali Angeline kesal, dia mengerucutkan bibirnya manja.
"Maaf, maaf." Dion meremas jemari Angeline. Wanita itu lalu bersandar di dada bidang Dion.
Bartender laki-laki segera mengantarkan minuman ke meja mereka berdua.
__ADS_1
Angeline meneguk beberapa gelas minuman keras, karena Dion yang memintanya. Sedangkan Dion hanya pura pura minum, tetapi dia menumpahkan pada sebuah tong sampah mini yang kebetulan ada didekatnya. Setelah mabuk berat Angeline meracau tak karuan, jemarinya dengan Agresif membuka kancing kemeja Dion dan menggelitik perut kotak-kotaknya.
"Sayang, kau tampan sekali aku ingin sekali menghabiskan malam ini hanya denganmu. Aku rindu belaian kasih sayang darimu Dion Sanderson. Kenapa dulu kau meninggalkan aku," rancau Angeline yang mulai dipenuhi oleh hasrat.