
Aluna meminta Dion untuk mengantarkan pulang, dia ingin segera beristirahat di perumahan sederhana miliknya.
Sampai dijalan Dion menawari aneka jajanan dan menu makanan dari yang mahal sampai murah, Aluna tetap menolak dengan alasan tak ingin makan apapun. "Sate Madura?" Kata Dion.
"Tidak mau, Pak."
"Es buah, di kedai itu terkenal segar, dan enak, apa kamu nggak mau juga?"
Aluna menoleh pada Dion. "Enggaaak Pak, Aluna cuma pengen pulang sekarang."
Dion juga menoleh lalu tersenyum melihat wajah kesal Aluna. Dion sengaja melakukannya supaya Aluna tidak terus terusan terusan melamun.
Bibi menyambut Dion dan Aluna di teras rumah. Dia ingin bertanya, mungkin karena Aluna tak seceria biasanya, tapi Dion sudah mengisyaratkan supaya diam.
Bibi akhirnya membiarkan Dion dan Luna masuk ke ruang tamu dan duduk sebentar.
"Luna, kamu minta aku temani atau aku pulang saja?" tanya Dion yang bingung harus melakukan apa, saat di dekat Aluna yang sejak tadi lebih banyak diam.
Aluna Diam, dan masih tetap melamun saja.
"Baiklah, jika diam berarti aku sedang tak diinginkan, biarlah aku pulang saja, kau jangan lupa istirahat. Menangislah jika kau ingin menangis. Tapi harus minum susu dan vitamin. Menangis juga butuh energi." kata Dion
"Bibi tolong, perhatikan Nona, dia saat ini sedang terguncang, dan jangan lupa siapkan semua kebutuhannya, Nona memiliki sakit maq, beri makanan bergizi dan pakai ATM ini untuk belanja."
"Baik Tuan." Bibi mengangguk penuh kepatuhan.
"Tetaplah disini Pak Dion. Aku butuh anda ada di sampingku." Aluna meminta Dion untuk tetap tinggal. Wanita itu meraih lengan Dion dan memeluknya.
Lelaki itu kembali duduk di dekat Aluna, masih dalam satu sofa. Dia menarik Aluna ke dalam dekapannya.
"Aku akan tetap ada disini selama kau yang minta, mulai hari ini aku berjanji akan selalu didampingi setiap saat kau inginkan."
"Terimakasih Pak, Dion."
"Jangan selalu berterimakasih, kita sebentar lagi akan menjadi suami istri."
Dion membelai rambut Aluna yang sedikit berantakan dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Luna apakah kamu bersedia tinggal bersama nenek? Kau akan bisa lebih dekat dengannya."
"Nenek. Kenapa harus dirumah nenek, bagaimana kalau nenek tidak suka aku ada disana."
"Aluna, aku serius setelah iddah selesai, Aku akan segera menikahimu, jadi kita berdua harus berjuang mendapatkan restu nenek. Dan nenek bukan orang yang jahat, dia pasti akan suka sekali kau ada disana."
"Tapi Pak? Aluna keberatan.
"Percayalah Lina, ini untuk kebaikan kita."
"Jika itu keinginan Pak Dion. Baiklah." Aluna setuju tinggal di rumah Nenek."
****
Seminggu setelah sidang perceraian, Aluna datang ke rumah nenek diantar oleh Dion. Wanita berusia sekitar enam puluh delapan tahun itu terlihat sedang melakukan serangkaian perawatan SPA di rumah. Nenek sengaja mendatangkan ahli kecantikan di rumahnya.
"Tuan Dion, masuklah." pinta Tuti.
Dion langsung dipersilahkan masuk oleh security yang menjaga rumah nenek.
"Iya, seperti biasa, Tuan. Nenek masih melakukan serangkaian program kecantikan. Anda langsung saja masuk, pasti nenek senang sekali kalian datang," ujar security yang sudah bekerja di rumah nenek sekitar dua puluh tahun itu.
"Pak Dion!" Aluna melepaskan tautan tangan nya dengan Dion, Aluna gugup telapaknya menjadi dingin, rumah nenek lebih terlihat mewah saat siang hari. Penjaga rumahnya banyak, Aluna yakin pasti nenek bukan hanya kaya, tapi sangat kaya raya.
"Tuan Dion, apa Tuti panggilkan Nenek aja?" Tanya pembantu yang khusus melayani nenek itu lagi.
"Tuti katakan saja Aluna ada disini," perintah Dion.
"Oh, baiklah tuan." Tuti segera menemui nenek yang sebentar lagi sudah selesai melakukan ritual kecantikan.
"Ada apa Tuti?" Tanya seorang nenek berwajah kencang dan masih tetap cantik itu.
"Anu nek, wanita yang bersama Pak Dion kemarin datang kesini," kata Tuti.
"Ouh, apa sudah kamu tanyakan apa maksudnya dia kesini." Nenek terlihat penasaran. Dia nekat bertanya usai meneguk jus buah di dekatnya.
"Tidak Nyonya, sepertinya dia akan tinggal disini lama, soalnya aku lihat bawa koper besar banget."
__ADS_1
"Apa!!" Nenek terkejut, dia hampir saja tersedak.
Dion dan Aluna masih menunggu nenek di ruang tunggu, Aluna terlihat makin nervous saat mendengar langkah kaki mendekat.
"Pak, apa pantas saya tinggal serumah dengan keluarga laki-laki, sedangkan saya masih bukan siapa siapa pak Dion."
"Luna, kamu tenang ya, aku akan segera melamarmu, dan tiga bulan lagi kita menikah, jadi jangan bilang kamu bukan siapa siapa, aku calon suamimu."
"Baiklah Pak, tapi apa nggak sebaiknya aku sesekali saja datang kesini."
"Kalau kamu disana, Aku khawatir Adrian sewaktu waktu akan datang padamu dan membuatmu tak nyaman, kalau disini kamu aman, dan aku tenang."
Aluna mendengarkan ucapan lelaki di depannya dengan sungguh sungguh, tapi apa yang dikatakan Dion ada benarnya. Adrian tidak pernah rela melepas dirinya, bagaimana kalau lelaki itu kembali membawanya pergi jauh seperti yang sudah, sudah. Adrian terkenal dengan lelaki ambisius, dia bisa saja nekat.
"Apa benar kamu akan tinggal disini sangat lama?"
"Iya Nek, Dion ingin Aluna tinggal disini supaya kalian berdua saling mengenal."
"Kamu yakin, aku akan suka dengan gadis kampung seperti dia?"
Dion menghampiri Nenek, mengecup pipinya dengan lembut seraya berbisik. "Dion sangat yakin nenek akan suka sekali dengan Aluna, selama ini selera kita selalu sama baik dari segi makanan atau hobby, dan kali oni nenek pasti suka dengan wanita pilihan Dion."
"Kita lihat aja nanti, jika wanitamu ternyata tak bisa bertahan bersama nenek selama tiga bulan, berarti kalian tidak berjodoh." Ancam Nenek terlihat serius.
"Ya, aku yakin Aluna akan membuat nenek jatuh cinta, bahkan nantinya, nenek ingin selalu ditemani olehnya."
Aluna yang dibicarakan oleh dua orang di depannya hanya bisa diam tanpa sepatah kata. Jika Dion saja semangat membujuk nenek, sepertinya dia harus mendukung usaha lelaki yang sangat mencintainya itu.
"Baiklah, Aluna, jangan manja. Sekarang bawa barang kamu ke kamar yang ada di sebelah kamat Tuti."
"Nek! Nenek serius mau menyuruh Aluna tidur di kamar pembantu." Dion terlihat keberatan.
"Nggak papa, Pak Dion." Lirih Luna sambil tersenyum manis pada Dion.
"Siapa bilang Nenek suruh Aluna tidur di kamar pembantu, sebelah kamar Tuti ada dua kamar lagi, yang satu kamar nenek dan satu masih kosong. Nenek berharap kamu suatu saat tinggal sama nenek, tapi sayangnya cucu cucu rupanya semua pada durhaka," keluh nenek.
Dion menarik nafasnya lega, ternyata Nenek memang tak segalak yang terlihat. Wanita itu tidak menyuruh Luna tidur di kamar pembantu.
__ADS_1