
"Suami kamu sedang sakit tapi kamu malah asyik belanja," kata Rosa dan Sisil yang sedang memilih barang branded.
"Terserah gue donk, mau belanja mau ke salon mau apa kek. Kalau dia sakit kan sudah ada orang tuanya yang jaga. Gue ogah kalau disuruh cium aroma obat obatan apalagi aroma orang sakit. Bayangin aja tinggal disana, gue mau muntah," kata Angeline sambil milih-milih tas yang dipasang bandrol dengan sifatnya yang Arogan.
Tiba-tiba Angeline bertemu dengan Aluna yang mampir belanja, tadinya dia sedang memilih buah segar untuk Adrian dan juga membeli beberapa botol air mineral kemasan.
"Aluna! Nggak mungkin dia sendiri, pasti ada Dion bersamanya, pengantin baru nggak mungkin ke mall sendirian," selidik Angeline, celingukan berusaha mencari keberadaan Dion, yang belum dia lihat batang hidungnya.
Tiba-tiba dari arah belakang Dion mengejar Aluna, lelaki itu membawa banyak barang belanjaan dan masih bisa membawa dua ice cream.
Sambil memakan ice cream miliknya, Dion juga menyodorkan ice cream milik Aluna di dekat bibirnya.
"Terima kasih, Sayang." Aluna berterimakasih usai mendapat suapan ice cream dari tangan Dion.
"Selain ice cream apalagi yang kau inginkan?" Tanya Dion.
"Belum ada, nanti kalau ada yang kuinginkan, aku pasti akan mengatakannya." Kata Aluna.
"CEO Dion!!" Angeline nampak terkejut melihat Dion sudah mirip seperti seorang asisten yang mendorong troly demi majikan. Masih susah payah memegang dua ice cream di tangannya.
Dion tak mendengar panggilan dari Angeline. Dia sedang sibuk membuat Aluna senang.
Angeline kecewa karena panggilannya tak mendapat jawaban dari Dion. Wanita itu memilih mundur, bersembunyi, mengamati kebahagiaan sepasang suami istri dari kejauhan.
Angeline berulang kali mengepalkan tangannya. Sungguh hidupnya tak sesuai ekspetasi yang diharapkan. Adrian tak lagi mencintainya, Dion tak menganggapnya ada. Semua karena Aluna. Angel merasa tersaingi oleh Aluna.
Sayup sayup suara Dion terus memanggil Aluna dengan panggilan Honey, bahkan Dion juga meminta pelayan untuk membungkus barang barang branded yang tidak diinginkan oleh Aluna. Tapi justru sangat diinginkan Angel.
Aluna dan Dion segera keluar dari mall, setelah belanja kebutuhannya untuk tinggal di penthouse selesai, dan beberapa kantong buah dan kue untuk Adrian.
Dion dan Aluna segera ke rumah sakit, Dion dan Aluna terlebih dulu menemui Dokter Jayden di ruang kerjanya.
"Dokter, apakah hilang ingatan ini akan lama?" Tanya Dion tanpa basa basi.
"Kita sabar dulu, Tuan Dion. Semuanya tidak bisa dipastikan dengan hari, tapi bisa diusahakan, jika orang disekitarnya memberi support, pasti akan cepat."
"Dion dan Aluna saling nenatap sebentar. Ada aura tak suka di wajah Dion."
"Saya mengerti Pak Dion, ini semua merugikan anda, tapi percayalah lambat laun dia akan mengingat semuanya seiring dengan luka lukanya yang berangsur sembuh."
__ADS_1
Aluna kini menggenggam tangan Dion, seolah mengatakan kalau sabar. Semua tidak akan lama."
"Kenapa kulkas dua pintu itu harus, sakit. merepotkan sekali," gerutu Dion
Aluna membuka suara. "Terima kasih Dokter, atas penjelasannya." Dion dan Aluna lalu bangkit, belum ada kelegaan dihati masing masing. Meski ada harapan,tapi jawaban dokter masih tetap ambigu. Berapa lama, satu tahun, dua tahun, atau satu minggu. Tidak ada kepastian.
"Sayang tunggu disini, masuklah beberapa menit lagi, supaya dia tidak curiga kalau kita datang berdua."
"Baiklah." kata Dion sambil melihat istrinya, memastikan dirinya sudah cantik dan tanda merah yang ada di dadanya tak terlihat.
Dion menunggu di luar dan Aluna masuk ke dalam, Aluna melihat Adrian telah menunggunya dengan wajah memelas.
"Maaf, aku keluar agak lama, aku ada keperluan," ujar Aluna dengan ekspresi
"Tidak apa-apa, kamu pasti sibuk," Adrian berusaha untuk memahami Aluna.
Nabila heran melihat sikap Adrian yang begitu lembut ke Aluna.
Aluna menatap Nabila yang mematung disisi lain. "Dokter Nabila, terimakasih sudah menunggu."
"Sama sama." Nabila tersenyum sangat manis pada Aluna beranjak.
"Kalau boleh tahu apa saja yang sudah kamu lakukan seharian ini?" tanya Adrian ketika di ruangan itu tinggal berdua saja.
"A-aku, aku tadi melihat perusahaan, bukankah sudah beberapa hari ini kamu tak bisa datang kesana."
Adrian terus menatap wajah Aluna yang terlihat letih. Adrian mengusap pucuk kepala Aluna. "Maafkan aku, karena aku sakit, istriku jadi kelelahan seperti ini.
"Tidak apa apa. Sudah tugas istri, karena suami sakit," kata Aluna, lalu mengambil tangan Adrian dari rambutnya.
"Tapi kenapa ponselnya dimatikan? Aku sudah ratusan kali menghubungimu."
"Aku lupa memeriksa ponsel, tadi ponselku mati. Jadi aku tidak mendengar panggilan dari siapapun." Aluna tidak berbohong, ponselnya memang mati, tapi bukan kehabisan baterai, tapi memang sengaja dimatikan oleh Dion. Lelaki itu tidak mau ada yang mengganggunya ketika sedang berdua.
Semakin kesini, Aluna harus pandai mencari alasan, sungguh dia sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Benar kata Dion kalau ini akan membuat semuanya semakin runyam.
Sekatang saja Aluna merasa seperti orang selingkuh, harus berbohong saat bersama suami sah.
"Sudah, jangan sedih, lain kali periksa ponselnya kalau kemana mana." Kata Adrian. Lalu mengelus perutnya yang lapar.
__ADS_1
Aluna tersenyum, lalu bangkit mengambilkan bubur dan lauk daging yang sudah dihaluskan.
"Kenapa nasinya masih utuh, pasti tidak mau makan lagi ya? Kenapa bandel? Bukankah di sini ada Mama dan Chela ada dokter Nabila juga"
"Salahkah aku jika aku hanya ingin makan dari tangan istri ku?" Jawab Adrian sambil melihat Aluna mulai mencampur daging halus dengan bubur.
'Tidak salah Rian. Jika saat ini aku masih benar-benar istrimu, tapi sekarang aku bukan lagi istrimu, Aku orang lain yang Bahkan tidak berhak untuk kau sentuh, kita sudah mantan.'
Seperti biasa Adrian selalu lahap saat Aluna langsung menyuapi dari tangannya.
"Makan yang banyak biar jadi anak pintar," canda Aluna.
"Mama, aku sudah sangat pintar. Aku sudah nggak sabar ingin makan yang lainnya," canda Adrian sambil melihat pada tonjolan kembar milik Aluna.
Deg, jantung Aluna terpacu sangat kencang, kata-kata Adrian barusaja membuatnya gagal fokus.
Melihat ekspresi Aluna yang berubah Adrian langsung berfikir kalau Aluna tak suka dengan bercandanya.
"Em, sekarang makannya sudah selesai, anak pintar harus minum susu." Aluna mengambil susu hangat yang dikirim Chela baru saja.
Selena yang baru datang juga terlihat bahagia, melihat putranya bisa tersenyum setelah beberapa hari kehilangan senyumnya.
Dion gelisah sendiri melihat Aluna yang baik banget dengan Adrian. Sebenarnya akal sudah sering kali mengingatkan tapi hati tak mau kompromi.
Aluna berdiri, memberi ruang untuk Chela dan Selena duduk, dia memilih hendak keluar, tapi Selena menahannya.
"Disini saja Luna, Adrian bahagia jika kamu ada didekatnya, biar aku yang keluar."
'apa apa'an ini? Kenapa Tante Selena seolah ikut hilang ingatan? Bukankah dia dulu sangat membenciku.'
"Sayang, tinggallah disini, biar Mama dan Chela yang menunggu diluar." Adrian ikut berbicara.
Aluna tak ada pilihan, dia memilih duduk kembali. Chela dan mama keluar bergabung dengan yang lain.
Adrian mulai curiga dengan gelagat Aluna yang terlihat mengindari dirinya, seperti ada yang di sembunyikan. tapi entah apa. Adrian masih berusaha menerka. tapi andaikan benar, Adrian berjanji akan membuat wanita itu kembali dekat dengannya.
"Luna, kamu terlihat lelah sekali, tidurlah di sampingku, kita berbagi ranjang." Kata Adrian lagi sambil menepuk sampingnya.
Aluna makin terkejut. "em, tidak, aku tidak lelah, aku nyaman disini saja."
__ADS_1
"Ayolah Sayang, kamu itu sedang lelah, aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi."