
"Benarkah, aku lebih cantik dari Luna?"
"Iya, benar." Dion mengelus rambut Angeline.
'cih, jangan samakan kau dengan Lunaku, kau sungguh berbeda, Lunaku wanita baik-baik dan terhormat, sedangkan kau apa?" kata Dion dalam hati.
"Aaaa, aku terharu Dion. Lalu kenapa kau setia padanya. Kau tak lihat banyak wanita yang mau menjadi wanitaku, dia lebih segalanya dari Luna. "
"Iya, ya, kenapa aku setia ya, bodoh sekali. Seharusnya aku bisa punya kekasih lebih dari satu, kamu benar Angeline. Aku terlalu bodoh, uang banyak. Aku pasti bisa membahagiakan banyak wanita." Tangan Nakal Dion sengaja menyentuh hodung runcing Angeline.
"Ya, kamu benar Dion." Angeline menyandarkan kepalanya di bahu Dion.
"Apa kamu mau menjadi wanitaku yang ke dua?" tanya Dion penuh damba.
"Em, tentu, aku mau. Siapa yang bisa menolak lelaki tampan sepertimu."
Dion terlihat berfikir ulang. "Tapi tidak, kau mantan Adrian, aku tidak bisa menjadikanmu wanitaku, aku tidak mau menyakiti hati adik sepupuku itu."
Dion ingin tahu bagaimana perasaan Angeline ke Adrian saat ini, setelah berhasil menguras habis harta Adrian.
"Apa? Lelaki miskin itu? Aku sudah tidak ada hubungan sama sekali dengan dia, lupakan saja jika kami pernah ada hubungan. Aku sama sekali tak mencintainya lagi. Seharusnya dia sudah cocok dengan Aluna, istri kamu itu, sama-sama bodoh." Angel tertawa lebar, bahkan dia menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
Tanpa sepengetahuan Angeline, Dion mengepalkan tangan. Andai saja dia bukan seorang wanita, Dion tak akan sesabar ini. Mulut Angeline sudah lancang sekali menghina istri yang amat dia cintai melebihi nyawanya.
'Aku akan membalas perbuatan mu sama seperti apa yang pernah kau lakukan pada istriku.'
"Ya Luna memang bodoh, mau-maunya dia menikah denganku, padahal sudah jelas aku tak pernah mencintainya dengan tulus, yah kalau bukan karena papa yang memintaku menikah cepat, pasti aku akan setia menunggumu dan saat ini kita langsung bisa menikah."
Mendengar ucapan dion, Angeline merasa sangat tersanjung, kata-kata Dion sungguh membuatnya bahagia.
"Oh ya, usai melahirkan kamu makin cantik." puji Dion lagi.
"Ah, Dion jangan terus merayuku seperti itu, nanti aku malah nggak bisa pulang dari sini karena kepalaku terlalu besar."
"Biar aku yang antar, kau sangat istimewa bagiku mulai hari ini, aku tak sabar lagi ingin ...."
"Apa Dion, ngomong yang jelas dong."
"Ah, nggak jadi deh, kamu pasti sudah nggak mau lagi dengan aku."
__ADS_1
"Sudahlah Dion jangan seperti ABG , aku mau kok melakukan apapun yang kamu inginkan."
"Yakin mau?"
"Iya."
"Aku pengen kita bernostalgia lagi." Dion meremas jemari Angeline dan menatapnya penuh rayu seperti seorang playboy.
Angeline bersorak dalam hati. "Yeeee, akhirnya aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, memiliki kekayaan yang melimpah dan bersanding dengan pria yang tampan dan mencintaiku. Luna selamat menangis darah, aku kembali mengambil laki-laki yang kamu cintai, kamu tidak pantas bersama Dion, kamu memang pantasnya melayani laki-laki rendahan seperti cecunguk bayaran kemaren hahaha. Dion terlalu istimewa buatmu, dan Aku sangat mencintainya."
"Oke sampai ketemu nanti malam Sayang aku akan menjemputmu." Dion gerah lama-lama satu ruangan dengan Angeline.
"Baiklah, aku akan menunggu."
Angeline mengecup pipi Dion sebelum pergi, Dion hanya memaksa senyumnya.
"Sit, main cium-cium, kalau Aluna tahu, pasti puasa bakal makin panjang nie bisa setahun." Dion menggosok pipinya yang tersentuh bibir Angeline.
Dion lalu keluar dari ruang rapat menuju wastafel, mencuci mukanya supaya tak ada virus Angeline yang menempel. Setelah mengelap dengan handuk Dion segera kembali ke ruang CEO.
Dion menghubungi Beni dia menanyakan hal apa yang sedang dilakukan oleh Luna pagi ini, jujur kepanikan Dion berlipat selama Dion belum bisa menyingkirkan wanita ular yang selalu menganggap Luna musuh itu.
"Oh, begitu ya." Dion manggut-manggut sendiri. Jadi Aluna ingin membuat usaha rumah makan. Selama itu baik Dion setuju, tapi jika itu menjadi model, Dion benar-benar tak rela melihatnya. "Beni, kamu awasi terus, jangan sampai laki-laki itu menyentuh istriku sedikitpun," kata Dion posesif.
Sementara si belahan bumi lain. Angeline sedang mendatangi sebuah toko baju milik desainer terkenal di negara ini. Angeline segera meminta baju yang cocok untuk dinner yang paling mahal yang pernah ada.
Ketika sudah mendapatkan baju yang bagus dan cocok menurutnya, Angeline segera berpindah mendatangai sebuah salon langganannya.
"Hai cantik bukannya baru tadi pagi ente kesini, rajin amat sudah kesini lagi," sapa pemilik salon, yang seorang laki-laki gemoy.
"Cepat layani aku, aku ingin malam ini tubuhku sangat wangi sampai-sampai tak ada satupun makluk yang mampu untuk berpaling dariku," pinta Angeline dengan gayanya yang angkuh dan arogan.
"Oke, eeke pasti akan buat Ye, cantik sekali hari ini. Ye, pasti mau kencan ya?"
"Tau aja kamu, aku akan memikat seorang pangeran King Fashion."
"Haaaah, Nononono. Dion Sunderson. Ah dia lelaki idamanku. Pengusaha muda itu," jawab pemilik salon yang diam-diam dia suka mengikuti kabar warta yang membicarakan Dion.
Lelaki itu selama ini memang sengaja merahasiakan pernikahannya dengan Aluna karena sebuah hal. Sebagai pengusaha banyak sekali musuh yang berkedok sahabat yang ingin menghancurkannya setiap saat. Dion selalu memikirkan Luna dalam setiap langkahnya.
__ADS_1
Tiga jam sudah berlalu Angeline menghabiskan waktu di salon. Setelah melakukan serangkaian lulur dan banyak lagi ritual lainnya. Tubuh Angeline sudah harum semerbak.
Angeline memeluk tubuhnya sendiri kala di depan cermin. Membayangkan yang memeluknya adalah Dion.
"Aku sudah lama merindukannya, hari ini pasti akan menjadi hari special untukku." rancau Angeline yang mulai tak bisa melupakan suami orang itu. bibirnya terus saja mengukir sebuah senyum.
Pemilik salon memberi semangat pada Angel supaya hari ini pelanggan setia yang terkenal judes itu selalu datang lagi. "Malam ini pasti akan merasakan kebahagiaan besar. Ye sudah sangat cantik, wangi pokoknya perveck habis. CEO King Fashion akan bertepuk lutut."
"Pasti aku akan bahagia sekali, ini upahmu." Angel membuka handbag lalu menyerahkan lima lembar uang berwarna merah.
Dengan langkah gegas Angeline langsung pulang, saat di jalan dia melihat Aluna dan Nabila sedang berbicara dengan mandor bangunan.
Angeline memiringkan bibirnya ketika melihat Luna yang berpanaspanasan sambil memakai helm khusus bangunan. "Wanita bodoh, kau pantas bekerja di bawah terik matahari, biar kulitmu tambah gosong, dan Dion ilfeel denganmu. Sebentar lagi aku yang akan menggantikan posisimu di samping Dion sebagai nyonya muda.
Angeline lalu melajukan mobilnya sambil bersiul merdu. Gadis itu memiliki rasa percaya diri yang amat tinggi, melebihi akal sehatnya.
***
Malam hari telah tiba, langit terlihat terang benderang seperti siang karena bulan sedang purnama. Aluna telah berdandan rapi dengan gaun warna merah bata.
"Ehm, mau kemana sayang?" Dion tiba-tiba masuk.
"Mau ke acara Nabila dan Adrian, malam ini dia ingin merayakan hari jadian mereka, dan kita diundang, apa kamu lupa?
Dion memeluk Aluna dari belakang. "Ehm tapi kamu terlalu cantik dengan gaun ini. Kamu akan membuat orang disana nanti sibuk melihatmu, kamu boleh cantik saat di kamar saja, Honey"
Aluna melotot. "What? Ini gaun sederhana, apa aku harus pake baju lusuh ke acara orang. Memalukan," jawab Aluna dengan ketus. Posesif Dion makin lama makin membuat Aluna kesal.
Dion tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang dan mencium tengkuknya. "Aku melakukan karena aku sayang, istriku cuma satu, aku harus menjaganya agar tak diambil orang."
"Terimakasih suamiku, tapi maaf untuk saat ini aku masih marah, kita belum berteman," ketus Aluna, yang bahagia dalam hati setiap kali melihat Dion kesal.
"Jangan lama marahnya, kamu nggak kangen tiger apa. Bagaimana kalau tiger nanti terbang ke angkasa." rengek Dion setengah mengancam, Dion kesal dengan miliknya satu itu. Tak bisa diajak kompromi sama sekali, selalu bangun setiap kali melihat Luna meski hanya dengan baju sederhana.
Dion juga ikut datang ke acara Nabila dan Adrian, dia ingin melihat saudara sepupunya itu bahagia dengan wanita pilihannya. Setidaknya Dion melihat dengan mata kepala sendiri kalau Adrian benar-benar move-on dari Aluna.
Beni mengantar mereka berdua menuju lokasi yang diminta Aluna. Rupanya Adrian memilih sebuah taman yang indah yang sudah dihias dengan aneka lampu hias untuk mengabadikan momen terjalinnya hubungan dengan Nabila.
'Syukurlah Rian, dengan semua persiapan ini setidaknya aku tahu kamu sudah serius dengan Nabila. Semoga hubungan kalian langgeng hingga ke pelaminan,' batin Nabila saat menapaki tangga naik ke atas taman. Sedangkan Dion sibuk membalas pesan dari Angel yang meminta bertemu.
__ADS_1