Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 44. Konyol.


__ADS_3

Malam telah tiba, Aluna mengintip ke jendela. Dia melihat ke sekeliling hotel yang nampak lebih indah ketika malam. 


"Menginap di hotel mana ya Pak Rian dan para karyawan. Apa dia ada di hotel ini juga." Monolog Aluna.


'Kenapa Aku harus memikirkan Pak Rian, dia pasti sedang bersenang-senang dengan Angeline. Mereka saling mencintai. Aku harus bisa terima kenyataan kalau suamiku tak pernah anggap aku ada, aku ingin semua cepat berakhir saja, dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri,' batin Aluna sambil mengusap beberapa butir air matanya.


'Bapak, maafkan aku, Aluna berat jalankan amanah Bapak. Coba suami Pak Rian bisa menerima kehadiran Aluna sedikit aja, pasti Aluna nggak akan berat, dan akan tetap perhatian.' 


"Tok! tok! tok!"


"Iya masuk." Aluna reflek langsung membalikkan badannya menatap pintu, takut yang datang adalah Dion, yang datang ternyata seorang wanita. 


"Anda siapa?"


"Nona, Pak Dion meminta saya datang kesini, untuk membantu anda merias diri, lalu dia ingin anda datang di ballroom, Dinner dan pesta akan segera di mulai. Dan aku akan membantu anda mempersiapkan diri dari sekarang.


"Baiklah, oh iya Mbak, kira kira baju mana yang pantas saya pakai malam ini? Aku bingung harus pilih yang mana?" Aluna mengambil dua stel baju yang dibelikan Dion. Warnanya merah dan maroon hanya saja modelnya yang berbeda.


"Yang mana ya? Dua duanya bagus, aku suka keduanya, Non. Tapi kalau untuk dinner pakai yang merah gimana? Biar lebih menyala dalam kegelapan malam," ujar wanita utusan. Meski tak ada gelap sama sekali di hotel bintang lima ini.


"Tapi ini apa nggak terlalu terbuka nantinya?" Aluna masih bertanya dengan mode polos. 


"Nggak lah, justru ini akan sangat cantik saat anda pakai, percayalah, kekasih anda sepertinya memiliki jiwa fashion yang tinggi."


'Kekasih, apa aku dan pak Dion seperti sepasang kekasih, kalau begitu apa bedanya aku dan Pak Adrian?'


"Ya sudah makasih ya, Mbak. Dia memang memiliki usaha Fashion," ujar Aluna yang tiba tiba gelisah.


"Sama sama, Nona. Mari" Wanita itu pun mengajak Luna ke sebuah ruang makeup. Aluna hanya bisa mengekor dibelakangnya. 


Ahli kecantikan segera mendandani Luna dengan makeup tipis dan mengolah rambut Aluna seindah mungkin.


"Nona, lelaki romantis pasti akan memperlakukan wanitanya sangat istimewa seperti kekasih anda sekarang."


"Oh dia bukan kekasih saya."


"Benarkah, berarti lelaki itu diam-diam  punya perasaan pada anda."


Penampilan Luna sudah berubah menjadi wanita sangat cantik, dia sangat berbeda dengan biasanya, lipgloss merah  sedikit berkilau dan sedikit polesan di pipi dan sekitar mata membuat dia bagaikan bidadari kayangan. Rambutnya juga direka dengan hiasan yang tepat menjadi begitu indah, poni depannya dibiarkan menjuntai ke kanan dan kiri setelah mendapat sedikit sentuhan perias.

__ADS_1


"Mbak, apakah ini saya? Kenapa saya jadi cantik? Ah saya jadi mengagumi diri saya sendiri." Aluna takjub dengan dirinya sendiri. 


"Siapa bilang anda jelek, anda sangat cantik." Wanita itu tersenyum bangga dengan hasil karyanya.


Setelah memakai makeup, Luna memakai baju, masih dibantu dengan perias handal.  Aluna mencoba untuk berputar di depan cermin, baju yang ia kenakan melekat begitu indah ditubuhnya. 


"Anda sangat cantik Nona, sungguh." pujinya


"Terima kasih." Aluna membungkuk sedikit. 


"Perfect" perias berkata dengan tersenyum, puas dengan karyanya sendiri.


Anda bisa turun sekarang Nona, lelaki istimewa anda sudah menunggu.


Iya, terima kasih ujar Luna sambil memakai sepatu dengan hak tinggi yang anti keseleo karena ada tali pengamannya.


Setelah semua selesai Luna dan perias keluar bersama dan mereka berpisah setelah di depan pintu kamar.


Ben yang ditugaskan menunggu Luna keluar, dia melongo seperti kambing ompong.


"Mari, aku tunjukkan tempatnya."


Luna sudah sampai di tangga, tinggal turun beberapa undak sudah sampai di ballroom. Ben dibelakangnya sudah raib. Aluna terkejut melihat orang-orang sudah banyak yang tiba disana lebih dahulu.


Dion melambaikan tangan dan tersenyum pada Luna. Setelah itu dia hanya terpaku di tempat karena takjub melihat bidadari di depannya.


"Luna! Kaulah itu" senyumnya mengembang. Matanya melebar lama tak berkedip. 


Dengan langkah malu-malu Luna menuruni anak tangga satu persatu, gaun mengembang sepanjang lutut dengan belahan dada sedikit rendah, dan ramping di dibagian perut  itu mampu menghipnotis khalayak pria yang ada di sana. 


'Kenapa memandangku seperti ini? Tolong alihkan pandangan kalian, aku malu, ini pertama kalinya aku memakai gaun, tolonglah jangan lihat aku seperti ini.' batin Luna.


Kalo Aluna mulai gemetar, dia tak bisa konsentrasi melangkah lagi. 


'pak Dion, tolong aku. Jangan biarkan mereka memandangku seperti ini, apa aku kelihatan lucu, atau bahkan sangat memalukan.' Luna terus saja berkata dalam hati. 


Dion yang tahu Aluna sedang nervous segera berdiri dari tempat duduknya, berjalan maju menuju tangga sambil melewati beberapa barisan.


Ya, Dion rupanya selain liburan, dia juga memiliki tujuan lain, dia mulai membuka cabang di Bali, dia mengundang seluruh client penting yang bekerja sama.

__ADS_1


Dion menjemput Luna layaknya seorang pangeran, berjalan dengan gagah naik beberapa anak tangga dan mengulurkan tangannya di depan Luna. 


Aluna dan Dion mendapat tepuk tangan meriah dari client, sesungguhnya yang baru terjadi tidak ada dalam skenario rencana Dion. 


Beberapa orang mulai berbisik dan bertanya pada teman-temannya,  apakah wanita yang bersama Dion dia seorang model atau anak orang hebat,. Anak siapa?


"Aluna, kau sangat cantik. Bahkan kau menjadi sorotan malam ini, lihatlah mereka memandangmu padahal kekasih dan istrinya ada disebelahnya." Dion berkata sangat pelan, saat menarik tangan Aluna agar menggamit lengannya. 


"Pak Dion, aku sangat malu, ini bukan diriku yang sebenarnya."


"Malam ini saja, aku ingin tunjukkan padamu, kalau kau tak jelek, kau selalu tak percaya diri menyebut diri sendiri kampungan, aku tak terima." ucap Dion lagi, saat ini mereka hampir sampai di nomor meja tempat Dion duduk tadi. 


Adrian dan Angeline baru sampai, Adrian juga menunggu Angel yang sangat lama saat berdandan, dia tak mau ada wanita yang nantinya akan menyaingi dirinya di pertemuan ini.


"Maaf,saya sedikit terlambat, Adrian berjalan dari arah pintu masuk, Angeline terus menggamit lengan kokoh pria yang berstatus kekasihnya itu. 


Adrian terkejut melihat wanita yang sedang bersama Dion, mereka tampak cantik dan serasi.


Adrian butuh waktu agak lama untuk memastikan wanita itu Aluna, lesung pipi dan tahi lalat kecil membuat Adrian yakin dugaannya tak salah. 


'Aluna, dia Aluna Kan?'


"Rian awas, meja!" Angeline menarik tubuh Adrian namun terlambat. Sesungguhnya dua orang memakai baju couple juga itu, sama sama gagal fokus dengan wanita yang ada di sisi Dion. 


 Adrian kurang konsentrasi hingga lututnya  kejedot meja kosong, dan menimbulkan suara nyaring. Prang!


Angeline terlihat sangat malu dengan Adrian yang konyol." Rian jangan bikin malu."


"Angeline, sorry. Aku tak sengaja." Lirih Rian sambil berusaha tersenyum pada orang yang memandang dan sebagian tertawa, sambil menangkupkan kedua tangannya. 


"Hari ini aku malu Rian, kemana pandanganmu sampai kau melakukan hal konyol seperti ini."


"Kau juga, kenapa tak ingatkan jika ada meja di depanku."


Dua orang dengan wajah cemberut segera duduk di meja kosong, mood mereka hari ini benar benar berubah sangat buruk. 


*Happy reading.


*Yuk man teman, kasih votenya, bunga dan like jangan malu malu.

__ADS_1


__ADS_2