Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 230. Melahirkan.


__ADS_3

Dokter Nabila dan Jayden segera memeriksa Luna. 


"Kak, tensi Luna terus turun. Sekarang saja tinggal seratus," ungkap Nabila pada kakaknya. 


Jayden mendekati adiknya, memeriksa ulang tensi Aluna. Dan memang benar tekanan darah Aluna terus saja turun. 


"Luna apa kamu takut?"Jayden berkata lembut pada luna sambil memandang wajah wanita yang keningnya sedang banjir keringat itu.


Luna mengangguk. "Ini pertama kalinya, tentu aku sangat takut."


"Relax Luna, kamu pasti bisa." Jayden melirik pada adiknya. "Na, panggil Dion biar dia menemani Luna saat melahirkan.


"Baiklah Kak." Nabila segera keluar memanggil Dion, dan ternyata diluar, Dion sedang mendapat amarah dari Mama Melani. 


"Dion, mama nggak pernah nyangka, setelah menjadi calon papa kamu malah bersikap bodoh, sekarang juga kamu tidak perlu dekat dekat dengan Angeline, dia itu jisng masalah."


"Ma, aku melakukannya untuk membantu Adrian. Dan kini sudah berhasil, Dion janji setelah ini tak akan berhubungan dengan dia lagi"


"Mama tahu niat kamu baik, tapi mulai sekarang mama minta pada kamu Dion, pikirkan keluargamu sendiri, Angel itu licik."


Dion mengangguk, tanda setuju ucapan Mama, kedatangan Nabila membuat obrolan mereka harus berakhir. 


"Na, gimana kondisi Luna?" Tanya Dion mendahului kalimat yang akan Nabila ucapkan. 


"Luna terlihat takut melewati persalinan pertamanya Kak Dion, kondisinya drop dan dia terlihat tegang, Kakak boleh masuk sekarang menemani Luna, dan menguatkan hatinya. 


"Syukurlah aku boleh menemani Luna. Baiklah aku segera kesana," Dion segera berdiri dari tempat duduknya dan mengekor di belakang Nabila. 


Dion langsung menghampiri Luna yang tengah berbaring dan segera menggenggam tangannya. 


Jayden mendekati Dion dan mengatakan banyak hal. "Istri anda memilih melahirkan bayi kembarnya secara normal. Jika bersedia, anda bisa membujuknya, siapa tahu dia bersedia lahiran dengan Caesar. Karena melahirkan bayi kembar akan membutuhkan energi yang sangat banyak."


Dion membelai rambut Luna yang tengah terbaring menahan sakit, sambil menggigit bibir bawahnya yang terlihat makin pucat karena kulit luarnya pasti sudah mengelupas. 


Luna segera memejamkan mata ketika sakit menghampiri, genggaman tangannya pada tangan Dion juga semakin kuat. Dan sebaliknya. Beberapa menit kemudian sakit itu mulai menghilang dan genggaman tangan Luna kembali mengendur.

__ADS_1


Dari pojok ruangan Luna, Nabila terlihat menghubungi seseorang. Dion yakin itu suaminya. 


Buat apa juga Nabila harus memberitahu Adrian, kalau Luna ingin melahirkan, hal itu tentu membuat Dion kurang suka. 


"Sayang pasti sakit sekali ya?" Dion membalas genggaman tangan Luna yang kembali menguat. Dion seolah ingin menyalurkan energi yang dimiliki lewat tautan telapak tangan mereka. 


Aluna mengangguk lemah. "Iya." Sepatah kata yang keluar dari bibirnya yang putih memucat 


Melihat istrinya demikian, sungguh hati Dion menangis, tak tega melihat Luna harus berjuang sendirian, kesakitan, demi kebahagiaan semua orang. terutama keluarga Sunderson.


"Honey, Caesar aja ya, biar kamu tidak terlalu payah." 


"Caesar dan lahir normal sama saja, sama-sama sakit. Biarlah aku berusaha dulu, doakan saja aku bisa." Kata Luna lirih, senyum tipis terbit di bibirnya.


Pandangan Luna beralih pada Mama di kaca pengintai. Nenek juga ada disana. Bahkan Jessica terlihat masih memakai seragam proyek. Jessica ternyata benar-benar melaksanakan amanah dari Aluna. Dia selalu datang ke proyek pembangunan restaurant yang sedang berlangsung menggantikan Aluna yang tengah hamil besar.


Nabila mendekati Keluarga Dion, menangkupkan tangannya, minta maaf, karena dia harus menutup kaca dengan tirai dan memeriksa Aluna lebih lanjut. Sementara hanya Dion saja yang boleh ikut masuk.


"Tante, Nenek. Nabila tutup dulu, semoga kalian bisa menunggu kelahiran buah hati keluarga Dion Sunderson dengan tenang."


Baru saja duduk, Adrian datang. Adrian segera mengambil posisi di sebelah Nenek.


"Rian, kamu nggak kerja?" tanya Nenek yang melihat Adrian sudah santai di jam kerja.


"Kerja Nek, aku datang kesini sengaja di hubungi Nabila, dia kasih kabar kalau bayi Dion akan segera launching." kata Rian. sambil menyusupkan tangannya di punggung nenek.


"Kamu kapan kasih kabar gembira ke nenek, Rian? kamu sudah ketinggalan beberapa langkah dari Dion. cepat dong, bikin Nabila hamil."


"Sabar Nek, Nabila pasti akan segera hamil." kata Adrian mengeratkan tangannya lalu mencium pipi Nenek yang mulai terlihat keriput.


"Akhhh kamu pasti nggak mau Nabila hamil cepat. Aku tahu kamu pasti akan memikirkan karier lebih dulu, Rian." nenek menjatuhkan lengan Adrian dari punggungnya tanda dia kecewa dengan Adrian.


"Awalnya Adrian memang berfikir begitu Nek,tapi Nabila malah sayang sama bibit-bibit premium Adrian kalau dibuang sia sia, Jadi tinggu kabar bahagianya ya."


"Untung Nabila menantu cerdas, Nenek bangga sama Dia." Kata Nenek yang terlihat lega.

__ADS_1


-


-


Di ruang bersalin Aluna sedang merintih kesakitan, wanita itu berusaha untuk tidak menjerit. kontraksi makin lama makin sering, bahkan kini tak ada jeda lagi.


Dion setia menggenggam tangan Luna dan terus mengusap lelehan keringat yang mengucur deras dari kening dan juga lehernya.


"Sayang, ini sakit sekali," rintih Aluna hingga mengeluarkan air mata.


"Sayang kamu pasti kuat." Dion tak tega melihat Luna yang kesakitan, sebagai laki-laki sejati ini pertama kalinya dia menangis hingga sesenggukan.


"Mbak Luna, kita periksa dulu sudah bukaan berapa sekarang." Nabila memakai sarung tangan lembut pada kedua tangannya lalu membuka paha Aluna lebar-lebar dan menekuk lututnya. Nabila lalu memasukkan jarinya ke organ inti Aluna dan menghitung pembukaan yang sudah terlewati.


Nabila menghitung pembukaan yang sudah di lalui Aluna, ternyata sudah bukaan delapan.


"Dokter Nabila, memangnya ada berapa bukaan yang harus dilewati."tanya Dion.


"Antara sembilan sampai sepuluh, jadi mohon sabar sebentar, tak lama lagi bayinya akan segera lahir." kata Nabila yang sudah sempat menyentuh kepala dan melihat rambut bayi.


"aaaa." Luna tak bisa lagi menahan suaranya untuk tidak teriak, sakitnya menjadi berlipat lipat rasanya.


Dion memeluk Aluna dan memberi support dengan mencium kening istrinya bertubi tubi seraya terus mengucap kalimat sayang.


"Honey kamu pasti kuat, tenang ada aku disini, aku akan selalu ada di sisimu," kata Dion. Aluna terharu, Dion benar-benar suport Aluna.


"Aaaaa." Aluna merasa ada dorongan yang amat besar dari dalam perutnya. dia kini malah mengejan sendiri tanpa bisa menahan lagi.


Nabila ternyata diam-diam sudah memberikan suntikan perans*ang untuk Aluna saat memeriksa bukaan tadi.


"Aaaaa, sakit." Aluna terus aja merintih.


"Tolong tubuhnya miringkan sebentar, Mbak. rambut bayinya sudah mulai kelihatan." kata Nabila ikut bahagia.


Aluna memiringkan tubuhnya sambil terus mengejan. Setelah tiga kali mengejan, Nabila kembali memerintahkan agar Luna terlentang.

__ADS_1


" Bagus mbak. Ayo mbak Luna Dikit lagi." Nabila berulang kali mengintip bayi Luna yang tentunya juga tak sabar lagi mau keluar.


__ADS_2