Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part7. Cantik hanya casing.


__ADS_3

Aluna segera masuk ke ruang OG, dia mengedarkan pandangan ke dapur dan kursi-kursi, terlihat sepi. Reno dan Nina pasti masih sibuk di lantai paling dasar, membersihkan tempat fashion show, yang akan dipakai hari ini.


Aluna ingin segera menyusul teman temannya. Untuk mempersingkat waktu Aluna menggunakan lift. Di dalam lift kebetulan dia sendiri.


 Aluna bisa sepuasnya menumpahkan beban dihatinya. Dia menangis sesenggukan sendiri, bayangan sosok bapak yang menyayanginya, kembali berkelebat. Pria yang selalu memanjakan dirinya, selalu bertutur kata lembut padanya, tak pernah sekalipun menghina kini sudah tidak ada lagi. 


Aluna menangis sejadi-jadinya memanggil nama bapaknya, bayangan bagaimana pria yang menjadi cinta pertamanya itu belum bergeser sedikitpun dari ingatannya. 


Bagaimana Yusuf dulu begitu kritis dalam soal penampilan, melarang anak gadisnya memakai baju mini dan berdandan berlebihan, Yusuf terlalu khawatir melihat anak putrinya terlihat terlalu cantik di depan pria, Yusuf tak rela jika Aluna akan menjadi incaran kaum pria ketika usianya masih muda, terlebih lagi dia juga miskin. Aluna takut pengalaman yang terjadi pada dirinya akan menimpa Aluna. 


Rasa sayang Yusuf yang besar menjadikan sosok Aluna menjadi cupu dan tak kenal make-up. Apalagi hobinya membaca sambil tidur membuat matanya diserang miopi saat masih kelas satu SMA. 


"Bapak, Aluna merindukan Bapak … Aluna ingin sekali memeluk Bapak, walau satu kali saja. Aluna sekarang sendiri Pak. Aluna nggak ada teman lagi. Pak Adrian hanya marah-marah terus. Aluna pengen pulang kerumah saja. Aluna nggak mau tinggal dengan orang kaya itu …. Boleh ya Pak, Aluna pulang saja." Aluna duduk memeluk lutut sambil sesenggukan menahan tangisnya. 


Aluna mencari ponsel yang ada di saku celana. Dia ingin melihat foto Bapak untuk mengobati rasa rindunya. Layar ponsel Aluna berulang kali kejatuhan air mata, Aluna mengusapnya ke samping lalu mencium wajah pria yang terlihat tetap tampan di saat usianya lima puluh itu. Semakin lama Aluna melihat foto itu, semakin besar rindunya.


Aluna mengelus wajah Yusuf di layar ponsel. "Sebentar lagi Bapak ulang tahun yang ke lima puluh, Aluna ingin belikan Bapak hadiah special, Aluna akan membeli dengan gaji Aluna yang pertama Pak. Bapak malah pergi selamanya."


Aluna kembali mengecup ponselnya sebelum memasukkan ke saku, dia sadar kalau lift sudah berhenti dan diluar sudah banyak yang mengantri masuk. 


Saat Aluna keluar, beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh. Aluna tak memedulikan mereka, yang dia lakukan hanya melepas kacamata dan mengusap lelehan airmata. 


Nina dan Reno melambaikan tangan ke arah Aluna, dua sahabat itu pasti sudah mencarinya sejak tadi. Aluna baru tau di lift tadi, kalau ada panggilan berulang kali dari Nina. 


"Kemana aja sih Lun."


"Maaf Nin, aku baru saja selesai bersih-bersih ruangan CEO dan Pak Tito. Oh iya kalian berdua sarapan dulu ya, aku tadi sudah soalnya di traktir Pak Tito," Aluna mencoba jujur.


"Aluna, jahat banget sih, di traktir Pak Cool nggak ajak-ajak kita. Rasanya pasti nikmat banget sarapannya tadi." Nina menggoda sahabatnya. 


"Sama aja rasanya Nin, ayam goreng lalap. Nggak akan berubah menjadi ayam rica rica," canda Aluna.


"Pak Tito baiknya cuma sama kamu doang Lun, kayaknya Kamu mesti hati-hati nih, yang gue dengar Pak Tito itu playboy." Nina sengaja memberitahu Luna supaya sahabatnya tidak mudah tertipu oleh kepiawaian Tito dalam merayu gadis gadis. 

__ADS_1


"Aku nggak sedang cari pacar Non, playboy atau enggak terserah dia. Ngelantur Nina ini, buruan sarapan, Reno kamu juga." perintah Aluna yang di kabulkan oleh teman temannya.


"Ok kita berdua sarapan, kita tinggal dulu ya?" 


Dibalas anggukan oleh Aluna. 


Nina dan Reno membuka celemek dan menaruh ke dalam loker. Sedangkan Aluna meneruskan pekerjaan teman-temannya, mengepel lantai yang akan dijadikan lokasi fashion show. 


Dua jam Aluna sudah menyelesaikan pekerjaan semrawut itu, setelah semua dipastikan finish dia segera meninggalkan ruang fashion show, karena Tito mengirimkan sebuah pesan.


Kopi satu Lun, nggak pake susu.Isi pesan dari Tito, singkat padat dan jelas.


Oke, ditunggu, Pak.


 Aluna segera kembali keruangan OG untuk membuat kopi. Aluna belum tahu kopi kesukaan Tito seperti apa dan kesukaan Adrian. Apakah dia suka kopi pahit atau manis. 


Aluna menghubungi Nina dan Reno, tapi sepertinya dia masih asyik sarapan, dua duanya tak bisa dihubungi. 


Lun, Aku tunggu di ruangan Boss, dua sekalian ya.


Tito segera membaca balasan dari Luna. Dan kembali mengetik setelah melihat Aluna masih online. Aku suka pahit, nanti rasanya akan berubah manis kalau kamu sendiri yang anterin.


Tito sudah biasa bicara gombal di depan cewek, terlebih lagi kalau dia karyawan baru di Alexa Fashion. Termasuk Luna, Tito merasa gadis itu unik, dia memang cupu tapi Luna memiliki kulit yang putih dan lekuk tubuh yang indah. 


"Tito, Fokus!" Suara Adrian membuat Tito terjengkit kaget. Begitu juga dua orang pengawal yang berdiri di belakangnya. "Ini jam kerja! Kamu mau makan gaji buta"


"Perhitungan kebangetan, aku cuma pesan kopi pada Luna OG baru itu. Sambil bahas pekerjaan pasti makin mantap, jika ditemani secangkir kopi," jawab Tito merasa tak bersalah, dia menghempaskan tubuhnya diatas sofa lalu memangku satu kakinya.


Adrian menarik nafas, terasa berat. Menyembunyikan rahasia yang tak ingin orang lain tahu. Yang membuat lebih kesal, kenapa Tito bisa akrab.


Keberadaan Luna di kantor ini bisa jadi bumerang untuk nama baiknya, bisa dibayangkan kalau ada yang tahu, pasti akan membuatnya tak punya muka.  Akan tetapi kalau dia memecatnya, Luna pasti akan kerja ditempat lain dan itu pasti akan membuat dia lebih sulit memantau. Apalagi Luna masuk perusahaan juga rekomended dari Tito, pemecatan secara tiba tiba akan menjadi sebuah pertanyaan untuk sahabatnya itu. 


Luna membawa dua cangkir kopi dengan hati-hati menuju ruangan CEO. Pengawal mengizinkan masuk setelah dia melihat apa yang dibawa Aluna. 

__ADS_1


Kedatangan Aluna membuat Tito dan Adrian tertarik untuk menoleh hampir bersamaan. 


Tito segera mengambil kopi panas dari atas baki sambil tersenyum. "Makasi, ya Lun."


"Sama-sama pak Tito." Aluna segera pindah di dekat Adrian. Pria itu terlihat mengurut kening dan sekali menyusut hidung runcingnya. 


"Pak Adrian ini kopi anda."


"Ya, taruh saja." Adrian segera berdiri mengambil satu buku di rak, Aluna tau Adrian melakukan hanya untuk menghindari dirinya. 


"Luna, kamu sudah bisa tinggalkan kami, terima kasih kopinya." ucap Tito kemudian.


"Sama-sama, Pak Tito." Aluna sedikit membungkuk lalu mundur beberapa langkah dan berbalik ketika sudah jauh dengan dua orang tertampan,  atau lebih tepatnya orang hebat di Alexa fashion


 


Sampai di undakan Aluna dan Angeline berpapasan, Aluna begitu takjub melihat wanita yang menjadi kekasih suaminya itu. Tujuh hari yang lalu Angeline berambut pirang, sekarang sudah berambut ungu, warna kornea mata yang digunakan juga sudah berubah. Benar-benar cantik laksana seorang dewi.


Aluna hanya bisa terbengong melihat Angel yang ditemani dua sahabatnya, wajah kedua temannya juga cantik, tetapi tetap Angeline yang paling cantik.


Angeline memasang wajah sinis pada Aluna, ingatannya masih sangat segar kalau gadis itu yang sudah menumpahkan air pel di bajunya. 


"Kau OG yang kemaren sudah kurang ajar itu ya?"


"Maaf, aku kemaren tidak sengaja melakukannya." Kekaguman Aluna berubah jadi kesal, ternyata Angeline masih mempermasalahkan kejadian seminggu yang lalu. 


"Beruntung banget ya nasib office girl kampungan sepertimu, harusnya waktu itu Adrian langsung saja memecat kamu, hingga hari ini aku tak perlu lagi melihat wajah jelek ini." Angeline mendorong kening Aluna hingga mendongak ke belakang.  


Aluna memilih diam, memendam emosinya cukup di dada, dia tak mau punya urusan yang berbuntut panjang pada wanita jahat didepannya. Kalau dia melawan Angeline pasti akan mengadukan pada Adrian.


"Angeline, waktu fashion show tinggal beberapa jam lagi, nggak ada untungnya kamu buang buang waktu untuk OG cupu seperti dia." Asisten Adrian yang bernama Rosa mengingatkan. 


"Huss … pergi sana, merusak pemandangan saja. Kok ada sih makluk berpenampilan katrok kayak dia di era modern begini." Asisten Tito yang bernama Sisil ikut ikutan mengusir Aluna seperti mengusir ayam. 

__ADS_1


Setelah berhasil mengatai Aluna, mereka bertiga segera melanjutkan langkahnya menuju ruang make-up dan kostum. 


"Mending jelek! Kampungan! Tapi nggak suka menyakiti hati orang! Kamu semua pada cantik tapi yang keluar dari mulut cuma Bisa!" Teriak Aluna yang tak mungkin lagi di dengar oleh ketiga wanita yang memiliki hubungan dekat dengan CEO itu. 


__ADS_2