
"Angeline, turunkan pistolnya, kalau kamu nekat menembak kamu akan mendekam dipenjara seumur hidup." Aluna berusaha menakuti Angeline dengan hukum.
"hahahaha, hukum di negara ini sama sekali tidak membuatku takut, pembunuh bisa berkeliaran karena uangnya banyak," kata Angeline, dengan rambutnya yang berantakan diterpa angin tebing.
"Luna cepat pergi dari sini, jangan pedulikan ibu, dia mengincar nyawamu, Nak," pinta Lasmi.
"Tidak Bu, aku akan pergi dari sini jika bersamamu."
"Ayo Luna, tanda tangani surat diatas batu itu, cepat!!"
Luna melirik kertas diatas batu besar, dia benar-benar dilema, antara rumah tangga dan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
Luna akhirnya memutuskan untuk menandatangani surat yang entah apa saja isinya, berharap Angeline segera melepaskan ibunya yang jaraknya tinggal setengah meter dari bibir tebing.
'Maafkan aku Mas, semoga kau bisa mengerti, aku sedang tak ada pilihan. Jika kita ditakdirkan untuk bersama selamanya, pasti akan ada jalan untuk bersatu lagi.'
Luna menyerahkan kertas pada Angeline yang masih mengancamnya dengan pistol.
"Aku sudah menandatangani surat ini, sekarang penuhi janjimu. Cepat berikan ibu kepadaku!" Aluna menyerahkan surat pada Angeline.
Gadis itu puas Aluna sudah menandatangani setiap lembarnya.
-Lembar pertama Aluna bersedia cerai dari Dion.
-Lembar ke dua Aluna bersedia memberikan hak miliknya pada Angeline.
-Alina akan menolak jika Dion memaksa meminta balikan.
-Aluna berhak patuh pada perintah Angeline.
-Aluna tidak akan menemui Dion dan membawa pergi kedua anaknya sejauh mungkin, atau tetap tinggal tetapi hanya sebagai asisten rumah tangga.
"Hahaha. terimakasih sudah menandatangani surat ini, tapi aku jadi berubah pikiran Luna. Dion pasti akan meminta kamu kembali dengan kekuasaan yang dia miliki, tapi jika kamu pergi dari dunia ini selamanya, aku tidak lagi memiliki saingan.
"Nona, ijinkan aku menembak wanita ini," teriak Beni.
"Jangan Beni! Dia akan mendorong ibuku," kata Aluna.
"Dia akan membunuh anda Nona." teriak Beni lagi.
"Tapi ibuku bagaimana?" Aluna tidak mau ibunya meninggal dengan cara tragis.
"Door." Angeline menembak perut Beni. Angeline benci Beni banyak bicara.
Aluna tak percaya Angeline sekejam itu.
"Angeline, sudah cukup! apa yang kamu inginkan susah aku kabulkan, kamu bisa bersama Dion, sekarang berikan ibu padaku."
"Tidak Luna, kamu dan Ibu harus sama-sama mati. Aku tidak mau melihat kamu berdua masih menginjak bumi ini. tidak akan ada lagi yang menjadi saksi mata. Beni sebentar lagi pasti akan mati."
__ADS_1
"Ini bukan kamu yang sebenarnya Angeline, kamu adalah wanita yang baik, ayo berikan ibu padaku." Aluna mendekat dengan hati-hati, dia berusaha merayu Angeline. tapi makluk yang sudah kerasukan iblis seperti dia, tak mungkin hatinya bisa di luluhkan lagi.
"Jangan maju!!"
"Tidak Angel aku harus bawa ibu pulang. Ibu sudah kesakitan dengan kamu mengikatnya seperti itu.
Dooor!
Angeline nekat menembak Aluna di bagian dada, tapi untung tembakannya meleset di bahu.
"Aaaa." Luna memekik kesakitan, dia memegangi bahunya yang sudah berlumuran darah.
Ditembak oleh Angeline bukannya malah takut, kini Luna benar-benar marah. "Dasar wanita serakah, sudah kuberi apa yang kau inginkan tapi sekarang kau malah membuat aku marah."
Aluna menerjang tubuh Angeline hingga tubuhnya terjerembab ke tanah. pistol ditangannya terlempar jatuh ke jurang.
Angeline kaget dan panik, senjata untuk menakuti Luna tak ada lagi.
Sambil menahan perih di bahu, Luna menduduki perut Angeline dan memukul pipinya dengan bertubi.
Angeline tidak kehabisan akal, dia menekan luka di bahu Luna dengan kuat, Luna menjerit kesakitan.
Angeline memanfaatkan kesempatan ini untuk menggulingkan tubuh Luna.
Tanpa rasa kasihan, Angeline memukul perut Luna sekuat-kuatnya hingga Luna kesakitan.
"Awwww." pekik Luna.
"Luna! maafkan ibu Nak." Lasmi meronta dari kursi roda berharap dia bisa terlepas dari tali yang mengikatnya.
Tubuh Luna limbung, lalu meringkuk sambil memegangi perutnya, Luna tahu bayi diperutnya tengah terluka.
Gaun cantik warna merah muda yang dipakainya kini berlumur dengan darah.
Angeline menyeret tubuh Luna hingga mendekati tebing, Angeline hendak menendang tubuh Luna. Wanita yang kehilangan bayinya itu berusaha bertahan dengan memegangi kaki angeline.
"Lepaskan kakiku." Angeline menghentak hentakkan kakinya hingga kesal karena Luna tak mau melepaskan.
"Aku bersyukur Dion maupun Adrian tidak memilihmu menjadi istri. kamu ternyata sangat jahat, kamu tidak pantas berada di tengah manusia, kamu binatang Angeline!"
"Diaaam!!" Angeline memekik keras.
"Sekarang siapa yang bertahan, dia yang akan memiliki Dion. Namamu sebentar lagi akan menjadi kenangan Luna." Angeline terus saja menghentak kakinya dan mendorong tubuh Luna semakin ke tepi.
Luna yang merasakan sakit luar biasa tak tahan lagi, pandangannya kini mulai buram karena darah terus keluar dari bahu dan juga sela-sela pahanya.
Melihat musuh tak berdaya Angeline sangat puas, sebentar lagi dia akan mengakhiri sebuah cerita dengan tokoh utama yang bernama Luna.
Angeline menyeret Luna yang sudah tak kuasa melawan lagi. Tawanya terus saja menggema.
__ADS_1
"Luna-Luna, harusnya aku dari dulu melakukan semua ini." Angeline hendak menendang Luna sekuatnya hingga tubuhnya terguling dan jatuh ke tebing curam yang dibawahnya mengalir sungai deras.
"Door" Rupanya beberapa polisi menembakkan peluru tepat di kaki Angeline.
Dion yang melihat Luna terluka, dia segera memangku tubuh istrinya dan memeluknya erat. "Aku tidak akan memaafkan wanita laknat itu.
Angeline ketakutan karena dia ketahuan telah melukai Luna dan menembak Beni.
Angeline yang terluka di kaki dan betisnya hendak berlari terjun ke jurang, tapi Dion segera menangkap tubuhnya.
Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah karena kamu sudah melukai istri yang sangat aku cintai. dan membunuh bayiku yang tak berdosa.
"Kamu harus mati dengan berlahan dan menyakitkan Angeline," geram Dion sambil menangkap dan membawa tubuh Angeline lalu menyerahkan ke polisi.
"Kamu akan lumpuh di kedua kakimu, dan tinggal di jeruji besi, bukankah itu akan sangat menyakitkan dari pada mati, Angeline."
"Kamu kenapa jahat Dion, aku mencintaimu tapi kamu malah membalas ku dengan keji seperti ini."
"Cih." Dion meludah. karena dia tahu cinta Angeline bukan pada Dion melainkan pada harta yang dimiliki.
"Bawa dia dan hukum seberat-beratnya atas perbuatan keji yang dilakukan pada istriku, aku ingin melihat wanita itu duduk diatas kursi roda tanpa kedua kakinya." kata Dion memerintahkan polisi membawa Angeline.
Sedangkan Jayden dan Nabila beserta petugas kesehatan segera membawa Luna ke ambulan, dan Beni di ambulans satunya.
Jayden segera memasang jarum untuk infus dan juga untuk penambah darah.
Jayden khawatir Luna kehabisan darah, karena darah yang keluar dari tubuh Luna terlalu banyak.
Luna pernah menjadi pasien Jayden, oleh sebab itu dia ingat betul golongan darah Luna, hingga mempercepat penanganan.
"Luna, bertahanlah Sayang, maafkan aku yang lalai menjagamu."
"Bangun sayang, bertahanlah, demi aku dan anak-anak." Dion terus saja menitikkan air mata hingga matanya sembab sebesar bola tenis. tangannya tak berhenti mengusap rambut Luna.
"Honey ayo buka mata, jangan pernah tinggalkan aku."
"Kak, yang sabar ya, Mbak Luna pasti akan segera siuman."
"Jess, dia pasti sangat kesakitan, lihatlah darahnya ada di mana mana. Luna pasti sedih bayinya telah hilang."
"Sabar Kak, ini namanya coba'an."
"Gue nyesel Jess, kenal wanita itu di dunia ini. kenapa gue harus mengenalnya." Dion terus saja menciumi tangan Luna sepanjang perjalanan ke rumah sakit dan menyesali pertemuannya dengan Angeline.
Bu Lasmi dibawa oleh asisten Dion ke rumah besar untuk dirawat, bagaimanapun Dion masih melihat cinta Luna pada ibunya, jadi Dion tidak keberatan kalau Lasmi di rawat di rumahnya.
Sampai di rumah sakit, Luna segera mendapat perawatan langsung dari Nabila dan dokterJayden beserta dokter ahli lainnya.
Tak sampai satu jam peluru di lengan Nabila sudah berhasil di keluarkan, baju Luna juga sudah di ganti dengan baju rumah sakit. Karena kehamilan masih sangat muda, Luna tidak perlu kuret, darah yang keluar masih seperti darah mens biasa.
__ADS_1
Namun Aluna tetap melakukan serangkaian USG dan juga foto Rontgen untuk meyakinkan kalau tak ada darah yang membeku di rahimnya.