
Seminggu di rumah sakit Aluna sudah izinkan pulang oleh dokter.
"Nona Luna, anda sudah boleh pulang, dan selamat atas pernikahannya ya!"
"Terima kasih dokter, datanglah nanti di pesta pernikahan kami. Tunggu saja undangannya."
"Aku akan datang." Kata Dokter muda nan tampan bernama Jayden keturunan indo belanda, yang selama seminggu sudah merawat Aluna.
"Terimakasih." Dokter membantu Dion membawa Aluna ke kursi roda. Sebenarnya Aluna sudah bisa berjalan meski pelan, tapi lelaki itu tak mengijinkan Aluna menyentuh tanah terlalu lama. Dia terlalu menyayangi Aluna yang sudah menjadi miliknya.
"Tuan, Nona Aluna sudah sembuh, hanya butuh pemulihan saja, syukur tidak ada yang patah. Anda bisa datang untuk kontrol setelah dua hari lagi.
Terimakasih dokter." Dion menjawab ramah. Namun dia sedikit cemburu saat dokter tak sengaja memeluk pinggangnya tadi.
Namun akal waras Dion masih bisa sadar kalau dia sudah membantu Aluna dimasa sulit. Lagian Dokter tadi pasti berniat membantu saja.
Dion mendorong kursi roda. Mama dan Papa memeriksa barang Aluna takut setelah semua dibawa bibi keluar ada yang tertinggal.
"Sayang, ponsel sudah?" Tanya Melani penuh rasa sayang.
Aluna merogoh sakunya. "Sudah Mam," jawab Aluna.
Aluna dan keluarga barunya pulang melewati pintu lift. Bibi sudah menata barang-barang di bagasi dan duduk di bangku paling belakang.
Dion dengan telaten membopong tubuh Aluna ke kursi penumpang lalu dia duduk di sampingnya. Mama dan papa di depan. Kali ini papa sendiri yang mengemudi.
"Honey, kita pulang ke rumahku sekarang, karena kita sudah sah suami istri," kata Dion sambil menutup pintu dan membantu Aluna memasang sabuk
Aluna mengangguk, meski dia merasa belum akrab dengan keluarga Dion. Tapi nyatanya mereka yang menjemput dirinya.
"Tapi barang-barang Luna masih di kontrakan," jawab Luna yang bingung nanti harus pakai apa. Sedangkan yang dia miliki saat ini hanya lingerie lucu dan seksi.
"Sayang, baju dikontrakkan, biarkan saja, nanti bisa kita pakai saat bermain kesana mama dan Jessica tadi sudah belikan baju baru buat kamu." Dion menoleh ke arah Aluna lalu mengecup pipinya.
"Ehmm." Mama yang tak sengaja melihat kemesraan Dion berdehem.
"Sabar Dion, Aluna belum sembuh betul, nanti di rumah kalian nggak boleh malam pertama dulu," kata mama.
__ADS_1
"Iya Ma. Dion mengerti," jawab Dion dengan patuh. Lalu menggenggam jemari Aluna. Mereka berdua saling memandang dan tersenyum.
Bersama keluarga Dion. Aluna menemukan kebahagiaan. Keluarga Dion sangat baik dan menyayanginya, Aluna seperti menemukan keluarga kandung.
Setengah jam mereka sudah sampai, Luna kembali terpesona melihat rumah Dion sudah banyak berubah.
"Selamat Datang Nona Aluna, sekarang rumah ini rumah kamu juga." Kata Dion.
Jessika yang sedang libur kuliah, gadis itu menghambur ke arah mobil.
Dia segera mengambil kursi roda yang dilipat Dion di depan duduknya. Dan membuka kembali di depan pintu mobil.
"Aluna selamat datang." Jessica memberi senyum terindah untuk Aluna.
Mendapat perlakuan hangat keluarga Dion. Aluna menjadi terharu, Aluna bahkan sampai meneteskan air mata.
Perlakuan yang sangat berbeda dengan keluarga Adrian.
Dion yang melihat Aluna terisak jadi panik. Begitu juga keluarga yang lain.
"Tidak Ma, sama sekali tidak, Aluna hanya terharu saja." ungkap Aluna.
"Sudah-sudah, jangan menangis, aku nggak mau kamu mengeluarkan air mata lagi, sudah cukup bersedihnya, sekarang aku ingin kau tersenyum." Dion mengambil sapu tangan di saku dan menghapus air mata di wajah Aluna.
Dengan telaten Dion kembali membopong tubuh sang istri yang masih ada beberapa perban yang belum dibuka ke kursi roda.
Setelah Dion dan Luna turun bibi baru turun karena duduk di kursi belakang.
"Sayang, kita langsung ke kamar kita ya." Kata Dion yang langsung mendapat godaan dari papa.
"Ehmmm, pengantin baru sudah nggak sabar banget, tunggu malam kenapa," seloroh David yang langsung membuat semuanya tertawa.
Aluna dan Dion langsung masuk rumah, sedangkan Davit dan Melani izin keluar untuk menghadiri acara.
"Dion! mama dan papa pergi dulu, kalian di rumah baik-baik ya, dan pesan mama tolong jangan nakal, Aluna masih harus istirahat dulu."
"Iya Ma," Dion mengangguk patuh seperti anak SD. Aluna gemas melihat wajah suaminya.
__ADS_1
Dion langsung membawa Aluna menuju kamarnya, yang mulai sekarang akan menjadi miliknya berdua.
Dion terlihat bahagia sekali bisa bersama Aluna dalam satu ruang dan menghirup udara yang sama . Sepertinya kebahagiaan yang selama ini dia miliki tak sebanding dengan hari ini.
Dion membuka pintu dengan kode nomor, pintu seketika langsung terbuka.
Aroma wangi menguat dari dalam. "Selamat datang sayang, ini kamar kita yang akan menjadi kamar berdua."
"Semoga kau akan betah di dalamnya."
Aluna kehabisan kata-kata, kamar seluas empat kali ruang tamu dikontrakkan itu membuat dia terpukau.
Aluna yang diam sambil menelisik seluruh ruangan membuat Dion berfikir Aluna kurang suka.
Sayang, maaf jika kamu kurang suka, nanti aku akan minta sama pelayan untuk merubah seluruh interior yang ada, katakan mana saja yang tidak kamu sukai?" Dion membungkuk di belakang Aluna yang duduk di kursi roda.
Aluna mendongak menatap wajah Dion. " Tak ada satupun yang tak aku sukai di rumah ini, aku suka semuanya. Aku sekarang memiliki keluarga yang menyayangiku, keluarga yang menganggapku manusia."
Aluna kembali ingat rentetan kejadian saat tinggal di rumah Adrian, Chela yang pernah menginjak jari-jarinya, Chela yang memberinya obat pencuci perut, belum lagi sikap kasar mama yang menghukumnya dengan pekerjaan berat jika melakukan satu kesalahan. Adrian yang dingin dan suka bermesraan dengan Angel di depannya tanpa malu.
Aluna menitikkan air mata semakin deras, rasanya kebahagiaan ini sebuah mimpi.
"Sayang kok malah nangis?" Dion berputar dan sekarang posisinya jongkok di depan Aluna.
"Aku bahagia, karena terlalu bahagia jadi aku ingin menangis saja," kata Aluna. sambil mengusap kasar air matanya yang belepotan.
Dion mengambil kedua tangan Aluna, mencium lalu menggenggam dengan kedua tangannya.
Menatapnya intens, namun penuh kelembutan. "Lupakan masalalu yang ada, sekarang kau sudah hidup dengan lelaki berbeda, aku disini untuk membahagiakan istriku, kau dan anak anak kita nanti yang akan menjadi prioritasku, aku hanya ingin melihat istriku tersenyum, bukan malah menangis."
Dion mengecup dua bola mata Aluna yang terpejam, lalu dia mengecup lelehan air mata hingga membuat bibirnya basah.
"Sayang, i love you, i love you ,i love you, jangan menangis lagi, tersenyumlah." Dion mengacak rambut Aluna lalu mengecup keningnya.
"Sayang sekarang kita istirahat dulu, kamu pasti lelah. Aku akan membantumu naik diatas ranjang."
"Tidak, aku ingin lebih akrab dengan semua yang ada di rumah ini. Aku juga merindukan Gemoy, apa dia sekarang sudah hamil anak Swissy. Antarkan aku keliling taman sebentar saja."
"Hmmm, baiklah tuan putri, Pangeran Dion akan mengantarnya. Tunggu sebentar ya, aku mandi dulu. Entah berapa hari aku belum mandi, apa kau tak mencium aroma tubuhku, Honey?" Tanya Dion.
__ADS_1
"Tidak, Kau tetap harum, Sayang," jawab Aluna jujur. Bahkan Aluna suka sekali dengan aroma tubuh Dion meski tak pernah mandi sekalipun.