Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 97. Lamaran dari keluarga Dion.


__ADS_3

Aluna sudah sampai di rumah, dia langsung istirahat di kamarnya. Sedangkan Dion sengaja belum beranjak dari rumah Aluna, karena dia menunggu Reihan dan Diva yang baru saja kasih kabar ingin menjenguk Aluna. 


Setengah jam menunggu, ternyata Reihan Dan Diva sudah tiba dengan naik mobil Ter*ios baru milik Reihan. 


Gadis dan pria itu sepertinya langsung  datang dari kantor menuju rumah Aluna, ditangannya ada sekeranjang buah yang terlihat begitu segar. 


"Boss Dion, maaf baru bisa jenguk Sekretaris Aluna, pekerjaan di kantor lagi banyak, jadi aku dan Pak Reyhan baru ada waktu."


"Iya, nggak apa-apa, aku ngerti kok. Maaf ya pekerjaan aku bebankan padamu setiap waktu."


"Kami mengerti, Bos masih semangat mengejar cinta sejati ."


"Ya begitulah, Do'akan saja." Dion lalu mempersilahkan dua karyawan terpercaya di kantornya itu duduk di kursi sederhana. 


Reihan Dan Diva duduk berdampingan sambil mengamati kondisi tempat tinggal Aluna yang kecil tapi dipenuhi dengan interior mahal. Namun Diva sudah tahu kalau semua barang itu Dion yang membelikan. 


"Rumahnya nyaman ya, aku suka rumah kecil tapi penuh dengan interior unik seperti ini." ujar Diva masih memandang sekeliling dengan kekaguman.


"Akan Mas Reyhan kabulkan, Sayang. Tenang aja, bapak ibuku akan segera melamar." 


"Idih, gombal banget."


"Diva mencubit pinggang kekasihnya."


"Reyhan memekik manja.


Dion hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Dalam hati dia juga ingin cintanya lekas terbalas seperti cinta Reyhan pada Diva.


"Kalian ini," gerutu Dion


"Maaf Pak Dion. Reyhan memang suka sekali menggoda. Dia terlalu kekanakan."


"Aku dukung kalian cepat nikah. Oh iya mau minum apa? Biar Bibi yang buatin." Basa basi Dion pada dua orang yang kini duduk tepat di depannya. 


Sedangkan Luna keluar dengan kondisi sudah cantik, habis mandi sekaligus keramas membuat tubuhnya terlihat segar. 


"Reyhan, Diva." Luna segera berjabat tangan dan duduk disebelah Dion. Lelaki itu mengangkat satu kakinya diatas paha, dan satu tangannya meraih pundak Aluna dari belakang. Aluna sedikit terkejut dengan sikap agresif Dion.


"Syukurlah, Mbak Luna kelihatan sudah sembuh, bisa cepet kerja lagi nie, Bos kita sekarang nggak selera kerja kalau nggak ada Mbak Luna." Reyhan langsung nyerocos.


"Hei, kamu jangan sembarang buka kartu as ya."

__ADS_1


"Kenyataan Pak, anda tak pernah seperti ini sebelumnya." Diva meneruskan membuka aib Dion.


Aluna hanya bisa tersipu malu, pipinya memerah mendengar penuturan Dion. 


"Minumnya Nona geulis, Tuan ganteng," Bibi membawa nampan berisi jus jeruk dan sandwich. Meletakkan dengan tubuh membungkuk sopan, lalu segera kembali lagi ke belakang tanpa ingin mengganggu obrolan. 


"Pak, perusahaan akan mengadakan Fashion Show pada hari minggu nanti," kata Reyhan.


"Bagus, buat skema acara serapi mungkin. Dan jangan ada kegagalan."


"Akan kami usahakan, dan kami minta anda untuk segera hadir ke ke kantor, Mbak Luna juga, pasti sudah bisa datang. Bisa ya Mbak." Diva meraih jemari Aluna setengah memohon. Diva yakin jika Aluna berangkat Dion juga akan berangkat.


"Semoga bisa." Aluna mengangguk pelan. 


"Yakin Luna? Acaranya hari minggu lho?"


"Bisa, aku sudah terlalu lama libur."  Kata Aluna. 


Reyhan segera menyambar sandwich dan meneguk jus jeruk nipis. Berulang kali Diva mengingatkan untuk jangan rakus dengan bahasa isyarat. tapi Reihan mengacuhkan saja.


"Sayang, ini disuguhkan, kita harus memakannya." protes Reihan.


"Benar Diva, kita malah senang kalau makanan yang kita suguhkan itu dimakan, kalau tak disentuh kita malah sedih."


Saat asyik bercanda, dan bercerita hal yang santai tapi masih seputar pekerjaan. Tiba-tiba mereka kedatangan tamu lagi.


Mobil baru seharga satu milyar langsung belok dari jalan hitam, menuju halaman sempit yang tinggal menyisakan ruang untuk satu mobil lagi setelah mobil Dion dan Reyhan merapat. 


Mereka semua langsung berdiri dan keluar menuju halaman menyambut tamu yang kelihatan orang kaya itu. 


 Dion tersenyum senang setelah tahu siapa yang datang.


Mama Melani, Papa David dan juga Jessika segera meninggalkan kursi duduknya dan segera turun.


"Tante Melani, terimakasih sudah datang." Aluna mencium pipi Melani kanan dan kiri lalu memeluknya dengan erat. Hal yang sama dia lakukan pada Jessica. 


Aluna sungguh terharu dengan kehangatan keluarga Dion. Tak percaya orang kaya dan sukses tak membuat mereka semua menjadi sosok yang angkuh dan sombong. Mereka bersedia menjenguk kaum rendah seperti dirinya


"Luna, Jessica kangen banget. Lama nggak main kesana, Gemoy juga rindu denganmu." Alasan Jessica membujuk Aluna supaya sering main kerumahnya.


"Jessica, maaf sayang, aku tentu akan maen kesana lagi, nanti kalau sudah sehat."

__ADS_1


"Tante, Om, mari masuk." Aluna memberi jalan untuk keluarga, Dion supaya masuk dengan nyaman.


Mereka terlihat duduk berdempetan, maklum saja kamar tamu Aluna hanya selebar kamar mandi di rumah Dion. Tapi keluarga itu tak ambil pusing soal materi yang dimiliki Luna, mereka nampak nyaman saja.


"Luna, syukurlah Tante lihat kamu sudah baik-baik saja, Sungguh keterlaluan mantan suami kamu itu, bisa bisanya dia menyakiti wanita sebaik dan secantik kamu," ujar Melani sambil menatap Aluna sambil membelai rambutnya penuh kasih. 


"Mereka sebenarnya tidak ingin menyakiti Aluna Ma, tapi Aluna waktu itu yang menjemput bogem mentah Adrian." Kata Dion berujar jujur.


David yang mendengar ikut berbicara "Papa, ngerti pasti sebenarnya Adrian akan memukul kamu Dion, tapi Aluna yang melindungi, Iya kan? Dugaan papa pasti benar," David mencoba menduga situasi yang tidak dia ketahui. 


"Luna, kerena kamu sekarang sudah resmi menjadi janda, Om dan Tante kesini ingin sekalian melamar aja gimana?" Melani tiba tiba berkata yang membuat seisi rumah terkejut.


Diva dan Reihan terlihat terkejut dengan ucapan David. Tapi Luna lebih terkejut lagi. 


"Kenapa secepat ini?"


Aluna terkejut bukan main dengan lamaran dadakan ini. Aluna hanya bengong seperti kambing ompong, sedangkan Dion tersenyum bahagia.


Sebenarnya mereka dari rumah tulus ingin menjenguk Aluna, tapi karena dia berubah pikiran saat dijalan, mengingat Dion yang tak mau sama Clara, dan tak pulang-pulang menjaga Aluna semenjak sakit, membuat mereka berinisiatif untuk melamar sekalian, jika Luna setuju acara tunangan juga akan segera dilakukan secara besar besaran.


Apalagi Keluarga Dion juga tahu, Adrian juga mengumumkan acara tunangannya di acara TV secara Live. Pasti Aluna juga sedih melihat itu semua. 


"Gimana Luna? Lamaran sederhana ini diterima kan?"


"Luna harus pikir-pikir dulu Tante."


"Emm, anak manis!! Oke Tante anggap lamaran ini diterima ya! Kalau kalian siap tukar cincin, Dion kamu berkewajiban memberi tahu kami, kami akan membuat acara yang mewah dan meriah untuk kamu, selaku putra pertama kami." 


"Terima kasih Mama." Dion yang duduk di sebelah kiri mamanya segera memeluk wanita yang melahirkannya itu." 


"Sama sama sayang, keluarga sudah mendukungmu untuk mendapatkan cintamu, Nak. Kulihat kamu memang serius sama Aluna." Kata Melani sebagai ibu bijaksana. 


Aluna bingung apa yang dia katakan, ucapan Melani seperti skak mat untuk sebuah permainan, Aluna tidak diberi kesempatan untuk bernapas bebas menikmati masa jandanya.


 


Tapi di sisi lain Aluna sakit hati karena Angel memamerkan kehamilannya. Bagaimana bisa Adrian membuat adik kecil bersama Angeline. Sedangkan lelaki itu berjuang dan memohon mohon ingin kembali merajut benang cinta yang terputus.


Walau sedikit curiga, Angeline juga tak seratus persen setia, tapi Aluna sering melihat Adrian dan Angeline bercumbu yang melampui batas.


"Kok melamun? Tante berkata disaat yang salah ya?" Melani segera menyadari, sepertinya dia berkata disaat yang salah. Aluna baru bercerai. Dan Adrian masih tak terima dengan perceraian itu.

__ADS_1


"Tante, Aluna benar-benar butuh waktu, biarkan Aluna memikirkan semuanya dengan matang, hingga kejadian ini tak akan terulang lagi."


__ADS_2