Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 11. Diam diam cerdik juga.


__ADS_3

"Rian kenapa OB itu ada disini?" Angel menyusul Adrian di dapur yang sedang berdua dengan Aluna.


"Dia bilang apa tadi? Bukannya kamu baru saja bertanya" Adrian mengamati dua wanita di depannya satu per satu. 


"Dia bilang kerja di rumah ini?" Angel mengulangi ucapan Aluna.


"Iya dia sudah jujur, dia memang kerja disini setiap hari minggu, Bi Imah yang rekomendasikan dia, gadis ini butuh banyak uang." Jelas Adrian setelah melempar pandangan tajam ke arah Aluna.


Aluna hanya bisa mengikuti permainan Adrian, dia mengangguk setuju.


Adrian memilih pergi dari wanita yang membuatnya malas berlama di dapur. Angel mengikutinya di belakang beda dua langkah saja.


Namun, saat di depan pintu, Angeline berbalik kembali dan mendekati Aluna. Baginya membiarkan gadis itu diam begitu saja rasanya tak asyik. "Hey … beruntung sekali kau bisa bekerja di istana Adrian Alexander yang megah ini, atau jangan-jangan ada niat terselubung, kau mata-mata?" 


"Tidak Nona, saya hanya butuh uang tambahan." Aluna menyempurnakan sandiwara Adrian.


Angel melihat Aluna dari kaki sampai bawah. "Awas kalau mencuri!" Ekspresinya melotot.


Tadinya dia takut Adrian akan jatuh cinta pada pelayan barunya, tapi setelah dilihat lebih dalam lagi Angel justru ingin tertawa sekeras kerasnya biar puas. Bisa bisanya pikirannya mendadak konyol.


Aluna malas menjawab tatapan mengintimidasi dan merendahkan dari Angel, dia hanya menunduk dan mengabaikan ucapan Angel seperti angin lalu.


Angel menarik dagu Aluna hingga wajahnya mendongak. "Buatkan aku dua gelas minuman dan tambahkan ini ke dalamnya, Angel mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Lalu meraih jemari Aluna dan memaksa unutuk menggenggamnya.


"Ini apa?" Aluna membuka dengan hati-hati bubuk dalam botol itu.


"Aku dan Adrian akan menghabiskan hari libur ini dengan bersenang senang saja, kau pasti mengerti kan, aku akan merayakan kesuksesan acara fashion semalam." Senyum bahagia kembali terukir dari bibir Angel.


 "Oh kau pasti tidak mengerti, kau kan cupu, mana ada cowok yang mau sama kamu. pasti kau tak tau arti bersenang-senang." 


Aluna memilih diam, memandangi benda bubuk dalam botol pemberian Angel. Penasaran dengan khasiatnya, tapi di bungkusnya tak ada informasi yang dia dapat.


"Cepat, tunggu apa lagi, sekarang bikin minumnya." Bentak Angel. Lalu melenggang pergi. 


"Iya-iya."  Aluna segera mengambil dua gelas yang tengkurap di rak lalu menuang minuman yang ia ambil dari lemari.


Aluna mengambil bubuk pemberian dari Angel. Walaupun belum pernah melihat sebelumnya Aluna yakin itu pasti obat berbahaya untuk kesehatan Adrian. Aluna tidak mau mengambil resiko dia membuka obat itu dan membuang isinya lewat jendela, sedangkan botolnya dia buang di tong sampah. 


Aluna dengan hati-hati membawa dua gelas berisi minuman segar itu ke balkon. Adrian dan Angel terlihat sedang bercengkrama. Kalau berjodoh sesungguhnya mereka berdua akan menjadi pasangan serasi sekali. 


Adrian melirik kedatangan Aluna lalu kembali mengabaikan, sedangkan Angel kini malah sengaja mendekatkan tubuhnya hingga menempel ketat dengan lengan Adrian.


"Eh, elo sudah datang, taruh sini di depan  gue." Angel mengisyaratkan dengan melambaikan tangannya ke Aluna agar mendekat. 

__ADS_1


Adrian menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Angel. Aneh saja kenapa dia melakukan hal itu. Adrian merasa kalau ada hati yang harus ia jaga. 


"Rian minumlah, sudah lama sekali kita nggak minum bersama."


Rian meraih satu gelas dan Angel mengambil gelas satunya lagi. Mereka bersulang sebentar lalu meneguk sedikit. 


"Bisa nggak kamu pergi dari sini." Angel risih dengan keberadaan Aluna yang belum juga angkat kaki. 


Bodohnya Aluna bisa-bisanya menghkawatirkan Adrian dengan berlebihan, saat di dekat kekasihnya.


Aluna pergi setelah dia menaikkan kaca matanya yang melorot karena ukurannya yang kebesaran.


"Rian ayo habiskan, kamu pasti Sangat lelah seharian memikirkan urusan perusahaan." Senyum Angel mengembang kala melihat Rian meneguk habis minuman di tangannya. Rian menggeleng sambil memejamkan mata ketika merasakan minuman itu meluncur di tenggorokannya.


Angel senang mengira Aluna sudah melakukan tugasnya dengan baik, dalam hatinya dia sempat mengumpat kalau Aluna pelayan yang sangat bodoh kuadrat, karena mau-mau saja disuruh ini dan itu.


Namun setelah lama meneguk satu gelas kecil minuman tadi, Angeline merasa aneh, dia tak merasakan apapun, Adrian juga baik-baik saja. 


Angel mencoba melakukan test pada Adrian, apa lelaki itu merasakan netranya berkunang kunang, atau hasratnya memuncak seperti yang dia inginkan. 


"Rian, kamu baik-baik aja Kan? Kenapa aku merasa tubuhku tiba-tiba sangat dingin." Angel mencoba menggodanya.


"Aku baik-baik aja, kamu kedinginan pasti karena baju yang kamu pakai terlalu pendek." Komentarnya Adrian yang membuat Aluna geram. 


"Rian, aku memakai semua ini karena untuk kamu, aku ingin selalu tampil paling cantik di depan kekasihku ini, aku nggak rela kalau kamu sampai jatuh cinta pada wanita lain, Rian," rengek manja Angeline. Wanita itu meyandarkan kepalanya di bahu Adrian, sedangkan pria itu malah mengeluarkan ponselnya dari saku dan bermain dengan gawainya. 


"Rian!" 


"Hemm."


"Dengar nggak?"


"Iya, Apa tadi kamu bilang?"


"Rian." 


"Maaf Ngel, aku mendadak ada kiriman email dari Tito, besok ada meeting dengan clien. tolong biarkan aku sendiri." Adrian melangkahkan kaki ke ruang kerja pribadinya yang ada dilantai paling atas rumah ini.


Angeline kembali marah karena Adrian mengacuhkannya. Namun, dia masih bisa menahan emosinya, Angeline ingin melampiaskan semuanya pada Aluna, karena gadis itu tidak melakukan perintahnya dengan benar.


Angeline mendapati Aluna sedang berada di dapur mencuci beberapa piring, Imah sudah melaramgnya tapi Aluna keras kepala, dia selalu bilang kalau sedang tak ada kerjaan, sedangkan Imah pamit menyetrika tumpukan baju.


"Luna!"  

__ADS_1


Plakkk! Sebuah tamparan mendarat di pipi Aluna. Tamparan Angel sangat keras hingga mencetak lima jarinya. 


Aluna terkejut dengan perlakuan Angeline yang tiba- tiba menyerangnya. "Nona Angel apa yang anda lakukan" Aluna memegang pipinya. 


"Apa yang aku lakukan? Kamu mau tanya apa yang aku lakukan? Hah." Angel menarik kepang Aluna hingga kepalanya mendongak ke atas. 


"Sakit Nona Angel." Angeline tidak melepaskannya, dia malah menarik lebih keras lagi.


"Kamu jangan main main gadis jelek, kamu belum tahu siapa Angeline?" Seringai jahat tertampil dari bibir Angel. 


"Katakan cewek kampung, kenapa kamu tak melakukan seperti yang ku inginkan, Hah?" Angel berbicara di dekat telinga Aluna. Tangannya masih terus menarik rambut Aluna. 


"Aku a-ku tidak bisa melakukannya, aku tahu itu tadi pasti obat berbahaya untuk kesehatan Tuan Adrian." Aluna menahan sakit di sekitar kepalanya. 


Angel tertawa kecil. "Mana obatnya? Awas kalau kamu cerita sama orang di rumah ini, sudah kupastikan kamu akan kehilangan semua pekerjaan rendahan yang sedang kau jalani."


Aluna menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, aku sudah membuangnya ditempat sampah."


Angeline segera mencari bubuk rahasia itu dan melepas cengkeramannya pada rambut Aluna. 


Angeline kembali kecewa ternyata bungkusnya telah kosong. Sekarang Angeline tau, Aluna tak sebodoh yang dia kira, gadis itu cerdik dan licik. 


"Aluna, kamu berani cari gara-gara dengan aku ya? Awas kamu." Jari telunjuknya terus dia tuding ke arah Aluna sambil mengucapkan ancaman dan sumpah serapahnya.


Angelin buru-buru pulang karena malu tak mendapatkan apa yang dia harapkan.


Sedangkan Imah yang mendengar pertengkaran Aluna dan Angel dia segera datang ke dapur dan memeluk Aluna layaknya seorang Kakak. 


"Nona, kenapa Angel memarahi nona?"


"Tidak apa apa, Bi." Angel menutupi wajahnya dengan menunduk. 


"Nona. Apa yang dia lakukan pada, Non."


" Bibi, Aluna nggak apa apa, nggak usah panik."


Imah kini malah meraih pergelangan tangan Aluna yang basah. " Non, Tuan  Alex meminta aku untuk menjaga Non dari orang yang jahat sama Non, sekarang malah Nona Angel yang jahatin Non."


"Bi, kenapa sih Tuan Adrian tidak menikah saja dengan Angel? Mereka sudah pacaran lama, kan? 


"Nona, kalau masalah itu, yang tahu cuma Tuan Adrian. Tapi sebenarnya nona Angeline sudah sering meminta Tuan Adrian untuk menikahinya."


Aluna mengangguk sambil tersenyum. "Begitu ya, Bi." Aluna yakin hati Adrian belum sepenuhnya jatuh ke pelukan Angeline

__ADS_1


__ADS_2