
Aluna meninggalkan dua pangeran tampan, dia pulang lebih dulu dengan naik taxi.
Aluna bisa melihat Dion kecewa. Aluna janji akan menjelaskan pada Dion ditelepon nanti.
'Tapi kenapa pak Dion harus sakit hati, siapa juga aku, bisa bisanya berfikir kalau Pak Dion yang tampan jatuh cinta pada wanita cupu sepertiku.' Aluna menolak realita yang dilihatnya bibirnya tersenyum menertawakan hatinya yang konyol.
Dia sadar diri tak secantik model yang selalu mengantri untuk membawakan produk ternama di perusahaan mereka, Bahkan mereka tak sedikit yang bersedia menjadi pacar semalam CEO demi mendongkrak sebuah popularitas.
Saat terbuai dalam lamunan, ponsel Aluna berdering. Aluna segera memencet kursor hijau di layar ponselnya, ketika tahu yang menghubungi Dion.
"Luna, aku mau kamu hentikan taxi sebentar, aku ingin bicara." Pinta Dion terlihat tak sabar.
"Bicara apa? Ini sudah malam aku harus pulang. Banyak pekerjaan lain menungguku Pak Dion."
"Baiklah Luna, sebentar saja. Jika majikan kamu di rumah marah, katakan padaku, aku akan membawamu pergi."
"Pak berhenti, aku ada sedikit urusan, lima menit saja tunggu ya?" Pinta Aluna pada sopir taksi. Dia takut kalau kata kata Dion benar akan dilakukan.
"Iya, nggak apa apa neng," Sopir taxi mencari celah dari kendaraan lain untuk segera bisa menepi.
Mendengar ucapan Aluna dengan sopir taxi, Dion mematikan ponselnya tanpa mengucap salam.
Taxi menepi sambil menyalakan lampu sein.
Melihat kode dari taxi, Dion juga melakukan hal yang sama. Aluna segera turun setelah Dion berlari membuka pintu untuknya.
"Luna keluar aku ingin bicara." Dion sudah diambang pintu menanti Aluna keluar.
"Pak Dion, ada apa ini, kenapa meminta saya berhenti?"
"Luna, apa kamu baik baik saja? Kenapa kamu berdua dengan jahanam itu di perusahaan sampai larut malam?"
"Nina teman saya tidak masuk Pak, aku hari ini bekerja ekstra."
"Tapi mata kamu sembab, Aluna. Kamu habis nangis, kamu tidak apa apa kan? Dia tidak memaksakan kehendaknya padamu?" Dion bertanya pada Aluna hampir tanpa jeda, memohon jawaban yang jujur. Dion tidak suka wanita pembohong.
Angel pernah berbohong pada Dion, dia mengaku masih gadis virgin, Dion percaya. Tapi ternyata kenyataan Angel sudah sering bermain dengan pria.
Di pesta ulang tahun, Angelina meminta Dion memberikan hadiah spesial dengan bersamanya menghabiskan waktu hingga esok. Godaan terlalu kuat membuat Dion terbuai dan lupa daratan. Dan di malam itu dia melakukan perbuatan terlarang, Dion terkejut mendapati milik Angel sudah tak rapat lagi. Yang lebih parah, tak ada lagi bercak noda diatas seprei.
__ADS_1
Dion perlahan mengabaikan Angel dengan menyibukkan diri di perusahaan dan wanita itu rupanya berhasil selingkuh dan memikat hati Andrian. Tanpa Adrian ketahui semua yang telah terjadi.
Adrian masih menjaga kesucian Angel sampai saat ini, dia cukup bermain setengah-setengah, selain melakukan yang satu itu. Tanpa tahu jika kesucian Angel sudah terenggut lebih dulu sebelum mengenal dirinya.
"Iya, aku baik baik saja. Aku mungkin kecapean dan flu, jadi seperti orang habis menangis." Aluna tak ingin Dion khawatir, dia berusaha tersenyum. Aluna tak ingin berbohong, tapi Adrian yang meminta semua ini diawali dengan kebohongan, dia takut dengan Adrian.
"Besok kamu libur kan? Dion bertanya.
"Iya." ujar Aluna masih belum yakin.
"Aku dengar seluruh karyawan akan berlibur ke Bali kecuali OG. Apa kamu bisa temani aku periksakan Gemoy."
"Gemoy! Kenapa dia?" Aluna tiba-tiba khawatir ingat anak kucing berwarna putih, cantik, dengan bulu sangat lembut itu sampai kenapa-napa.
"Iya, dia malas makan, aku khawatir kalau sakit."
"Baik, Pak Dion. Akan aku usahakan."
"Okey, besok aku jemput, kalau sudah ada waktu segera call me." ujar Dion memakai bahasa alay.
Aluna mengangguk sambil tersenyum. "Siap, Bos Dion terhormat." Aluna memberi hormat layaknya pembina upacara.
Beni yang melihat Aluna dan bosnya begitu akrab dia makin heran. Walau sadar Aluna makin hari makin cantik, tapi tetap saja Aluna dari kasta rendah, dia bukan makhluk yang mengerti kehidupan sultan.
Taxi yang ditumpangi aluna kembali berjalan dan menghilang di antara ribuan mobil yang lalu lalang. Dion masih berdiri dan menatap tanpa bergeming. Dengan cepat mobil membentuk seperti aliran sungai panjang mbeentang.
"Pak, mobilnya sudah jauh." Suara dari belakang mengagetkan.
"Iya, Ben. Kamu kok berani nggak sopan sekarang sama saya, Ngagetin aja." Dion ngedumel nggak jelas lalu kembali ke mobil. Sedangkan Beni hanya menggeleng di belakang bosnya.
Mereka berdua segera pulang, tak sabar untuk membersihkan diri dan melepaskan lelah.
Baru tiba di depan mansion, Mama Melani sudah menyambut kedatangan putra satu-satunya.
"Selamat ulang tahun sayang!" Wanita itu membawa brownies yang dihias sedemikian rupa sehingga menjadi seindah yang dilihatnya.
"Mama, terima kasih!"
"Putraku, tak terasa sekarang usianya sudah tujuh belas tahun." Davit sunderson pun mengantri ingin memeluk putranya.
__ADS_1
"Dua puluh tujuh papa." Jessica membenarkan ucapan papa yang disengaja dibuat salah.
"Oh benarkah? Usia dua puluh tujuh kenapa tak memiliki wanita pujaan hati?" Davit menangkupkan tangannya pada dagu Dion. Davit melakukan semuanya sengaja untuk menghina putranya yang masih jomblo.
"Kau masih mencintai Angel? Papa bisa bantu dapatkan dia lagi untukmu jika kamu mau. Keluarga mereka teman baik Papa."
"Tidak Pa, kenapa harus Angel. Bukankah masih banyak sekali wanita yang jauh lebih baik dari dia." Dion tersenyum, kembali memeluk sang Papa.
"Jessica, kalau kamu apakah sudah punya cowok? kenapa belum dikenalkan Papa." Tanya papa.
Jessica menggeleng." Belum kepikiran Pa. Jess mau serius kuliah."
Papa mengangguk dan setuju. " Anak pinter."
Dion tertawa keras. "Mana ada laki laki yang mau, dia manja dan kekanakan, pasti kekasihnya takut direpotkan." Dion mengejek Adiknya
"Kau juga Kak, Apa kau pikir dirimu paling hebat, karena bisa memegang perusahaan? Sebagai CEO muda dan tampan harusnya ada banyak wanita yang menempati sisimu saat ini.
" Belum saatnya Pa, jika semua sudah waktunya, tanpa papa minta pun aku akan mengenalkan pada kalian semua."
"Apa dia cantik?"
"Tentu, selain cantik dia juga baik semoga juga akan setia. Cantik saja tak bisa dijadikan pujaan hati kan, Pa?"
"Benar, selagi masih bisa cari yang bisa menjadi wanita satu-satunya yang bersedia menemani kita hingga menua." Nasehat Papa.
"Seperti Mama ya, Pa?" Tanya Jessica.
"Ya, Mama kalian adalah wanita istimewa, dia kesayangan Papa."
"Cie cie …." Jessica menggoda Mama Melani.
"Oh iya, buat kalian semua terima kasih sudah ingat ulang tahunku." Dion menatap ketiga keluarganya. Menggandeng mama dan papa masuk.
"Bagaimana Sayang apa tahun ini masih tidak ingin dirayakan?"
"Tidak Pa, cukup besok pagi izinkan Dion cuti dari kantor Dion akan menghabiskan waktu seharian, kemanapun yang ku inginkan.
*happy reading.
__ADS_1