Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 77. Langkah awal pembalasan.


__ADS_3

"Kita pakai baju warna apa?" tanya Dion saat dirinya masih fokus pada layar laptop.


"Emang penting ya pak kita pakai baju couple" tanya Aluna sambil menyerahkan beberapa berkas untuk diperiksa Dion satu persatu. Aluna berdiri disebelah Dion sambil menggendong beberapa tumpukan berkas.


"Penting dong biar kelihatan sehati." Dion mendongak, lalu berdiri hendak mengecup kilat pipi Aluna. Tapi wanita itu tak mau kalah cepat, Aluna segera menutup pipinya dengan telapak tangannya.


"Belum boleh."


Dian duduk kbali sambil bibirnya mengerucut.


Semakin Aluna jual mahal. Dion semakin ingin segera memiliki Aluna. Bagi Dion mendapatkan cinta Aluna, memiliki tantangan tersendiri. Dia harus benar-benar berjuang dengan hati yang tulus.


Mereka berdua segera keluar dari perusahaan menuju butik. Dion segera menemui pemilik butik yang sudah dia kenal. 


"Pak Dion, lumayan lama anda tidak kesini."


"Iya saya sangat sibuk. Mbak tolong pilihkan baju buat kekasih saya, yang couple ya, jangan khawatir soal harga, yang penting tunjukkan saja yang paling bagus."


"Siip. soal itu saya paham pak." Pelayan tersenyum manis pada Dion, lalu menarik lengan Aluna dan mengajaknya masuk untuk melihat aneka baju yang dibuat hanya satu satunya itu. 


"Mbak, sekarang pilih aja, baju mana yang disuka?"


"Yang mana ya? Bingung aku memilihnya, semuanya bagus, tapi sayang mahal." Aluna bukan memilih, tapi dia malah hanya berputar putar seperti orang bodoh.


"Hehehehe, tapi pacar mbak konglomerat, mau pilih yang mana aja pasti dia mampu beli." Kata penjaga butik. 


"Anda kenal dia?" Tanya Aluna memancing penjaga butik untuk bercerita, seberapa dekat dia dengan Dion, dan bagaimanakah orang lain menilai tentang pria itu.


Aluna hanya menatap sekilas pada penjaga butik yang sudah berulang kali memuji Dion, kelihatan banget kalau dia ada rasa atau kagum. Entahlah Luna tak mau ambil pusing. Sekarang dia hanya disuruh memilih baju. Dan Aluna mencari harga yang paling murah tapi tak jua ketemu.


Dion yang tadi berjalan melihat lihat baju pria, sekarang tiba-tiba ada di belakang Luna. "Sayang sudah dapat bajunya?"


"Belum, Pak Dion." Penjaga itu yang menjawab, Luna hanya sekedar menggelengkan kepala pelan.


"Kenapa? Nggak suka ya? Apa nggak ada yang bagus."


"Enggak begitu, bagus semua Kok." Aluna menoleh pada penjual. Takut dia ikut bicara dan mengatakan pada Dion. Kalau dia tak bisa memilih karena semua mahal.


"Bagaimana kalau kita beli di mall saja, sepertinya disana …."

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu cari yang murah? Tidak, tidak, kalau itu alasannya kita tetap akan beli disini. Kasian mbaknya dong, sudah sejak tadi menemani kamu sekarang belinya masa di tempat lain. 


"Anu Pak! Pacar anda bingung karena bajunya nggak ada yang murah."


Dion tersenyum, sudah bisa menduga kalau Aluna pasti takut kalau baju yang dia sukai akan kemahalan.


Mbak aku mau ambil yang maroon sama cream." Dion menunjuk baju yang paling lama dilihat oleh Aluna, dalam hati Aluna memang suka, tapi dia tidak mau karena mahal. Harga satu baju di depannya sekarang ini bisa buat Aluna Menginap di rumah  kontrakan sekitar empat bulan, bagi Luna ini namanya pemborosan.


"Pak Dion, aku tidak bisa, ini kemahalan. Mereka pasti ambil untung banyak." Bisik Aluna saat dia melihat penjual yang membuntuti sudah menjauh.


"Kita harus memakai salah satu baju ini Luna, sudah tidak ada waktu lagi."


"Baiklah, Pak,"


Aluna mengambil baju warna krem dari tangan dion, dengan langkah kaki sedikit di hentakkan dia segera menuju ruang ganti. 


Lima menit kemudian Aluna ganti dengan baju baru dan ternyata baju itu sudah pas dengan ukuran tubuhnya. 


Dion melihat Aluna hampir tanpa berkedip. "Pak gimana bajunya? pantas nggak?"


"Emmm,  ba-gus, bagus." Dion berkata dengan suara tergagap, kepalanya mengangguk cepat. Tak percaya Aluna bisa menjadi semenarik itu.


Aluna dilihat dua orang sekaligus dia  jadi malu. Sifat pemalu selalu muncul setiap saat pada dirinya.


Aluna menarik narik, gaun panjang selutut dan memiliki bentuk unik dengan pundak sedikit terekspos itu. "Ini kenapa belahan pundaknya seperti ini."


"Sudah bagus memang begitu bentuknya." Adrian suka dengan Aluna yang lugu. 


Dion lalu mengambil kemeja dengan warna yang sama, Dion dan Aluna sudah seperti pasangan kekasih yang saling melengkapi. 


Mereka berdua datang ke pertunjukan amal yang dilakukan oleh perusahaan Alexa Fashion. Rupanya tamu sudah banyak yang datang, hanya saja beberapa kursi di depan ada yang kosong. 


Adrian keluar pertama kali, dia mengumumkan hari bahagianya dengan Angeline, semua dia lakukan berharap akan menjadi topik trending yang terpanas di dunia hiburan dan mampu mengangkat produk mereka menjadi laku keras di pasaran.


Mereka yang datang ikut merasakan kebahagiaan Andrian, fans berat mereka langsung bersorak sorai, ada beberapa yang ikut naik ke panggung untuk memberi hadiah ada beberapa yang berdoa agar hubungan mereka abadi.


Apa yang dilihat oleh mata, memang terkadang tak sejalan dengan kata hati, Adrian sendiri yang tahu bagaimana kedepannya.


Angeline baru keluar setelah fans fanatiknya riuh menanti dirinya keluar. Adrian menghambur kearah Angeline dan menggandeng maju ke depan.

__ADS_1


"Cium! cium! cium!"


Satu kata kembali mendominasi, membuat yang lainnya ikut ikutan. Adrian akhirnya memutuskan mencium Angeline sangat lama diatas panggung. 


"Yeeeeeee!" Suara keras disertai tepuk tangan yang meriah. 


Dion menoleh kearah Aluna dan memberikan sesuatu di ujung jarinya. "Pakailah ini." 


"Aluna menyentuh benda persegi pemberian Dion, dan urung mengambil." Memaksa Dion harus mengernyitkan dahinya. 


"Aku tidak memerlukan semua itu, aku bahkan sudah biasa melihat yang lebih dari itu." Aluna tersenyum, meski tatapan matanya sendu.


"Kau sekuat itu? Aku sampai tak percaya, sebagai istri sah kau pasti merasakan sakit yang tak berdarah, aku salut kau masih berdiri sekuat ini."


Dion mengambil jemari Aluna dari pangkuan dan menautkan jemarinya. Menggenggamnya dengan erat seolah mengatakan kalau, kau tak sendiri jangan takut, aku akan menerima semua


Aluna dan Dion saling menatap sesaat. Pegangan tangan pun semakin kuat." Ijinkan aku menghapus lukamu."


Aluna membalas hanya dengan anggukan kecil, Dion belum tahu arti anggukan itu, artinya iya, tapi sebagai apa? Suami sahabat atau teman biasa. 


Tamu undangan terus berdatangan tanpa kendali, kursi yang disediakan sudah penuh dan mereka masih terus datang seperti rombongan semut menemukan gula. Bahkan kapasitas gadung sendiri sudah tak mampu menampung nya. 


Adrian dan Angel yang sedang menyanyikan lagu yang mewakili hati mereka berdua dalam suka cita tentu tak bisa konsentrasi lagi. 


Dia menyebar undangan seribu tapi yang datang lebih dari sepuluh ribu. sungguh semua berada di luar nalar.


Tito juga mulai gusar, masalahnya mereka sudah berjanji, setiap tamu undangan yang datang akan mendapat satu prodak asli dari Alexa fashion secara gratis.


"Apa yang terjadi, kenapa tamu yang datang memenuhi kapasitas gedung itu sendiri." Pesan singkat dari Adrian  meluncur pada ponsel Tito mereka semua yang rencananya akan merayakan kebahagiaan berubah menjadi panik dan tak tahu harus berbuat apa di saat kondisi sudah mepet. 


"Ini ada yang tidak benar, ada yang mengkopi undangan itu menjadi banyak, dan mereka pasti dari pihak pesaing Alexa fashion." Geram Tito. 


Aluna tersenyum di tengah-tengah ribuan tamu yang rela berdiri dan berdesakan, dia baru saja sedikit menjalankan rencananya dalam menuntut balas keluarga sombong. tapi semua sudah seburuk ini.


Adrian segera turun panggung dan menuju ruang pribadinya. Menendang meja kuat yang membuat kakinya sendiri sakit, lalu merebahkan tubuhnya di kursi goyang. 


Adrian bersandar dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Alexa fashion akan mendapat malu, itu sudah tidak bisa dihindari lagi.


Yang dia siapkan seribu bingkisan parsel yang hadir sepuluh kali lipat. Kalaupun dia bisa memberi pada hadirin semua, dipastikan perusahaan akan mengalami kebangkrutan besar. 

__ADS_1


__ADS_2