
Melani, David dan nenek sudah siap untuk berangkat, nenek duduk di depan di sebelah Beni, mama Selena dan papa David duduk di tengah dan Jessica yang tak mau ketinggalan memilih duduk di bangku paling belakang.
"Ben nanti jangan lupa kita mampir ke toko oleh-oleh ya, Aku ingin bawa banyak buah untuk mantanku yang lagi hamil," request Melani pada Beni.
"Nggeh Nyonya."
"Ben, tapi aku minta, kamu nanti berhenti di toko baju saja, cucuku kan lagi hamil, sebentar lagi badannya akan menjadi buncit, Jadi aku mau kasih hadiah baju-baju khusus untuk orang hamil, Aku yakin dia pasti belum semua itu."
"Nggeh Ndoro Eyang."
"Bagus Beni, ayo kita cepat jalan, kalau aku minta sebaiknya langsung menuju penthouse saja, karena aku sudah tak sabar untuk mendengarnya langsung, jika kita beli semuanya pernak-pernik itu, dan ternyata Luna tidak hamil maka semuanya akan nganggur."
"O begitu nggeh Tuan."
Melani tak setuju dengan usulan suaminya, masa berkunjung ke rumah anak tidak membawa apa-apa.
Nenek juga tidak setuju dengan permintaan Davit, Karena nenek yang bicara sendiri dengan Dion dan percaya kalau cucunya itu tidak sedang berbohong.
"Bang Beny, Tolong mampir ke toko boneka ya, soalnya Mbak Luna suka sekali dengan boneka, aku pengen belikan dia banyak boneka, dan aku berharap nanti anak pertama Kak Dion memiliki jenis kelamin perempuan," Jessica ikut request mampir ke toko boneka.
"Oke oke non!" Beni yang notabene sebagai sopir Dia hanya bisa mematuhi perintah majikannya.
"Em … maaf ya Ndoro Eyang, Nyonya Tuan, dan neng Jessica. sebelumnya Beni mau bertanya lagi, sebenarnya kita ini mau langsung ke rumah saja seperti keinginan tuan, atau mampir ke toko buah, toko baju dan boneka, terlebih dahulu.
"Ben, sepertinya kita mampir untuk beli oleh-oleh saja dan untuk yang lainnya kita pending, soalnya kalau kita mampir kemana-mana dan berhenti berkali-kali takutnya kita kemalaman, dan aluna sudah mengantuk, jadi mama nggak punya banyak waktu buat ngobrol sama dia."
Nenek dan Jessica tidak setuju. " Tidak bisa, nenek sudah sengaja belikan baju supaya segera dipakai Aluna, belinya besok-besok Dia pasti sudah beli sendiri."
"Benar itu Nek." Jessica membenarkan usulan nenek.
__ADS_1
Akhirnya Beni terpaksa menuruti permintaan semua keluarga yang berbeda-beda itu, dan Beni juga keberatan membawakan barang-barang mereka yang super banyak. Oleh-oleh untuk Aluna hampir memenuhi bagasi mobil.
Ketiga orang berlomba-lomba membeli hadiah yang paling banyak untuk Alina.
Setelah semuanya keturutan membeli hadiah untuk Aluna, beni kembali mengemudi mobil dengan hati-hati menuju penthouse milik Dion.
Sampai di pintu masuk dion sudah menunggu keluarganya ditemani dengan Aluna, wajah mereka berdua nampak berseri-seri karena bahagia dan juga baru selesai mandi. Aluna berdandan sederhana hanya dengan memakai sedikit riasan dan baju santai yang terkesan sopan, Dion juga sama dia hanya memakai kaos putih kesukaannya dan celana jeans.
Setelah keluarga sudah sampai di parkiran, Alina dan dion segera turun menyongsong kehadiran keluarga besar.
Aluna segera mencium tangan nenek, Mama Selena dan juga papa David, sedangkan Jessica mencium yang mencium tangan Aluna. Dan kakaknya Dion. Dion juga melakukan hal yang sama dengan Aluna.
Sejak tadi nenek tak henti-henti memandangi Aluna, yang memang kelihatannya sedikit pucat.
"Pah Terima kasih sudah mau berkunjung ke kediaman Dion yang sederhana ini, tadinya Dian pengen ke sana besok dengan Aluna. Tapi sekarang malah kalian semua yang datang."
Saat Dion asyik berbicara dengan Davit. Nenek menarik tangan Aluna dan memeluk menantu yang begitu dia cintai.
"Terima kasih ya cucuku sayang, sudah mengabulkan keinginan terakhir nenek hidup di dunia, nenek nggak sabar pengen mengelus cicit nenek."
Aluna membiarkan nenek mengelus-elus perutnya yang datar, meski hanya merasa sedikit malu diperlakukan begitu hangat dengan nenek, dalam moment seperti ini Aluna justru ingin menangis. Bahagia harus bercampur aduk menjadi satu.
"Nek, Aluna sayang banget sama nenek, Aluna berharap nenek bisa melihat cicit cicit nenek semuanya, baik itu putra putri Aluna dengan Mas Dion atau anak-anak Jessica nanti.
"Amin … Luna nenek bahagia dengarnya. Tolong jaga kehamilan ini dengan hati-hati, karena nenek nggak mau dengar kalau bayi dalam kandungan ini tidak baik-baik saja. Atau kalau perlu nenek kirim asisten rumah tangga untuk membantu dan mengawasi aktivitas kamu setiap hari.
"Percaya pada Luna nek, Luna akan hati-hati." Luna mengandeng nenek dengan hati-hati masuk ke dalam lift. Karena kediaman Dian berada di lantai paling tinggi di gedung perusahaan ini.
Sedangkan di rumah dan Aluna melihat pemandangan lain yang semua dirinya ingin tertawa. Yaitu Beni yang membawa oleh-oleh dari keluarga, entah berapa kali Beni mondar mandir sibuk mengangkut oleh-oleh dari keluarga untuk Aluna
__ADS_1
Aluna menjamu kedatangan keluarga Dion dengan sederhana, mereka langsung makan bersama dengan menu yang tidak banyak. Walaupun sederhana tetapi mereka terlihat sangat senang dan akrab.
Usai makan bersama, keluarga pindah di ruang keluarga untuk melihat acara tv, dan nenek seperti biasa, dia sangat suka karaoke menirukan lagu-lagu favoritnya.
Luna dilarang melakukan pekerjaan apapun, dia hanya duduk-duduk sama Dion di tengah keluarga hangatnya.
Bahkan Jessica memiliki ide membuat permainan aneh. Dalam permainan itu siapa yang kalah harus mengabulkan permintaan yang menang.
Dan saat itu Aluna yang kalah. Dan jessica yang menang, jessica minta Aluna untuk bernyanyi lagu yang dia inginkan.
Aluna yang pemalu, kini miliki percaya diri yang tinggi. Dengan suaranya yang pas-pasan dia bernyanyi di depan keluarga. Dion menatap Aluna yang terlihat lebih cantik dan lebih manis saat bernyanyi. Dion benar benar terkesima melihat pesona istrinya sendiri.
Ketika waktu menunjukkan pukul 11.00 malam, keluarga sudah mengantuk, nenek meminta tidur dengan Aluna di malam ini, padahal Dion malam ini sangat ingin tidur bersama Aluna.
Akhirnya Dion minta supaya Aluna yang memutuskan, dan keputusan Aluna adalah memilih tidur bersama nenek.
"Demi kebahagiaan Nenek, Dion malam ini merelakan istrinya tidur bersama Nenek dalam semalam."
Tapi bukan Dion kalau kehabisan akal, saat nenek sedang tidur pulas, Dion meminta Aluna untuk tidur bersamanya. Dion sangat ingin bersanding dengan istri dan calon bayinya. Apalagi kabar kehamilan itu baru saja dia ketahui.
"Sayang nanti nenek, bangun."
"Tidak, nenek sangat pulas saat tidur, sayang aku nggak bisa memejamkan mata kalau tak ada kamu di sampingku."
"Maaf Sayang, Aku akan tetap bersama Nenek. aku tidak bisa meninggalkan nenek, aku juga ingin ada disampingnya. Nenek besok sudah kembali, aku akan rindu sekali.
Dion menyerah membujuk Aluna, akhirnya dia memilih untuk tidur bertiga dengan nenek.
__ADS_1