Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 263. Malam pesta.


__ADS_3

Pesta pernikahan Chela dan Enzo dilangsungkan satu minggu setelah acara tunangan di apartement Adrian.


Hari ini Aluna datang memakai gaun terindahnya ditemani oleh Dion Sunderson. lelaki yang sudah membawanya pada kehidupan seperti di surga.


Embun dan Awan yang sudah mulai aktif bergerak, kadang tengkurap dan sudah bisa duduk, kini dirawat oleh dua asisten yang berpengalaman. Namun kerja mereka juga tak pernah lepas dari pengawasan Oma Melani dan Opa David.


Ketika dua bayi itu sedang menangis saja, Oma dan Opa pasti tak segan menegur pada Sang Pelayan dan mengomelinya..


Pelayan nyaris tak betah karena sifat posesif para penghuni mansion yang sudah tua. Untung Aluna dan Dion sangat pengertian dan baik. Mereka jadi betah karena Luna sangat loyal dan sering memberinya tips yang banyak dan selalu meminta supaya memaklumi sikap cerewet para kaum tua.


"Sayang apakah Oma dan Opanya anak-anak masih sangat cerewet dengan Asisten." tanya Dion saat berjalan mendekati Chela dan ingin segera melihat calon suami dari gadis itu.


"Ya sepertinya begitu, aku jadi kasihan sama mereka."


"Apa mereka nanti juga akan posesif juga dengan anak-anak, Jessica."tanya Luna.


"Entahlah, yang jelas sekarang aku sangat mencintaimu, hubungan kita harus selalu seperti pengantin baru, Aku ingin kau bahagia, dan memiliki banyak anak," ujar Dion ngelantur.


Aluna terperanjat dengan kalimat Dion. "Banyak anak? kita sudah memiliki dua, berapa lagi yang kau inginkan sayang?" kata Aluna sambil menggamit lengan Dion.


"Terserah kamu, yang jelas aku mau banyak, jumlahnya kau yamg tentukan sendiri karena aku tidak bisa menggantikanmu mengandung," kata Dion sambil terus menggoda istrinya.


Saat akan tiba di depan pengantin yang masih di kelilingi oleh tamu agung dari keluarga besar keluarga Ellyana. Tiba-tiba Adrian menarik lengan Dion.


"Mari berdansa bersama pasangan kita masing-masing, pasti akan sangat menyenangkan, aku sudah lama tidak melihat kalian berdansa."


Lelaki yang memakai jas senada dengan gaun Aluna itu tentu saja langsung setuju, Dansa adalah kesukaan Dion, Semenjak Luna hamil tua dia tidak pernah lagi berdansa.


"Honey?" pinta Dion dengan suara mesra.


"Baiklah Sayang, dengan senang hati." Luna setuju tanpa syarat


Luna juga setuju dengan ide Adrian yang meminta berdansa bersama. Mereka semua mulai berdansa dengan sangat gemulai, musik romantis mengalun merdu, memantik api gairah diantara pasangan masing-masing. Jessika dan Jayden masih sedikit kaku.

__ADS_1


Segelas wine menjadi penghangat tubuh di malam yang bahagia ini, Dion tak menolak ketika pelayan memberi satu gelas.


"Sayang, kau sangat cantik malam ini," puji Dion pada Aluna yang memang nyata adanya.


Lelaki itu tak pernah sedikitpun berpaling dari wanita yang hampir dua tahun menemaninya dalam suka dan duka.


Sebagai pengusaha muda hebat, tentu godaan dari wanita-wanita di luaran sana selalu datang silih berganti, Namun Dion tak pernah ingin sedikitpun mendua.


Istrinya yang dia dapatkan dengan susah payah tak pernah ingin dia duakan meski apapun yang terjadi.


"Sayang, kau terus menggoda istrimu ini. bagaimana kalau dadaku meledak karena selalu mendapat pujian darimu."


"Kau pantas mendapatkannya, Sayang. Aku ingin terus membuatmu Istimewa." Mata Dion mulai sayu. Segelas Wine membuat tubuhnya semakin hangat.


"Sayang, maafkan aku jika nanti membuatmu lelah."


Luna tersenyum, dia sudah pasti akan kelelahan setiap pulang dari pesta. lelaki itu yang akan menghapus riasan sang istri sepanjang malam dan membuat esoknya berantakan dan tubuhnya lunglai.


"Hanya sama kamu, Honey."


Adrian yang samar-samar mendengar Dion terus memuji Luna membuat dia merasa tak ada apa apanya dengan mantan Casanova di sebelahnya.


"Sayang, apa kau ingin aku merayu dirimu seperti dia?" Tanya Adrian pada Nabila.


"Tentu, tapi sayangnya kau tak ada apa-apanya dalam menyenangkan hati wanita dibandingkan Kak Dion." Nabila mengerucutkan bibirnya.


"Ouhhhh, jadi semua wanita sekarang mulai tergila-gila sama dia." sindir Adrian pada istrinya.


Adrian kini menoleh pada Aluna dan Dion yang makin mesra saja. Nabila segera menarik wajah suaminya.


"Jadilah diri sendiri saja Kak, Jangan lihat dia, aku berubah pikiran, aku takut kau malah kembali tergoda dengan Luna lagi." ketus Nabila.


"Adrian akhirnya hanya fokus pada Nabila. Meski di lubuk hatinya yang paling dalam masih terselip ruang kecil untuk menyembunyikan nama Aluna. Namun semua itu tentu menjadi rahasia Adrian, tak ingin ada satu orangpun tahu kalau nama Aluna masih dia simpan di dalam lubuk hati yang paling dalam. Siap yang bisa mengadili Cinta, jika yang Adrian inginkan demikian.

__ADS_1


Luna, Luna, always Luna, wanita yang dia lepas namun sangat disesalinya. mungkin penyesalan itu akan terus di kenangnya.


"Sayang kita pulang, pasta akan selesai." kata Dion yang berbohong.


"Tidak, pesta sama sekali belum dimulai, aku tidak mau kau memanfaatkan aku." kata Luna yang tahu suaminya sedang tak sabar ingin memakannya.


Anak kita saja masih belum tidur, lihat dia sangat bahagia bisa datang di pesta Chela.


"Ya, Baiklah, untuk sesuatu yang menyenangkan memang harus bersabar." ujar Dion.


"Kita belum tahu rupa suami Chela, apakah dia lebih tampan darimu," kelakar Luna.


"Mana ada, akulah yang paling tampan." kata Dion percaya diri.


Luna menahan tawa, suaminya memang paling tampan dimatanya. dari segi apapun, Dion tak nyaris tak ada cacat cela sebagai manusia. Baik, loyal, tampan, dan juga gagah.


"Kak! aku lelah." Nabila kembali merasa mual, efek kehamilan yang diderotanya tak bisa diajak kompromi.


Dion dan Luna juga mengakhiri dansanya, lagipula sebentar lagi acara akan dihentikan dan waktunya menikmati hidangan.


Orang-orang yang mengerubuti pengantin mulai berkurang, Sanak famili Enzo sudah berpamitan pulang, esok pagi mereka harus kembali beraktifitas dengan pekerjaan masing-masing.


Chela sejak tadi mencari keberadaan keluarga besarnya, dilihatnya Luna dan Dion sedang berjalan menuju ke arahnya.


Enzo yang sejak tadi enggan memperlihatkan kemesraannya, dia terlihat kaku.


"Tersenyum, dodol. Kak Luna dan Kak Dion kesini, tidak apa-apa kita pura-pura mesra di depannya, Aku tidak mau mereka curiga kalau kita menikah karena terpaksa.


"Siapa kamu bilang? Coba ulangi lagi?" Kening Enzo berkerut, dua nama itu begitu familiar di telinganya.


"Aluna, dia adalah wanita tercantik dalam lingkaran keluarga kami, sedangkan suaminya Dion pengusaha sukses yang berhasil membantu perusahaan kakak untuk bangkit lagi."


"Wah, hebat sekali dia." Enzo mulai panik, namun masih berusaha bersikap tenang. Enzo terus berdo'a semoga hanya nama yang sama tetapi orang yang berbeda. Meski sebenarnya dia juga ingin sekali melihat wajah Luna yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2