
"Tito mau kemana kamu!?"
Adrian bertanya pada bawahannya, karena seharusnya Tito sudah ada di ruang meeting, kini malah berjalan beda arah dengan dirinya.
"Pak Rian Meeting batal, Pak Dion ada urusan lain dan mendadak," terang Tito yang membuat Adrian menghentikan langkahnya.
"Oh, ya tak masalah. Kalau dia benar-benar membatalkan pertemuan kali ini. Aku juga malas melihat wajahnya," ungkap Adrian lalu melihat pergelangan tangannya. Sudah masuk waktu minum kopi.
Tito hanya tersenyum melihat reaksi Adrian. Adrian dan Dion masih satu nenek yang tak pernah akur. Mereka bersaing ingin menjadi yang nomor satu dan paling bisa menyenangkan hati nenek.
Dion dan Adrian sama-sama pebisnis yang hebat dan digilai wanita. Dion dulu suka main-main dengan wanita cantik seperti Angel, begitu juga Adrian. Angel adalah properti bagi mereka berdua.
Pagi ini Adrian tak mendapati secangkir kopi Aceh yang membuat moodnya selalu baik. Bahkan Aromanya saja tak masuk di hidungnya.
Adrian yang tak tau hal yang menimpa Aluna, dia sudah ingin memarahinya.
Brakk!!
"Dia pikir siapa, beraninya membuat aku menunggu secangkir kopi, apa dia pikir dirinya sudah hebat. Kalau saja Papa tak melakukan kesalahan, pasti aku tak perlu bertemu makhluk planet luar angkasa itu."
Adrian duduk sambil mengurut keningnya. Tangan kirinya meraih telepon seluler yang tergeletak di sudut meja.
Bayangan gadis yang memakai kacamata dan meremas jemari saat dipanggil itu terus saja berkelebat. Membuatnya makin tak sabar ingin mendengar alasan si gadis cupu kenapa tak datang ke ruang kerjanya pagi ini.
Adrian langsung mengangkat gagang telepon memencet tombol panggilan cepat menuju ruang OG.
"Hallo!"
"Saya Nina, ada yang bisa saya bantu?"
"Aluna dimana? Kenapa kopi belum juga datang?"
"Dia masih belum tiba Pak." Nina langsung membekap mulutnya sendiri ketika sadar salah bicara. Tak sepantasnya dia bilang Adrian
"Apa!!" Adrian yang tadinya bersandar kini dadanya menempel ketat dengan meja, bisa-bisanya Aluna terlambat setelah dia memberi peringatan tadi pagi.
"Benar Pak Rian, Aluna masih belum datang, semoga tak terjadi sesuatu dengan dia." Nina juga panik Aluna tak bisa dihubungi. Beberapa kali mencoba menghubungi tapi ponselnya tak aktif.
"Ya sudah, kamu saja yang buatkan kopi untukku pagi ini, cepat!!" Gertak Adrian.
"Baiklah, aku akan cepat kesana Pak!" Nina segera menutup panggilannya
"Kemana kamu Aluna, suka banget cari masalah sama Pak Rian, sudah tau dia itu paling benci dengan karyawan terlambat."
Nina ngedumel sambil membuat kopi, membayangkan sahabatnya sudah pasti akan kena marah lagi.
__ADS_1
****
Luna sudah selesai diperiksa. Lututnya kini diperban membuat jalannya sedikit pincang.
"Kita ke mobil biar saya antar pulang," ucap Dion sambil membantu Aluna berdiri, obat yang diberikan dokter Azka membuatnya merasakan nyeri sampai ke dalam tulang.
"Kamu tinggal dimana?" Suara Dion membuat Aluna menoleh ke arahnya.
"Aku, aku tinggal di …." Aluna bingung mau pulang kemana hari ini.
"Suka banget gugup, nyebutin rumah sendiri saja kaya lupa-lupa ingat begitu."
"Aku akan pulang sendiri aja."
"Yakin dengan kondisimu seperti ini?"
"Sudahlah, saya sudah cukup merepotkan Anda. Ini tidak apa apa." Aluna memaksa melangkah keluar, walau dia harus meremas lengan Dion saat menahan nyeri.
Dion memaksa Aluna untuk naik ke mobilnya lagi dengan mengangkat tubuhnya. "Aluna hanya bisa kesal dan pasrah. Lelaki di depannya sangat baik, hanya terkesan sedikit pemaksa.
"Tinggal beritahu jalannya, aku akan mengantarkan kamu." Lelaki itu tersenyum menatap Aluna. Sedangkan Aluna dibuat semakin takut dengan lelaki pemaksa seperti dia.
"Sopir, kita antarkan dia pulang."
"Siap, Bos Dion."
"Kau tinggal disini!!" Dion terkejut.
Aluna mengangguk. "Kenapa?"
"Kamu bekerja untuk lelaki angkuh seperti Adrian? Kamu tidak apa-apa?" memicingkan matanya menanti jawaban Aluna.
"Saya baik-baik saja, tak ada pilihan untuk wanita sepertiku." Aluna tersenyum lalu turun dengan hati- hati, ingin rasanya menahan lengan gadis itu, ingin berbicara banyak hal tapi sialnya dia sudah berjalan masuk dan di bantu Imah, wanita itu segera membantu, meninggalkan aktifitasnya menyiram bunga.
"Nona Aluna kenapa? Ya Allah kok bisa sampai luka semua? Lutut, sikut, untung kacamata barunya nggak pecah?" Imah mengamati Luna dari atas sampai bawah.
Aluna tersenyum. "Bi, Aluna nanti ke kamar, mau istirahat ini perih semua."
"Iya, bibi antar. Makasi ya Den Dion. Sudah antarin." Bibi tersenyum ramah dan seperti sangat menghormati lelaki di depannya.
"Bibi kenal dia?" Tanya Aluna
"Dia Den Dion, sepupu Tuan Adrian."
"Bukan sepupu, tapi kita musuh, aku dan Adrian adalah dua singa yang tak akan bisa akur," ungkap Dion melipat tangannya di dada.
Setelah memastikan tak terjadi apa-apa, Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Aluna dan Imah.
__ADS_1
Kini giliran dua wanita itu yang mengamati kepergiannya.
"Mari masuk, Nona," ajak bibi
"Mari, Bi." Aluna mengangguk, lalu merebahkan diri di atas ranjang, sedangkan imah menyiapkan buah potong.
Halaman kembali sepi setelah Aluna dan Imah masuk. Dion segera meluncur menuju perusahaan, dia harus mengurus banyak berkas dan mengatur jadwal ulang. Kiren sekretaris Dion mulai merubah jadwal meeting dan lain lain.
Satu saja pekerjaan tertunda, maka semua jadwal harus berubah, begitulah keseharian Dion yang disibukkan hanya dengan urusan bisnis saja.
"Nona kenal tuan Dion dimana?" Tanya Imah setengah berbisik sambil menuangkan teh yang terlalu panas ke atas lepek supaya lekas bisa diminum.
"Gara-gara ini, takut terlambat, jadi aku minta Ojol ngebut tadi, Bi."
"Oh." Bibi mengangguk. "Bagaimana kalau Tuan Adrian tau anda diantar Den Dion? Mereka sedang bermusuhan," lirihnya lagi.
"Apa hubungannya dengan Pak Rian, Bi? Yang ditolong sama Pak Dion itu saya, apapun yang berhubungan dengan diri saya, dia tak akan mempermasalahkan. Mana peduli dia," ungkap Aluna sambil menerima teh hangat dan menyeruputnya.
Aluna baru sadar kalau dia tak memberi kabar pada perusahaan tempatnya bekerja, usai minum teh dia baru ingat. Dia mencari keberadaan ponselnya di saku, yang ternyata retak karena sudah diduduki waktu jatuh tadi.
"Ya pecah, pasti sudah nggak bisa dipake lagi." Aluna melihat benda pipihnya begitu mengenaskan.
Bibi yang melihat raut wajah Aluna seketika tersenyum. "Sudah waktunya mungkin Non."
Aluna nampak sedih, satu persatu benda kenangan Yusuf mulai rusak. "Ini kenang kenangan dari Almarhum Bapak saya, Bi."
"Ini pasti masih bisa diperbaiki Bi, pasti yang rusak hanya antigoresnya saja. Aluna berulang kali mencoba menyalakan tapi tak bisa.
"Sudah, beli saja yang baru, nanti bibi minta anterin Arga atau Argo."
"Jangan, Bi." mendengar bibi menyebut nama dua pengawal itu Aluna sudah bergidik membayangkan dua pria yang seperti patung itu bersamanya.
Aluna meraih tas dan mengeluarkan amplop coklat dari dalamnya, dia melihat kembali gaji yang diterima bulan ini.
"Dua juta, ini sudah dapat ponsel lumayan bagus. Mungkin gaji bulan ini memang takdirnya buat beli ponsel," ujar Aluna lirih.
****
Adrian yang tau Aluna sudah berangkat dia mulai kepikiran. "harusnya kalau Aluna sudah siap-siap tadi pagi, dia tak akan terlambat selama ini. Kemana dia."
Adrian menghampiri Arga dan Argo dia memberi titah pada dua pengawalnya. "Tolong cari Aluna. Jangan-jangan dia di culik."
"Tuan, anda mulai menghawatirkan istri rahasia anda, jangan jangan?"
"Diam! Bisa jangan sebut rahasia itu disini, atau dimanapun. Mulut lancang mu bisa membuat aku dalam masalah besar." Adrian melebarkan matanya membuat dua orang pengawal itu menundukkan pandangannya.
"Maaf Tuan, kami mohon diri." Dua pengawal segera menghilang di telan pintu lift. Daripada berhadapan dengan tuannya yang sudah menunjukkan taringnya.
__ADS_1