Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 209. Cinta Adrian.


__ADS_3

Usai merayakan hari jadian tadi malam, Adrian langsung mengantar Nabila pulang, di depan rumah Kakak galak sudah menunggunya. 


"Kenapa malam sekali?" Tanya Jaiden sudah layaknya seorang polisi satlantas


"Hehehe, maaf kak tadi habis ngerayain sesuatu." Jawab Nabila jujur. 


"Sesuatu apa, Na?"Jayden makin penasaran. 


"Aku dan Kak Adrian, kita resmi pacaran." Kata Nabila jujur.


"Kamu yakin nggak sedang dimanfaatin sama dia?" Jayden menatap Adrian yang lebih banyak diam daripada ikut bicara. 


"Kak Jayden, kenapa nggak percaya sama Kak Adrian. Dia sungguh sungguh dan tulus mencintai ku Kak."


"Em, Na, Kak, karena sudah malam aku pamit dulu." Mendengar dirinya adalah topik pembicaraan Kakak dan adik itu. Adrian memberi kesempatan pada mereka untuk berbicara dari hati ke hati. 


"Kak Rian nggak masuk dulu?" Nabila tidak enak hati dengan kekasihnya yang makin terlihat canggung, entahlah meski Nabila tau Adrian belum bisa melupakan Aluna, tapi gadis cantik itu yakin kekuatan cintanya bisa membuat Adrian berpaling dari bayangan masalalu dan mencintainya. 


"Besok aja ya Na, lagian Ini sudah malam, mending kamu istirahat, ucapan Kakak kamu ada benarnya juga." Kata Adrian memberi pengertian pada Nabila.


Adrian menangkupkan tangannya pada jaiden dan Nabila, yang artinya mohon pamit untuk  undur diri. 


Setelah Adrian pergi Nabila masuk rumah besarnya dan Jayden segera mengunci pintu gerbang. 


Sampai di ruang tamu Nabila kembali lagi diberondong pertanyaan oleh Jaiden. 


"Berhenti! Jangan masuk kamar dulu, Aku ingin ngomong sesuatu." 


"Apa yang ingin Kakak ucapkan adalah keberatan kakak mengenai hubungan Nabila dengan Kak Rian." terka Nabila.


"Benar sekali, Kakak tak akan pernah berhenti mengingatkan kamu, Jika Adrian itu mempunyai masa lalu yang kelam, dia hanya mencintai Aluna. Dan kamu kini bermimpi mendapat cintanya. kamu tidak akan pernah bahagia dengan cinta seperti itu Na, cinta seperti apa yang akan kau jalani nanti." 


"Cinta seseorang bisa berubah kapan saja Kak, Nabila yakin cinta Nabila yang tulus akan mampu membuat Kak Adrian jatuh cinta sama Nabila." Nabila keras kepala. 


"Aku hanya tidak mau kamu kecewa Na. Kakak tidak akan tega melihat kamu patah hati. Semenjak kau ikut Kakak disini, aku adalah orang tua untukmu. Aku tahu apa yang baik dan tidak untukmu. aku harus pastikan kamu tak akan patah hati dan menangis lagi."


"Tolong kak, sekali ini saja, biarkan nabila mengambil keputusan, yang menyangkut masa depan Nabila. Nabila yakin Kak Rian jodoh yang terbaik yang dikirim oleh Tuhan untuk Nabila," cerocos Nabila.


"Terserah jika kau keras kepala, yang jelas Kakak sudah ingatkan kamu. Kakak begini karena sayang sama kamu. Jika kamu keras kepala, lakukan apa yang kamu inginkan." Jaiden mulai jengah dengan Nabila yang sudah cinta mati dengan Adrian.


"Baik kak akan aku buktikan pada kakak jika Adrian memang layak diberi kepercayaan." 


"Buktikan secepatnya. Tantang Adrian untuk menikahimu. Apakah dia akan setuju? Jika dia terus menunda nunda, itu artinya dia memang tak pernah serius." kata Jayden kemudian.


"Baik kak, akan aku beritahu ke Kak  Adrian, jika kakak ingin kita menikah." Nabila segera masuk ke kamar dengan buliran kristal jatuh membasahi seragam dokter yang dia kenakan.

__ADS_1


Sampai di kamar dia tidak langsung tidur, Nabila duduk di atas ranjang sambil terus memikirkan bagaimana dia akan mengutarakan isi hatinya ke yadtosn. Jika Jayden terus mendesak supaya tidak terlalu lama pacaran. 


Nabila  menghubungi Adrian yang mungkin masih di jalan. "Halo Na, ada apa?" Adrian mengangkat panggilan Nabila dengan segera setelah menepikan mobilnya.


"Em, Kak Adrian sudah sampai dimana?"


"Aku masih di jalan Na, Ada apa?"


"Tidak, cuma pengen denger suaranya saja." Nabila berusaha mengawali obrolan mereka seringan mungkin. Setelah panggilan diterima oleh Adrian, Nabila mengubah panggilan menjadi videocall.


"Hahaha, bukankah kita haru saja seharian bersama masa sudah kangen." Adrian meledek Nabila. Orang yang diseberang sana mengerucutkan bibirnya.


"Kak Rian nggak asik, ah. Diperhatikan malah meledek melulu," kata Nabila terdengar ngambek.


"Iya,Nabila sayang, kakak sedang ada di jalan. Kakak mampir di kedai soalnya tadi kakak mau kopi buatan Nabila tapi takut kak Jayden makin  marah kalau terlalu lama disana," curhat Adrian yang sebenarnya masih dalam mode bercanda. 


"Kak."


"Iya."


"Sayang beneran nggak sih sayang sama Nabila?" tanya Nabila dengan ragu--ragu mengatakannya


"Na, aku nggak ingin bermain main jika urusan cinta, hanya saja aku butuh sedikit waktu supaya tak membuatmu kecewa Nanti"


"Biar Kak Jaiden percaya, kalau Kak Rian sungguh sungguh tidak ingin mempermainkan Nabila, bagaimana kalau kita tunangan saja dulu. Maaf Kak Rian, bukan Nabila mau memaksa, tapi ini demi mencari restu dari Kak Jayden."


"Kak, kak Rian kenapa diam saja. Maaf kak jika aku sudah salah bicara, bukan maksud hatiku untuk mendesak, atau tak percaya pada ketulusan Kak Rian, tapi ini karena menyangkut Kak Jaydrn " Nabila terlihat tidak enak hati. Padahal baru saja Adrian meminta agar tak buru-buru melangkah pada jenjang berikutnya. Malah sekarang meminta Adrian untuk segera melamar. 


"Ok, besok pagi aku akan kesana, kita bicara saja ketika langsung ketemu takutnya jika lewat telepon akan salah paham."


"Iya Kak, maafkan Nabila, yang berkesan mendesak, Kak Rian."


"Aku tahu ini bukan karena keinginanmu, ini pasti kak Jayden Yang minta. Hal yang sama yang mungkin aku inginkan saat adikku membawa seorang laki laki tanpa ada status. Percayalah Na, kakak Jayden sudah bertanggung jawab padamu, dia memiliki beban yang besar di pundaknya yaitu menjaga adiknya agar tetap menjadi gadis yang baik."


"Terimakasih Kak, sudah sangat pengertian, Nabila makin sayang dengan, Kak Rian."


"Sama Sayang, Kakak juga Sayang sama Nabila" Adrian merayu. 


Nabila disana sudah senyum senyum sendiri sambil memandangi wajah kekasihnya dilayar ponsel. Rasanya belum ingin memutus panggilan, tapi Adrian berada di jalan yang makin larut makin terlihat sepi.  


"Daaaaaa …" Nabila melambaikan tangannya pada Adrian dan Adrian hanya tersenyum manis. 


Setelah panggilan benar benar terputus, Adrian menggenggam ponselnya. 


Tunangan, menikah, setelah dua kali gagal, Adrian masih sangat tabu membicarakan dua hal sakral itu. Tapi hati kecil Adrian menyatakan jika keinginan Jayden ada benarnya, buat apa berlama-lama, jika hanya berpacaran saja.

__ADS_1


Sampai di rumah Adrian langsung masuk ke kamar, dia acuhkan Chela dan Selena yang sedang santai di ruang keluarga. Entah kenapa rasa kecewanya pada dua orang itu seringkali muncul begitu saja. 


Adrian membuka sebuah ruangan, dan menelisik setiap sudut kamar luas yang dulu pernah disinggahi oleh Aluna.


Adrian menatap satu persatu benda peninggalan Aluna yang tersisa seperti foto pernikahan mereka. Semenjak Aluna pergi kamar itu memang tak pernah dibuka lagi, Adrian sengaja melakukannya agar Angeline tak merusak barang-barang Aluna.


Adrian duduk di tepi ranjang dan terpaku begitu lama. 'Lun, pernah aku bermimpi bisa kembali lagi padamu, aku masih berharap kesempatan kedua itu ada, tapi nyatanya aku sudah tidak memiliki kesempatan itu, kau sudah bahagia dengan Dion. Tidak apa-apa Luna, sungguh aku ikhlas karena Dion mencintaimu lebih dari yang kumiliki, cintanya sejak awal sudah tulus. Beda dengan Aku yang terlambat  mencintaimu. 


Luna, maafkan aku harus melepas foto kita saat menikah, dan lainnya, aku tidak mau terus berada di titik yang sama , hanya mencintaimu seorang diri tanpa dapat balasan. Sampai kapan aku seperti ini, aku butuh seseorang untuk menemaniku melangkah ke depan, mengharapkan dirimu lagi rasanya sudah tak mungkin.'


Mata Adrian tiba tiba berkaca-kaca dan memerah, saat melepas foto pernikahannya dan beberapa foto Aluna yang sengaja diabadikan dan dibingkai sendiri oleh Adrian. 


Adrian yakin Nabila adalah wanita yang tepat saat ini, dia memiliki banyak kesamaan dengan Aluna. Mungkin awalnya Adrian mulai tertarik karena hal itu, tapi lama-lama Adrian mulai sadar jika dia memang menyukai Nabila bukan karena melihat sosok Luna pada dirinya. Tapi gadis itu tulus mencintainya. pengertian, dan selalu ada disaat yang tepat.


***


Keesokan hari Nabila berangkat ke rumah sakit, seperti biasa Adrian menjemputnya sekalian ke kantor. Tapi pagi ini rumah Nabila terkunci rapat, tanda tak ada kehidupan lagi di dalamnya. 


Adrian tak patah semangat dia terus mengetuk pintu rumah Nabila berharap dugaannya salah. Tapi memang benar, Nabila dan Jayden sudah tak ada di rumah. 


Adrian mencoba menghubungi Ponsel Nabila tapi tidak terhubung. Tumben bagi Adrian, Nabila tak bisa dihubungi. Selama ini Nabila tak pernah sulit dihubungi seperti hari ini. 


Sedangkan Nabila sedang ngambek dan bibirnya terus monyong sepanjang perjalanan. 


"Kakak aneh. Kakak tahu Kak Adrian yang akan jemput Nabila, tapi malah kita berangkat pagi buta seperti ini, dan Kak Jayden main rampas hp Nabila segala."


"Na, cinta itu harus diuji, aku ingin lihat reaksi Adrian saja, apa dia akan mencarimu, atau dia akan tenang tenang saja. Jika sampai  jam sembilan pagi di tak datang ke rumah sakit mencarimu, kakak anggap cinta Adrian hanya cinta semu belaka.


"Kak Jayden jahat, kenapa mempertaruhkan hubungan Nabila hanya dengan tiga jam saja. Bagaimana jika saat di jalan mobil Kak Rian rusak, atau bannya meletus."


"Hahaha kamu ini segitunya takut kehilangan Dia, sampai sampai pikiranmu menerka kemana-mana tak jelas dia.


Nabila kesal dengan Jayden hari ini, rencananya sungguh konyol. Karena dongkol dia terus berlari masuk ruang pribadinya. 


'Na, Na, aku tahu cintamu sangat besar pada Adrian, tapi kamu harus jual mahal juga, kakak nggak rela jika lelaki itu sedikitpun meremehkanmu, dia harus tetap berjuang untuk mendapatkan cintamu," batin Jayden.


Jayden memasukkan ponsel Adiknya yang di nonaktifkan ke dalam saku. dia akan mengembalikan jika dia telah melihat Adrian datang mencari Nabila nanti.


Sedangkan Adrian masih terpaku di depan rumah mewah Nabila dengan pikiran yang kacau.


"Na, apakah semalam kata kataku ada yang menyakitimu hingga kau harus tak memberi kabar seperti ini." berulang kali mencoba terus menghubungi Nabila. tapi tetap saja ponsel Nabila jadi dalam mode tidak aktif. berbagai rasa berkecamuk didada. Apa Nabila kerumah sakit pagi buta, atau ada keperluan lain yang sangat rahasia.


Adrian kembali masuk ke mobil dia lalu kemudikan mobil kearah kantor, pagi ini Adrian ada tawaran kerja sama dengan sebuah perusahaan yang lumayan besar. setelah itu dia akan mencari Nabila lagi.


Pekerjaan saat ini bagi Adrian juga penting, dia tidak mungkin menikahi seseorang dengan keadaan ekonomi yang sedang porak-poranda.

__ADS_1


 


__ADS_2