Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 231. Bayi mungil sudah launching.


__ADS_3

"Ayo Kak,mengejan lagi, ayo! Hampir saja. Tinggal sedikit lagi." Nabila terus memberi semangat. Sambil sesekali mengintip selimut Aluna yang menutupi kedua kakinya. 


Selang beberapa detik, terdengar tangis bayi menggema memenuhi ruangan. Dibarengi nafas Aluna yang mulai terengah-engah. Dadanya naik turun. "Huff … huff … huff …." 


Genggaman Aluna pada tangan Dion mengendur. Dion segera menggenggamnya dengan erat. Memeluk tubuh istrinya yang lunglai.  


Nabila segera menggendong bayi Luna yang masih berlumuran darah menuju ruang bayi untuk dibersihkan, karena sebentar lagi Dion harus mengadzani putranya. 


Tak lama lagi bayi Luna sudah bersih. Dion yang terpaku, karena rasa bahagia bercampur haru, segera menerima bayinya yang sudah bersih dari tangan Nabila. "Bayi anda sangat tampan, mirip ibunya." kata Nabila yang jatuh cinta dengan bayi Dion karena parasnya yang elok. 


Dion segera menggendong bayi dan mengadzani di telinga kanannya. Bayi Dion menggeliat sambil merengek kecil. Tatapannya sayu menatap sang ayah dengan kelembutan.


Dion mengecup lembut pipi putranya. Sepertinya benar kata Nabila, bayinya lebih mirip dengan wajah Aluna. Meski dagu dan bibir mirip dirinya.


Dion mendekatkan bayinya pada Aluna. Baru saja hendak beringsut dari tidurnya, Luna kembali merasakan sakit yang luar biasa seperti tadi. 


"Sayang, aku merasakan sakit lagi."


"Hah, pasti bayi kedua kita mau lahir juga." Dion panik, dia segera meminta Nabila untuk membawa bayinya ke ekubator. Dion belum ingin keluarga besarnya masuk dan membuat keributan dengan berebut putranya. 


Aluna kembali berjuang antara hidup dan mati dalam melahirkan sang bayi. Bayi kedua sepertinya juga tak sabar ingin segera melihat dunia. 


Dion naik ke atas brankar, dia memeluk Aluna sangat erat, kini Aluna berada dalam dekapan Dion sambil mengejan seperti melahirkan bayi pertamanya tadi. Bayi kedua sepertinya sudah tak sabar ingin segera melihat dunia menyusul kakaknya.


"Aaaaa," pekik Aluna menggema dan tangis bayi kedua pun terdengar begitu nyaring. 


Aluna bernafas lega. Dion mengecup kening Luna dan berterimakasih entah sudah berapa ratus kali rasa terimakasih itu terdengar di telinga Aluna. Dion juga berulang kali berucap syukur pada sang pencipta. 

__ADS_1


Akhirnya bayi kedua juga dibersihkan oleh Nabila dan juga di adzani oleh Dion di telinga kirinya. Bayi berjenis kelamin wanita sudah lahir di jam tiga sore, dia terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Dion segera memberikan kecupan lembut di pipinya sama seperti Sang Kakak. 


Aluna menitikkan air mata haru. Rasa bahagia amat dalam karena sudah diberi kepercayaan melahirkan si kecil dua sekaligus. Belum lagi bahagia luar biasa yang ditunjukkan oleh Dion membuatnya merasa menjadi wanita hebat dan berarti. 


"Akhirnya kau berhasil melahirkan bayi kita, bayi kita sudah lahir, Honey. Kau hebat, Kau ibu yang sangat hebat." Dion mengecup pipi Aluna bertubi-tubi membuat Aluna merasakan kehangatan. 


***


Semua anggota keluarga boleh masuk, dengan syarat tidak boleh berisik,Mama Melani,  Jessica, Nenek dan Adrian masuk bersama, sedangkan papa Davit datang paling terakhir karena dia baru mendapat kabar dari Melani saat meeting.


Aluna mulai menyusui kedua bayinya bergantian, meski ASI belum keluar dengan lancar dan bayi masih kesulitan menyusu Dion dengan sabar dan hati-hati membantunya. 


"Wah, dedek kesulitan Mbak, ininya terlalu kecil." Nabila membantu si kecil mendapatkan Asi . Karena baru pertama kali jadi kurma milik Luna masih sulit di gapai si bayi. 


Aluna terlihat tak nyaman ada Adrian di dalam, Dion akhirnya menutupi tubuh Luna dengan bayangan tubuhnya. 


Sedangkan Adrian tau keberadaannya hanya membuat kecanggungan, dia segera menyerahkan hadiah untuk si kembar dan pamit ke ruangan istrinya. 


"Yayaa." Makasih banyak. Dion mengambil hadiah dari tangan Adrian dan menaruh di atas nakas. Cemburu kecil tetap saja seringkali muncul di benak Dion. Apalagi Luna juga selalu peduli dengan Adrian. 


Adrian tersenyum lalu menepuk pundak Dion. "Selamat, kamu sudah jadi Papa. Lain kali lebih hati-hati jika menghadapi wanita seperti Angeline."


'Sial, kamu meledekku, kamu tak tahu saja kalau aku melakukan semua ini demi kamu, bodoh.' batin Dion.


Adrian keluar, kini tinggal keluarga Sanderson yang ada di dalam.


Jessica terus mengecup pipi si mungil membuat Dion geram. "jangan dicium terus menerus, mending pulang sana, belum mandi gitu." Dion menjauhkan si bungsu dari jessica karena, jessica mengerucutkan bibirnya melihat kakaknya yang makin posesif, padahal dia sudah mandi di tempat kerja tadi dan sekarang juga tubuhnya masih wangi.

__ADS_1


"Sayang, kamu kok gitu amat sama Jessica, dia sudah cantik kok." kata Aluna yang tak mau melihat adiknya merajuk.


Sedangkan Mama dan Nenek sedang menggendong si Sulung yang sejak tadi belum berhasil meneguk ASI dari Luna.


"Mbak Luna, sepertinya Pak Dion yang bisa membantu si kecil mendapatkan ASI-nya."


"Maksudmu apa Na, kenapa harus dia? apa tidak ada alat lain." Luna tentu saja malu, bagaimana harus Dion yang membantu. pasti orang orang akan menganggap ini hal yang menggelikan.


"Ada sih, tapi agak lama, sedangkan si kecil kelihatannya haus." Nabila kasian melihat bayi Luna yang sejak tadi bibirnya terus bergerak gerak karena haus.


Mama tertawa, "Sudahlah, serahkan pada Dion saja Dok, dia ahlinya.


"Benar kalau pak Dion, pasti bisa memijatnya pelan-pelan dan hati-hati."


"Baiklah Dokter aku bisa, tapi Luna pasti akan malu, kalian semua harus keluar," kata Dion semangat. Kalau soal pijat memijat dan memilih Dion ahlinya.


Keluarga pun keluar setelah nenek mengatakan sesuatu pada Dion . "Dion kamu hanya boleh membantu putramu mendapatkan ASI, ingat kamu tidak boleh mencurinya." kata Nenek yang mendapat Anggukan lemah dari Dion.


Dion mendesah dalam hati, ketika si melon nampak kencang, segar, dan menggairahkan. Dion harus merelakan untuk kedua anaknya, Dion hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah membayangkan betapa lamanya puasa yang harus dia jalani.


Dion mulai membantu dengan hati-hati, memijat lembut dan memilin-milin pelan, meski agak lama Dion tetap sabar, hingga ASI sedikit kecoklatan keluar dari ujung sumber kehidupan untuk si bayi itu. bayi laki-laki yang lebih dulu lahir sudah pasti paling haus, Dion lalu mengangkat si bungsu dan dia mulai menyusu dengan sangat rakus.


"Sayang, kamu rakus juga ya minumnya. itu punya papa kamu ambil." Dion memasang wajah senyum nelangsa. Kening Aluna mengerut dan bibirnya mengulas senyum mendengar keluhan Dion baru saja.


"Kalau punya baby memang harus puasa, kalau mau baby banyak puasanya juga makin sering" kata Aluna yang membuat Dion makin nelangsa.


Dion kini membantu si bungsu untuk mendapatkan ASI yang satunya, Dion melakukan hal yang sama pada kedua anaknya.

__ADS_1


'Ahha, sabar Dion, kamu harus sabar, kamu pasti kuat, anak anakmu hanya mengontrak sebentar, semuanya masih milikmu.' batin Dion menenangkan diri sendiri, sambil terus membantu si bungsu meneguk ASI langsung dari sumbernya.


Sedangkan si sulung mulai kenyang dan mengantuk. Dion menggendong si sulung sebentar mengecup pipinya lembut lalu menidurkan di enkubator yang sudah dipindahkan ke ruangan yang sama dengan Aluna.


__ADS_2