Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 22. Bertemu lagi.


__ADS_3

Aluna melihat salinan rekaman CCTV yang ada di ponsel Adrian dengan jeli. Tapi sekarang dia heran dimana masalahnya. 


"Tuan, jika dia menolongku lalu dimana masalahnya? Aku saat itu kesakitan, dan dia pria baik mau menolongku." 


"Kamu sudah mulai membantah? Aku tak mau kau dekat dengan laki-laki itu, karena dia …." Adrian tidak melanjutkan kata katanya.


"Maaf bukankah Anda bilang kalau aku hanya tidak boleh dekat dengan pria yang kerja satu perusahaan, karena bisa menurunkan kinerja karyawan itu sendiri."


"Iya aku memang bilang begitu, tapi kali ini kau juga tak boleh dekat dengan dia, Dion adalah musuh perusahaan. Kita sedang bersaing mati matian untuk menjadi number one di pulau ini."


"Bilang saja aku tak boleh dekat dengan semua orang, karena takut rahasia pernikahan ini terbongkar, pasti itu alasannya kan?" bantah Aluna.


"Terserah, yang jelas jangan dekat dengan orang-orang yang ada pengaruhnya dengan perusahaan." Adrian melempar jasnya ke wajah Aluna, seperti biasa dia harus mencucinya secara manual, yaitu dengan kedua tangannya.


Chela yang mendengar percakapan dan reaksi Adrian, merasa Aneh. Kakaknya terlihat sedang cemburu. Chela tak mau itu terjadi. 


Chela segera berlari mengejar Adrian di kamarnya. "Kak Rian buka pintunya!" Chela menggedor pintu kamar kakaknya.


"Ada apa sih?" aku pengen istirahat." Adrian yang baru menghempaskan bokongnya di ranjang terpaksa harus membuka pintu kamarnya lagi. 


"Ada apa? Kakak baru pulang, mau mandi. Lengket banget." Adrian mencium kedua ketiaknya yang tetap wangi walau seharian kerja.


"Kak Rian, Chela mau tanya sesuatu!" Gadis itu nyelonong masuk lalu duduk di sebuah kursi kecil yang bisa diputar-putar menghadap ke segala arah. 


"Kak Rian suka sama gadis dari kampung itu?"


"Enggak?"


"Bohong! Chela tau ada cemburu di mata Kakak, itu alasannya kakak melarang dia dekat dengan Kak Dion."


"Kamu sudah gila ya! Nggak mikir apa sebelum menuduh, Cemburu yang kamu bilang itu tak ada buktinya?"


"Terus kenapa Kak Rian bohong soal pekerjaan Aluna, supaya keren dimata mama?" Chela mendesak Adrian supaya berkata jujur.


"Kakak waktu itu bicara asal asalan saja, kalau sudah tak ada yang penting, Kakak mandi dulu." Adrian meraih handuk kimono yang ada di lemari,masih terlipat rapi dan wangi. 


Gadis itu menundukkan wajah sambil memainkan jemarinya. "Kak, Chela ingin jadi model terkenal seperti Kak Angeline, semua akan lebih mudah Jika Kak Adrian benar-benar menikahi Kak Angeline, Chela bisa belajar banyak hal dari dia."


"Kakak tak setuju kamu jadi model, kamu bisa bekerja yang lainnya." Adrian berkata sambil masuk kamar mandi. Melihat kakaknya sedang mandi Chela segera keluar. 


Aluna sudah selesai mencuci jas mahal Adrian, lalu dia membuat kopi yang disukai Yusuf dulu , kopi Aceh yang beraroma khas dan harum. Rupanya Adrian juga suka. 


Selesai membuat kopi dan cemilan sederhana, Aluna segera membawanya ke kamar Adrian, dia tahu lelaki itu sedang capek, dan butuh minuman untuk menghangatkan tubuh.


 Aluna suka, Adrian sekarang jarang minum alkohol lagi. Saat masuk ke kamar mewah menghitung jumlah Alkohol dalam botol, jumlahnya masih selalu sama. 


Tok! tok!


"Chela kenapa kembali lagi! Aku mau istirahat." Adrian membuka pintu sambil ngomel. Tubuhnya masih dalam balutan kimono.

__ADS_1


"Ini aku, bukan Chela." Aluna berkata, tapi tatapannya fokus pada makanan di depannya. 


Adrian bisa mencium kopi harum buatan Aluna, dia tak menyangkal kalau kopi buatan Aluna lebih nikmat dan sesuai seleranya. Pasti Tito juga merasakan hal yang sama. Kopi ini jembatan keakraban mereka.


"Bawa masuk!" ucapnya masih dengan wajah dingin. 


Aluna dengan hati-hati menaruh di atas nakas, dia melihat seprei dan beberapa baju yang berantakan. Aluna membantu merapikannya. 


Adrian sesekali melihat Aluna dari cermin, saat tak sengaja tatapan mereka bertemu Adrian kembali pura pura menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. 


"Jika sudah selesai keluarlah!" Adrian  mengusir Aluna. 


Aluna mengangguk sudah beberapa langkah ingin pergi, tapi kembali dia ingat sesuatu. "Aku boleh bertanya sesuatu?" Aluna menjauh


"Katakan saja!" 


"Karena kebohongan yang anda lakukan kemaren, aku mendapat akibatnya, adik dan mama anda tentu tidak suka dibohongi."


"Ya, aku minta maaf," ujarnya pendek.


"Apa boleh tahu kenapa anda melakukan kebohongan itu?"


"Aku malu mengatakan padanya kalau kau hanya pegawai paling rendah di perusahaan."


"Anda tak perlu malu, aku bahagia dengan pekerjaanku, lagi pula hubungan kita tak akan ada yang tahu, kenapa malu?"


Aluna tersenyum. Walau dari lubuk hati yang paling dalam, dia kecewa dengan lelaki seperti Adrian, mempermainkan pernikahan, yang dia ucapkan sendiri dengan menyebut nama Allah untuk sebuah janji suci. 


"Sejak awal saya sudah sadar diri, tak akan meminta Anda untuk mencintai saya, Pak." Aluna lalu keluar.


"Baguslah, kamu sadar juga." Kalimat terakhir yang Aluna dengar terasa begitu menyakitkan. Namun dia menoleh pada Adrian dan berusaha tersenyum.


****


Malam hari Aluna keluar rumah, karena izin membeli ponsel, Security mengizinkan tanpa banyak bertanya karena alasannya tepat. Kali ini dia bawa motor sendiri. Ada motor di garasi yang tak pernah dipakai hingga berdebu.  


Arga dan Argo yang akan dimintai tolong sudah pulang, lelaki itu seharian kerja bersama Adrian tapi malam harinya tidur di rumah masing-masing.


Aluna mengendarai motor dengan hati-hati. Luka di lututnya sudah tak begitu sakit. Jarak Mansion dan counter juga hanya beberapa kilo meter saja. 


Sampai di depan Counter, Aluna segera memarkirkan motornya. Dengan langkah gegas dia menuju deretan Counter, Aluna memilih counter yang paling sederhana, yang dia yakini jual beragam ponsel-ponsel murah, dan Aluna berharap ada yang bekas dan masih bagus .


"Mbak ponsel tipe xx masih berapa harganya?"


"Masih mahal Mbak, dua juta setengah." Jawab penunggu counter.


Aluna tadinya mengira ponsel sederhana yang dia pilih harganya sekitar dua juta, ternyata masih lebih. Padahal dia sudah tertarik sejak pertama melihat tadi.


Raut kecewa diwajah Aluna begitu kentara, gadis itu melipat bibirnya ke dalam sambil mengamati ponsel yang lainnya. 

__ADS_1


"Kalau yang ini." Aluna menunjuk lagi.


"Itu malah mahal, masih sekitar tiga juta'an," jawab pegawai dengan sabar. Aluna menganggukkan kepalanya berulang kali.


"Berapa sih uang yang Mbak bawa?" Tanya Mbak penjaga lagi. 


"Uangnya adanya dua juta, ada nggak yang harganya pas dua juta saja?"


"Kalau dua juta dapat yang ini Mbak, sudah lumayan bagus juga."


"Baiklah bungkus yang ini saja." Aluna terpaksa memilih ponsel yang kurang di sukai. 


"Mbak jangan bungkus yang itu. Bungkus yang ini saja, bukankah Aluna suka yang ini." Tiba tiba suara bariton laki laki terdengar dari arah belakang. Aluna langsung menoleh dengan cepat.


"Tapi Mas, uangnya kurang, Mbak ini cuma bawa dua juta." Penjaga terlihat keberatan.


"Nanti aku tambahin, atau kalau ada yang lebih bagus lagi, yang ini aja gimana, Lun?"


"Nggak usah, Pak Dion, benar jangan yang ini, ini mahal." Aluna melarang penjual mengambil ponsel mahal yang belakangnya ada gambar apel habis di gigit itu. 


"Mbak dengarkan saya saja, saya yang beli, saya yang mau pakai, bungkus pilihan terakhir aja ya."


"Mbak, Bungkus pilihan saya saja. Dia pacar saya. Suka bandel." Dion memeluk pinggang Aluna.


"Pak Dion, anda bercanda." Aluna menjauhkan tangan Dion dari pinggangnya.


Pegawai itu terlihat heran, mana mungkin gadis sederhana dan ketinggalan stile itu bisa berpacaran dengan lelaki super perfeck, dan herannya lelaki itu sendiri yang mengatakan.


 "Jadi saya bungkus yang mana ini? Sudahlah, Mbak kalau pacar yang belikan diterima aja," ujar pegawai lagi sambil melirik Dion. 


"Bungkus yang dua juta!" Aluna berkata dengan cepat.


"Bungkus pilihan saya!" Dion juga menjawab.


Mereka berkata hampir serempak. Membuat pegawai makin kebingungan dan hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. 


"Karena kalian berdua membuat saya bingung, jadi aku bungkus dua-duanya saja. Gimana?" 


 "Nggak masalah, berapa kalau saya beli dua-duanya?"


"Jangan Mbak, satu aja, baik aku mengalah. Bungkus pilihan Pak Dion aja. Daripada dia harus membeli keduanya."


"Nah gitu donk, Masnya biar senang," goda pegawai itu lagi. Dalam hatinya berbicara kalau Aluna gadis yang beruntung.


Aluna mengalah dia tak mau Dion mengeluarkan uang untuk dua ponsel sekaligus. Kalau dia menolak pemberiannya dia akan tetap kekeuh membeli keduanya.


*Emak mau minta Vote, Like dan Komen boleh ya, biar semangat nulisnya.


*Tekan Love biar ada pemberitahuan saat baru update.

__ADS_1


__ADS_2