Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 47. Pengakuan Adrian.


__ADS_3

Aluna segera melepas pelukannya dan kembali menjaga jarak dari Dion, Aluna sadar yang dia lakukan salah. 


"Maaf Pak, aku tadi baru saja mimpi buruk."


"Masuklah, kamu perlu menenangkan diri."


Aluna mengangguk, menuruti perintah Dion.


Mereka berdua duduk di sebuah sofa panjang yang langsung menghadap pada meja kecil dan sebuah TV LCD ukuran jumbo di depannya. 


"Mimpi apa sih? Sampai keluar keringat dingin begitu." Dion hendak beranjak mengambil teko, "Aku ambilkan minum."


"Pak Dion, aku sudah minum. Terima kasih." Aluna menahan lengan Dion. Lelaki itu memilih duduk lagi. Melihat rambut Aluna yang berantakan tangannya gatal ingin membelainya. 


"Mimpi buruk ya."


"Iya Pak, sangat buruk." 


"Baiklah, Malam ini tidur di kamarku saja."


"Maksud Pak Dion,  kita tidur sekamar?"


"Iya, nggak apa apa kan? Sekamar tapi beda tempat aku di sofa dan kamu tempati ranjang itu.


"Tapi, Pak Dion?" 


"Kamu nggak percaya padaku? Aku janji nggak akan macam-macam," ujar Dion meyakinkan. Sebagai wanita wajar jika Luna menolak, gadis memang harus pandai menjaga diri.


Akhirnya malam ini  Aluna memilih tetap kekeh tidur di kamarnya sendiri, tapi Dion yang memilih untuk menemani Aluna di kamarnya, pria itu tak ingin kejadian buruk yang sama akan kembali menimpa Aluna. 


Aluna tidur di ranjang, sedangkan Dion memilih di sofa. Bisa dibilang Dion malam itu tak bisa tidur sama sekali, dia hanya pura pura terlentang di atas sofa sambil melipat tangan di dada. 


Saat Dion mendengar suara desisan Aluna saat tidur, Dion segera bangun, lelaki itu duduk di sisi ranjang dan mengamati wajah Aluna yang semakin hari semakin berbinar-binar. 


Aku ingin tak ada hal buruk apapun yang mengusikmu, semoga malam ini tidurmu nyenyak.


Dion membenarkan selimut Aluna, dan kembali menatapnya dengan lama. Kesempatan ini tak akan bisa didapat saat pemilik tubuh sedang terbangun. 


Khayalan Dion melayang sangat jauh, tapi pernyataan cintanya belum dijawab oleh Aluna. 


Dion memimpikan hidup bersama Aluna, mereka akan tinggal di rumah besar bersama mama dan jessica. Jessica pasti akan Akur dengan Aluna. Dan pastinya Mama Melani dan Aluna akan membuat masakan lebih banyak lagi. 


Dion juga mengkhayalkan mereka memiliki putra dan putri yang akan menyongsong dan memeluk kakinya ketika pulang kerja, merengek minta dibelikan ice cream dan mainan. 


Khayalan Dion teramat jauh membuat bibirnya mengukir senyum. Jemari Dion membelai anak rambut Aluna. 

__ADS_1


Rasa sayangnya mulai muncul. Dion belum pernah merasakan perasaan sayang sebesar saat ini pada seorang wanita. 


Merasakan ada yang menyentuh keningnya Aluna kembali bangun. 


"Pak Dion, anda nggak tidur."


"Nggak bisa tidur, lagi mandangin bidadari."


Aluna, tersipu mendengar kata-kata pujian yang lolos begitu saja tanpa beban.


"Anda paling pandai membuat hati orang melambung ke angkasa, Tuan Dion."


"Hehehe, kalau aku jujur gimana?"


"Aku tak percaya." Aluna tersenyum sambil menggeliat. Dion mengacak rambutnya, yang baru saja dielusnya.


"Tidur lagi, ini belum pagi." ujar Dion mengingatkan.


"Sudah nggak ngantuk lagi."


Dion menggeser duduknya menjadi bersandar di sisi ranjang. Aluna ikut-ikutan duduk seperti Dion. Mereka berdua kini duduk bersebelahan. Mereka mulai 


"Luna, aku kok merasa Adrian suka sama Kamu," ujar Dion sambil menoleh ke arah Luna. 


"Sesama lelaki, aku bisa melihat dia cemburu kala aku bersamamu. Aku masih sepupunya, sedikit banyak aku tahu karakternya. 


Aluna terdiam, ekspresinya sulit ditebak, Dion jadi merasa bersalah mengatakan hal seperti itu tadi. Sedangkan dia tahu Adrian dan Angeline sangat dekat. Kalaupun Aluna dicintai oleh Adrian dia pasti akan semakin sengsara. Wanita itu akan membuat Aluna bersedih. 


"Aluna maaf jika kata kataku tadi …."


"Tidak ada apa apa, Pak." Tersenyum yang dipaksakan.


Setelah lama suasana kembali hening. Aluna pun tak ingin membahas apapun lagi. Aluna kembali mengantuk, kepalanya berulang kali jatuh ke pundak Dion. Dion tersenyum melihat tingkah Luna, dengan hati-hati doa membenarkan posisi kepalanya. 


  


***


Pagi telah tiba, burung mulai bersiul dan cahaya hangat mentari mulai menembus jendela kaca.


Karena semalam mereka hampir tak tidur, kini Aluna dan Dion masih pulas. Tak tahu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Tok! tok!


"Luna bangun, apa pagi ini kau ada janji dengan seseorang?"

__ADS_1


"Tidak Pak Dion, mungkin Ben mencari anda."


"Oh, iya, pasti Ben mencari aku, kita janji pagi ini akan membahas biaya pembayaran soal acara pertemuan dengan klien semalam."


"Luna, maaf aku ketiduran."


"Aku yang minta maaf, mengganggu tidur anda semalam."


Dion kembali mengacak rambut Aluna, gemas dengan wajah bantal wanita yang kini dianggap menjadi kekasih itu. Meski Luna belum menjawab, Dion yakin Aluna juga punya perasaan yang sama. 


Dion membuka pintu, "Ben kau menyebalkan kenapa ganggu tidurku harusnya kau tunggu aku sebentar lagi ...." Dion membuka pintu dengan bibir nyerocos seperti burung betet, setelah matanya menatap ke atas dia terperanjat. Kaget bukan main. 


"Adrian! kau!."


"Dimana Luna?"


Aluna seperti tersengat Listrik mendengar suara Adrian, dia takut lelaki itu salah paham.


"Kenapa kau cari dia, apa urusannya denganmu?" Tertawa smirk. "Jika urusan pekerjaan, aku sudah mengirim asisten pengganti untuk menyelesaikan pekerjaan Aluna. 


"Dimana Aluna!! Apa semalam kalian tidur bersama hah? Jawab!"


Adrian sangat marah begitu mendapati Aluna masih kelihatan kalau baru bangun tidur, Dion juga masih memakai piyama. Semua membuktikan dia semalam tidur dalam ruangan yang sama. 


Emosi Adrian memuncak, kepalanya mendadak berdenyut, hatinya sangat sakit, seperti ada sebilah belati yang menghujam ulu hatinya. "Luna ikut aku sekarang!"


"Kemana pak Rian?"


"Jangan ikut Luna, pria ini pasti akan memanfaatkan kekuasaannya untuk menyakitimu."


"Pak Dion maafkan Luna, Luna harus ikut Pak Rian, Pak Rian pasti hanya ingin bicara sebentar saja." Luna bingung dan takut, dua rasa bercampur aduk menjadi satu. 


"Luna, jangan! Kamu kesini denganku pulang juga harus bersamaku."


"Berhenti mengganggu istri orang! Luna adalah istriku. Kau semalam malah tidur bersamanya." Adrian menatap nyalang pada Dion, bogem mentah meluncur satu kali di rahang kanannya. 


Dion terkejut sekaligus merasakan sakit di pipinya, tapi yang lebih menyakitkan baginya adalah ucapan terakhir Adrian yang menyatakan kalau Luna istrinya. 


"Bagaimana bisa Luna menjadi istrinya? Sedangkan dia selalu bersama wanita lain, kenapa dia membiarkan Luna bekerja menjadi asisten rumah tangga dan OG, jika dia adalah CEO, yang selalu memberi puluhan juta per bulan untuk pacarnya.


"Pak Adrian, jangan pukul Pak Dion! Sudah cukup!" Aluna menghadang dua lelaki yang siap beradu jotos.


"Kenapa? Takut kekasihmu terluka?" Adrian tersenyum. Dan menurunkan bogemnya. Lalu menarik Aluna pergi bersamanya. 


 

__ADS_1


__ADS_2