
Karena kejadian dikamar itu, Melani tidak bisa menahan diri untuk tidak mengadu pada suaminya.
Melani memaklumi Aluna karena diduga masih mabok, tapi Dion yang sudah kebelet nikah dia tidak dapat toleransi lagi.
"Oke keputusan menikah besok!!" Kata Papa.
"Baiklah, aku terima dengan senang hati." Tantang Dion.
"Baiklah, sekarang kita pulang, kita persiapkan semuanya. Besok malam kau sudah bisa membolak balik Aluna sesuka hati. Anak nakal." Menjewer telinga David dengan keras, terpaksa lelaki itu mengikutinya keluar sambil mengganti handuknya yang makin melorot sedangkan yang satunya memegangi telinganya.
Ma lepas, ini telinga masih banyak fungsi, selain untuk mendengar juga untuk menambah ketampanan, kalau copot bisa berabe urusannya.
Luna hanya diam di kamar. Antara bahagia dan terkejut. Menikah dengan lelaki yang dicintai adalah impiannya, tapi menikah dengan cepat membuatnya sedikit grogi.
***
Undangan cepat menyebar lewat alat canggih masa kini. Karyawan diperuusahaan hampir semua sudah membacanya. Mereka banyak yang kecewa karena tuan tampan pemilik King Fashion kebanggaannya sebentar lagi akan dimiliki wanita lain.
Keluarga segera belanja untuk kostum, Aluna diajak sekalian oleh Melani. Tapi Dion tidak boleh bersebelahan dengan Aluna. Melani masih kesal dengan Dion yang diduga mesum kelewatan. Padahal papa Dion juga sama, dulu juga memiliki tingkat mesum level tinggi.
Sampai di butik terbesar dan mewah dikota ini mereka semua turun Jessica dan Aluna bergandengan masuk paling dulu sedangkan keluarga yang lain menyusul di belakang.
"Luna kira kira pas nikah nanti pengen gaun warna apa?"
"Kalau Luna bingung Ma, mau warna apa. Gaun disini bagus bagus semua. Terserah Pak Dion aja, Luna akan tetap suka"
"Apa? Kamu masih panggil calon suamimu apa?" Selena merasa aneh dengan panggilan Dion baru saja.
"Aku panggil Pak Dion, Ma."
Selena tertawa mendengar ungkapan polos Aluna. "Kenapa tidak kau panggil dia 'Dion' aja, kalian kalau panggilan aja masih kaku begitu, gimana kalau sudah menikah nanti. Hadehhh."
"Tante, Aluna panggil nama itu karena Pak Dion memang atasan Luna di kantor."
"Sudah rubah aja mulai hari ini panggil dia apa ya? Dion aja, atau Mas, Sayang, Darling, ata Sableng aja. Soalnya belakangan ini dia Sableng sama kamu Luna." Melani kesal mengingat anaknya yang hanya memakai handuk di kamar Aluna tadi.
__ADS_1
Ma, jangan ungkit itu terus, Dion memang tadi nggak pake baju karena bajunya masih basah, masih dijemur Luna di halaman brlskang.
"Benar begitu Luna?" Tanya Melani lagi.
"Iya Ma." jawab Aluna disertai anggukan kepala.
"Wah kalau begitu kalian nggak usah menikah cepat donk, Kan tadi cuma salah paham."
Selena memanggil suaminya. "Pa tadi sepertinya cuma salah paham, nikahnya batal, jangan buru buru." kata Selena menggoda Dion sambil melirik putranya.
"Jangaannn, Nikahnya tetap jadi, cuma Mama juga harus tau kebenarannya." Jawab Dion. Segera melepaskan tangannya dari kemeja yang menjadi pilihannya dan menghampiri Mama.
Mendengar tingkah Dion keluarga tertawa, Jessica segera menghampiri kakak nya. "Kakak sudah bucin akut sama Mbak Aluna mana mau nikahnya diundur."
"Kalau begitu Nikahnya jadi, Deal. Meski duanya hanya salah paham." kata Melani lagi mengulang kalimatnya.
"Luna, maafkan Tante yang sebentar lagi jadi Mama kamu ini, karena nikahnya besok sekarang saja tunangannya gimana?"
"Terserah Pak Dion aja." Luna melirik Dion lalu tersenyum.
Dion mengangguk setuju. Hatinya berbunga bunga bagai taman. Ingin sekali memeluk tubuh kekasih hati tapi mama segera menghadangnya.
"Mama, bikin malu!" Dion Menggelengkan kepala.
Aluna tersipu, sedangkan Melani terus menggoda putranya.
Setelah mencoba berulang kali gaun pernikahan akhirnya keluarga membelikan lima untuk Luna dan Lima juga untuk Dion. Semua gaun itu akan dipakai dan ganti dalam dua jam sekali.
Melani dan David ingin merayakan pesta yang tak kalah besarnya dengan pesta pernikahan Adrian kemarin. Davit ingin ini akan dikenang oleh putranya hingga nanti tua.
***
Luna kini duduk sendirian sambil menikmati Boba rasa coklat di depan butik, karena sudah mendapatkan gaun yang cocok dengan ukuran tubuhnya.
Saat menggigit kembali ujung sedotan. Tiba tiba seorang lelaki menghampirinya dan langsung meraih pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Lepaskan! Aku sudah tak ingin bertemu denganmu lagi, jangan usik hidupku."
"Luna kenapa kau begitu ketakutan, aku hanya ingin memberimu ucapan selamat, karena kamu akan menikah. Aku tadi baca surat undangan yang di kirim oleh asisten Dion."
"Jadi Pak Rian juga sudah tau?" Aluna berdiri mempersilakan Adrian duduk di depannya.
Adrian enggan duduk, dia malah mengulurkan tangannya. "Selamat ya,
"Terimakasih. Semoga Pak Rian juga bahagia dengan Angeline, maaf aku pernah menjadi pengganggu diantara kalian berdua."
"Tidak masalah Luna, aku senang kau pernah hadir di hidupku, sekarang malah aku yang susah melupakan kamu, tapi aku akan berusaha."
Kata Adrian yang terlihat santai dan ramah, sangat berbeda dengan hari biasanya yang selalu ingin mengambil Aluna dari sisi Dion. dan ekspresinya selalu tegang.
Saat Aluna dan Adrian hanya mengobrol kan seputar pesta pernikahan tiba-tiba Dion datang.
"Luna!"
"Pak Dion." Luna kaget, ada rasa takut juga. khawatir Dion akan salah paham.
Dion langsung mengecup kening Luna. Dan saat itu Dada Adrian terasa bergemuruh.
"Kenapa kau masih mengusik Luna?" Tatapan Dion pada Adrian begitu tak bersahabat.
"Aku tidak bermaksud mengusik kebahagiaan kalian, aku tadi kebetulan lewat sini dan aku berhenti saat lihat Luna sendirian."
"Luna tidak mungkin sendirian, Luna akan selalu bersamaku." kata Dion singkat dan terasa kaku.
"Pak Dion duduklah, Pak Adrian tadi kesini cuma mau kasih selamat pada kita."
"Yakin? Apa dia tidak ingin merayu kamu lagi karena menyesal istrinya tidak seperti yang dia duga," tebak Dion sambil menyipitkan mata.
Pak Dion, ayo duduk. Kenapa sih harus ngomong kek gitu, Pak Rian kesini tulus lho mau kasih selamat pada kita berdua.
"Aluna, aku tahu, tapi kamu itu belum tahu gimana aslinya Dia. Aku sejak kecil mengenalnya."
__ADS_1
"Baiklah, jika kalian mau berdebat berdebat-saja, lanjutkan, aku akan melihat siapa yang menang dan siapa yang kalah." Aluna melipat tangannya di bawah dada. Sedangkan Adrian dan Dion memilih diam.
Meski diam nafas mereka berdua tetap berhembus dengan cepat. Hanya saja berusaha menyembunyikan karena takut Aluna akan memilih pergi.